NovelToon NovelToon
Menikahi Tukang Parkir Misterius Demi Warisan

Menikahi Tukang Parkir Misterius Demi Warisan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:94.4k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Demi warisan ibunya, Zelia nekat menikahi tukang parkir bernama Arelion—pria asing yang pernah menyelamatkannya.

Malam sebelum pernikahan impiannya, ia memergoki tunangannya selingkuh dengan adik tirinya, dan ayahnya ternyata ikut merencanakan perebutan perusahaan.

Pernikahan kontrak ini adalah balas dendam sekaligus pelindung terakhirnya.

Tapi di balik sikap dingin dan penampilan sederhana Arelion, tersimpan rahasia besar yang akan mengubah segalanya... termasuk hati Zelia yang sudah hancur..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30. Harga Diri

“kau atasi sendiri masalah ini.”

Atyasa merapikan lengan jasnya. “Anggap saja sebagai latihan menyelesaikan krisis sebagai CEO.”

Ia berbalik. Langkahnya stabil menuju pintu. Namun sebelum memutar handle, ia sempat melirik ke arah Are.

Yang paling mengusiknya bukan jawaban Zelia. Tapi ketenangan pria itu. Tidak defensif. Tidak terganggu. Seolah semuanya memang sudah diperkirakan.

Jemari Atyasa mencengkeram handle pintu sedikit lebih erat sebelum akhirnya ia membuka dan keluar.

Pintu tertutup. Ruangan kembali sunyi.

Akhirnya Zelia menghembuskan napas panjang. Lalu tertawa pendek. Tawa yang tidak sampai ke mata.

“Aku tidak menyangka,” gumamnya, “aku yang darah dagingnya sendiri tidak lebih berharga dari ego dan harta.”

Ia menatap meja. “Begitu bencilah dia padaku sampai ingin menyingkirkanku dan menguasai semuanya?”

Are tidak menoleh. Matanya tetap pada layar. “Ini bukan tentang kebencian,” katanya tenang.

Zelia terdiam.

“Ini tentang harga diri seorang pria yang merasa hidupnya pernah dipinjamkan.”

Tangan Are masih bergerak mengarahkan kursor.

“Ketika seseorang merasa posisinya dulu diberikan, bukan diperjuangkan,” lanjut Are pelan, “ia akan menghabiskan sisa hidupnya untuk membuktikan bahwa ia pantas memilikinya.”

Zelia menatapnya.

“Papamu tidak pernah benar-benar ingin perusahaan itu,” tambah Are. “Ia ingin pengakuan.”

Jemarinya berhenti di atas keyboard.

“Dan pengakuan paling keras adalah mengambil alih sesuatu yang dulu tidak diberikan dengan rela.”

Zelia tidak langsung menjawab. Ia hanya memandangi meja. “Jadi aku ini simbol?” tanyanya pelan.

“Bukan,” jawab Are.

Kini ia menoleh. “Kau ancaman.”

“Ancaman?” ulang Zelia pelan.

Lalu ia tertawa.

Tawa yang tidak ringan. Tidak juga bahagia.

Tawa pahit.

“Papa ingin aku menceraikanmu,” lanjutnya. “Karena ia merasa keberanian dan kepercayaan diriku datang darimu. Ia pikir semua keputusan yang kuambil sejak menikah denganmu adalah karena pengaruhmu.”

Ia menggeleng kecil. “Karena itu ia ingin menyingkirkanmu. Karena kalau aku tanpamu… aku akan mudah ia singkirkan.”

Ia terdiam sebentar.

“Dan sayangnya… itu benar.”

Jemari Are berhenti di atas keyboard. Ia tidak menoleh. Tapi ia mendengarkan.

“Kau tahu,” suara Zelia melembut, “aku merasa hancur malam itu. Malam sebelum aku menikah denganmu. Malam sebelum aku membatalkan pernikahan itu.”

Napasnya sedikit berat, tapi tidak pecah.

“Malam saat aku tahu orang-orang yang selama bertahun-tahun ada di sekitarku… bahkan ayah kandungku sendiri… ternyata tidak pernah benar-benar menyayangiku.”

Ia tersenyum kecil. Senyum yang lebih menyakitkan dari tangisan.

“Mereka hanya memasang topeng manis. Demi harta. Demi posisi. Demi keuntungan.”

Are mengepalkan tangannya pelan di atas meja. Tak seharusnya aku bersimpati sejauh ini, batinnya. Tapi entah kenapa, dadanya terasa ikut tertekan.

Ia terlalu paham bagaimana rasanya tidak benar-benar dipilih. Hanya dimanfaatkan.

“Malam itu…” lanjut Zelia pelan, “aku merasa sendirian. Benar-benar sendirian. Aku tidak tahu harus bagaimana.” Ia menatap lantai sejenak. “Hingga akhirnya aku bertemu denganmu.”

Are menegang sedikit.

“Entah kenapa… aku merasa kau orang paling tulus yang pernah kutemui.”

Zelia mengangkat wajahnya.

“Kau beberapa kali menyelamatkanku tanpa menarik perhatianku. Tanpa meminta imbalan. Padahal kau tahu jelas aku orang berada. Kau bisa saja memanfaatkan pertolonganmu.”

Ia tersenyum tipis.

“Tapi kamu tidak.”

Ruangan terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Zelia akhirnya menatapnya lurus.

“Apa kau akan tetap tinggal di sisiku?”

Pertanyaan itu tidak terdengar manja. Tidak juga posesif. Hanya jujur.

Dan justru karena itu, dada Are terasa sesak. Ia menarik napas, tapi udara terasa tidak cukup.

Ini hanya kontrak. Ia tidak boleh lupa. Ia tidak boleh membiarkan dirinya terikat lebih jauh.

Kalimat itu muncul di kepalanya seperti tameng.

“Lebih baik kita fokus pada perusahaan dulu,” katanya datar.

Ia kembali menatap layar. Jemarinya kembali bergerak. Seolah tidak ada yang berubah.

Zelia tidak memaksanya menjawab. Ia hanya tersenyum. Entah senyum apa.

Bukan senyum cerah seperti tadi. Bukan juga senyum pahit. Lebih seperti senyum seseorang yang baru saja membuat keputusan dalam diam.

"Jika ingin memilikimu adalah suatu keegoisan… Biarlah aku menjadi wanita yang egois. Kali ini, aku ingin bahagia. Jadi aku akan berjuang mendapatkan hatimu.

Dan aku akan menyerah… jika kau tidak bahagia bersamaku. Tapi jika aku tak bisa memilikimu, maka selamanya, aku tak ingin lagi mengenal cinta."

Zelia menoleh ke arah jendela. Cahaya siang menyentuh wajahnya.

Di meja yang sama, dua orang duduk berdampingan.

Satu berusaha menjaga jarak. Satu lagi sudah memutuskan untuk melangkah lebih dekat.

Dan tidak satu pun dari mereka menyadari, pertahanan yang paling rapuh bukan milik Zelia.

Tapi milik Are.

***

Ruang Rapat Dewan Komisaris

Ruangan panjang dengan meja kayu gelap itu sunyi lebih dulu sebelum rapat dimulai.

Empat komisaris independen sudah duduk. Satu perwakilan pemegang saham institusi hadir melalui layar.

Atyasa masuk terakhir. I terlihat seperti biasanya. Tenang. Terukur. Seolah tidak ada badai apa pun di luar sana.

Padahal grafik saham perusahaan sedang menurun tipis sejak pagi. Bukan anjlok. Tapi cukup untuk membuat orang-orang berhitung ulang.

Atyasa membuka mapnya.

“Terima kasih sudah hadir mendadak,” ujarnya datar.

Layar di belakangnya menampilkan grafik sentimen publik. Merah.

“Seperti yang kita lihat,” lanjutnya, “lonjakan sentimen negatif meningkat hampir empat puluh persen dalam dua belas jam.”

Salah satu komisaris berdeham.

“Ini dampak langsung video itu?”

“Ya,” jawab Atyasa singkat. “Dan belum ada klarifikasi dari pihak manajemen.”

Kalimat itu digantung.

Belum ada klarifikasi. Artinya: CEO diam.

Seorang komisaris perempuan menyilangkan tangan. “Apakah kita perlu mengeluarkan pernyataan dewan?”

Atyasa tidak langsung menjawab. Ia menatap grafik saham beberapa detik lebih lama dari yang perlu.

“Yang saya khawatirkan bukan hari ini,” katanya pelan. “Tapi persepsi jangka panjang. Reputasi adalah fondasi valuasi.”

Seseorang di ujung meja berbicara hati-hati. “Zelia masih baru sebagai CEO. Krisis ini bisa jadi ujian.”

“Ujian,” ulang Atyasa ringan. Lalu ia menutup mapnya. “Pasar tidak mengenal ujian. Pasar hanya mengenal kepercayaan.”

Kalimat itu bukan tuduhan. Tapi cukup jelas arahnya.

“Apakah Anda meragukan kepemimpinan CEO?” tanya komisaris lain.

Atyasa menggeleng perlahan. “Saya meragukan stabilitas situasi.” Ia berhenti sebentar. “Dan saya mempertanyakan apakah keputusan personal tertentu telah mempengaruhi persepsi publik terhadap perusahaan.”

Personal tertentu.

Tidak perlu menyebut nama. Semua orang tahu maksudnya. Are.

Suasana berubah.

Perwakilan pemegang saham di layar akhirnya berbicara. “Jika ini terus berlanjut, kami perlu jaminan bahwa manajemen mampu mengendalikan narasi.”

Narasi.

Bukan kinerja. Narasi. Itulah medan perang sekarang.

Atyasa menautkan jemarinya. “Karena itu,” katanya pelan, “saya mengusulkan agar dewan mempertimbangkan evaluasi sementara terhadap kebijakan komunikasi CEO.”

Sementara. Evaluasi. Kata-kata yang terdengar administratif. Tapi bisa berujung pada pembatasan wewenang. Atau bahkan mosi tidak percaya.

Beberapa komisaris saling bertukar pandang.

Belum ada keputusan, tapi benih keraguan sudah ditanam.

Dan Atyasa tahu dengan jelas, keraguan di meja dewan lebih berbahaya daripada ribuan komentar di media sosial.

Ia bersandar tipis. Wajahnya tetap tenang. “Perusahaan ini dibangun puluhan tahun,” katanya lembut. “Kita tidak boleh membiarkannya goyah karena satu kesalahan membaca situasi.”

Tidak ada yang menyadari, yang paling ingin ia uji bukan kemampuan Zelia. Tapi ketahanan pria yang duduk di samping putrinya itu.

Ara dewan dan pemegang saham saling pandang, lalu mengangguk.

 

...✨“Ia tidak kehilangan ayahnya hari itu. Ia baru sadar, ia tak pernah benar-benar memilikinya.”...

...“Yang paling berbahaya bukan orang yang membencimu, tapi orang yang merasa harus membuktikan dirinya melalui kehancuranmu.”...

...“Ia tidak menyerang. Ia hanya memindahkan keseimbangan.”...

...“Semua orang berbicara tentang stabilitas. Padahal yang paling goyah adalah ego.”...

...“Ia menyebutnya latihan. Mereka menyebutnya ancaman.”...

...“Di meja dewan, keraguan kecil lebih mematikan daripada tuduhan besar.”✨...

.

To be continued

1
Dek Sri
lanjut
abimasta
begitulah ibu hamil susah dipahami
Dew666
💜💜💜
phity
zelia maafkan are jgn egois coba dengar alasan are knp dia dtngnya terlambat, are sdh berusaha cepat tp keadaan yg buat dia terlambat bukan keinginannya. klo kmu ad di posisi are bgmna???
Kyky ANi
semoga saja
Anitha Ramto
Maafkanlah Are Zelia...ia sudah mengaku salah
Anitha Ramto
Bayinya biar pengen deket terus sama Papa Are😄
Kyky ANi
sabar ya Are,, Zelia belum siap MP,,
Kyky ANi
semoga rencana Are,, tidak diketahui oleh Atyasa,,,
Kyky ANi
ayo,, Are,, selamatkan Zelia,,
Ina Yulfiana
penjagaan buat Zelia lebih d perketat dan ksih liht jgn pernah main² cm kesayngn Are...

next semngt sukses selalu
Ina Yulfiana
keras hati sekali kau Zelia penyesalan dong terakhir loh jgn sampai nyesel nantinya ...Are mungkin slh krn tk mempublis hbungnya langsung tp kau jgn egois Zelia jgn Bikin muak deh...
love_me🧡
bundir itu namanya kalian 😂
Yunita Sophi
maka nya Re datang nya klo malam aja biar sll dekat 🤭😂
asih
malam pelukan pagi berantem lagi😄😄😄
abimasta
are tetap jaga zelya dari viona
Dek Sri
yang semangat are menaklukkan hati zelia
Dew666
🌹🌹
Yeni Yeni
perusahaan zelia, siapa yg pegang kalau zelia nya di jakarta, are megang perusahaan nya sendiri
Kyky ANi
kali ini, kamu harus lebih waspada Are,, karna Atyasa akan mencari tahu lebih dalam tentang siapa kamu,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!