Demi warisan ibunya, Zelia nekat menikahi tukang parkir bernama Arelion—pria asing yang pernah menyelamatkannya.
Malam sebelum pernikahan impiannya, ia memergoki tunangannya selingkuh dengan adik tirinya, dan ayahnya ternyata ikut merencanakan perebutan perusahaan.
Pernikahan kontrak ini adalah balas dendam sekaligus pelindung terakhirnya.
Tapi di balik sikap dingin dan penampilan sederhana Arelion, tersimpan rahasia besar yang akan mengubah segalanya... termasuk hati Zelia yang sudah hancur..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Harga Diri
“kau atasi sendiri masalah ini.”
Atyasa merapikan lengan jasnya. “Anggap saja sebagai latihan menyelesaikan krisis sebagai CEO.”
Ia berbalik. Langkahnya stabil menuju pintu. Namun sebelum memutar handle, ia sempat melirik ke arah Are.
Yang paling mengusiknya bukan jawaban Zelia. Tapi ketenangan pria itu. Tidak defensif. Tidak terganggu. Seolah semuanya memang sudah diperkirakan.
Jemari Atyasa mencengkeram handle pintu sedikit lebih erat sebelum akhirnya ia membuka dan keluar.
Pintu tertutup. Ruangan kembali sunyi.
Akhirnya Zelia menghembuskan napas panjang. Lalu tertawa pendek. Tawa yang tidak sampai ke mata.
“Aku tidak menyangka,” gumamnya, “aku yang darah dagingnya sendiri tidak lebih berharga dari ego dan harta.”
Ia menatap meja. “Begitu bencilah dia padaku sampai ingin menyingkirkanku dan menguasai semuanya?”
Are tidak menoleh. Matanya tetap pada layar. “Ini bukan tentang kebencian,” katanya tenang.
Zelia terdiam.
“Ini tentang harga diri seorang pria yang merasa hidupnya pernah dipinjamkan.”
Tangan Are masih bergerak mengarahkan kursor.
“Ketika seseorang merasa posisinya dulu diberikan, bukan diperjuangkan,” lanjut Are pelan, “ia akan menghabiskan sisa hidupnya untuk membuktikan bahwa ia pantas memilikinya.”
Zelia menatapnya.
“Papamu tidak pernah benar-benar ingin perusahaan itu,” tambah Are. “Ia ingin pengakuan.”
Jemarinya berhenti di atas keyboard.
“Dan pengakuan paling keras adalah mengambil alih sesuatu yang dulu tidak diberikan dengan rela.”
Zelia tidak langsung menjawab. Ia hanya memandangi meja. “Jadi aku ini simbol?” tanyanya pelan.
“Bukan,” jawab Are.
Kini ia menoleh. “Kau ancaman.”
“Ancaman?” ulang Zelia pelan.
Lalu ia tertawa.
Tawa yang tidak ringan. Tidak juga bahagia.
Tawa pahit.
“Papa ingin aku menceraikanmu,” lanjutnya. “Karena ia merasa keberanian dan kepercayaan diriku datang darimu. Ia pikir semua keputusan yang kuambil sejak menikah denganmu adalah karena pengaruhmu.”
Ia menggeleng kecil. “Karena itu ia ingin menyingkirkanmu. Karena kalau aku tanpamu… aku akan mudah ia singkirkan.”
Ia terdiam sebentar.
“Dan sayangnya… itu benar.”
Jemari Are berhenti di atas keyboard. Ia tidak menoleh. Tapi ia mendengarkan.
“Kau tahu,” suara Zelia melembut, “aku merasa hancur malam itu. Malam sebelum aku menikah denganmu. Malam sebelum aku membatalkan pernikahan itu.”
Napasnya sedikit berat, tapi tidak pecah.
“Malam saat aku tahu orang-orang yang selama bertahun-tahun ada di sekitarku… bahkan ayah kandungku sendiri… ternyata tidak pernah benar-benar menyayangiku.”
Ia tersenyum kecil. Senyum yang lebih menyakitkan dari tangisan.
“Mereka hanya memasang topeng manis. Demi harta. Demi posisi. Demi keuntungan.”
Are mengepalkan tangannya pelan di atas meja. Tak seharusnya aku bersimpati sejauh ini, batinnya. Tapi entah kenapa, dadanya terasa ikut tertekan.
Ia terlalu paham bagaimana rasanya tidak benar-benar dipilih. Hanya dimanfaatkan.
“Malam itu…” lanjut Zelia pelan, “aku merasa sendirian. Benar-benar sendirian. Aku tidak tahu harus bagaimana.” Ia menatap lantai sejenak. “Hingga akhirnya aku bertemu denganmu.”
Are menegang sedikit.
“Entah kenapa… aku merasa kau orang paling tulus yang pernah kutemui.”
Zelia mengangkat wajahnya.
“Kau beberapa kali menyelamatkanku tanpa menarik perhatianku. Tanpa meminta imbalan. Padahal kau tahu jelas aku orang berada. Kau bisa saja memanfaatkan pertolonganmu.”
Ia tersenyum tipis.
“Tapi kamu tidak.”
Ruangan terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Zelia akhirnya menatapnya lurus.
“Apa kau akan tetap tinggal di sisiku?”
Pertanyaan itu tidak terdengar manja. Tidak juga posesif. Hanya jujur.
Dan justru karena itu, dada Are terasa sesak. Ia menarik napas, tapi udara terasa tidak cukup.
Ini hanya kontrak. Ia tidak boleh lupa. Ia tidak boleh membiarkan dirinya terikat lebih jauh.
Kalimat itu muncul di kepalanya seperti tameng.
“Lebih baik kita fokus pada perusahaan dulu,” katanya datar.
Ia kembali menatap layar. Jemarinya kembali bergerak. Seolah tidak ada yang berubah.
Zelia tidak memaksanya menjawab. Ia hanya tersenyum. Entah senyum apa.
Bukan senyum cerah seperti tadi. Bukan juga senyum pahit. Lebih seperti senyum seseorang yang baru saja membuat keputusan dalam diam.
"Jika ingin memilikimu adalah suatu keegoisan… Biarlah aku menjadi wanita yang egois. Kali ini, aku ingin bahagia. Jadi aku akan berjuang mendapatkan hatimu.
Dan aku akan menyerah… jika kau tidak bahagia bersamaku. Tapi jika aku tak bisa memilikimu, maka selamanya, aku tak ingin lagi mengenal cinta."
Zelia menoleh ke arah jendela. Cahaya siang menyentuh wajahnya.
Di meja yang sama, dua orang duduk berdampingan.
Satu berusaha menjaga jarak. Satu lagi sudah memutuskan untuk melangkah lebih dekat.
Dan tidak satu pun dari mereka menyadari, pertahanan yang paling rapuh bukan milik Zelia.
Tapi milik Are.
***
Ruang Rapat Dewan Komisaris
Ruangan panjang dengan meja kayu gelap itu sunyi lebih dulu sebelum rapat dimulai.
Empat komisaris independen sudah duduk. Satu perwakilan pemegang saham institusi hadir melalui layar.
Atyasa masuk terakhir. I terlihat seperti biasanya. Tenang. Terukur. Seolah tidak ada badai apa pun di luar sana.
Padahal grafik saham perusahaan sedang menurun tipis sejak pagi. Bukan anjlok. Tapi cukup untuk membuat orang-orang berhitung ulang.
Atyasa membuka mapnya.
“Terima kasih sudah hadir mendadak,” ujarnya datar.
Layar di belakangnya menampilkan grafik sentimen publik. Merah.
“Seperti yang kita lihat,” lanjutnya, “lonjakan sentimen negatif meningkat hampir empat puluh persen dalam dua belas jam.”
Salah satu komisaris berdeham.
“Ini dampak langsung video itu?”
“Ya,” jawab Atyasa singkat. “Dan belum ada klarifikasi dari pihak manajemen.”
Kalimat itu digantung.
Belum ada klarifikasi. Artinya: CEO diam.
Seorang komisaris perempuan menyilangkan tangan. “Apakah kita perlu mengeluarkan pernyataan dewan?”
Atyasa tidak langsung menjawab. Ia menatap grafik saham beberapa detik lebih lama dari yang perlu.
“Yang saya khawatirkan bukan hari ini,” katanya pelan. “Tapi persepsi jangka panjang. Reputasi adalah fondasi valuasi.”
Seseorang di ujung meja berbicara hati-hati. “Zelia masih baru sebagai CEO. Krisis ini bisa jadi ujian.”
“Ujian,” ulang Atyasa ringan. Lalu ia menutup mapnya. “Pasar tidak mengenal ujian. Pasar hanya mengenal kepercayaan.”
Kalimat itu bukan tuduhan. Tapi cukup jelas arahnya.
“Apakah Anda meragukan kepemimpinan CEO?” tanya komisaris lain.
Atyasa menggeleng perlahan. “Saya meragukan stabilitas situasi.” Ia berhenti sebentar. “Dan saya mempertanyakan apakah keputusan personal tertentu telah mempengaruhi persepsi publik terhadap perusahaan.”
Personal tertentu.
Tidak perlu menyebut nama. Semua orang tahu maksudnya. Are.
Suasana berubah.
Perwakilan pemegang saham di layar akhirnya berbicara. “Jika ini terus berlanjut, kami perlu jaminan bahwa manajemen mampu mengendalikan narasi.”
Narasi.
Bukan kinerja. Narasi. Itulah medan perang sekarang.
Atyasa menautkan jemarinya. “Karena itu,” katanya pelan, “saya mengusulkan agar dewan mempertimbangkan evaluasi sementara terhadap kebijakan komunikasi CEO.”
Sementara. Evaluasi. Kata-kata yang terdengar administratif. Tapi bisa berujung pada pembatasan wewenang. Atau bahkan mosi tidak percaya.
Beberapa komisaris saling bertukar pandang.
Belum ada keputusan, tapi benih keraguan sudah ditanam.
Dan Atyasa tahu dengan jelas, keraguan di meja dewan lebih berbahaya daripada ribuan komentar di media sosial.
Ia bersandar tipis. Wajahnya tetap tenang. “Perusahaan ini dibangun puluhan tahun,” katanya lembut. “Kita tidak boleh membiarkannya goyah karena satu kesalahan membaca situasi.”
Tidak ada yang menyadari, yang paling ingin ia uji bukan kemampuan Zelia. Tapi ketahanan pria yang duduk di samping putrinya itu.
Ara dewan dan pemegang saham saling pandang, lalu mengangguk.
...✨“Ia tidak kehilangan ayahnya hari itu. Ia baru sadar, ia tak pernah benar-benar memilikinya.”...
...“Yang paling berbahaya bukan orang yang membencimu, tapi orang yang merasa harus membuktikan dirinya melalui kehancuranmu.”...
...“Ia tidak menyerang. Ia hanya memindahkan keseimbangan.”...
...“Semua orang berbicara tentang stabilitas. Padahal yang paling goyah adalah ego.”...
...“Ia menyebutnya latihan. Mereka menyebutnya ancaman.”...
...“Di meja dewan, keraguan kecil lebih mematikan daripada tuduhan besar.”✨...
.
To be continued
Masih mau cari cara lain apa Fero. Gak bakal menang melawan Are.
Yang bermasalah itu kalian berdua - Atyasa dan Fero.
Sekarang pun Atyasa ambisius - ingin menguasai perusahaan yang bukan haknya.
Sayangnya fondasinya terlalu kuat, Atyasa. Mana mungkin bisa menghancurkan Are.
Atyasa, Dian, Desti, dan Fero barisan orang-orang licik.
Atyasa mau mencari celah di Gala dinner.
Fero - Galacdinner mau dijadikan ajang menjatuhkan seseorang. Jatuh sendiri kau Fero.
Dian ini seorang Ibu bisa punya pemikiran jahat begitu.
Pantes Desti sebelas dua belas kelakuannya sama dengan Emak-nya, Dian.
Zelia seperti biasa, kalau sudah merasa lega dalam menghadapi peliknya pekerjaan dengan bantuan Are, tanpa aba-aba ia meloncat ke tubuh Are.
Are sudah siap, sepertinya Are sudah hafal apa yang bakal terjadi. Are menangkap tubuh Zelia tanpa goyah.
Zelia semakin berani - mengecup pipi Are.
Presentasi yang sangat baik - begitu ucap salah satu direktur sambil bertepuk tangan pelan. Beberapa lainnya ikut mengangguk.
Komentar-komentar positif dibalas Zelia dengan menunduk ringan dengan mengucapkan teima kasih.
Are juga mendapat pujian dalam kemampuannya berbahasa Jepang.
Atyasa no comment. Hanya menatap putrinya lalu berpindah ke Are.
Zelia pamit, bersama Are keluar ruangan.
Pintu tertutup.
Komentar-komentar positif untuk Zelia dan Are masih berlanjut.
Mereka saling melengkapi.
Bahkan semua setuju kecuali Atyasa - kalau duet seperti itu dipertahankan, target enam bulan bukan hal mustahil.
Penerjemah yang seharusnya mendampingi meeting tidak bisa datang.
Klien Jepang menolak menggunakan penerjemah daring.
Klien Jepang hanya ingin berdiskusi dalam bahasa Jepang.
Are menguasai bahasa Jepang.
Zelia tidak menyerahkan meja negoisasi pada Are, tapi menjalankan bersama.
Zelia mempertaruhkan reputasinya pada pria yang menikahinya tanpa cinta.
Zelia memilih percaya pada Are.
Are dan Zelia sudah duduk di ruang meeting.
Atyasa terlalu banyak bicara - sepertinya meragukan meeting berjalan tanpa kehadiran translator.
Semua perkataan Atyasa jelas ditujukan pada Zelia.