Di usianya yang ke-33, Raditya Mahardika harus menerima perjodohan konyol dengan Bianca Adyatama, gadis 20 tahun yang masih kuliah dan merupakan putri rekan bisnis keluarganya. Ragu dan curiga, Raditya punya rencana gila: menyamar menjadi supir di rumah keluarga Adyatama.
Sebagai 'Rio', supir barunya, Radit menyaksikan realitas yang mengejutkan. Bianca bukan hanya manja, tapi juga arogan dan suka merendahkan orang.
Namun, di tengah kekecewaannya, mata Radit justru tertuju pada sosok lain: Kirana Adyatama. Kakak Bianca yang berusia 27 tahun. Di mata keluarganya, Kirana hanyalah barista kafe, bahkan sering diperlakukan seperti pelayan. Tapi, di balik seragam kafe dan senyum hangatnya, Kirana menyimpan rahasia besar.
Mana yang akan dipilih Radit? Calon istri yang dijodohkan, atau kakak yang menyimpan mutiara tersembunyi? Bagaimana jika rahasia penyamarannya terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Mobil Mercedes-Benz Fintail itu melaju tenang meninggalkan hiruk-pikuk pusat kota Surabaya, mengarah ke sisi barat yang lebih sunyi dan eksklusif. Angin malam yang sejuk mulai terasa saat mereka memasuki kawasan perbukitan kecil di pinggiran kota.
Di kursi kemudi, Raditya sesekali melirik Kirana melalui spion tengah. Wanita itu tampak lebih rileks setelah ketegangan di Hotel Grand City tadi. Rambutnya yang tadi tergelung rapi kini sudah ia gerai, memberikan kesan lembut yang sangat berbeda dengan aura "Singa Betina" saat di ruang rapat.
"Mas Rio, kita benar tidak apa-apa makan sejauh ini? Saya khawatir Mas Rio kelelahan," suara Kirana memecah keheningan.
"Sama sekali tidak, Mbak Kirana. Anggap saja ini kompensasi atas kerja keras Mbak hari ini. Ada satu tempat tersembunyi yang menurut saya layak Mbak kunjungi," jawab Raditya dengan nada mantap.
Mereka tiba di sebuah bangunan bergaya minimalis modern dengan aksen kayu yang hangat, berdiri angkuh di atas tebing kecil yang menghadap langsung ke kerlap-kerlip lampu kota Surabaya dari kejauhan. Restoran itu bernama The Glass House. Tidak ada papan nama besar, hanya pencahayaan temaram yang memberikan kesan sangat privat.
Tempat ini adalah milik salah satu rekan bisnis Raditya, tempat di mana para petinggi Mahardika Group biasa menjamu tamu VIP mereka.
Begitu mereka masuk, seorang pria berseragam jas rapi—manajer restoran—langsung bergegas menghampiri. Matanya membelalak kaget saat melihat siapa yang datang.
"Selamat malam, Tuan Radit—"
"Ehem!" Raditya berdehem sangat keras, memotong kalimat sang manajer sebelum nama belakangnya terucap. Ia memberikan tatapan mata yang sangat tajam, sebuah kode peringatan yang langsung membuat sang manajer membeku.
"Malam, Pak. Saya Rio, supir Mbak Kirana. Tadi saya sudah reservasi tempat yang paling tenang untuk Mbak saya," ucap Raditya dengan penekanan pada kata 'Rio' dan 'supir'.
Manajer itu dengan cepat menguasai keadaan, meskipun keringat dingin mulai muncul di pelipisnya.
"Ah... iya, benar. Mari, Mbak Kirana, Mas Rio. Meja terbaik kami sudah siapkan di balkon kaca."
Kirana tampak terpesona saat melangkah ke balkon. Lantai kaca di bawah kakinya memperlihatkan jurang landai yang dihiasi lampu-lampu taman, sementara di depan matanya, panorama Surabaya terlihat seperti hamparan berlian.
"Mas Rio... tempat ini indah sekali. Bagaimana Mas bisa tahu ada tempat sebagus ini di pinggiran kota?" tanya Kirana sambil duduk di kursi dengan nyaman.
Raditya menarik kursi untuk Kirana sebelum ia sendiri duduk di depannya—atas paksaan Kirana yang menolak makan jika "supirnya" tidak ikut duduk bersamanya.
"Dulu saat mengantar majikan lama, saya sering diminta mencari tempat-tempat yang tenang seperti ini, Mbak. Saya pikir Mbak Kirana butuh ketenangan setelah menghadapi investor Jepang tadi," jawab Raditya lugas.
Makan malam pun dimulai dengan hidangan pembuka yang artistik. Percakapan mengalir begitu saja. Mereka mulai berbicara tentang banyak hal—mulai dari kopi, filosofi hidup, hingga tantangan mengelola bisnis.
"Mas Rio tahu banyak tentang strategi bisnis ya? Tadi di depan Mr. Tanaka, saya merasa Mas bukan sekadar menerjemahkan, tapi juga mengerti inti permasalahannya," puji Kirana sambil menatap Raditya penuh selidik.
Raditya tersenyum tipis, mencoba tetap berada dalam karakternya. "Saya hanya pendengar yang baik, Mbak. Bertahun-tahun duduk di depan kemudi sambil mendengarkan pembicaraan orang-orang hebat di kursi belakang, membuat saya sedikit banyak belajar."
"Kamu rendah hati sekali, Mas," gumam Kirana. "Terima kasih sudah memilih tempat ini. Ini pertama kalinya saya merasa benar-benar bisa bernapas lega. Tidak ada beban sebagai CEO, tidak ada beban sebagai barista... hanya Kirana."
Suasana menjadi sangat hangat dan romantis. Cahaya lilin di meja memantul di mata Kirana, membuat Raditya sempat terpaku sejenak. Ia merasa, di tempat semewah ini, Kirana justru terlihat paling bersinar bukan karena perhiasannya, tapi karena kejujuran hatinya.
Namun, kehangatan itu seketika pecah saat ponsel Raditya yang diletakkan di atas meja bergetar hebat. Nama 'BIANCA' berkedip-kedip di layar.
Raditya menghela napas panjang, mencoba mengabaikannya, namun ponsel itu berbunyi lagi dan lagi.
"Angkat saja, Mas. Siapa tahu penting," ujar Kirana lembut.
Raditya akhirnya mengangkatnya. Baru saja ponsel menyentuh telinganya, suara histeris Bianca sudah meledak.
"RIO!!! KAMU DI MANA?! CEPAT KE SINI SEKARANG!" teriak Bianca di seberang telepon. Suaranya terdengar sangat panik dan marah.
"Ada apa, Non Bianca?" tanya Raditya, berusaha tetap tenang meski hatinya mulai merutuk.
"Mobil Ayah mogok! Aku di pinggir jalan gelap di daerah jalan protokol! Teman-temanku sudah pergi semua, mereka tidak mau menolongku! Mesinnya keluar asap, Rio! Aku takut! Pokoknya kamu harus ke sini dalam sepuluh menit! Tinggalkan apa pun yang sedang kamu lakukan untuk Mbak Kirana!"
Raditya memijat keningnya. "Non, saya sedang berada cukup jauh di pinggiran kota..."
"AKU TIDAK PEDULI! Jemput aku sekarang atau aku bilang ke Ayah kalau kamu sengaja membiarkan aku dalam bahaya!" Bip! Telepon diputus secara sepihak.
Raditya menatap Kirana dengan tatapan penuh rasa bersalah. "Mbak... maaf sekali. Non Bianca..."
"Mobilnya mogok ya? Saya dengar suaranya sampai ke sini," potong Kirana dengan senyum maklum yang menenangkan. "Mas Rio pergilah. Bianca itu penakut kalau sendirian di tempat gelap, dia pasti sangat panik sekarang."
"Tapi Mbak, kita baru saja mulai makan hidangan utamanya. Dan Mbak tidak mungkin pulang sendiri dari sini, ini daerah sepi," protes Raditya. Ia merasa sangat kesal karena momen berharganya dengan Kirana harus dihancurkan oleh tingkah manja Bianca.
Kirana justru meraih tasnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu, lalu menyelipkannya ke tangan Raditya. "Ini untuk ongkos taksi atau bensin. Mas Rio pakai saja mobil yang ada untuk jemput Bianca. Saya akan pesan taksi online atau minta tolong manajer di sini mencarikan kendaraan. Saya baik-baik saja, Mas. Sungguh."
Raditya menatap uang di tangannya, lalu menatap Kirana. Ada rasa kagum yang semakin dalam, namun juga rasa sesak karena harus meninggalkan wanita ini sendirian.
"Mbak benar tidak apa-apa? Saya merasa seperti supir yang sangat buruk sekarang," ucap Raditya pelan.
Kirana tertawa kecil, menyentuh lengan Raditya sekilas—sebuah sentuhan yang membuat jantung Raditya berdegup tidak karuan.
"Mas Rio adalah supir terbaik yang pernah saya temui. Pergilah. Adik saya lebih membutuhkan Mas sekarang daripada saya."
Dengan berat hati, Raditya bangkit berdiri. "Saya akan pastikan Non Bianca aman, lalu saya akan segera menghubungi Mbak dan saya naik taksi saja, mobilnya saya tinggalkan."
"Baiklah, Mas. Hati-hati di jalan, Mas Rio."
Raditya melangkah keluar dari restoran dengan langkah cepat. Begitu sampai di dalam mobil, ia memukul kemudi dengan kesal.
"Sialan kamu, Bianca!" geramnya.
Di dalam taksi menuju lokasi Bianca, Raditya terus merutuki keadaan. Ia yang biasanya memegang kendali atas ribuan karyawan, kini harus berlari-lari demi menuruti kemauan gadis berumur 20 tahun yang matre dan manja.
Namun, yang paling membuatnya kesal adalah kenyataan bahwa ia harus kehilangan waktu berdua dengan Kirana. Kirana yang begitu pengertian, Kirana yang bahkan memberinya uang taksi tanpa tahu bahwa ia bisa membeli seluruh armada taksi di kota ini jika ia mau.
"Sikapmu sangat berbeda dengan kakakmu, Bianca. Sangat berbeda," gumam Raditya sambil menatap jalanan malam Surabaya dengan tatapan tajam.
Malam itu, rasa penasaran Raditya pada Kirana berubah menjadi sesuatu yang lebih personal. Ia tidak hanya ingin melindungi rahasia Kirana, tapi ia ingin menjadi satu-satunya orang yang berdiri di samping Kirana saat wanita itu sedang lelah. Dan ia bersumpah, setelah urusan dengan Bianca selesai, ia akan menemukan cara untuk menebus waktu yang hilang malam ini.
***