Niat hati hanya ingin menolong Putri dari mantan majikan Kakeknya yang hendak melarikan diri, Asep justru di paksa untuk menikahinya.
Hanya tiga bulan, itu yang ia katakan, namun apa benar dalam waktu tiga bulan tak akan ada perasaan yang tumbuh diantara mereka?
Asep ada kecoak! Asep ada tikus! Asep, Asep, Asep, Asep!
“Sial, kenapa dikit-dikit gue terus manggil nama dia?” Ziya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Whidie Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 - Obsesi Asep
Asep menghela nafas ringan, “Iya maaf atuh Neng, saya gak akan ikut campur,” ucap Asep.
Setelah itu suasana pun menjadi hening, hanya suara deru mesin mobil dan suara gemeretak batu jalanan yang terlindas mobil yang membersamai perjalanan singkat mereka.
Tak berselang lama mereka pun sampai, namun ada yang menarik perhatian Ziya, ada dua orang yang tengah duduk di bale-bale di bawah pohon Kersen depan rumah Asep.
“Siti,” satu orang yang Ziya kenali dan yang seorang lagi yaitu Ibu paruh baya, saat mobil Asep sampai di pekarangan mereka pun bangkit berdiri dan perlahan menghampiri.
“Jang Asep, Neng Ziya saurna mah nya, punten atuh Ibu teh sumping Kadie hnteu ngawartosan hela,” (Jang Asep, Neng Ziya katanya namanya ya, maaf atuh Ini datang kesini gak bilang dulu) Ucap si Ibu paruh baya setelah Asep dan Ziya telah turun dari mobil.
“Maaf Bu, saya gak ngerti Ibu ngomong apa,” sahut Ziya.
“Oh punten atuh punten. Gini Neng gelis, kemarin itu loh, kadie maneh Siti!” bentak si Ibu pada Siti, jujur Ziya sedikit terkejut melihatnya.
“Naon atuh Emak ih,” (Apa atuh Emak ih,) rajuknya, namun dia tetap mendekat.
“Katanya Siti mau minta maaf soal kesalah fahaman kemarin,” ujar si Ibu menjelaskan maksud dan tujuannya.
“Oh yang kemarin ya,” Ziya menyeringai, dia tahu Siti sama sekali tidak merasa bersalah datang kemari pun hanya karena di paksa Ibunya.
“Sok atuh ngomong kamu teh,” desak sang Ibu.
“Iya iya, maaf soal yang kemarin, sebenarnya saya ngerti kamu ngomong apa, cuma karena saya dendam sama kamu karena ngerebut Kang Asep jadinya saya bersikap begitu,” ungkap Siti.
“Ngerebut apa atuh Teh, kita gak pernah ada hubungan apa-apa ko,” tanggap Asep, dia yang semula acuh dan memilih menurunkan barang-barang dari atas Pickup pun merespon cepat.
“Heeh atuh kamu mah ngerakeun Siti. Maaf atuhnya Jang Asep, Neng Ziya, mulai sekarang Ibu akan pastikan Siti gak ganggu kalian lagi.”
“Iya Bu, udah saya maafin ko,” sahut Ziya.
Lepas itu mereka pun pergi.
Ziya masuk kedalam rumah, semua barang belanjaannya sudah di rapikan oleh Asep dan dia justru lanjut memasak.
Ziya menatap punggung lebar yang tampak tengah sibuk memotong sayuran itu, ada perasaan aneh yang mengusiknya akhir-akhir ini, dia menggelengkan kepalanya berusaha menyadarkan diri.
“Sep, mau gue bantu gak?” Ziya menawarkan diri.
“Gak usah Neng, Neng duduk aja biar saya yang masak,” ujarnya tanpa menoleh.
“Kalau gitu, biar gue yang beres-beres rumah.”
“Jangan Neng, biarin aja biar nanti saya yang beresin,” Ziya yang hendak mengambil sapu pun seketika mengurungkan niatnya.
“Ya udah kalau gitu gue nyuci aja,” ujarnya sembari berlalu menuju tempat pakaian kotornya. Dan luar biasanya baju-baju miliknya pun sudah hilang.
“Sial, daleman gue. Asep! Lu nyuci baju gue?”
“Iya Neng, soalnya sekalian sama punya saya,” sahutnya dengan tampang polos.
Ziya memejamkan mata menahan geram, “Lu tahu, yang ada disana bukan cuma baju sama celana.”
Dia mengangguk pelan, “ada pakaian dalamnya juga.”
“Nah itu dia, aduh Asep....”
“Kenapa atuh Neng?”
“Pokonya jangan pernah sentuh pakaian gue, gue bisa nyuci sendiri!” kesalnya.
“Gak saya sentuh ko Neng sumpah!”
“Lu nyuci baju tanpa menyentuhnya gak percaya gue. Jangan-jangan lu mesum ya, lu gunain baju gue buat apaan hayo," tuding Ziya.
“Astagfirullah Neng, begitu banget mikir tentang saya. Saya nyucinya pake mesin cuci atuh, gak pake tangan. Dan lagi pakaiannya juga masih ada disana belum saya jemur, yaudah mulai sekarang saya gak akan nyuci pakaian Neng lagi.”
“Bagus gue juga punya tangan, gue bisa nyuci sendiri, dan satu hal lagi barang pribadi gue biar gue yang urus termasuk kamar gue, oke.”
“Iya, lagian lu tuh terobsesi banget ya sama ngurus rumah, sampe segitunya,” komentar Ziya.
“Bukan terobsesi atuh Neng, cuma terbiasa aja.”
“Ck dasar.”
Selepas sarapan seperti biasa Asep akan berangkat ke ladang, sedang Ziya hanya duduk-duduk sendirian di teras.
Karena bosan dia pun memilih untuk berjalan-jalan, menikmati sejuknya udara pedesaan, alam ditempat ini benar-benar masih terjaga, bahkan langit pun masih tampak berwarna biru cerah.
Ziya mempercepat langkahnya saat melewati warungnya Siti, malas sekali bertemu lagi dengannya apa lagi saat mendengar suara teriakannya.
'Harusnya Siti yang disana dampingi mu dan bukan dia, harusnya Siti yang kau cinta dan bukan dia...'
‘Harusnya Akang tahu bahwa, cinta Siti lebih dari dia harusnya yang kau pilih bukan dia...’
“Emang bener-bener gak waras si Siti ini,” gumam Ziya sembari terus berjalan.
Di tengah-tengah hamparan ladang sayuran, tampak beberapa orang tengah duduk sambil mengobrol tentu saja ada satu yang Ziya kenali, Asep.
“Sep, itu teh bukannya Istri kamu?” ucap Udin yang juga tengah duduk sambil menikmati bekal makan siang mereka.
Asep menoleh, sedang Ziya pura-pura tak melihat mereka.
“Neng mau kemana?” teriak Asep.
Ziya pura-pura tak mendengar, padahal nyatanya dia berjalan kemari memang sengaja ingin tahu lokasi tempat Asep bekerja.
“Neng!” Asep bangkit dan berjalan menghampiri Ziya.
“Eh elu Sep! Elu kerja disini?” tanya Ziya pura-pura tak tahu.
“Iya atuh Neng, katanya Neng mau sayuran, sok atuh mau sayuran apa biar saya petikan, atau mau petik sendiri?” tawarnya.
“Enggak ah, entar yang punya marah lagi. Lagian gue cuma pengen jalan-jalan doang, suntuk di rumah terus.”
“Yang punyanya gak bakal marah atuh Neng, dia mah takut sama saya,” kekehnya, “Neng mau jalan-jalan kemana, sok atuh saya temani takutnya Neng malah nyasar.”
“Nemenin gue, kan elu lagi kerja.”
“Kerja saya mah santai atuh Neng, lagian ada si Udin biar aja dia yang ngurus.”
“Serius, entar elu di pecat lagi. Gak papa gue pergi sendiri aja," tolak Ziya.
“Gak bakal di pecat ko Neng, kan saya sudah bilang yang punyanya takut sama saya,” ucap Asep kekeh.
“Jangan bilang yang punyanya cewek dan dia suka sama elu?”
“Bukan atuh, udah sok ayo. Disana ada sungai, Neng mau kesana?”
“Boleh,” ucap Ziya.
Ziya pun mengikuti langkah Asep, bukan lewat jalan bebatuan seperti tadi melainkan jalan setapak dengan banyaknya rumput dan ilalang yang tumbuh hampir setinggi dada.
Suara gemuruh air menandakan bahwa mereka sudah dekat ke sumber airnya.
Wah, Ziya menatap takjub air jernih yang mengalir itu, banyak bebatuan besar maupun kecil menghiasinya.
“Ada Ikannya gak?” tanya Ziya sambil menyentuh air tersebut.
“Kayanya sih ada, tapi saya lagi gak bawa alat pancing Neng, lain kali kita mancing disini.”
“Its oke, fotoin gue dong.” Ziya menyerahkan ponsel itu pada Asep, beberapa jepretan foto Ia ambil, hp pun kembali berpindah tangan pada sang pemilik.
Ziya memotret pemandangan, saat itu dia tak sengaja mengambil foto Asep. Dia hendak menghapusnya, namun ia urungkan dan malah menyimpan ponselnya kembali ke saku jaketnya.
Biar si benalu cari duit sendiri
❤❤😍😍💪💪
klao Asep gk cinta ma kmu ziyaa..
🤣🤣😄❤❤❤😍💪💪💪
ziya auto njerittt..
aaaaa..
🤣🤣😄😄😍😍😍❤💪💪💪
jangan samlai pak raden manfaatin ziya yaaa😍❤❤❤❤💪💪💪
jgn sampai siti curiga..
klao perlu ziya cium asep di depan siti..
🤣🤣😄😍❤❤❤❤
😍💪😍😍💪💪❤❤❤
aseppp..
siap2 aja macn netinamu ngamuk3..
🤣❤❤💪😍😄
bakal ada salah paham ini..
moga gak panjang salah pahamnya..
❤💪💪💪😍😍😄😄😄