NovelToon NovelToon
SANDIWARAS: Satu Kursi Tersedia

SANDIWARAS: Satu Kursi Tersedia

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Angst / Romansa
Popularitas:251
Nilai: 5
Nama Author: Hayra Masandra

Kasyaira Lawana (Aira) adalah seorang gadis "Punggelan". Dalam mitos Jawa, dia adalah anak bungsu yang ditakdirkan menjadi saksi kematian seluruh anggota keluarganya. Hidup mandiri di rumah tua yang sunyi, Aira tumbuh menjadi sosok samudera: menampung segala duka, bersikap dingin untuk melindungi diri, dan percaya bahwa mencintai berarti membunuh. Dia yakin dirinya memiliki Ain—sebuah pandangan "hasad" tak sengaja yang sanggup mendahului takdir untuk melenyapkan apa pun yang dia sayangi.

"Namaku Lawana, Kara. Samudera itu luas, tapi dia selalu sendirian di titik terdalamnya. Jangan datang, atau kamu akan kedinginan." — Aira

"Aku Bagaskara, Aira. Tugasku adalah bersinar. Kalaupun aku harus tenggelam di samuderamu, setidaknya aku pernah membuat airmu terasa hangat." — Kara

"Tuhan tidak sedang menghukummu dengan kehilangan. Dia hanya sedang mengosongkan tanganmu, agar kamu punya ruang untuk menggenggam tangan-Nya." — Pesan Sang Kiai

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayra Masandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ikatan di Ambang Cahaya

Sinar matahari sore menerobos masuk melalui celah gorden kamar 304, menciptakan garis-garis emas di atas sprei putih. Kara masih memakai kacamata hitamnya, namun hari ini ia tampak lebih rapi. Ia duduk bersandar, sementara Aira baru saja selesai mengupas buah pir untuknya.

Suasana sangat tenang, hanya ada suara detak jam dinding dan gumam televisi yang volumenya dikecilkan. Namun, Aira merasakan ada sesuatu yang berbeda dari tatapan Kara—meski ia tak bisa melihat matanya secara langsung.

"Aira," panggil Kara. Tangannya bergerak di atas sprei, mencari tangan Aira.

Aira meletakkan piring buah dan menyambut tangan itu. "Kenapa, Kara? Ada yang sakit?"

Kara menggeleng. Ia menggenggam jemari Aira dengan erat, ibu jarinya mengusap punggung tangan gadis itu dengan lembut. "Aku sudah memikirkan ini sejak malam aku ambruk. Tentang logika, tentang samudera, dan tentang matahari yang katanya nggak boleh padam."

Kara menarik napas panjang, seolah sedang mengumpulkan seluruh keberaniannya.

"Aku nggak mau cuma jadi 'Matahari' yang menyinarimu dari jauh, Aira. Aku mau jadi bagian dari duniamu. Aku mau kita punya ikatan yang nyata, supaya nggak ada lagi alasan buat kamu lari setiap kali kamu merasa takut akan kutukan itu."

Aira terpaku. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa suaranya tertahan di tenggorokan.

"Syaira Lawana... maukah kamu jadi kekasihku? Menjadi alasanku untuk selalu ingin 'terbit' setiap hari?"

Ruangan itu mendadak sunyi. Aira menatap wajah Kara yang tenang. Ia tidak melihat keraguan di sana. Yang ia lihat adalah seorang laki-laki yang siap menantang seluruh mitos Jawa demi dirinya. Air mata Aira jatuh, bukan karena sedih, tapi karena rasa haru yang luar biasa.

"Kara... kamu tahu kan risikonya?" bisik Aira.

"Risiko itu urusanku. Jawabannya cuma satu, Aira. Ya atau tidak?"

Aira mengangguk pelan, meskipun ia tahu Kara mungkin tidak bisa melihat gerakannya dengan jelas. "Iya, Kara. Aku mau."

Kara tersenyum lebar, sebuah senyuman paling tulus yang pernah Aira lihat. Mereka kemudian menghabiskan waktu satu jam berikutnya dengan mengobrol ringan. Kara menceritakan impian konyolnya ingin punya rumah dengan atap kaca agar bisa melihat bintang, dan Aira menceritakan bagaimana ia ingin menulis buku tentang seorang pemuda yang tidak takut pada kegelapan. Mereka tertawa, seolah-olah rumah sakit ini hanyalah sebuah tempat singgah yang menyenangkan.

Namun, saat jarum jam menunjukkan pukul tujuh malam, seorang suster masuk membawa kursi roda dan beberapa berkas. Senyum di wajah Kara perlahan memudar, berganti dengan guratan serius.

"Suster, beri kami waktu lima menit lagi," pinta Kara.

Setelah suster keluar, suasana mendadak menjadi berat. Kara menarik tangan Aira, membawanya mendekat ke arah wajahnya.

"Aira, ada sesuatu yang harus aku jujur," suara Kara merendah, kehilangan nada jenakanya. "Satu jam lagi... aku harus masuk ke ruang operasi. Dokter menemukan ada penyumbatan di pembuluh darah dekat saraf optikku. Kalau nggak dioperasi sekarang, aku bisa... kehilangan penglihatanku selamanya."

Aira terkesiap. Tangannya mendadak dingin. "Operasi? Kenapa kamu baru bilang sekarang?"

Kara menunduk. "Karena aku egois, Aira. Aku takut kalau aku bilang aku harus operasi sebelum melamarmu, kamu akan menganggap ini sebagai bukti bahwa 'kutukan' itu nyata. Aku takut kamu bakal lari lagi dan menjauh karena merasa bersalah."

Kara memegang pipi Aira dengan tangannya yang bebas. "Aku mengikatmu dengan hubungan ini sekarang karena aku ingin kamu tetap di sini saat aku bangun nanti. Aku ingin orang pertama yang aku lihat—kalau operasinya berhasil—adalah kamu. Dan kalaupun gelap yang menang... aku ingin kamu tetap jadi pemanduku."

Aira menangis sesenggukan, membenamkan wajahnya di telapak tangan Kara. "Kamu curang, Kara... kamu benar-benar matahari yang licik."

"Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan untuk menjaga duniaku tetap utuh," bisik Kara. "Jangan lari, ya? Tunggu aku di depan pintu ruang operasi."

Saat suster kembali dan mulai mendorong kursi roda Kara keluar kamar, Aira terus memegang tangan laki-laki itu hingga ke batas pintu zona steril. Kara melepaskan genggamannya perlahan, memberikan jempol dengan gaya khasnya sebelum pintu tertutup rapat.

Aira berdiri sendirian di koridor yang dingin, menatap lampu merah bertuliskan 'OPERATING' yang menyala. Ia menyadari satu hal: Kara telah menyerahkan seluruh logikanya ke tangan takdir, hanya agar Aira berhenti menyalahkan dirinya sendiri. Kini, giliran sang Samudera yang harus berdoa agar Mataharinya tidak benar-benar tenggelam malam ini.

1
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!