NovelToon NovelToon
Anomali Detik Ke-601

Anomali Detik Ke-601

Status: tamat
Genre:Action / Sci-Fi / Time Travel / Tamat
Popularitas:291
Nilai: 5
Nama Author: S. Sifatori

Kala Danuarta tidak pernah meminta menjadi pahlawan. Ia hanyalah seorang teknisi jam yang terjebak dalam kutukan Chronos-10, sebuah jam saku prototipe yang memungkinkannya kembali ke masa lalu selama 600 detik (10 menit). Namun, mesin itu memiliki sistem barter yang kejam: Memori untuk Waktu.
Setiap kali Kala melakukan lompatan waktu untuk mencegah kematian Arumi—gadis yang merupakan pusat dari segala paradoks—ia harus kehilangan satu kepingan ingatannya secara acak. Mulai dari nama guru SD-nya, rasa makanan favoritnya, hingga akhirnya ia lupa bagaimana wajah orang tuanya.
Kondisi semakin rumit karena Kala tidak kembali ke masa lalu sebagai dirinya sendiri, melainkan bertukar tubuh dengan orang asing yang ada di lokasi kejadian. Ia harus berpacu dengan waktu dalam tubuh yang bukan miliknya, tanpa identitas, untuk mengubah takdir yang seolah sudah digariskan oleh baja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sifatori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sang Penjaga Dibalik Detik

Menjadi janda dari seorang pria yang menjadi waktu itu sendiri adalah kutukan yang paling sunyi.

Arumi duduk di beranda rumah mereka yang kini terasa terlalu luas. Di pangkuannya, Naya yang berusia empat tahun sedang tertidur lelap. Dunia di luar sana tetap indah—Detik ke-603 telah berkembang menjadi peradaban yang damai—namun bagi Arumi, setiap sudut rumah ini adalah luka yang bernapas.

Ia sering merasa sedang diperhatikan. Bukan tatapan predator dari para Pemulih, melainkan tatapan yang hangat. Terkadang, saat ia hampir menjatuhkan cangkir teh, cangkir itu seolah melambat di udara, memberinya waktu satu milidetik tambahan untuk menangkapnya. Terkadang, saat hujan turun terlalu deras dan ia lupa mengangkat jemuran, awan di atas rumah mereka mendadak terbelah, menyisakan lingkaran sinar matahari yang kering hanya di area halaman mereka.

"Ayah ada di sini ya, Bu?" tanya Naya suatu pagi, sambil menunjuk ke arah kursi kosong di meja makan.

Arumi hanya bisa tersenyum getir sambil mengusap rambut putrinya. "Ayah selalu ada di setiap detak jam, Sayang."

Naya tumbuh dengan keanehan yang mulai sulit disembunyikan. Segel berbentuk telapak tangan di bahunya mulai memudar seiring bertambahnya usia. Naya tidak sadar bahwa setiap kali ia menangis karena jatuh, luka di lututnya akan sembuh sebelum air matanya menyentuh tanah. Waktu di sekitar Naya bersifat elastis.

Namun, kedamaian itu pecah saat Vera datang dengan kabar buruk.

Vera kini terlihat jauh lebih tua. Rambut peraknya telah memanjang dan ia selalu membawa tongkat kayu yang diukir dengan simbol-simbol kuantum. "Segel itu tidak akan bertahan lama, Arumi. Kala sedang berjuang di 'Pusat Mesin Semesta' untuk menahan tekanan dari Dewan Realitas, tapi Naya mulai 'bocor'."

"Apa maksudmu bocor?" Arumi berdiri, insting pelindungnya bangkit.

"Lihat bunga-bunga itu," Vera menunjuk ke kebun mawar di depan rumah.

Arumi terkesiap. Bunga-bunga mawar itu mekar, lalu layu, lalu kembali menjadi kuncup, lalu mekar lagi dalam siklus yang hanya memakan waktu beberapa detik. Realitas di sekitar Naya mulai tidak stabil.

"Dewan Realitas tahu Kala telah menjadi 'Sistem'. Mereka tidak bisa menyerang Kala secara langsung, jadi mereka melakukan hal yang lebih licik," Vera mendekat, suaranya bergetar. "Mereka mulai mengirimkan Paradoks Ego. Mereka menciptakan versi palsu dari Kala—sebuah bayangan yang terlihat, terasa, dan berbau seperti Kala—untuk memancing Naya melepaskan kekuatannya."

Tepat saat Vera menyelesaikan kalimatnya, sebuah siluet pria muncul di ujung jalan setapak.

Jantung Arumi hampir berhenti. Pria itu memakai jaket kulit cokelat yang sama dengan yang dipakai Kala saat mereka pertama kali bertemu. Postur tubuhnya, cara jalannya yang sedikit menyeret kaki kanan, bahkan cara dia menyisir rambut dengan jari tangannya... itu Kala.

"Kala?" bisik Arumi, air mata mulai mengalir tanpa bisa dibendung.

"Arumi... aku pulang," suara pria itu begitu mirip, begitu hangat, hingga sanggup menghancurkan pertahanan logika mana pun.

Naya terbangun. Matanya membulat melihat sosok pria yang selama ini hanya ia lihat di foto-foto kusam. "Ayah?"

Naya berlari menuju pria itu.

"NAYA, JANGAN!" teriak Vera.

Namun terlambat. Begitu Naya menyentuh tangan pria itu, sebuah ledakan energi hitam keluar dari tubuh si Kala palsu. Langit di atas rumah mereka seketika berubah menjadi merah darah. Tanah terbelah, memuntahkan ribuan jarum jam raksasa yang menusuk ke arah langit.

Pria itu berubah. Wajahnya meleleh, menampakkan permukaan cermin milik Pemulih yang jauh lebih kuat. Ia adalah Sang Peniru, pembunuh bayaran tingkat tinggi yang dikirim Dewan untuk memanen kekuatan Naya melalui emosinya.

"Energi murni dari rasa rindu seorang anak," Sang Peniru berkata dengan suara mekanik yang menyeramkan. "Itu adalah bahan bakar terbaik untuk menghancurkan dimensi ini."

Naya menjerit. Cahaya emas dari bahunya meledak, tapi kali ini cahaya itu tidak terkontrol. Cahaya itu mulai menghancurkan rumah, pepohonan, dan bahkan ingatan Arumi sendiri. Arumi mulai lupa nama suaminya lagi. Ia mulai lupa kenapa ia berdiri di sini.

"Kala... tolong..." Arumi terjatuh, memegangi kepalanya yang mulai terasa kosong.

Di saat itulah, sebuah keajaiban terjadi.

Waktu benar-benar berhenti. Bukan sekadar melambat, tapi mati.

Partikel debu di udara membeku. Angin berhenti berhembus. Bahkan napas Sang Peniru terhenti di tenggorokannya. Di tengah kesunyian absolut itu, sebuah sosok muncul dari udara kosong.

Ia tidak memiliki bentuk fisik yang tetap. Ia tampak seperti kumpulan bintang yang membentuk tubuh manusia. Di dadanya, sebuah jam mekanik raksasa berdetak dengan suara yang sangat agung.

Kala.

Ia tidak bicara dengan mulut, tapi getaran eksistensinya bergema di setiap atom dalam tubuh Arumi.

“Maafkan aku karena harus membiarkan kalian menunggu begitu lama,” suara itu merasuk ke dalam jiwa Arumi, mengembalikan semua ingatannya dalam sekejap.

Kala berjalan mendekati Naya. Ia menyentuh kening putrinya. Seketika, cahaya emas yang liar itu meredup dan kembali masuk ke dalam segel di bahu Naya. Dengan satu lambaian tangan, Sang Peniru hancur menjadi debu yang tidak berarti.

Kala kemudian menatap Arumi. Meskipun ia tidak memiliki wajah manusia lagi, Arumi bisa merasakan kesedihan dan cinta yang luar biasa dari entitas bintang itu.

“Arumi, aku tidak bisa tinggal lama. Dewan sedang mencoba menutup celah ini selamanya. Mereka akan menghapus Detik ke-603 dari peta semesta.”

"Lalu apa yang harus kami lakukan?" tangis Arumi. "Jangan biarkan kami hilang!"

“Kalian tidak akan hilang. Tapi kalian harus pindah ke tempat yang paling tidak terduga. Tempat di mana Dewan tidak akan pernah mencari kalian.”

"Di mana?"

Kala mengulurkan tangannya yang terbuat dari cahaya nebula. “Ke dalam ingatanku. Ke dalam masa lalu yang pernah kita lalui. Kita tidak akan mengubahnya, kita hanya akan bersembunyi di sela-sela detik yang sudah pernah terjadi.”

Vera menggeleng. "Itu bunuh diri secara eksistensial, Kala! Kamu akan membuat mereka menjadi 'Kenangan yang Hidup'!"

“Itu adalah satu-satunya cara agar kita bisa bersama lagi,” balas Kala.

Kala memeluk Arumi dan Naya sekaligus. Cahaya bintang dari tubuhnya menelan mereka. Rumah itu, lembah itu, dan seluruh dimensi Detik ke-603 mulai mengerut, terhisap masuk ke dalam jam raksasa di dada Kala.

Saat cahaya itu hilang, yang tersisa hanyalah sebuah perpustakaan tua di Jakarta, sepuluh tahun yang lalu.

Di salah satu sudut rak nomor 402, seorang pria muda bernama Kala sedang mencoba mengambil buku yang terlalu tinggi. Di sampingnya, seorang gadis bernama Arumi sedang memperhatikan.

Namun, jika dilihat lebih dekat, di dalam bayangan mereka, ada seorang wanita dewasa dan seorang anak kecil yang sedang bersembunyi, hidup di dalam bayang-bayang kenangan itu sendiri.

Mereka selamat. Mereka aman. Tersembunyi di dalam waktu yang sudah berlalu, dijaga oleh pria yang telah menjadi waktu itu sendiri.

1
Marina Bunga
masyaallah, baru baca bagian depan udah kerennnnn😍
Samuel sifatori: Hiii kakk, makasih banget lohh😁☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!