NovelToon NovelToon
WAKTU YANG SALAH

WAKTU YANG SALAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Murni
Popularitas:619
Nilai: 5
Nama Author: starygf

cerita ini tentang dua remaja di bangku kuliah yang saling mengenal, saling memberi masukan, saling berbagi tawa dan canda, tapi semuanya hanya sebatas teman entah apa tapi semua orang disana tau apa yang mereka saling beri bukan berada pada batasan teman tapi “dua orang yang saling menaruh harapan”. kisah tentang seorang pria perantau dan gadis tuan rumah dengan bahasa, watak, kebiasaan yang berbeda tapi bisa saling terikat karena ketidak sengajaan mungkin bisa di sebut cinta di waktu yang tidak tepat kisah mereka tak salah yang salah dari semua ini hanya satu yaitu waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon starygf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 28

“Ra,” ucapnya pelan, “aku nggak mau jadi orang yang ngerusak hubungan kamu.”

“Aku juga nggak mau ngerusak siapa-siapa,” jawab Aura cepat. “Tapi aku juga nggak bisa bohong ke diri sendiri.”

Tatapan mereka bertemu.

Jarak di antara mereka memang masih ada, tapi terasa semakin tipis.

Ponsel Aura tiba-tiba bergetar.

Nama Alden muncul di layar.

Aura menatapnya cukup lama sebelum akhirnya mengangkat.

“Halo.”

“Kamu masih di kampus?” suara Alden terdengar tenang seperti biasa.

“Iya.”

“Udah makan?”

“Belum.”

“Aku lagi di jalan ke sana.”

Jantung Aura berdegup sedikit lebih cepat. “Sekarang?”

“Iya. Aku pengen ketemu kamu.”

Aura menoleh ke arah Harry tanpa sadar. Harry sudah bisa menebak dari ekspresinya.

“Iya,” jawab Aura pelan sebelum menutup telepon.

Harry mengangguk kecil. “Dia ke sini?”

Aura mengangguk.

Beberapa menit kemudian, mobil Alden masuk ke parkiran. Ia turun dengan langkah santai, tatapannya langsung menemukan Aura.

Dan tentu saja, Harry.

Alden mendekat tanpa tergesa.

“Kamu belum pulang?” tanyanya pada Aura, suaranya tetap lembut.

“Belum.”

Alden lalu menoleh ke Harry. “Masih setia di taman?”

Harry tersenyum tipis. “Tempatnya enak.”

Alden mengangguk. Tidak ada ketegangan berlebihan. Justru suasana terlalu tenang untuk situasi seperti ini.

“Aku ajak kamu makan,” kata Alden pada Aura.

Aura berdiri pelan. Tapi sebelum melangkah, ia menoleh ke Harry.

“Besok ada kelas pagi,” ucapnya pelan.

“Iya,” jawab Harry. “Jangan telat.”

Sesederhana itu.

Aura berjalan mendekati Alden. Tapi sebelum benar-benar pergi, ia berhenti sebentar.

“Harry,” panggilnya.

Harry menoleh.

“Jangan kebanyakan ngerokok.”

Harry tersenyum kecil. “Kamu juga.”

Alden memperhatikan interaksi kecil itu tanpa komentar. Namun tatapannya tidak lagi sepenuhnya santai. Ada sesuatu yang mulai ia rasakan bukan ancaman, tapi perubahan.

Di mobil, Aura diam cukup lama.

“Kamu nyaman sama dia ya?” tanya Alden tiba-tiba.

Aura tidak terkejut. “Iya.”

Alden mengangguk pelan. “Aku bisa lihat.”

Hening.

“Tapi kamu masih di sini sama aku,” lanjut Alden.

Aura menatap keluar jendela. “Iya.”

Alden tidak bertanya lebih jauh.

Sementara itu, Harry kembali duduk di bangku taman sendirian. Ia tidak langsung menyalakan rokok kali ini. Tangannya hanya menggenggam ponsel, menatap layar kosong.

Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasa Bukan cuma garisnya yang mengabur.

Tapi jaraknya juga semakin dekat.

Dan jika terus seperti ini, suatu hari nanti, salah satu dari mereka pasti akan terluka.

Entah itu dia.

Entah itu Alden.

Atau mungkin… Aura sendiri.

Malam itu makan malam bersama Alden terasa normal. Terlalu normal. Mereka duduk berhadapan, membicarakan hal-hal ringan pekerjaan Alden, tugas kuliah Aura, rencana akhir pekan.

Tapi di sela percakapan, Aura beberapa kali kehilangan fokus.

“Kamu capek?” tanya Alden, menyadari tatapannya yang kosong.

“Sedikit.”

Alden mengangguk pelan. “Karena aku datang tiba-tiba?”

Aura tersenyum tipis. “Bukan.”

Alden tidak mengejar jawaban. Ia hanya memperhatikan Aura lebih lama dari biasanya. Ada perubahan kecil yang sulit dijelaskan. Bukan soal sikap. Tapi soal jarak emosional yang mulai terasa… berbeda.

Setelah makan, Alden mengantar Aura pulang.

Sebelum Aura turun dari mobil, Alden berkata pelan, “Aku tahu kamu lagi bingung.”

Aura terdiam.

“Aku nggak akan maksa kamu buat jawab apa pun sekarang,” lanjutnya. “Tapi satu hal yang perlu kamu tahu aku lagi berusaha. Bukan cuma buat hubungan ini. Tapi buat kamu.”

1
only siskaa
wahhh baruu nii
jngn lupa mmpir ke karya ku juga minn🫣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!