NovelToon NovelToon
Its Always Been You, Fraya

Its Always Been You, Fraya

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Cintapertama / Enemy to Lovers
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Juno Bug

Damian Harding terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Ia adalah pusat semesta Milford Hall—ditakuti, dipuja, dan tak pernah ditolak.

Sampai Fraya Alexandrea datang.

Gadis Indonesia yang tak tertarik pada popularitas, tak gentar pada reputasi, dan tak mau tunduk pada nama besar Harding.

Penolakan Fraya bukan sekadar luka bagi Damian—itu menjadi tantangan. Apa yang dimulai sebagai permainan ego perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.

Rindu. Candu. Obsesi.

Dan di sekolah elite yang penuh rahasia itu, tidak semua cinta datang dengan cara yang indah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juno Bug, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

The Unspoken Waiting

Hari yang dinanti-nantikan oleh seluruh penghuni sekolah pun akhirnya tiba. Hari pertama babak final pertandingan Lacrosse antara Milford Hall dan Easwood High. Pertandingan babak final ini rencananya akan diselenggarakan dua hari berturut-turut dengan Milford Hall sebagai tuan rumah.

Atmosfer di Milford Hall mendadak berubah menjadi medan energi yang meluap-luap. Seluruh jajaran murid dan guru sepakat menghentikan aktivitas belajar-mengajar lebih awal, memberikan ruang bagi semangat yang membuncah untuk mengalir menuju lapangan hijau.

Semua bergerak serentak, berbondong-bondong memenuhi setiap sudut tribun panjang dan besar yang telah disediakan. Teriakan membahana mulai memenuhi cakrawala lapangan Lacrosse, menciptakan keriuhan yang sanggup menggetarkan dada siapa pun yang mendengarnya. Antusiasme yang berada di titik didih ini membuat setiap jengkal kursi penonton mustahil untuk menyisakan ruang kosong.

Warna-warna kebanggaan sekolah berkibar di mana-mana, menyambut partai final yang akan menjadi catatan sejarah baru tahun ini.

​Menjelang sepuluh menit sebelum peluit tanda dimulainya pertandingan menggema, Damian beserta seluruh anggota timnya sudah berkumpul di pinggir lapangan. Mereka sibuk mempersiapkan diri; masing-masing melakukan pemanasan intens guna melemaskan otot-otot yang tegang, sembari menunggu saat-saat kick-off. Di tengah lapangan, para cheerleader sedang beraksi, menyerukan bentuk dukungan dengan gerakan enerjik dan sorak-sorai yang heboh, semakin membakar semangat para suporter.

​Namun, di tengah hiruk-pikuk itu, sang kapten justru tampak tidak tenang. Mata Damian terus berpendar, menyisir tajam ke setiap sudut tribun penonton yang berjejal. Ia mencari seseorang. Seseorang yang sejak tadi ia tunggu dengan kegelisahan yang mulai menyiksa batinnya.

​Hari besar ini sebenarnya sudah Damian nantikan cukup lama. Dengan persiapan matang dan jam terbang yang tinggi, ia biasanya tidak memerlukan dukungan tambahan untuk memenangkan pertandingan. Bagi Damian pribadi, ia adalah pusat gravitasi. Tanpa perlu meminta pun, Damian sudah lebih dari cukup mendapatkan dukungan gila-gilaan dari seluruh siswa di sekolahnya. Bahkan, beberapa guru Milford terlihat berdandan khusus sambil membawa papan dukungan besar yang mencantumkan nama kapten bernomor punggung 7 itu.

​Namun, ironisnya, ribuan sorakan itu terasa hambar. Dukungan yang benar-benar Damian inginkan justru tidak juga muncul di mana pun matanya berpendar. Kursi yang ia bayangkan akan diisi oleh sosok gadis itu tetap menjadi misteri di tengah lautan manusia.

​"Damian! Two minutes, Captain!" seru pelatih Lacrosse-nya, melempar tanda tegas agar Damian segera berkumpul karena pertandingan akan segera dimulai.

​Damian mengepalkan tinjunya kuat-kuat. Di dalam hati, ia merutuk cewek itu—Fraya Alexandrea—yang tampaknya benar-benar tega mengabaikan titahnya.

Dengan perasaan geram yang bercampur dengan kekecewaan yang tertahan, Damian akhirnya berbalik. Ia berlari cepat menuju kerumunan timnya yang sudah menunggu, membawa kemarahan itu sebagai amunisi untuk menghancurkan lawan di lapangan.

°°°°

Sementara itu, tak jauh dari riuhnya atmosfer di lapangan Lacrosse yang seolah hendak meledak, Fraya baru saja melangkah ragu menuju perpustakaan.

Tubuhnya nyaris terlonjak kaget saat gelombang sorakan heboh dan bercampur dengan tiupan trompet dari arah lapangan, menghantam telinga tepat ketika Fraya melepaskan earphone yang sejak tadi ia pasang.

Gema itu terasa begitu nyata, mengejarnya hingga ke koridor-koridor sunyi sekolah seolah memanggilnya untuk berbalik arah.

​Semalaman, Fraya terjebak dalam perang batin yang melelahkan hingga membuatnya jadi susah tidur. Ia terus menimbang pada dua pilihan yang sama-sama memberatkan, yaitu pergi ke perpustakaan untuk meminjam buku Oxford Preparatory volume 4—seperti yang sudah direncanakannya—atau menuruti perintah posesif Damian kemarin untuk duduk manis menonton pertandingan Lacrosse.

"Dasar diktator! Seneng banget sih nyuruh-nyuruh orang seenaknya begitu!" Fraya mengomel dalam bahasa Mamanya sendiri tadi malam, saat matanya belum juga bisa terpejam untuk tidur.

Fraya masih berdiri tepat di undakan tangga paling bawah. Sambil menggigit bibir, ia menatap lapangan hijau yang terlihat sayu dari balik jendela besar di sela tangga menuju lantai dua, menimbang dalam bimbang keputusan mana yang harus Fraya pilih saat ini juga.

Kebingungan jelas merundung hatinya. Tadi pagi, Florence dan Asa sudah habis-habisan memaksanya ikut ke tribun jika ingin selamat dari murkanya seorang Damian Harding. Namun, kedua temannya itu tidak tahu betapa trauma Fraya setelah menjadi pusat perhatian sekaligus gunjingan pedas dari para siswi kemarin.

"Damian itu sudah terbiasa mendapatkan apapun yang dia mau, Alexa. Saranku lebih baik kamu datang saja ke tribun untuk menonton pertandingan. Nanti aku bantuin kamu bersembunyi deh supaya tidak terlihat sama cewek-cewek penggemar Damian disana." tukas Florence dengan yakin agar temannya ini lebih baik menuruti saja permintaan Damian yang satu ini.

​Tapi Fraya paling anti menjadi pusat perhatian. Sejak awal, tujuannya sudah jelas dan gamblang, yaitu fokus mengejar tiket emasnya meraih Oxford tanpa perlu bahan omongan di sekolah elit ini. Baginya, lebih baik ia menyatu dengan dinding berlumut yang tak terlihat daripada harus menjadi berlian yang dipajang di tengah gemerlap ruangan, hanya untuk dipelototi banyak orang.

​Lagi pula, apa sih arti kehadirannya bagi cowok menyebalkan dan sok berkuasa seperti Damian? Rasanya tidak ada arti lebih.

Walaupun keadaan memaksanya mengenal sisi lain Damian lebih dalam dari yang seharusnya, tetap saja ada keraguan yang menyelinap; mungkinkah mereka benar-benar berteman? Mengingat status Damian yang setara aristokrat sekolah, rasanya sangat jomplang dengan Fraya yang lahir dari keluarga sangat biasa.

Mana mungkin cowok setampan, seborjuis, dan berstatus sosial setinggi Damian benar-benar mau menganggap Fraya teman?

​Pikiran itu menjadi jawaban final. Fraya memutar arah langkahnya menuju perpustakaan. Setibanya disana, ia disambut ketenangan yang selalu ia puja. Aroma lembaran buku tua yang khas dan deretan rak yang menjulang memberikan damai yang selalu ia pilih atas apa pun hal yang ditawarkan dunia luar.

​Fraya menuju meja resepsionis untuk menanyakan buku yang dicarinya. Semenit kemudian, ia diarahkan ke koridor paling belakang—sebuah sudut sunyi yang menyimpan buku-buku lama yang usianya mungkin jauh lebih tua dari usia Fraya yang saat ini bahkan belum genap 17 tahun.

​"Karena saat ini kami sedang kekurangan staf, terpaksa kamu ambil sendiri bukunya di bagian rak paling atas sana, ya," ujar petugas itu sambil menunjuk ke deretan buku yang nyaris menyentuh langit-langit.

​Fraya mengernyit sebentar. Ia ingin bertanya bagaimana caranya menjangkau buku itu kalau ia tidak punya sayap untuk terbang.

​"Ah, saya lupa. Kamu bisa pakai tangga geser ini," si petugas menunjuk tangga kayu yang tampak rapuh.

​Fraya bernapas lega. Meski ragu, ia mulai memanjat. Tangga itu berderit, memprotes beban yang diterimanya. Baru dua undakan ia mendaki, pijakannya terasa agak mengendur, membuat nyali Fraya ciut. Dengan rasa ngeri namun butuh, Fraya memberanikan diri demi sebuah buku tebal yang belum sanggup ia beli dengan uang sakunya sendiri.

Dia bisa saja minta Papa atau Mama nya belikan. Tapi mengingat Papa saat ini juga sedang banyak pengeluaran untuk kebutuhan Mama, Fraya tidak sampai hati untuk minta dibelikan edisi lanjutan Oxford yang harganya bikin uang sakunya jadi meringis.

​"FRAYA ALEXANDREA!"

​Suara menggelegar itu menghantam sunyi nya perpustakaan seperti bom yang meledak tiba-tiba. Tubuh Fraya terlonjak seketika dan nyaris limbung ke bawah. Ia refleks berpegangan pada undakan teratas sekuat tenaga agar tidak mendarat ke kerasnya lantai dibawah. Jantungnya serasa mau copot.

Ia memicingkan mata, dan sedetik kemudian, napasnya seolah tertahan di kerongkongan.

​Damian berdiri di sana. Melangkah lebar-lebar dengan aura yang begitu mengerikan—sesuatu yang belum pernah Fraya lihat selama mengenalnya. Tampang cowok itu kusut masai, helai-helai rambut pirangnya basah karena keringat, dan napasnya tersengal hebat saat ia berhenti tepat di samping tangga.

​Damian mendongak, menatap tajam Fraya yang berada di ketinggian.

"Kamu ngapain sih di sini!?" bentaknya.

​Suara itu menggelegar di ruang sunyi, membuat Fraya ngeri sekaligus takut untuk turun. "Aku... aku mau ambil buku Oxford yang kemarin aku bilang mau ku pinjam," ujar Fraya polos, persis anak kecil yang ketahuan mencuri permen.

​Damian berdecak kesal, wajahnya memerah karena amarah yang mendidih. Jawaban polos Fraya seolah menjadi bensin yang menyulut api kemarahannya. "Kamu tuli atau pikun, sih!? Kemarin aku sudah bilang kalau kamu hari ini harus hadir di pertandinganku! Aku ngomong begitu bukan buat dibantah apalagi diingkari, Fraya! Tapi kenapa sih kamu gemar sekali menentang kemauanku!?"

​Ledakan Damian akhirnya menyentuh titik emosi Fraya yang sudah ia tahan sejak tadi. Sambil tetap berdiri gemetar di atas tangga, ia membalas bentakan itu.

"Kamu tuh siapa, sih, seenaknya menyuruh orang untuk harus nonton pertandingan kamu!? Memangnya kalau dukunganmu kurang satu saja, kamu langsung kalah bermain, gitu? Memangnya fungsi ku apa kalau aku hadir di sana, Damian!? Bukannya jadi punya arti, kehadiranku malah bakal bikin rumor tentang kita jadi bahan omongan yang tidak-tidak!"

​Untung koridor itu sepi, sehingga perseteruan mereka tidak memicu teguran staf. Damian mendesah kasar, amarahnya sudah di titik puncak. Tanpa kata lagi, ia mengulurkan tangannya dengan paksa. "Pegang tanganku. Ayo turun dan ikut aku ke lapangan," perintahnya galak dan tidak boleh lagi didebat.

Tapi dasarnya Fraya, bukannya menurut, ​malah jadi ikutan emosi. Ia dengan kasar menepis tangan yang terulur didepannya itu sambil melotot. "Kamu pergi saja deh ke neraka! Kamu tidak punya hak untuk menyuruhku berbuat apa yang kamu mau. Aku bukan asisten, penggemar, atau budak kamu yang bisa seenaknya kamu suruh ini-itu!"

​Kalimat itu begitu telak, dan sukses meletupkan emosi Damian yang sejak tadi berusaha ia redam mati-matian.

Dengan kekesalan yang memuncak, Damian menarik kasar lengan Fraya, membuat tubuh Fraya reflek menghindari sebisa mungkin. Namun karena pijakan dibawah kaki Fraya berderik goyah sejak tadi, kaki Fraya jadi tergelincir dan tubuhnya limbung mendarat tepat ke arah Damian.

​Damian dengan sigap menangkap tubuh mungil itu. Dalam satu gerakan cepat, ia membopong Fraya dalam dekapannya, menggendongnya seolah-olah Fraya hanya seringan kapas. Fraya memekik tajam, berusaha melepaskan diri dengan mendorong bahu Damian sambil meronta-ronta.

​Tapi alih-alih menuruti cewek ini, Damian justru mempererat lengannya.

Ia membopong Fraya melintasi ruang perpustakaan dengan langkah-langkah lebar, menciptakan reaksi dahsyat dari siswa-siswi yang ada di sana. Fraya terus meronta didalam kedua lengan Damian yang begitu kokoh, tapi tetap saja Damian berlagak seolah tuli.

Ia membawa Fraya keluar, melintasi koridor sekolah dengan wajah lurus dan rahang mengeras, sementara semua orang yang berpapasan dengan mereka langsung melongo parah dan menutup mulut tidak percaya.

​"Damian lepaskan aku! Lepasin!!!" Fraya menjerit frustrasi, walaupun sia-sia saja. Tenaga Damian yang besar tidak mungkin bisa ia lawan.

​Kehebohan yang lebih dahsyat terjadi saat Damian muncul kembali di lapangan Lacrosse dengan seorang gadis dalam gendongan bridal style. Penonton di tribun tumpah ruah sambil berdesakan demi melihat dua insan yang entah muncul darimana ini kembali menyajikan sebuah adegan yang bikin banyak mata jadi dengki sekaligus kagum.

Ricuhnya para penonton yang berdesakan menyaksikan kemunculan sang kapten yang sempat hilang bak ditelan bumi saat jeda pertandingan. Sementara para guru yang ikut hadir menonton juga tidak bisa berkomentar apa-apa dan hanya bisa menggelengkan kepala atas aksi nekat murid kebanggaannya satu itu dipinggir lapangan.

​Rontaan Fraya berhenti seketika. Ia mendadak beku oleh rasa malu paling gila seumur hidupnya. Tubuhnya menegang ditatap ratusan pasang mata yang kini tertuju padanya. Tanpa sadar, ia mencengkeram jersey Damian kuat-kuat, menyembunyikan wajahnya di dada cowok itu, berharap bumi terbelah dan menelannya saat itu juga.

​Damian sadar betapa malunya gadis di dekapannya ini. Ia menurunkan tubuh Fraya perlahan di pinggir lapangan, namun tetap memegangnya dengan erat. Wajah Fraya merah padam, matanya mulai berkaca-kaca karena kombinasi antara marah dan malu.

​"Jangan menangis. Aku tidak mau orang lain melihatmu menangis seperti ini," bisik Damian rendah. Ia menyeka air mata yang menggantung di pelupuk mata Fraya dengan ibu jarinya, gerakannya kini berubah menjadi sangat lembut.

​Amarah Damian sudah menguap. Ia hanya butuh gadis ini hadir di sana, dalam jarak pandangannya, agar pikirannya bisa fokus. Sejak Fraya tidak muncul di babak pertama, Damian merasa seperti raga tanpa jiwa yang berlari tanpa arah di lapangan.

​Beberapa detik kemudian, Damian menggandeng tangan Fraya dengan posesif menuju tribun bawah, tempat Florence dan Asa berada. Sejak tadi dua temannya ini hanya bisa ikut menyaksikan dari jauh dengan tatapan nelangsa, jelas tidak bisa berbuat apa-apa juga untuk menyelamatkan temannya itu dari aksi nekat Damian.

Damian membawa Fraya ke Florence yang sudah lebih dulu turun. Ia menyerahkan tangan Fraya kepada Florence, lalu memberikan anggukan kecil tanpa kata seolah menyuruh Florence untuk menjaga cewek itu agar tidak pergi kemana-mana Setelahnya, Damian berlari mundur untuk kembali menuju timnya yang sudah menunggu.

​Suara riuh kembali membakar stadion, kali ini lebih gila dari sebelumnya. Namun kini fokus para penonton terpecah belah menjadi dua bagian, antara tenggelam dalam euforia pertandingan Lacrosse yang sudah kembali dimulai ketika wasit meniupkan peluit panjang diantara tim Milfrod Hall dan Eastwood High, dan aksi paling ciamik, romantis nan heboh dari seorang Damian Harding yang bakal jadi momen paling diingat seumur hidup.

Florence merangkul Fraya yang masih tertunduk lesu, membawanya duduk di antara dirinya dan Asa.

"Alexa, are you okay?" Florence menyibak rambut Fraya yang menutupi sebagian wajahnya. Fraya meneguk air minumnya sedikit, lalu menarik napas begitu dalam tanpa menjawab pertanyaan Florence. Karena tanpa dijawab pun, wajah padam Fraya sudah begitu gamblang menegaskan kondisinya yang membuatnya begitu terguncang hari ini.

Sementara itu, di tengah lapangan, Damian kembali memimpin pertandingan dengan beringas, seolah baru saja mendapatkan pasokan energi baru.

​Florence kini yakin seyakin-yakinnya, perasaan Damian Harding kepada Fraya jelas-jelas sudah tidak bisa dibantah lagi.

​Si tampan penguasa sekolah itu benar-benar sudah jatuh cinta setengah mati kepada Fraya Alexandrea.

1
Ris Andika Pujiono
aku baca cerita ini seperti ninton film
bukan sekedar cerita receh. Sayang sekali baru dpt sedikit peminat. padahal kalo ditilik dari sisi kualitas cerita ngga kalah dari cerita2 best seller di Toon penulisannya rapi, cara berceritanya elegan. kak terus semangat menulis ya 🥰💪💪
Ris Andika Pujiono: asyik bisa ditungguin dong. sampai tamat 😎🥰🫰
total 4 replies
Ris Andika Pujiono
kaan Alana keluar 😔😎
Ris Andika Pujiono
kini aku punya hobby baru
nungguin up date ceritamu
kereeeeen 🥰🥰🥰🥰
Ris Andika Pujiono
omG sepertinya akan banyak masalah diantara mereka 😔😔😔😔😔
terima kaaih kak udah upp
Ris Andika Pujiono
kasian Damian 🥲
Ris Andika Pujiono
awas lu Damian sampe nyakitin Fraya 😎
Ris Andika Pujiono
yg baca senyum2 sendri thor
sungguh ceriamu bagusss 🙏😍
Ris Andika Pujiono
semoga semoga kalian baik2 saja Fraya & Damian
Ris Andika Pujiono
seruuuuuuu aku suka ceritamu kak
up terus ya tiap hari sampai tamat
janji 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Ris Andika Pujiono
Frayaaaa 🥲
Ris Andika Pujiono
cetita bagus begini g ada yg like sih🥲
Ris Andika Pujiono
Damiaaaan jatuh cintaaa
baca sambil ngabuburit
Ris Andika Pujiono
ehemmmm
Ris Andika Pujiono
🥰🥰🥰🙏
Ris Andika Pujiono
Fraya?????
Ris Andika Pujiono
semoga happy ending
Ris Andika Pujiono
awesome💪💪💪💪💪
Ris Andika Pujiono
kok baru nemu sih. jgn sampai hiatus yaa aku tungguin sampai tamat🥰
Ris Andika Pujiono
wow i like it ... 💪
Ris Andika Pujiono
cie cie cieeeeee 🥰🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!