Geun hanya ingin cepat kaya dan hidup nyaman.
Tapi setiap kebohongan kecil dan pertarungan nekat demi uang justru melahirkan legenda baru.
Saat dunia bela diri mulai menyebutnya monster dan iblis, Geun sendiri hanya sibuk mencari kerja dengan bayaran tinggi.
Geun yang awalnya hanyalah pemuda gelandangan yang ingin hidup bebas dan nyaman, namun tanpa sadar meninggalkan jejak yang mengubah dunia bela diri selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drunk Cats, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab #10: Murid Wudang
Kedai Teh Paviliun Blue Lotus adalah tempat super elit di mana orang-orang beradab minum teh seharga satu keping perak per cangkir. Tidak ada teriakan mabuk, noda tumpahan arak, atau bau keringat kuli di sini. Hanya bangsawan, pedagang kaya, dan praktisi dari sekte atau klan besar yang boleh ada di sini.
Semuanya disambut denting halus porselen dan aroma teh melati yang menenangkan.
Di meja terbaik di lantai dua, dekat jendela yang menghadap jalan utama Kota Jeokha, duduk tiga orang pemuda dua puluh tahunan.
Mereka mencolok. Sangat mencolok.
Bukan karena mereka berisik, tapi karena aura bersih dan terhormat yang mereka pancarkan.
Mereka mengenakan jubah putih bersih dengan kelim biru laut. Di dada kiri mereka, terbordir lambang Yin-Yang kecil yang elegan. Rambut mereka disanggul rapi dengan tusuk giok, dan di pinggang mereka tergantung pedang dengan sarung yang dipoles indah.
Murid Dalam Sekte Wudang.
Salah satu sekte besar Murim Ortodoks.
Pengunjung lain mencuri pandang dengan kagum dan segan. Bagi rakyat jelata, mereka adalah bangsawan langit yang turun ke bumi.
Namun, wajah ketiga "bangsawan" itu sedang suram.
"Jalan buntu lagi," desah pemuda termuda, Jang Min-seok. Dia meletakkan cangkir tehnya dengan kasar. "Sudah empat bulan, Senior. Kita menyusuri Sungai Kuning sampai ke Henan, tapi jejak mayat-mayat itu selalu hilang seperti ditelan bumi."
Pemuda di sebelahnya, Seo Yun-gyeom, yang memiliki wajah lebih tegas dan mata yang skeptis, mengetuk-ngetuk meja.
"Jiangshi bukan perkara sepele, Junior. Siapapun yang mengendalikan mereka pasti bukan amatiran. Mereka menutupi jejak dengan rapi. Mungkin... kita harus pulang dan melapor ke Tetua bahwa misi ini gagal."
"Gagal bukan opsi," suara ketiga memotong dengan tenang namun penuh wibawa.
Itu adalah Baek Mu-jin. Murid Senior tertua di antara mereka.
Wajahnya tenang seperti permukaan danau, tapi matanya tajam dan analitis. Dia adalah murid elit Wudang yang sudah mencapai ranah puncak First Rate di usia muda, prestasi yang membuat iri banyak orang.
"Sekte mengirim kita bukan untuk menyerah, Yun-gyeom," lanjut Mu-jin. "Kita adalah mata dan telinga sekte. Jika ada kegelapan yang tumbuh, pedang Wudang harus menjadi yang pertama memotongnya."
"Kata-kata yang indah, Senior," sindir Yun-gyeom halus. "Tapi pedang butuh target. Kita buta di sini."
Saat itulah, seorang pelayan kedai naik tergopoh-gopoh. Di belakangnya, mengekor seorang pria tua dekil dengan pakaian penuh tambalan.
Seorang informan dari Sekte Pengemis.
Bau apek pengemis itu membuat beberapa tamu menutup hidung, tapi Baek Mu-jin tidak bergeming. Dia meletakkan sekeping tael perak di meja.
"Katakan," perintah Mu-jin.
Pengemis itu menyambar perak itu sambil menyeringai ompong. "Tuan Muda Wudang memang dermawan. Sesuai pesanan kalian tentang karavan aneh dan mayat berjalan..."
"Kau menemukannya?" tanya Min-seok antusias.
"Belum pasti," jawab si pengemis. "Tapi ada kabar panas yang baru saja sampai dari pedagang keliling. Tentang Grup Dagang Silvercrane."
Alis Baek Mu-jin terangkat. "Lanjutkan."
"Karavan mereka baru saja lolos dari White Burial Valley kemarin," jelas si pengemis dengan nada dramatis. "Mereka disergap oleh Kelompok Bandit Gang-dol. Kalian tahu Gang-dol, kan? Ketua mereka, si Kapak Besi, adalah praktisi First Rate dengan teknik penguatan tubuh yang kebal senjata tajam biasa."
Yun-gyeom mendengus. "Lalu? Bandit menyerang karavan itu berita harian. Apa hubungannya dengan Jiangshi?"
"Sabar, Tuan Muda," kekeh si pengemis. "Yang menarik adalah... Ketua Bandit Gang-dol mati."
Baek Mu-jin memicingkan mata. "Siapa yang membunuhnya? Pengawal Silvercrane?"
Pengemis itu menggeleng pelan. Matanya membulat, seolah menceritakan kisah hantu.
"Bukan. Yang membunuhnya adalah seorang pemuda misterius yang menumpang di karavan. Tidak ada yang tahu namanya. Tapi para bandit yang selamat memberinya julukan..."
Pengemis itu mendekatkan wajahnya.
"...The Emaciated Demon."
"Emaciated Demon? Iblis Kurus?" ulang Min-seok bingung. "Nama julukan macam apa itu?"
"Dan ada yang memanggilnya Bone Demon," tambah si pengemis. "Kabarnya... dia tidak menggunakan pedang. Dia tidak menggunakan racun. Dia bertarung dengan cara... melipat tubuhnya sendiri."
Keheningan turun di meja Wudang.
"Melipat tubuh?" tanya Baek Mu-jin, intonasi suaranya berubah tajam.
"Ya," pengemis itu bergidik, kali ini tidak dibuat-buat. "Saksi mata bilang, lengannya patah dan memutar seperti ular untuk menghindari kapak, lalu menusuk ketiak Ketua Gang-dol. Ketua bandit itu tidak luka parah, tapi jantungnya meledak seketika. Tanpa darah, tanpa luka luar. Mati berdiri."
Pengemis itu mundur setelah menyelesaikan ceritanya.
"Itu saja infonya. Kami tidak tahu apakah karavan itu membawa mayat hidup, karena kami tidak punya akses ke gudang Silvercrane. Kalau Tuan Muda sendiri yang menyelidiki gudang Grup Dagang Silvercrane, mungkin bisa dapat informasi berharga."
"Omong-omong, karavan Silvercrane sekarang ada di gudang distrik barat. Tapi Iblis Kurus itu... dia menghilang di dalam kota ini." kata pengemis itu mengakhiri percakapan. Dia kemudian pamit pergi.
Setelah pengemis itu pergi, meja Wudang menjadi sunyi.
Ketiga murid itu tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Omong kosong," Yun-gyeom memecah keheningan. "Memutar tulang? Menusuk ketiak? Itu pasti cerita yang dilebih-lebihkan. Mana ada manusia yang bertarung dengan mematahkan badannya sendiri? Itu cacat logika."
"Tidak," potong Baek Mu-jin pelan. Matanya berbinar. Bukan karena marah, tapi karena ketertarikan.
Dia meletakkan tangannya di dada, membayangkan pertarungan itu.
"Ketua Gang-dol adalah First Rate. Tubuhnya dilindungi Teknik Iron Skin. Senjata biasa tidak akan mempan. Untuk membunuhnya dengan satu serangan..."
Mu-jin menatap kedua adiknya dengan serius.
"...kau harus memutus aliran Qi-nya secara internal. Serangan fisik yang presisi ke titik meridian saat energi internal sedang dipompa maksimal."
"Qi Deviation paksa?" tebak Min-seok kaget. "Tapi itu butuh akurasi tingkat dewa! Meleset satu inci, jari penyerang yang akan hancur."
"Tepat," angguk Mu-jin. "Dan dia melakukannya dengan memanipulasi sendi untuk mencapai sudut yang mustahil? Itu... itu bukan sekadar teknik sesat. Itu adalah penguasaan anatomi yang mengerikan."
Yun-gyeom masih skeptis. "Mungkin dia cuma beruntung? Meskipun dia bisa memutar sendinya, tetap tidak menjelaskan kenapa dia bisa tahu dimana lokasi persis putaran energi internal itu."
"Aku tahu. Namun keberuntungan saja tidak bisa membunuh seorang First Rate, Yun-gyeom," bantah Mu-jin tegas. "Jika rumor ini benar... pemuda itu mungkin adalah praktisi Unorthodox yang sangat berbahaya. Mungkin dia penjaga rahasia Jiangshi itu? Kita perlu mengumpulkan informasi dan bukti."
"Kita harus menemukannya!" seru Min-seok, tangannya gatal memegang gagang pedang. "Kalau dia sekuat itu, aku ingin melihatnya! Aku ingin tahu apakah pedang Wudang bisa menembus teknik tulangnya!"
Yun-gyeom menghela napas. "Kalian ini... selalu saja gila pertarungan. Ingat misi kita. Kita butuh informasi."
Baek Mu-jin berdiri. Senyum tipis terukir di wajah tampannya yang biasanya dingin.
Ada api kompetisi di matanya. Sebagai sesama praktisi muda yang jenius, mendengar ada pemuda lain yang bisa membunuh First Rate dengan tangan kosong... itu membakar darah mudanya.
"Kita cari dia," putus Mu-jin. "Cari orang dengan ciri-ciri kurus kering, mata merah, dan mungkin membawa senjata aneh. Kita tantang dia duel."
"Duel?" tanya Yun-gyeom.
"Duel persahabatan," ralat Mu-jin sambil menyeringai. "Untuk bertukar ilmu. Dan jika dia kalah... dia harus memberitahu kita semua yang dia tahu tentang Karavan Silvercrane."
"Baik, Senior!"
Ketiga murid Wudang itu beranjak pergi, jubah putih mereka berkibar, membawa aura keadilan dan arogansi khas sekte besar.
Mereka membayangkan akan bertemu dengan seorang iblis berwajah menyeramkan, master muda yang dingin, atau pembunuh berdarah dingin.
Mereka sama sekali tidak siap dengan kenyataan.
Sementara itu, di kamar kelas atas Paviliun Heavenly Scents.
Geun sedang berbaring miring di atas kasur sutra, mulutnya penuh dengan daging ayam, sementara Nona Lili dengan telaten mengupaskan buah anggur untuknya.
"Aaa..." Geun membuka mulut, menerima suapan anggur dengan mata terpejam nikmat.
"Surga... ini surga..." gumamnya. "Tapi aku tidak akan sudi lagi memasuki dunia bela diri lagi karena..."
Tiba-tiba.
HATCHIH!
Geun bersin begitu keras sampai ayam di mulutnya muncrat keluar.
Tubuhnya mengejang. Bulu kuduk di tengkuknya berdiri tegak, merinding hebat seperti ada es batu yang dimasukkan ke dalam bajunya.
"Tuan Muda? Anda sakit?" tanya Lili khawatir, membersihkan sisa ayam di dagu Geun.
Geun tidak menjawab. Dia duduk tegak, matanya bergerak gelisah ke kiri dan kanan.
Dia meraba dadanya. Bukan jantungnya yang sakit.
Dia meraba saku celananya yang tergeletak di meja.
Tempat dia menyimpan sisa uang peraknya.
Perasaan ini...
Dia sangat mengenal perasaan ini.
Ini adalah Indra Keenam Gembelnya. Sinyal bahaya yang selalu muncul tepat sebelum dia digebuki preman pasar atau dikejar anjing gila.
Tapi kali ini, sinyalnya jauh lebih kuat.
Rasanya seperti ada tiga ekor naga yang sedang terbang menuju ke arah dompetnya.
"Kenapa..." Geun menelan ludah, wajahnya memucat. "Kenapa aku merasa... masa pensiunku akan berakhir lebih cepat dari yang kuduga?"