NovelToon NovelToon
Ayah Apa Salahku?

Ayah Apa Salahku?

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

"Ketika seorang anak ingin dicintai tapi selalu dijadikan alasan"

Kanaya ditinggalkan ibunya sejak bayi berumur 14 bulan dan tumbuh bersama ayah yang selalu menyalahkannya atas setiap kegagalan hidup.

Saat ayahnya menikah lagi, kasih sayang yang dulu sempat ia rasakan perlahan hilang.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang berubah menjadi sumber luka.

Kanaya hanya ingin diakui sebagai anak, bukan beban.
Namun semakin ia berusaha, semakin ia disalahkan.

Sampai akhirnya ia hanya bisa bertanya dalam diam—
Ayah, apa salahku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GURU TERBAIK DI KURSI KAYU

Setiap sore, ketika matahari mulai condong ke barat dan menyisakan semburat oranye di langit Bandung, teras rumah itu selalu berubah menjadi ruang kelas kecil yang penuh kehangatan. Mbah Akung biasanya sudah siap dengan kacamata baca yang bertengger di ujung hidung, sementara Kanaya duduk di kursi kayu kecil dengan kaki yang berayun-ayun karena belum sampai ke lantai. Kecerdasan Kanaya memang sudah terlihat sejak dini; ia bukan hanya sekadar anak yang penurut, tapi juga memiliki daya tangkap yang sangat cepat, seolah otaknya adalah spons yang siap menyerap segala ilmu yang diajarkan sang kakek.

Mbah Akung, yang di masa mudanya dikenal sangat mahir dalam ilmu pasti, merasa menemukan kembali gairah mengajarnya melalui cucu mungilnya ini. Ia tidak menggunakan papan tulis besar, melainkan hanya sebuah buku tulis bergaris dan pensil yang sudah mulai pendek.

"Coba lihat ini, Naya. Kalau Mbah punya dua donat cokelat, lalu Ayah Bagas pulang kerja bawa satu lagi buat Naya, jadi sekarang total donat yang Naya punya ada berapa?" tanya Mbah Akung dengan nada penuh teka-teki, jemarinya perlahan menggambar tiga lingkaran kecil yang menyerupai kue favorit cucunya itu.

Kanaya mengerutkan keningnya, ekspresi wajahnya sangat serius. Ia meletakkan jari telunjuknya di atas gambar tersebut, lalu menghitungnya dengan teliti. "Satu... dua... tiga! Tiga, Mbah! Jadi tiga donat cokelat buat Naya!" serunya kegirangan sambil bertepuk tangan sendiri.

Mbah Akung tertawa renyah, tawa yang penuh dengan rasa bangga hingga matanya menyipit. "Pintar sekali! Cucu Mbah memang calon sarjana hebat. Nah, sekarang tantangannya, coba Naya tulis angka tiganya di sebelah gambar donat itu. Pelan-pelan saja, lekukannya seperti telinga, ingat?"

Dengan lidah sedikit terjulur karena saking konsentrasinya, Kanaya mulai menggerakkan pensilnya. Meski garisnya masih sedikit bergetar, angka tiga itu terbentuk dengan sempurna. Tidak hanya berhitung, berkat ketelatenan Mbah Akung, Kanaya juga mulai bisa merangkai huruf demi huruf. Seringkali, saat Mbak Maya baru saja melangkah masuk ke halaman rumah setelah seharian mengajar di sekolah, ia akan disambut oleh suara cadel Kanaya yang sedang mengeja judul buku atau koran yang tergeletak di meja teras.

"B-A-K-S-O... Bakso! Ini tulisannya bakso ya, Mbah?" tanya Kanaya antusias sambil menunjuk iklan di koran bekas.

Maya yang berdiri di ambang pintu hanya bisa terdiam terpaku, menatap pemandangan itu dengan mata berkaca-kaca. Segala lelahnya setelah menghadapi murid-murid di sekolah seolah luruh seketika. "Mbah Akung itu memang guru paling hebat buat Naya. Lebih hebat dari Ibu," ucap Maya lembut sambil menghampiri dan mencium puncak kepala Kanaya. Ia merasa sangat bersyukur, karena di balik kemelut status dan luka masa lalu, Kanaya tumbuh di lingkungan yang begitu sehat secara emosional dan intelektual.

Di rumah sederhana itu, Kanaya belajar bahwa dunia ini tidak hanya terdiri dari mainan mahal atau mobil-mobilan kecil dari ayahnya, tapi juga tentang deretan angka dan rangkaian huruf yang akan menjadi senjatanya di masa depan. Kombinasi antara kasih sayang tulus dan bimbingan cerdas dari sang kakek memastikan bahwa meskipun Kanaya masih sangat polos, ia sedang tumbuh menjadi gadis kecil yang tangguh dan penuh pengetahuan.

Waktu seolah berlari tanpa permisi. Rasanya baru kemarin Kanaya sibuk menghitung gambar donat di teras bersama Mbah Akung, namun pagi ini, suasana di rumah sudah sibuk luar biasa. Hari ini adalah hari yang bersejarah: hari pertama Kanaya masuk Sekolah Dasar. Seragam putih-merah yang masih tampak sedikit kebesaran di tubuh mungilnya sudah terpasang rapi, lengkap dengan dasi dan topi yang membuatnya terlihat sangat menggemaskan sekaligus dewasa.

Mbak Maya, yang biasanya sudah berangkat lebih awal ke sekolah tempatnya mengajar, sengaja meminta izin untuk datang sedikit terlambat pagi ini. Baginya, momen ini adalah janji yang ia tepati dalam hati bertahun-tahun yang lalu—bahwa ia akan ada di setiap langkah besar Kanaya.

"Ayo, Sayang, sudah siap? Tasnya sudah diperiksa lagi? Ada pensil dan penghapus?" tanya Maya sambil merapikan kerah baju Kanaya.

"Sudah, Bu! Naya siap sekolah!" jawab Kanaya dengan semangat yang meluap-luap.

Meskipun jarak rumah mereka ke gedung SD negeri terdekat hanya terpisah oleh deretan sepuluh rumah, Maya memilih untuk berjalan kaki bergandengan tangan dengan Kanaya. Bagas, Mbah Akung, dan Mbah Uti berdiri di depan pagar, melambaikan tangan dengan mata yang berkaca-kaca melihat "si kecil" kini sudah benar-benar jadi anak sekolah.

Sepanjang perjalanan singkat itu, Kanaya menggenggam erat tangan Maya. Bagi Kanaya, ini adalah ingatan yang akan terpatri selamanya. Di balik kesibukan ibunya (yang orang lain panggil Bude Maya) sebagai guru yang tegas, Maya tetap meluangkan waktu untuk mengantarnya di hari pertama. Langkah-langkah kecil mereka di atas trotoar pagi itu terasa begitu berarti. Maya sesekali berhenti untuk membenarkan kuncir rambut Kanaya atau sekadar memberikan kata-kata penyemangat.

"Nanti di kelas, Naya harus berani ya. Kalau mau tanya sesuatu sama Ibu Guru, angkat tangan. Naya kan sudah pintar berhitung sama Mbah Akung," bisik Maya lembut saat mereka sampai di gerbang sekolah.

Kanaya mendongak, menatap wajah ibunya dengan binar penuh rasa percaya diri. "Iya, Bu. Nanti Naya kasih tahu Ibu Guru kalau Naya sudah bisa baca judul buku."

Sesampainya di depan ruang kelas satu, Maya berlutut sejenak untuk menyejajarkan wajahnya dengan Kanaya. Ia memeluk gadis kecil itu dengan erat, sebuah pelukan yang menyalurkan seluruh dukungan dan perlindungan. Saat Kanaya melangkah masuk ke kelas dan melambaikan tangan dari balik jendela, Maya berdiri di sana cukup lama dengan perasaan haru yang luar biasa. Sepuluh rumah yang mereka lewati tadi mungkin terasa dekat secara jarak, namun bagi mereka berdua, itu adalah perjalanan panjang menuju masa depan yang lebih cerah.

Siang itu, lonceng sekolah berdentang nyaring, menandakan berakhirnya hari pertama yang penuh warna bagi Kanaya. Di depan gerbang, Mbok Darmi sudah berdiri setia sambil memayungi dirinya dari terik matahari. Begitu melihat sosok mungil berseragam putih-merah itu muncul dari pintu kelas, Mbok Darmi langsung melambai.

"Mbok Darmiii!" seru Kanaya sambil berlari kecil, tas ranselnya yang bergambar kartun bergoyang-goyang di punggungnya.

Meskipun hanya berjarak sepuluh rumah, perjalanan pulang itu terasa sangat lama karena Kanaya tidak berhenti mengoceh. Sesampainya di rumah, ia bahkan tidak sempat melepas sepatu dengan benar; ia langsung menghambur ke teras di mana Mbah Akung dan Mbah Uti sudah menunggu dengan segelas sirup dingin dan pisang goreng hangat.

"Mbah! Mbah! Tadi di sekolah selu (seru) banget!" ucap Kanaya bersemangat, duduk di antara kakek dan neneknya dengan napas yang masih terengah-engah.

Mbah Akung tertawa sambil melepaskan topi merah Kanaya. "Wah, jagoan Mbah sudah pulang. Ayo cerita, tadi di kelas gimana? Bisa tidak jawab pertanyaan Ibu Guru?"

"Bisa, Mbah! Tadi Ibu Gulu (Guru) tanya, satu ditambah satu berapa. Teman-teman Naya masih hitung pakai jali (jari), tapi Naya langsung teliak (teriak) dua! Ibu Gulu kaget, katanya Naya pintal (pintar) sekali," cerita Kanaya dengan mata berbinar-binar. Ia kemudian memeragakan gaya gurunya saat berdiri di depan kelas, membuat Mbah Akung dan Mbah Uti saling pandang sambil tersenyum bangga.

Kanaya kemudian mengambil sepotong pisang goreng dan melanjutkan ceritanya dengan mulut penuh. "Tadi juga ada teman yang nangis nggak mau ditinggal mamanya, Mbah. Tapi Naya nggak nangis dong! Kan Naya sudah biasa ikut Ibu Maya ke sekolah besar. Terus tadi Naya juga sudah bisa baca tulisan di papan tulis, tulisannya 'Selamat Datang'. Teman sebelah Naya tanya, 'Naya kok sudah bisa baca?', Naya bilang saja kalau Naya belajal sama Mbah Akung yang paling pintal matematika!"

Mbah Uti mengelus rambut Kanaya yang sedikit berantakan karena keringat. "Aduh, cucu Mbah memang hebat. Jadi Naya senang ya sekolah di sana?"

"Senang, Mbah! Besok Naya mau sekolah lagi. Tadi Naya juga punya teman baru, namanya Lala. Lala baik, tadi Naya kasih lihat mobil-mobilan kecil dari Ayah, Lala bilang mobilnya lucu walaupun kecil," ucapnya polos, masih teringat pada mainan pemberian ayahnya yang selalu ia bawa di saku tas.

Mbah Akung mengangguk-angguk puas. Pelajaran matematika sederhana di teras setiap sore itu ternyata membuahkan hasil yang manis. Di hari pertamanya, Kanaya tidak hanya membawa pulang ilmu, tapi juga rasa percaya diri yang tinggi. Ia merasa berdaya karena bekal yang diberikan kakeknya dan kasih sayang yang selalu dicurahkan ibunya.

Sore itu, teras rumah kembali dipenuhi gelak tawa. Kanaya terus bercerita tentang warna bangkunya, bekal makan siangnya, hingga burung yang ia lihat di pohon sekolah, sementara Mbah Akung dan Mbah Uti mendengarkan dengan penuh rasa syukur—menyadari bahwa gadis kecil mereka kini telah memulai babak baru dalam hidupnya dengan sangat bahagia.

Kebahagiaan di rumah itu seolah terhenti seketika pada suatu sore yang mendung. Suasana yang biasanya ceria dengan celoteh Kanaya berubah menjadi mencekam saat sebuah suara benturan keras terdengar dari arah dapur. Mbok Darmi menjerit histeris memanggil nama Mbah Akung.

Mbah Uti terjatuh. Tubuhnya terkulai di lantai dapur dengan kondisi yang sangat mengkhawatirkan; separuh wajahnya tampak kaku, dan ia tidak mampu mengeluarkan suara meskipun matanya terbuka menatap nanar ke arah langit-langit.

"Ibu! Ibu kenapa, Bu?!" teriak Maya yang baru saja sampai di rumah, langsung menghambur memeluk tubuh ibunya yang terasa lemas.

Bagas dengan sigap menggendong Mbah Uti ke dalam mobil sementara Mbah Akung gemetar hebat menahan tangis. Di tengah kekacauan itu, Kanaya berdiri mematung di ambang pintu dapur. Di tangannya masih ada buku tulis tempat ia biasa belajar berhitung. Ia melihat neneknya yang biasanya penuh tawa kini diangkat dengan terburu-buru dalam keadaan tak berdaya.

"Ibu... Mbah Uti kenapa? Mbah tidur ya?" tanya Kanaya dengan suara kecil yang gemetar, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya yang polos.

Vonis dokter bagaikan petir di siang bolong: Serangan Stroke. Mbah Uti harus menjalani perawatan intensif. Rumah yang biasanya hangat kini terasa dingin dan sepi. Mbah Akung lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit, duduk di samping ranjang sambil memegangi tangan istrinya, membisikkan doa-doa yang tak putus.

Di rumah, Kanaya menjadi sangat pendiam. Ia sering duduk di teras tempat biasa ia belajar bersama Mbah Akung, tapi kali ini ia hanya menatap kursi kosong milik kakeknya.

"Ayah, kapan Mbah Uti pulang? Naya sudah bisa hitung sampai seratus, Naya mau kasih tahu Mbah Uti," ucapnya lirih saat Bagas sedang menyiapkan makan malam sederhana untuk mereka.

Bagas berlutut di depan putrinya, mencoba tegar meski hatinya hancur melihat kondisi ibunya dan kesedihan anaknya. "Sabar ya, Sayang. Mbah Uti lagi istirahat supaya badannya kuat lagi. Nanti kalau sudah bangun, Naya boleh pamer semua pintarnya Naya ke Mbah, ya?"

Maya harus membagi waktu antara mengajar dan menjaga ibunya, sementara Bagas mengambil alih seluruh urusan rumah tangga bersama Mbok Darmi. Namun, yang paling mengharukan adalah perubahan sikap Kanaya. Gadis kecil itu seolah dipaksa dewasa oleh keadaan. Setiap pagi sebelum berangkat sekolah, ia akan masuk ke kamar Mbah Uti yang kosong, mencium bantal neneknya, dan membisikkan sesuatu.

"Mbah Uti cepat bangun ya, nanti Naya belikan donat cokelat pakai uang tabungan Naya," bisiknya polos.

Ujian ini begitu berat bagi keluarga mereka. Kepolosan Kanaya yang biasanya menjadi sumber tawa, kini menjadi sumber kekuatan bagi Maya dan Bagas. Mereka sadar bahwa di tengah perjuangan Mbah Uti untuk pulih, mereka harus tetap berdiri tegak demi satu-satunya cahaya kecil yang masih bersinar di rumah itu: Kanaya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!