NovelToon NovelToon
Mau Tapi Malu

Mau Tapi Malu

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Nikahmuda / Dunia Masa Depan / Keluarga / Romansa / Cintapertama
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rifqi Ardiasyah

Zahra tumbuh sebagai pribadi yang tenang dan tertutup.
Ia tidak terluka, hanya terbiasa menjaga jarak dan memilih diam.
Schevenko berbeda.
Di balik sikap dingin dan wibawanya, ada masa lalu yang membentuknya menjadi pria yang tidak mudah percaya, tidak mudah berharap.
Pertemuan mereka tidak pernah dibungkus dengan janji manis. Tidak ada cinta yang datang tiba-tiba, hanya kebersamaan yang pelan, percakapan seperlunya, dan perhatian yang tak terucapkan.
Zahra tidak datang untuk menyembuhkan.
Ia hanya hadir—dan entah bagaimana, kehadiran itu cukup.
Hingga akhirnya, dua orang yang sama-sama dingin, dengan alasan yang berbeda, ditakdirkan untuk saling menggenggam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Orang Tak Dikenal

Tiga hari lagi.

Aku menghitungnya bukan karena tak sabar, melainkan karena takut. Angka itu terus terngiang sejak aku terbangun pagi ini—tiga hari menuju wisuda kelulusan pesantren sekaligus sekolah. Hari yang seharusnya menjadi penutup dari masa panjang penuh aturan dan awal dari kehidupan baru.

Namun bagiku, hari itu justru terasa seperti batas terakhir sebelum sesuatu yang tidak kukenal dimulai.

Pesantren masih sama seperti biasa. Pagi dengan langkah-langkah rapi menuju kelas, suara lonceng sekolah yang memecah keheningan, lalu pelajaran formal hingga siang hari. Setelah itu, kami kembali menjadi santri—mengaji, menghafal, menunduk, dan belajar menahan diri.

Aku duduk di bangku paling dekat jendela. Seragamku rapi, jilbabku jatuh menutupi dada. Wajahku datar, seperti biasa. Beberapa temanku membicarakan wisuda dengan mata berbinar—tentang keluarga yang akan datang, hadiah, dan rencana setelah lulus.

Aku hanya diam.

Bukan karena tidak bersyukur.

Aku hanya tidak tahu harus merasa apa.

Saat bel istirahat berbunyi, aku baru saja menutup buku ketika seorang ustazah menghampiriku.

“Zahra,” katanya lembut. “Ayahmu datang.”

Aku mengangkat kepala. Dadaku mengencang seketika.

Ayah?

Beliau jarang datang tanpa alasan penting. Biasanya hanya saat menjelang kelulusan atau jika ada hal mendesak. Aku berdiri, mengangguk, lalu berjalan menyusuri lorong pesantren menuju ruang tamu.

Ayah duduk di sana, sendirian. Wajahnya terlihat lelah, tapi tetap tenang seperti yang selalu kuingat. Aku menunduk, mencium tangannya.

“Kita pulang sebentar,” katanya tanpa banyak pembuka. “Ada tamu di rumah.”

“Tamu?” ulangku pelan.

Ayah mengangguk. “Orang penting.”

Aku tidak bertanya lagi. Ayah bukan tipe yang suka menjelaskan sebelum waktunya. Dan aku bukan anak yang pandai mendesak.

Perjalanan pulang terasa lebih sunyi dari biasanya. Aku duduk di kursi penumpang, tanganku saling menggenggam di pangkuan. Jalanan yang kulalui terasa asing, meski aku sudah melewatinya ratusan kali.

“Ayah,” aku akhirnya bersuara. “Tamu itu… siapa?”

Ayah menatap jalan lurus ke depan. “Kamu akan tahu nanti.”

Jawaban itu membuat perutku terasa tidak nyaman.

Kami sampai di rumah menjelang sore. Begitu pintu dibuka, aku langsung merasakan suasana yang berbeda. Terlalu sunyi. Terlalu rapi. Seolah rumah ini sedang bersiap menyambut sesuatu yang penting.

Di ruang tamu, dua orang pria duduk berdampingan.

Mereka bukan orang tua, tapi jelas bukan anak muda. Mungkin sekitar empat puluh atau lima puluh tahun. Keduanya mengenakan setelan jas gelap yang sederhana namun mahal. Rambut mereka tersisir rapi, wajahnya serius, dan cara duduknya terlalu tegap untuk sekadar tamu biasa.

Aku berhenti di ambang pintu.

Ayah melangkah lebih dulu. “Zahra,” katanya, memanggilku masuk.

Aku berjalan pelan, menunduk sopan.

“Ini anak saya,” ujar ayah.

Kedua pria itu berdiri hampir bersamaan. Salah satu dari mereka mengangguk hormat, yang satunya menatapku sejenak sebelum ikut menundukkan kepala.

“Assalamu’alaikum,” kata mereka hampir bersamaan.

“Wa’alaikumussalam,” jawabku lirih.

Kami duduk. Jarak di antara kami terasa terlalu dekat untuk orang-orang yang baru bertemu. Aku menahan diri agar tidak bergeser menjauh.

Pria yang duduk di sebelah kiri membuka pembicaraan. Suaranya tenang, terukur.

“Kami datang sebagai perwakilan,” katanya. “Atas nama seseorang.”

Aku menatap ayah sekilas, lalu kembali menunduk.

“Seseorang itu…?” tanyaku pelan, tanpa berani mengangkat wajah.

Pria itu tersenyum tipis. “Tuan muda kami.”

Dadaku terasa menegang.

Ayah melanjutkan, seolah ingin meringankan suasana. “Mereka datang dengan niat baik.”

Pria satunya—yang sejak tadi lebih banyak diam—akhirnya berbicara. “Kami ingin menyampaikan maksud secara langsung, dengan cara yang terhormat.”

Aku mengeratkan genggaman jariku.

“Maksud apa?” tanyaku, kali ini suaraku nyaris bergetar.

Pria pertama menatapku dengan tatapan menilai, bukan merendahkan, tapi cukup membuatku tidak nyaman.

“Tuan muda kami tertarik menjalin hubungan serius,” katanya. “Dan setelah mencari tahu, nama Zahra disebut sebagai sosok yang tepat.”

Aku terdiam.

Aku bahkan tidak tahu siapa orang itu.

Bagaimana mungkin seseorang yang tak kukenal…

menyebut namaku sebagai pilihan?

“Siapa dia?” tanyaku akhirnya.

Keduanya saling bertukar pandang sejenak.

“Namanya Schevenko,” jawab pria itu. “Usianya dua puluh tahun. Dari keluarga terpandang.”

Nama itu kembali terdengar asing di telingaku. Tidak ada rasa penasaran—yang ada hanya kegelisahan.

“Kenapa dia tidak datang sendiri?” tanyaku, jujur.

Pria itu tersenyum kecil. “Tuan muda kami bukan orang yang mudah mendekat. Ia mempercayakan urusan ini pada kami.”

Jawaban itu tidak membuatku tenang.

Justru sebaliknya.

Seseorang yang bahkan tidak datang sendiri untuk berbicara…

ingin menentukan arah hidupku?

Ayah menatapku, seolah ingin aku tetap tenang. “Tidak ada keputusan hari ini,” katanya. “Ini hanya penyampaian niat.”

“Tapi aku tidak mengenalnya,” suaraku lebih tegas dari yang kuduga.

“Kamu akan punya waktu,” kata pria itu cepat. “Tidak ada paksaan.”

Namun kata waktu terdengar seperti jebakan bagiku.

Mereka menjelaskan sekilas tentang Schevenko—tentang pendidikannya, keluarganya, kehidupannya yang mapan. Semua terdengar rapi. Terlalu rapi. Seperti daftar kelebihan tanpa celah.

Tapi tidak ada satu pun yang membuatku merasa dekat.

Tidak ada cerita tentang siapa dia sebenarnya.

Tidak ada tentang bagaimana caranya hidup.

Tidak ada tentang bagaimana rasanya berada di dekatnya.

Pertemuan itu berakhir dengan sopan. Terlalu sopan hingga terasa dingin. Kedua pria itu berdiri, berpamitan, lalu pergi meninggalkan rumah dengan langkah yang sama terukurnya seperti saat mereka datang.

Aku masih duduk di tempatku lama setelah pintu tertutup.

“Ayah,” kataku pelan. “Aku takut.”

Ayah menoleh. Tatapannya melembut. “Takut karena tidak mengenal?”

Aku mengangguk.

“Takut karena perubahan,” lanjut ayah. “Itu wajar.”

Aku menunduk. “Aku belum siap.”

Ayah tidak menjawab langsung. Ia hanya menghela napas panjang.

Malam itu, aku kembali ke pesantren dengan hati yang terasa lebih berat dari sebelumnya. Aku berbaring, menatap langit-langit kamar.

Tiga hari lagi aku akan wisuda.

Dan ternyata…

kelulusanku bukan hanya tentang perpisahan dengan pesantren,

melainkan tentang pertemuan

dengan seseorang yang bahkan belum pernah kulihat.

Orang tak dikenal bernama Schevenko.

Dan entah kenapa, aku merasa…

pertemuan itu tidak akan sederhana.

keesokan harinya........

Bersambung.......

1
Tati Hartati
semangat terus kakak
checangel_
Nah, itu baru benar ... menjauh untuk menjaga 😇
checangel_: semangat/Determined/
total 2 replies
checangel_
Bagus itu/Good/
yanzzzdck
👍
Amiera Syaqilla
hello author🤗
Tati Hartati
lanjut terus kak
Reenuctee 🐈‍⬛🐱
/Good//Good/
Tati Hartati
mantap kak... lanjut terus kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!