NovelToon NovelToon
MONSTER DI DUNIA MURIM

MONSTER DI DUNIA MURIM

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem
Popularitas:947
Nilai: 5
Nama Author: FantasiKuyy

Dulu aku adalah sampah di Sekte Awan Azure, sampai sistem 'Night Crawler' merobek kemanusiaanku dan menggantinya dengan insting predator. Sekarang, aku bisa bertransformasi menjadi monster dan melahap kultivasi siapa pun yang berani menghalangi jalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FantasiKuyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Aku membeku di tempatku berdiri. Kata itu terasa sangat asing namun sekaligus memberikan getaran aneh di dalam sumsum tulangku. Kakek? Aku tidak pernah memiliki ingatan tentang keluarga, apalagi seorang kakek yang memimpin pasukan zirah perak di tempat terkutuk seperti ini.

"Kau terlihat bingung, Han Wol," ucap lelaki tua itu sembari menurunkan ujung tombaknya.

Aku menatap wajahnya dengan saksama. Kemiripan kami memang tidak bisa dibantah. Garis rahangnya, bentuk matanya yang tajam, hingga cara dia berdiri yang begitu dominan. Namun, ada aura kegelapan yang sangat pekat di balik zirah emas yang dia kenakan.

"Jangan mendekat!" seru He Ran sembari berusaha merangkak menuju ke arahku.

Langkah kaki He Ran tampak sangat berat. Ia memegangi perutnya yang terus mengeluarkan darah, membasahi gaun ungunya yang kini sudah koyak. Aku segera berlari dan menangkap tubuhnya sebelum ia terjatuh ke lantai batu yang dingin.

"He Ran, apa yang sebenarnya terjadi?" tanyaku sembari memeriksa lukanya.

"Dia adalah alasan kenapa proyek Vanguard diciptakan," bisik He Ran dengan napas yang tersengal.

Lelaki tua itu tertawa lebar, suaranya bergema memenuhi seisi ruangan makam. "Jangan menyalahkan aku, Nyonya He Ran. Bukankah kau sendiri yang sangat bersemangat mencari keturunan keluarga Han untuk eksperimen ini?"

Aku menoleh tajam ke arah lelaki tua itu. "Apa maksudmu dengan eksperimen?"

"Keluarga Han adalah pemilik asli dari garis keturunan Asura," sahut lelaki tua itu sembari melangkah maju secara perlahan.

Setiap injakan kakinya di lantai makam menghasilkan riak energi yang sangat kuat. Pasukan zirah perak di belakangnya tetap diam seperti patung, namun aku bisa merasakan niat membunuh mereka yang sangat terfokus padaku.

"Namaku Han Gwang," lanjutnya sembari menatapku dengan bangga. "Aku adalah orang yang pertama kali menyerahkan kemanusiaanku demi kekuatan mutlak. Dan kau, kau adalah mahakarya yang sudah kutunggu selama ratusan tahun."

"Aku bukan barang milikmu," tukasku dengan nada bicara yang rendah.

Aku bisa merasakan energi di dalam tubuhku mulai bergejolak kembali. Meskipun sistem sudah hancur, kekuatan Asura di dalam diriku justru terasa lebih hidup dan liar. Guratan hitam di lenganku berpendar, seolah sedang merespons kehadiran Han Gwang.

"Darah memang lebih kental daripada air," komentar Han Gwang sembari menyentuh ujung tombaknya.

"Han, dia ingin mengambil intimu," peringat He Ran sembari mencengkeram lengan bajuku.

Aku menatap He Ran dengan tatapan yang sulit diartikan. Selama ini aku menganggapnya sebagai sekutu, namun sekarang aku tahu bahwa dia juga merupakan bagian dari rencana besar yang melibatkan keluarga asliku.

"Apakah kau juga mengincarku sejak awal, He Ran?" tanyaku sembari menatap matanya dalam-dalam.

He Ran terdiam sejenak. Ia memalingkan wajahnya, tidak berani membalas tatapanku. "Awalnya memang begitu. Tapi setelah melihatmu berjuang, aku... aku berubah pikiran."

"Sungguh drama yang menyentuh," ejek Han Gwang sembari mengangkat tombaknya kembali.

"Cukup omong kosongnya!" seruku sembari melepaskan pegangan He Ran.

Aku berdiri tegak menghadap kakekku sendiri. Rasa lapar yang tadi sempat mereda kini kembali bangkit dengan intensitas yang jauh lebih kuat. Aku tidak butuh sistem untuk memberitahuku apa yang harus dilakukan. Instingku sudah tahu bahwa lelaki tua di depanku ini adalah pemangsa terbesar yang pernah kutemui.

"Tunjukkan padaku kekuatan Vanguard yang murni, Cucu," tantang Han Gwang sembari menerjang maju.

Tombak emasnya melesat seperti kilat yang membelah kegelapan. Aku tidak menghindar. Aku justru menggunakan tangan kananku yang sudah bertransformasi untuk menangkap bilah tombak tersebut.

Benturan energi terjadi di antara kami. Gelombang kejutnya mementalkan pasukan zirah perak yang berdiri di barisan depan. Aku merasakan tekanan yang luar biasa besar di telapak tanganku, namun aku tetap tidak bergeming.

"Hanya segini kekuatanmu?" tanyaku sembari menyeringai.

"Ini baru permulaan," balas Han Gwang sembari memutar gagang tombaknya.

Tiba-tiba, tombak itu mengeluarkan duri-duri tajam yang langsung menembus telapak tanganku. Aku mendesis kesakitan, namun aku tidak melepaskan genggamanku. Aku justru menarik tombak itu ke arahku, memaksa Han Gwang untuk berada dalam jarak dekat.

"Kau sangat mirip denganku saat muda," bisik Han Gwang tepat di depan wajahku.

"Aku jauh lebih tampan darimu, Pak Tua," sahutku sembari melayangkan pukulan kiri ke arah perutnya.

Pukulanku mendarat telak di zirah emasnya. Suara retakan logam terdengar sangat nyaring. Han Gwang terbatuk dan terdorong mundur beberapa langkah. Ia menatap zirah dadanya yang kini penyok dengan raut wajah yang tidak percaya.

"Kau merusak zirah pusaka keluarga kita?" tanya Han Gwang dengan nada bicara yang berubah menjadi sangat dingin.

"Zirah ini sudah terlalu lama berkarat, sama seperti jiwamu," jawabku sembari membuang sisa darah dari tanganku.

Han Gwang menarik napas panjang. Aura di sekelilingnya tiba-tiba berubah warna menjadi ungu gelap. Pasukan zirah perak di belakangnya mulai berlutut, memberikan energi mereka kepada sang pemimpin secara paksa.

"Jika kau ingin cara yang kasar, maka aku akan memberikannya," ancam Han Gwang sembari merendahkan posisi tubuhnya.

[Peringatan Atavisme Terdeteksi.]

Pesan itu muncul di depan mataku, namun bukan berasal dari sistem yang lama. Itu adalah pesan yang muncul langsung dari ingatanku yang paling dalam.

"Han! Jangan biarkan dia menyelesaikan transformasinya!" teriak He Ran dari kejauhan.

Aku segera melesat maju, namun sebelum aku sempat menyentuhnya, sebuah dinding energi hitam muncul di depan Han Gwang. Aku terpental kembali, menabrak pilar batu hingga hancur berkeping-keping.

Aku terengah-engah sembari bangkit berdiri. Aku menatap ke arah Han Gwang dan melihat sosoknya kini sudah berubah total. Tubuhnya menjadi lebih besar, dan zirah emasnya kini menyatu dengan kulitnya yang berubah menjadi perak mengilat.

"Selamat datang di neraka yang sesungguhnya, Han Wol," ucap Han Gwang dengan suara yang terdengar seperti ratusan orang yang bicara secara bersamaan.

Tepat saat ia hendak menyerang kembali, pintu besar di atas makam meledak. Sosok Jin Seo masuk bersama sekelompok orang bertopeng perak yang membawa rantai-rantai besar.

"Aliansi Murim sudah tiba!" seru Jin Seo sembari mengarahkan pedangnya ke arah Han Gwang.

Aku menatap kekacauan di sekelilingku. Kakek yang monster, pasukan zirah perak, He Ran yang terluka, dan sekarang Aliansi Murim. Semuanya berkumpul di satu tempat ini untuk satu tujuan: diriku.

"Sepertinya pestanya benar-benar baru saja dimulai," gumamku sembari merasakan sayap hitam kembali tumbuh dari punggungku secara tidak terkendali.

Namun, di tengah keriuhan itu, aku melihat sesuatu yang aneh pada bayangan Han Gwang. Bayangannya tidak mengikuti gerakannya. Bayangan itu justru merangkak menuju ke arah He Ran yang sedang tidak berdaya.

1
johanes ronald
ceritanya agak bingung, kl rantai hitamnya diserap, trs wkt penjaga masuk, apa gak liat rantainya sdh gak ada?
johanes ronald
hidup jang mi ulat sekali ya?
johanes ronald
bingung + excited mo smp dimna ceritanya berakhir
johanes ronald
politiknya bnyk skali
KanzaCyr_ 🐼🌻
❤️🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!