Di khianati tunangan sampah, eh malah dapat pamannya yang tampan perkasa!
Cerita berawal dari Mayra andini kusumo yang mengetahui jika calon suaminya Arman, berselingkuh dengan kakak tirinya sendiri.
Di hari pernikahannya mayra mengajak Dev-- paman dari Arman untuk menikah dengan nya, yang kebetulan menjadi tamu di pernikahan keponakannya. Dan mayra juga membongkar perselingkuhan arman dan Zakia yang di lakukan di belakangnya selama ini.
Cerita tidak sampai di situ, setelah menikah dengan Dev, Mayra jadi tahu sisi lain dari pria dingin itu.
Dapatkan mayra meluluhkan hati Dev yang sekeras batu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penthouse baru
Pukul sepuluh malam, Bentley hitam Dev meluncur melewati jalanan Jakarta yang mulai sepi. Di kursi belakang, Mayra duduk dalam keheningan—masih mengenakan gaun pengantinnya yang besar, veil sudah dilepas dan tergeletak di sampingnya, makeup mulai luntur karena air mata tadi.
Dev duduk di sebelahnya, sudah melepas bow tie dan membuka dua kancing teratas kemejanya—terlihat lebih rileks tapi tetap memancarkan aura yang menakutkan.
Mayra menatap keluar jendela, melihat gedung-gedung pencakar langit Jakarta. Otaknya masih mencoba memproses semua yang terjadi hari ini.
Pagi tadi dia bangun sebagai Mayra Kusumo yang akan menikah dengan Arman Prasetyo.
Sekarang dia adalah Mayra Armando, istri dari Dev Armando, pria yang bahkan tidak dia kenal dengan baik.
"Kita mau ke mana?" tanya Mayra akhirnya, memecah keheningan.
"Penthouse saya," jawab Dev sambil mengecek ponselnya yang terus berdering, pasti puluhan pesan dan missed call dari keluarga Prasetyo. Tapi Dev mengabaikan semuanya. "Di District 8, SCBD. Itu akan jadi rumah kita untuk... setahun ke depan. Sesuai kontrak."
Rumah kita. Kata-kata itu terdengar sangat asing.
"Aku... aku tidak bawa apa-apa," kata Mayra sambil menatap gaunnya. "Semua barang-barangku masih di rumah Papa."
"Marco--asisten saya--sudah mengatur untuk mengambil barang-barangmu besok pagi," jelas Dev dengan tenang. "Untuk malam ini, penthouse sudah disediakan semua kebutuhan dasar. Pakaian, toiletries, semuanya."
Mayra mengangguk perlahan. Dev sudah memikirkan segalanya. Pria ini memang sangat detail dan terorganisir--tipikal CEO sukses.
"Dev," panggil Mayra pelan.
"Hmm?"
"Terima kasih. Untuk hari ini. Untuk... semuanya," kata Mayra sambil menatap pria di sampingnya. "Aku tidak akan bisa melewati semua ini tanpa kamu."
Dev berbalik menatap Mayra dengan tatapan yang lembut, berbeda dari tatapan dingin yang biasa dia tunjukkan pada orang lain.
"Sama-sama," jawabnya sederhana. "Kita dalam ini bersama-sama sekarang. Partners."
"Partners," ulang Mayra dengan senyum tipis.
Setelah beberapa menit dalam keheningan yang cukup nyaman, mobil akhirnya berhenti di basement parkir sebuah gedung apartemen super mewah. District 8--salah satu residential area paling eksklusif di Jakarta.
Pak Herman membukakan pintu untuk mereka. Dev turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangan untuk membantu Mayra keluar dengan hati-hati, gaun ball gown yang besar membuatnya sulit bergerak.
"Terima kasih, Pak Herman. Silakan pulang, sudah larut," kata Dev pada supirnya.
"Baik, Pak. Selamat malam. Selamat malam, Nyonya," pamit Pak Herman dengan sopan sebelum kembali ke mobil.
Dev membimbing Mayra menuju lift private yang langsung terhubung ke penthouse-nya di lantai 45-- lantai paling atas gedung.
Di dalam lift yang dindingnya cermin semua, Mayra bisa melihat pantulan dirinya dan Dev. Mereka terlihat seperti pasangan pengantin yang baru saja menikah--yang secara teknik memang benar.
Tapi ini bukan pernikahan normal. Ini kontrak bisnis.
Mayra harus terus mengingatkan dirinya akan hal itu.
*Ding.*
Pintu lift terbuka langsung ke dalam penthouse.
Mayra melangkah keluar dan napasnya tertahan.
Penthouse ini... menakjubkan.
Interior minimalis modern dengan dominasi warna hitam, putih, dan abu-abu. Langit-langit tinggi dengan lampu-lampu tersembunyi yang menciptakan kesan mewah tapi tidak norak. Jendela besar dari lantai sampai langit-langit yang memberikan pemandangan 180 derajat ke seluruh Jakarta yang berkilauan di malam hari.
Living room yang luas dengan sofa hitam besar berbentuk L, TV layar besar di dinding, dan furnitur designer yang terlihat mahal tapi tetap comfortable. Ruang makan dengan meja panjang marmer hitam dan kursi-kursi modern. Kitchen terbuka dengan island besar dan appliances yang semua stainless steel-- jelas untuk chef profesional, bukan untuk mie instan.
"Ini... luar biasa," bisik Mayra sambil berjalan perlahan ke tengah ruangan, masih dalam gaun pengantinnya yang menyapu lantai marmer yang mengkilap.
"Terima kasih," kata Dev sambil melepas jas tuxedo-nya dan meletakkannya di sandaran sofa. "Ayo saya tunjukkan kamarmu."
Dev membimbing Mayra melewati living room menuju koridor yang luas. Di kanan-kiri koridor ada beberapa pintu.
"Itu home office saya," tunjuk Dev ke pintu pertama di kiri. "Jangan masuk tanpa izin, banyak dokumen confidential."
Mayra mengangguk.
"Itu gym pribadi," tunjuk Dev ke pintu di kanan. "Kamu boleh pakai kapan saja."
Mereka terus berjalan.
"Itu guest room, kalau ada tamu yang menginap," tunjuk Dev ke pintu berikutnya.
Akhirnya mereka sampai di ujung koridor. Ada dua pintu berhadapan.
"Itu kamar saya," tunjuk Dev ke pintu kiri. "Dan ini kamarmu."
Dev membuka pintu kanan, dan Mayra melangkah masuk.
Kamarnya... sempurna.
Kamar yang luas dengan king size bed di tengah, seprai putih yang terlihat sangat halus dan nyaman. Jendela besar yang menghadap ke kota. Walk-in closet yang kosong tapi siap diisi. Kamar mandi en-suite dengan bathtub besar dan shower dengan rain shower head.
"Marco sudah menyiapkan beberapa pakaian dasar untukmu di closet," kata Dev sambil berdiri di ambang pintu. "Besok barang-barangmu akan dibawa ke sini. Kalau ada yang kurang, bilang saja."
Mayra berbalik menatap Dev. "Ini... terlalu banyak, Dev. Kamar ini seperti hotel bintang lima."
Dev tersenyum tipis. "Kamu istri saya sekarang--at least secara legal. Standar hidup kamu harus matching dengan status itu."
Mayra tidak tahu harus berkata apa. Semua ini terasa seperti mimpi.
"Aku... aku butuh bantuan untuk buka gaun ini," kata Mayra sambil menunjuk punggungnya yang penuh dengan kancing kecil. "Biasanya ada bridesmaid atau makeup artist yang bantu..."
Dev terdiam sejenak, lalu mengangguk. "Berbalik."
Mayra berbalik membelakangi Dev dengan gugup. Dia merasakan jari-jari Dev mulai membuka kancing demi kancing dengan sangat hati-hati dan... gentle.
Sentuhan Dev sangat berbeda dari sentuhan Arman. Lebih... hormat. Tidak invasif. Hanya tulus membantu.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Dev sambil terus membuka kancing. "Hari ini pasti berat."
"Sangat berat," jawab Mayra jujur. "Rasanya seperti... aku menjalani kehidupan orang lain. Pagi ini aku adalah satu orang, sekarang aku orang yang berbeda."
"Kamu masih orang yang sama, Mayra," kata Dev. "Hanya dengan chapter baru."
Kancing terakhir terbuka. Dev melangkah mundur. "Selesai. Kamu bisa ganti baju sekarang."
"Terima kasih," kata Mayra sambil menahan gaunnya agar tidak jatuh.
Dev berbalik mau keluar, tapi Mayra memanggilnya. "Dev?"
Dia berhenti di ambang pintu. "Ya?"
"Kenapa kamu melakukan semua ini?" tanya Mayra--pertanyaan yang sudah ingin dia tanyakan sejak tadi. "Maksudku, aku tahu kontrak kita. Tapi... kamu bisa saja bilang tidak. Kamu bisa menolak proposal gilaku. Kenapa kamu setuju?"
Dev terdiam cukup lama, menatap Mayra dengan tatapan yang sulit dibaca.
"Karena saya melihat diriku di dalam dirimu," jawabnya akhirnya dengan suara yang lebih pelan dari biasanya. "Sepuluh tahun lalu, saya juga dikhianati oleh seseorang yang saya cintai. Tapi saya tidak punya keberanian untuk fight back seperti kamu. Saya hanya... menerima dan move on dengan menutup hati saya."
Mayra terdiam, mendengar dengan seksama.
"Melihatmu kemarin-duduk di kafe itu, mengajukan proposal gila dengan mata penuh kesungguhan--mengingatkan saya pada diri saya yang dulu. Sebelum saya menjadi... ini," Dev menunjuk pada dirinya sendiri. "Sebelum saya menjadi dingin dan tertutup."
"Dev..." bisik Mayra.
"Jadi saya bantu kamu," lanjut Dev. "Karena saya ingin melihat seseorang mendapatkan keadilan yang tidak pernah saya dapatkan. Dan juga karena... entah kenapa, saya merasa kamu adalah orang yang bisa saya percaya."
Mata Mayra mulai berkaca-kaca lagi--tapi kali ini bukan karena sedih. "Terima kasih. Sungguh."
Dev mengangguk. "Istirahat yang cukup. Besok akan jadi hari yang panjang lagi--kita harus mengurus dokumen legal, memberitahu kantor tentang status kita, dan... menghadapi konsekuensi dari apa yang kita lakukan hari ini."
"Oke," jawab Mayra.
Dev berbalik mau keluar, tapi sekali lagi Mayra memanggilnya. "Dev?"
Dia berhenti lagi. "Ya?"
"Good night... suamiku."
Dev tersenyum-- senyum tulus pertamanya yang benar-benar Mayra lihat hari ini. "Good night... istriku."
Lalu dia menutup pintu, meninggalkan Mayra sendirian di kamar barunya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mayra melepas gaun pengantinnya dengan hati-hati dan menggantungnya di hanger di closet. Gaun yang indah tapi penuh dengan memori hari yang gila ini.
Dia berjalan ke kamar mandi dan menatap pantulannya di cermin besar.
Makeup sudah berantakan. Rambut yang tadi tersisir rapi sekarang sedikit acak-acakan. Tapi yang paling berbeda adalah matanya, ada kekuatan di sana yang tidak ada pagi tadi.
Mayra membuka keran bathtub, menuang bubble bath yang sudah disediakan, dan membiarkan air panas mengisi bathtub besar itu.
Sementara menunggu, dia membuka walk-in closet dan menemukan beberapa set pakaian yang sudah disiapkan-- sleepwear mewah, beberapa set casual outfit, bahkan ada bathrobe silk yang sangat halus.
Marco--asisten Dev--dengan jelas sangat efisien.
Setelah bathtub penuh, Mayra merendam dirinya di air hangat yang berbusa. Dia menutup mata, membiarkan kehangatan merelaksasi ototnya yang tegang seharian.
Pikirannya melayang ke semua yang terjadi hari ini.
Wajah Arman yang hancur saat dia menikah dengan Dev. Tangisan Zakia yang ketakutan. Kekecewaan di mata Pak Hendra dan Nyonya Puspita. Shock dan kebingungan di mata ayahnya.
Tapi juga... kekuatan yang dia rasakan saat berdiri di altar dan mengatakan "Saya keberatan."
Kebebasan yang dia rasakan saat melepaskan Arman dan memilih Dev.
Harapan yang mulai tumbuh di dadanya--harapan bahwa mungkin, hanya mungkin, hidupnya akan menjadi lebih baik.
Mayra membuka mata dan menatap cincin platinum di jari manisnya--cincin dari Dev yang sekarang ada di atas cincin pertunangan dari Arman.
Dengan gerakan cepat, dia melepas cincin Arman dan menatapnya.
Berlian besar yang dulu membuat dia menangis bahagia, sekarang hanya terlihat seperti pengingat pengkhianatan.
Mayra meletakkan cincin itu di tepi bathtub. Besok dia akan memutuskan apa yang harus dilakukan dengannya--mungkin kembalikan ke Arman, atau lempar ke sungai, atau apapun.
Tapi malam ini, dia hanya ingin merasakan kebebasan.
Setelah berendam selama hampir satu jam, Mayra akhirnya keluar, mengeringkan diri, dan mengenakan sleepwear silk yang sangat nyaman--satin camisole dan celana panjang matching berwarna champagne.
Dia berjalan ke tempat tidur dan merebahkan diri di seprai yang luar biasa halus. Bantal-bantalnya empuk, selimutnya hangat.
Mayra meraih ponselnya yang dia tinggalkan di nakas, dan langsung tertegun.
73 missed calls.
189 unread messages.
Dari Siska. Dari Zakia. Dari teman-teman. Dari keluarga. Dari Arman.
Terutama dari Arman, 35 missed calls dan 47 pesan.
Dengan tangan gemetar, Mayra membuka pesan-pesan dari Arman:
"Mayra, please. Jawab telefonku."
"Aku mohon. Kita harus bicara."
"Aku minta maaf. Aku sangat menyesal."
"Kumohon jangan lakukan ini. Jangan tinggalkan aku."
"Aku mencintaimu, May. Aku benar-benar mencintaimu."
"Please. Give me one more chance."
Dan puluhan pesan lainnya yang isinya sama--memohon, minta maaf, mengaku cinta.
Mayra merasakan sesuatu di dadanya, tapi bukan kasihan atau keinginan untuk kembali.
Hanya... penutupan.
Dengan jari yang sudah tidak gemetar lagi, Mayra mengetik satu pesan terakhir untuk Arman:
"Arman, ini Mayra. Aku sudah membaca semua pesanmu. Tapi jawabanku tetap sama: tidak. Kita sudah selesai. Aku sudah menikah dengan Dev, dan aku tidak akan kembali padamu. Please move on, seperti yang akan aku lakukan. Selamat tinggal."
Send.
Lalu Mayra block nomor Arman.
Dia juga block Zakia.
Dan mute semua chat group keluarga yang penuh dengan pesan kekacauan tentang hari ini.
Mayra meletakkan ponselnya kembali di nakas dan menatap langit-langit kamarnya yang tinggi.
Untuk pertama kalinya sejak menemukan pengkhianatan Arman beberapa hari yang lalu, Mayra merasa... ringan.
Seperti beban besar sudah diangkat dari bahunya.
Dia bebas.
Bebas dari Arman yang munafik.
Bebas dari Zakia yang iri dan manipulatif.
Bebas dari ekspektasi semua orang tentang siapa dia seharusnya.
Tentu saja ada konsekuensi. Tentu saja akan ada gossip. Tentu saja akan ada orang yang menghakimi.
Tapi Mayra tidak peduli lagi.
Dia sudah membuat pilihannya. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, itu adalah pilihan yang sepenuhnya untuknya--bukan untuk menyenangkan ayahnya, bukan untuk menjaga reputasi keluarga, bukan untuk siapa pun kecuali dirinya sendiri.
Mayra tersenyum kecil, senyum yang tulus dan lega.
Lalu dia menutup mata, membiarkan kelelahan fisik dan emosional akhirnya mengalahkannya.
Dalam beberapa menit, Mayra Armando--wanita yang baru saja menjalani hari paling gila dalam hidupnya--tertidur dengan nyenyak.
***
Sementara itu, di kamar seberang koridor, Dev duduk di tepi tempat tidurnya dengan laptop di pangkuan.
Dia seharusnya tidur--hari ini juga melelahkan untuknya.
Tapi pikirannya tidak bisa berhenti.
Dev membuka folder di laptopnya--folder berisi kontrak pernikahan yang sudah dia dan Mayra tandatangani.
Satu tahun. Itu durasi kontrak mereka.
Satu tahun dia akan hidup dengan wanita yang bahkan tidak dia kenal dengan baik seminggu yang lalu.
Tapi entah kenapa, keputusannya untuk menikahi Mayra tidak terasa salah.
Bahkan terasa... benar.
Dev menutup laptop dan berjalan ke jendela besar di kamarnya yang menghadap kota Jakarta. Dia menyesap whiskey dari gelas yang dia bawa dari living room, menatap gedung-gedung yang masih menyala di kejauhan.
Sepuluh tahun lalu, Dev juga pernah akan menikah.
Dengan Valerie--wanita yang dia cintai dengan sepenuh hati.
Tapi sebulan sebelum pernikahan, Valerie meninggalkannya untuk pria lain--pria yang lebih kaya, lebih berkuasa, lebih... segalanya.
Valerie bilang dia "menyesal" tapi "harus membuat keputusan yang praktis untuk masa depannya."
Sejak itu, Dev menutup hatinya. Fokus sepenuhnya pada bisnis. Membangun kerajaan bisnisnya dari nol. Menjadi salah satu CEO termuda dan terkaya di Indonesia.
Tapi juga menjadi... dingin. Tidak bisa mempercayai siapa pun dengan hatinya.
Sampai kemarin, saat Mayra datang dengan proposal gila itu.
Ada sesuatu di mata wanita itu--keberanian, kekuatan, ketangguhan--yang membuat Dev tergerak untuk membantu.
Dan sekarang, mereka menikah.
Dev tertawa kecil, tawa sinis pada dirinya sendiri.
Dari semua cara untuk punya istri, dia mendapatkannya melalui kontrak bisnis untuk balas dendam.
Ironis.
Tapi juga... menarik.
Dev meneguk whiskey-nya sampai habis, lalu meletakkan gelas kosong di nakas.
Dia merebahkan diri di tempat tidur, menatap langit-langit.
"Satu tahun," bisiknya pada dirinya sendiri. "Satu tahun dengan Mayra Armando. Mari kita lihat kemana ini akan membawa kita."
Lalu dia menutup mata dan membiarkan tidur mengalahkannya, dengan sedikit senyum di wajahnya.
Karena untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, Dev Armando merasa... tidak sendirian.
****
Bersambung....
menunggu mu update lagi