PROLOG
-MENENTANG SEGALA DUNIA
-MENENTUKAN TAKDIR SENDIRI
-MERANGKAI TAKDIR YANG DIINGINKAN
-BILA LANGIT JADI PENGHALANGKU KU ROBEKAN LANGIT
-BILA BUMI MENAHAN KAKIKU KU HANCURKAN BUMI
-AKU ADALAH PEMILIK TAKDIR KU SENDIRI-
Di Kota Yinhu, di bawah langit kelabu Kerajaan Bela Diri Selatan, seorang pemuda bernama Shen Tianyang tumbuh dalam bayang-bayang kehinaan.
Terlahir dari keluarga bela diri, ia justru dianggap sebagai noda—tak berbakat, tak berguna, dan tak layak mewarisi darah leluhur.
Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Shen Tianyang hidup lebih rendah dari orang biasa.
Tatapan meremehkan dan bisikan hinaan menjadi kesehariannya, perlahan mengikis martabat dan harapannya. Namun dari jurang keputusasaan itulah, takdir yang lebih kejam mulai bergerak.
Sebuah pertemuan terlarang mengubah segalanya. Akar Spiritual yang menentang hukum langit terbangun di dalam tubuhnya, menyeretnya ke jalan yang tak dapat ditinggalkan—jalan yang dipenuhi darah, penderitaan, dan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beruang Terbang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Murid Sekte
Hua Yueyun segera memerintahkan beberapa orangnya memasuki toko untuk menaksir kerusakan.
Setelah itu, ia menoleh kepada Shen Tianyang dan Shen Luzong, lalu berkata dengan nada tenang namun mengandung makna mendalam,...
“Jika kalian berdua memiliki waktu, Danxiang Herb Manor selalu terbuka untuk menyambut kalian sebagai tamu.”
Kereta kuda itu perlahan menjauh. Setelah sosok Hua Yueyun lenyap di kejauhan, Shen Luzong menyikut pinggang Shen Tianyang sambil terkekeh,...
“Kau tidak tertarik pada wanita itu, bukan?”
Pandangan Shen Tianyang tetap tertuju ke arah jalan kosong, sorot matanya tajam dan penuh kewaspadaan. Dengan suara rendah ia berkata,..
“Wanita itu sangat licik. Tujuannya bukan sekadar basa-basi, melainkan ingin menarik kita ke pihaknya.”
Shen Luzong menghela napas pelan.
“Mengelola kekuatan alkimia sebesar itu, terlebih sebagai seorang wanita… jika ia tidak punya cara dan kecerdikan, ia sudah lama dimangsa orang lain, bahkan tak menyisakan tulang.”
Di dunia kultivasi, senyum yang paling lembut sering kali menyembunyikan niat yang paling dalam. Di balik tutur kata halus, selalu ada perhitungan yang berlapis-lapis.
Lima hari kemudian, toko itu telah direnovasi sepenuhnya. Semua biaya ditanggung oleh Danxiang Herb Manor yang mengirimkan orang-orangnya untuk membangun ulang tempat tersebut. Selama ramuan spiritual dan alkemis tersedia, toko itu bisa segera dibuka kembali.
Kedatangan Shen Tianyang di Kota Kerajaan ternyata mengusik perhatian banyak kekuatan besar. Tujuannya datang ke sana hanya dua: pertama, membangun bisnis pil dan ramuan spiritualnya; kedua, mengikuti Konferensi Bela Diri Kota Kerajaan.
Pendaftaran Konferensi Bela Diri telah dibuka sejak lama, dan Shen Tianyang sudah mendaftar lebih awal. Masih ada lebih dari dua bulan sebelum dimulainya acara itu.
Dari informasi yang ia kumpulkan, murid-murid dari berbagai sekte besar memang akan muncul dalam konferensi tersebut, namun hanya sebagai pengamat, bukan peserta.
Beberapa hari terakhir, Shen Tianyang dan Shen Luzong nyaris tak beristirahat. Mereka terus memurnikan pil, siang dan malam. Untuk pembukaan besar, jumlah pil yang dibutuhkan tidaklah sedikit.
“Paman buyut, ini tidak bisa dibiarkan,” kata Shen Tianyang setelah menyelesaikan satu tungku Pil Pembersih Sumsum. Semua bahan obat dibeli dari Danxiang Herb Manor. “Jika hanya kita berdua yang memurnikan pil, entah sampai kapan baru cukup.”
Shen Luzong menggeleng pelan.
“Anak muda, menurutmu membuka toko semudah itu? Tanpa setidaknya lima alkemis, sulit untuk bertahan. Bahkan setelah buka, belum tentu orang mau membeli dari kita. Menurutku, butuh dua atau tiga tahun agar semuanya benar-benar stabil.”
Ucapan itu membuat hati Shen Tianyang semakin gelisah. Ia tak punya waktu selama itu.
Untuk menarik alkemis, mau tak mau harus digunakan herbal spiritual yang langka. Dalam benaknya, Shen Tianyang telah menyusun rencana: ia akan mempercepat pematangan satu batch herbal spiritual.
Ia pun keluar dari ruang alkimia dan memasuki toko. Namun, langkahnya terhenti.
Di dalam, berdiri lima orang—seorang lelaki tua berambut putih dan empat pemuda tampan. Aura mereka murni dan jernih, memancarkan perasaan agung yang berbeda dari kultivator dunia fana. Qi Sejati semacam itu jelas bukan hasil latihan biasa.
“Siapa kalian?” tanya Shen Tianyang.
“Hmph! Kau Shen Tianyang?” bentak lelaki tua itu. Wajahnya dipenuhi amarah dingin, sementara keempat pemuda di belakangnya menatap Shen Tianyang dengan sikap merendahkan.
Alis Shen Tianyang mengernyit. Tinjunya mengepal.
“Benar. Apa kalian datang untuk mencari masalah?”
Pada saat itu, Shen Luzong keluar dari belakang. Begitu melihat lelaki tua tersebut, tubuhnya langsung menegang. Wajahnya pucat, dan tubuhnya sedikit gemetar—jelas ia mengenal orang ini.
“Anda… Anda…” Shen Luzong tergagap, tak mampu melanjutkan.
Lelaki tua itu mendengus dingin.
“Benar. Aku Shen Furong. Lima puluh tahun lalu aku meninggalkan Keluarga Shen dan bergabung dengan sebuah sekte bela diri. Kali ini aku kembali untuk merekrut murid bagi sektaku.”
Nada suaranya tiba-tiba berubah keras. “Namun aku mendengar kabar yang sangat tidak menyenangkan.”
Hati Shen Tianyang bergetar. Jadi orang yang bertanggung jawab atas perekrutan murid sekte adalah sesepuh Keluarga Shen sendiri—dan jelas, ia datang dengan ketidaksenangan.
“Kau berani memusuhi Keluarga Yao!” teriak Shen Furong. "Tahukah kau, di sekte bela diri itu, orang-orang Keluarga Yao telah banyak membantuku!”
Tatapan Shen Furong menusuk seperti pisau. Pada saat yang sama, Qi Sejati yang dahsyat dilepaskannya, menekan ke arah Shen Tianyang. Dalam sekejap, Shen Tianyang merasa tubuhnya seberat sepuluh ribu jin, seolah langit runtuh menindih dirinya.
Di hadapan kekuatan sekte, seorang kultivator fana tampak rapuh. Namun justru dalam tekanan semacam inilah, kehendak sejati seorang calon ahli ditempa.
Keterkejutan di wajah Shen Luzong perlahan memudar, digantikan oleh raut dingin yang tegas.
Suaranya terdengar berat, penuh kemarahan yang tertahan...
“Ia adalah bakat langka yang hanya muncul sekali dalam ribuan tahun di Keluarga Shen. Namun kau justru menindasnya demi kepentingan pribadimu sendiri! Dengan perbuatan seperti itu saja, kau sudah tidak pantas lagi menyandang nama Keluarga Shen!”
Mendengar kata-kata tersebut, Shen Furong menarik kembali tekananan Qi Sejatinya. Sepasang mata tuanya menyipit saat meneliti Shen Luzong.
Aneh—ia sama sekali tidak mampu menembus tingkat kultivasi orang di hadapannya. Dengan senyum menghina, ia berkata,..
“Bakat langka? Bocah seperti dia? Di sektaku, aku bisa menarik siapa saja yang jauh lebih kuat darinya. Bahkan empat muridku di belakang ini, tak satu pun akan kalah darinya.”
Belum sempat gema kata-kata itu menghilang, Shen Tianyang telah bergerak.
Tubuhnya melesat bagai kilat. Tinju kanannya diselimuti cahaya biru kehijauan, percikan petir menari di sekelilingnya, membawa kekuatan guntur yang liar dan buas.
"BOOOOOOOOOMMMM...!!"
Dalam sekejap, pukulan itu menghantam salah satu pemuda..!!
Serangan mendadak dan kejam itu sama sekali tak memberi kesempatan untuk mengelak. Tinju Shen Tianyang menghantam tepat di dada lawannya. Darah muncrat dari mulut pemuda tersebut, tubuhnya terhuyung beberapa langkah sebelum akhirnya ia mampu berdiri kembali dengan susah payah.
“Tidak ada yang istimewa,” ujar Shen Tianyang datar.
Ia telah lama melihat dengan jelas tabiat Shen Furong. Sesepuh ini tidak lagi memiliki rasa kekeluargaan terhadap Keluarga Shen. Demi menjilat Keluarga Yao, ia bahkan rela menikam orang sedarahnya sendiri dari belakang.
Aksi Shen Tianyang membuat Shen Furong terkejut sekaligus murka. Ia hanya pernah mendengar tentang kekuatan bocah ini, namun kini, setelah menyaksikannya sendiri, barulah ia menyadari—kekuatan itu nyata, cukup untuk melukai murid sekte bela diri dengan satu serangan.
“Jadi inikah kekuatan murid sekte bela diri?” kata Shen Tianyang dengan nada meremehkan, pandangannya menyapu keempat pemuda itu. Seketika, wajah mereka memerah karena amarah.
“Kalau saja kau tidak menyerangku secara tiba-tiba, kau bahkan tidak akan menyentuhku!” bentak pemuda yang terluka sambil menyeka darah di sudut bibirnya.
“Kalau begitu, bagaimana kalau kita bertarung sungguhan?” Shen Tianyang mengepalkan tinjunya, sorot matanya menyala penuh semangat tempur.
“Baik! Bertarunglah!”
Pemuda itu meraung marah. Hanya pertarungan yang bisa meluapkan penghinaan yang ia rasakan.
Shen Furong tidak ikut campur. Ia mundur ke samping dengan wajah tanpa ekspresi, membiarkan ruang kosong terbuka. Pada saat yang sama, pemuda itu sudah melesat menuju Shen Tianyang.
Langkah kakinya ringan bagaikan capung menyentuh permukaan air. Ujung jari kakinya hanya menapak sesaat di lantai, namun kecepatannya luar biasa, disertai momentum yang kuat dan mantap.
“Ranah Bela Diri Fana, tingkat keenam,” Shen Tianyang langsung menilai kekuatannya.
Melihat Shen Tianyang berdiri diam, penuh celah, pemuda itu mengira lawannya gentar oleh teknik langkahnya.
Dalam hati ia mencibir. Tubuhnya melayang, kedua kakinya bergerak cepat, menendang tanpa henti. Seketika, bayangan kaki memenuhi udara, mengepung Shen Tianyang dari segala arah.
"BUUUUUUUUUMMMM..!!"
Qi Sejati yang dahsyat mengguncang udara hingga terdengar ledakan kecil—teknik kaki yang sangat mendominasi.
Serangan seperti ini di luar dugaan Shen Tianyang. Dalam sekejap, ia tak mampu menghindari hujan tendangan tersebut. Ia tidak menyangka pemuda yang tampak agak lembut itu menguasai teknik kaki sekejam ini.
“DUUUUUMMM..!!"
"BUUUUUUMMMM ..!!"
*BAAAAAAAAAMMMM..!!"
Tubuh Shen Tianyang ditendang lebih dari sepuluh kali dalam sekejap. Ia terlempar dan menghantam sebuah meja kayu, menghancurkannya hingga berkeping-keping.
“Hmph! Kau juga tidak ada yang istimewa!” kata pemuda itu dengan nada menghina.
Namun tepat setelah kata-kata itu keluar, Shen Tianyang sudah melompat berdiri. Ia menepuk-nepuk pakaiannya, seolah sama sekali tidak terjadi apa-apa.
Keempat pemuda itu terperangah. Bahkan Shen Furong pun tak mampu menyembunyikan keterkejutannya.
“Kau… aku jelas menendang tubuhmu tadi. Qi Sejatiku sangat kuat, dan aku menendangmu setidaknya sepuluh kali. Setiap tendangan membawa kekuatan dalam yang dahsyat,” ujar pemuda itu dengan ekspresi serius.
Di tingkat yang sama, hampir tak ada yang mampu keluar tanpa luka dari teknik kakinya.
Shen Tianyang tersenyum tipis.
“Seranganmu memang bagus, tapi tetap saja… tidak istimewa.”
Begitu kata-kata itu jatuh, tubuh Shen Tianyang kembali melesat. Ia menyerbu seperti kilat, tinjunya terayun bagaikan kapak raksasa.
Pukulan demi pukulan menghantam tanpa henti, setiap ayunan menyerupai sungai besar yang runtuh, memicu ledakan berturut-turut. Setiap tinju menjelma bayangan kepala harimau ganas, mengguncang udara seolah auman harimau purba menggema.
Rentetan pukulan cepat itu membuat tinjunya meninggalkan bayangan tak terhitung, bagai badai liar yang mengamuk ke arah lawan.
Pemuda itu bereaksi sangat cepat. Lapisan cahaya emas menyelimuti tubuhnya—Qi Sejati atribut logam dilepaskan sepenuhnya, membentuk perisai Qi Sejati untuk melindungi dirinya.
Bersambung Ke Bab 33