Raisa terpaksa tinggal sendirian di rumah tua warisan neneknya di sebuah kampung terpencil. Sejak malam pertama, rumah itu seperti mengenalinya—terlalu mengenalinya. Setiap pukul 02.17, ada langkah berhenti di depan pintu kamarnya. Ada bau tanah basah yang muncul tanpa hujan. Dan ada sandal merah kecil yang selalu kembali, meski sudah dibuang berkali-kali. Orang kampung berbisik bahwa dulu pernah ada anak bernama sama persis dengannya—anak yang hilang tanpa jejak dua puluh tahun lalu. Semakin Raisa mencari kebenaran, semakin rumah itu menunjukkan sisi aslinya: sentuhan dingin di tengah malam, luka yang muncul tanpa sebab, dan suara anak kecil yang memanggil namanya dari balik dinding. Jika masa lalu belum selesai, siapa yang sebenarnya sedang tinggal di rumah itu—Raisa, atau “dia”?
Rumah Sebelum Sumur
Alamat di kertas itu hanya ditulis singkat:
Gang Kenanga No. 7, Kecamatan Cempaka.
Tidak ada nama pemilik, tidak ada penjelasan apa pun—hanya peta sederhana digambar tangan Ibu, dengan tanda silang di halaman belakang sebuah rumah.
Sejak menemukan amplop itu, aku merasa seperti dipanggil bukan oleh sesuatu yang gelap, melainkan oleh bagian hidup yang lama disembunyikan. Panggilan yang berbeda rasa: bukan menarik, tapi mengundang.
Ayah awalnya ragu mengizinkanku pergi.
“Tempat itu sudah lama sekali tidak kita datangi,” katanya. “Ayah bahkan tidak tahu siapa yang tinggal di sana sekarang.”
Tapi Arga justru mendukung.
“Kalau Ibu Raisa meninggalkan petunjuk, artinya ada lapisan yang belum kita sentuh. Mungkin di sanalah penutup yang sebenarnya.”
Dini tentu saja ikut tanpa perlu ditanya.
“Ke mana pun lo pergi, gue paket bundling,” katanya.
Akhirnya kami berangkat bertiga: aku, Ayah, dan Dini. Arga tidak ikut karena harus membantu Pak Karso menenangkan situasi kampung yang masih panas akibat kejadian sumur.
⸻
Perjalanan ke Kecamatan Cempaka hanya sekitar satu jam, tapi rasanya seperti menempuh jarak menuju masa lain.
Kota kecil itu tidak banyak berubah sejak terakhir kali kulihat di foto-foto lama: deretan ruko kusam, pasar yang baunya campur antara ikan asin dan bensin, serta gang-gang sempit yang seperti menolak dilalui waktu.
Gang Kenanga lebih sempit dari bayanganku. Motor saja harus pelan-pelan melewatinya.
Nomor tujuh terletak hampir di ujung—sebuah rumah tua dengan cat hijau pudar dan pagar besi berkarat. Halamannya dipenuhi tanaman melati yang tumbuh liar, seolah tidak pernah disentuh bertahun-tahun.
Begitu turun dari mobil, aku merasakan sesuatu yang aneh:
tempat ini tidak membuatku takut.
Justru terasa akrab, seperti aroma masa kecil yang tidak pernah kualami.
“Ayah yakin ini rumah keluarga Ibu?” tanyaku.
Ayah mengangguk pelan.
“Dulu kita sempat tinggal di sini sebentar setelah kamu lahir. Kamu mungkin tidak ingat.”
⸻
Kami mengetuk pintu.
Beberapa detik tidak ada jawaban. Lalu terdengar langkah pelan dari dalam, diikuti suara kunci diputar.
Seorang perempuan tua membuka pintu—rambutnya putih disanggul rapi, matanya jernih meski dipenuhi keriput.
“Cari siapa?” tanyanya.
Ayah menyebut nama Ibu.
Wajah perempuan itu langsung berubah lembut.
“Kalian keluarganya Sari?”
Aku mengangguk.
Beliau tersenyum hangat.
“Akhirnya kamu datang juga, Raisa.”
Kalimat itu membuatku tertegun.
“Kok Ibu tahu nama saya?”
Perempuan itu mempersilakan kami masuk.
“Karena ibumu pernah bilang, suatu hari anaknya akan mencari jalan pulang lewat rumah ini.”
Namanya Mbah Rukmini, adik sepupu dari nenekku yang tidak pernah kukenal.
⸻
Bagian dalam rumah terasa seperti museum kecil masa lalu.
Di dinding tergantung foto-foto hitam putih: Ibu muda bersama teman-temannya, seorang lelaki tua yang mirip denganku, dan beberapa gambar rumah yang tidak kukenal.
Di ruang tamu ada lemari kaca berisi benda-benda aneh: kendi kecil, gelang perak, buku doa tua, dan sebuah lonceng mini.
Mbah Rukmini menyeduhkan teh sambil memandangku lama.
“Kamu mirip sekali dengan ibumu saat seumuran.”
Aku tersenyum canggung.
“Saya menemukan foto Ibu di depan sumur, Mbah. Dan peta menuju rumah ini.”
Beliau mengangguk pelan, seolah sudah menunggu kalimat itu bertahun-tahun.
“Sumur itu bukan awal, Nduk. Awalnya justru dari sini.”
⸻
Beliau mulai bercerita dengan suara tenang.
Ternyata jauh sebelum sumur di kampung dikenal angker, keluarga Ibu sudah memiliki riwayat “pendengar”—orang-orang yang peka pada tempat dan mimpi.
Buyutku, menurut cerita, adalah perempuan yang sering diminta warga untuk menenangkan rumah baru atau bayi yang rewel tanpa sebab. Bukan dukun, bukan juga ustazah—hanya perempuan yang dipercaya karena “bahasanya halus”.
Rumah di Gang Kenanga ini dulunya tempat orang datang meminta nasihat.
“Tidak ada perjanjian gelap,” tegas Mbah.
“Hanya cara berbicara pada dunia yang tak kelihatan.”
Aku mendengarkan seperti menemukan potongan diriku sendiri.
“Lalu hubungannya dengan sumur di kampung?” tanyaku.
Mbah menghela napas.
“Ketika ibumu menikah dan pindah, bakat itu ikut terbawa. Sumur hanya menemukan orang yang bisa mendengarnya.”
Berarti bukan aku yang dipilih,
tapi garis darah yang sudah lama ada.
⸻
Mbah Rukmini lalu membuka lemari dan mengeluarkan kotak kayu lebih tua dari yang kutemukan di gudang.
Di dalamnya ada buku catatan buyutku—jauh lebih rapi dari buku kakek Bima.
Isinya bukan ritual, melainkan percakapan: cara menenangkan mimpi, cara menyapa tempat tanpa memerintah, dan satu bagian khusus berjudul:
“Bernegosiasi dengan yang lapar.”
Dadaku berdebar.
“Ini yang Ibu pelajari juga?” tanyaku.
“Iya. Tapi ibumu memilih cara paling lembut: menolak jadi penjaga, bukan melawan.”
Mbah menatapku dalam.
“Dan kamu mewarisi keberanian untuk berkata tidak.”
⸻
Di halaman belakang rumah itu ada sesuatu yang membuatku terdiam.
Sebuah sumur kecil—jauh lebih dangkal dari sumur di kampung, tapi bentuk batunya sama persis.
Aku merinding.
“Kenapa di sini juga ada sumur?”
Mbah tersenyum tipis.
“Ini sumur pertama keluarga kita. Tempat belajar mendengar, bukan membuka.”
Ayah terlihat terkejut.
“Ayah baru tahu ada ini.”
Mbah tertawa kecil.
“Kalian dulu terlalu sibuk dengan hidup sendiri.”
Aku mendekat ke bibir sumur. Tidak ada rasa dingin, tidak ada bisikan. Airnya jernih memantulkan wajahku dengan tenang.
Untuk pertama kalinya, sumur tidak berarti ancaman.
⸻
Malamnya kami menginap di rumah itu.
Aku tidur di kamar yang dulu mungkin pernah dipakai Ibu. Di dinding masih tergantung kalender tahun lama, dan di meja ada sisir kayu yang bentuknya mirip milikku.
Sebelum tidur, Mbah memberi satu pesan:
“Kalau kamu bermimpi di sini, jangan takut. Rumah ini hanya mengingat, tidak menuntut.”
Benar saja, aku bermimpi.
⸻
Dalam mimpi itu aku melihat Ibu remaja duduk di tepi sumur kecil bersama buyut. Mereka berbicara pelan, seperti guru dan murid.
Buyut berkata,
“Jangan pernah memerintah yang tak terlihat. Ajak mereka duduk sejajar.”
Ibu mengangguk.
Lalu gambar berganti: Ibu yang sedang hamil berdiri di depan sumur kampung, menempelkan tangan ke perutnya.
“Aku titip anakku pada dunia yang baik,” katanya.
Aku terbangun dengan dada hangat.
Bukan mimpi seram—mimpi penjelasan.
⸻
Keesokan harinya, Mbah mengajakku ke ruang belakang yang jarang dibuka.
Di sana ada lemari arsip keluarga: surat-surat lama, akta kelahiran, dan buku silsilah.
Beliau menunjukkan satu halaman.
Di pohon keluarga itu ada nama yang mengejutkan:
Rukmini – Sari – Raisa
dan di sisi lain tertulis:
Darsa – Bima Darsa – Bima
Garis kami ternyata pernah berpotongan jauh sekali di masa lalu, bukan sebagai musuh, melainkan sebagai dua cara berbeda menghadapi dunia tak terlihat.
“Dulu keluarga Darsa memilih jalan mengikat,” jelas Mbah.
“Keluarga kita memilih jalan berbicara.”
Aku merasa seluruh konflik ini seperti pertengkaran dua tradisi yang lupa asalnya sama.
⸻
Saat kami hendak pulang, Mbah memberiku sebuah benda kecil: lonceng mini dari lemari kaca.
“Ini milik buyutmu,” katanya.
“Bunyikan hanya kalau kamu ingin mengingat bahwa kamu manusia lebih dulu, baru pendengar.”
Aku memegang lonceng itu dengan hati-hati.
Tidak ada rasa panas, tidak ada energi aneh—hanya benda sederhana yang terasa jujur.
⸻
Perjalanan pulang ke kampung membuat pikiranku penuh.
Sumur ternyata bukan sumber tunggal,
Bima bukan penjahat mutlak,
dan aku bukan korban tanpa akar.
Aku hanya mata rantai dari cerita yang jauh lebih panjang.
Di mobil, Ayah berkata pelan,
“Ibumu pasti bangga kamu sampai sejauh ini.”
Aku menatap jalan yang berlari di depan.
“Semoga aku tidak mengkhianati caranya, Yah.”
⸻
Namun bab ini belum selesai.
Malam setelah kami kembali, seseorang datang ke rumah—seorang perempuan muda yang mengaku cucu Pak Jaya.
Dia membawa pesan mengejutkan:
“Kakek saya sadar sebentar sebelum meninggal tadi sore. Beliau menyebut nama Raisa dan minta menyampaikan satu kalimat.”
Dadaku berdebar.
“Kalimat apa?”
Perempuan itu menatapku takut.
“Beliau bilang: yang lapar belum pulang, hanya pindah alamat.”
Dini meremas tanganku.
Aku sadar satu hal:
perjalanan ke rumah lama membuka kebenaran,
tapi juga membangunkan mata lain yang sejak lama diam.
Aku menggenggam lonceng pemberian Mbah.
Cerita ini benar-benar belum selesai.