NovelToon NovelToon
Dark Crown: Devil'S Bride

Dark Crown: Devil'S Bride

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Roman-Angst Mafia / Menikah dengan Musuhku
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Coldmaniac

‎"Aku tidak membelimu untuk dicintai. Aku membelimu untuk menghancurkan ayahmu."

‎Aria Vane hanyalah tumbal. Dijual oleh ayahnya sendiri untuk melunasi utang darah kepada Dante Moretti, pria paling kejam yang pernah memimpin sindikat Milan.
‎Dante tidak butuh istri. Dia butuh senjata.
‎Aria tidak butuh perlindungan. Dia butuh balas dendam.

‎Di atas ranjang yang sama, mereka saling mengincar nyawa. Namun, saat rahasia masa lalu mulai terkuak, Aria menyadari bahwa sang Iblis yang menikahinya adalah satu-satunya peluru yang ia miliki untuk bertahan hidup.

‎Satu pernikahan. Dua pengkhianatan. Ribuan peluru yang mengintai.

‎Di dunia Moretti, hanya ada satu aturan: Jangan jatuh cinta, atau kau akan menjadi orang pertama yang mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Coldmaniac, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Darah di Atas Sutra Corsica

PULAU Corsica menyambut mereka dengan aroma pinus yang tajam dan tebing-tebing granit yang tampak seperti benteng pelindung di tengah birunya laut Mediterania. Di sebuah vila tersembunyi yang bertengger di lereng bukit curam dekat Bonifacio, waktu seolah berjalan lebih lambat. Namun bagi Dante Moretti, setiap putaran jarum jam adalah debaran jantung yang tak menentu.

Dante berdiri di dek kayu vila, menatap matahari yang baru saja terbit. Ia mengenakan kemeja putih sederhana yang tidak dikancingkan sepenuhnya, memperlihatkan perban di bahunya yang kini mulai mengering. Udara pagi yang dingin menyentuh kulitnya, namun ia tidak bergeming. Matanya tertuju pada pintu kaca besar yang menghubungkan dek dengan ruang tengah.

Di dalam sana, ia bisa melihat sesosok kecil sedang duduk di atas karpet bulu, sibuk dengan tumpukan balok kayu warna-warni.

"Dia baru saja bangun," suara Aria terdengar lembut di belakangnya.

Dante berbalik. Aria berdiri di ambang pintu, mengenakan gaun sutra tipis yang tertiup angin laut. Wajahnya tampak lelah setelah pelarian malam itu, namun ada binaran harapan yang belum pernah Dante lihat selama dua tahun terakhir.

"Aku... aku tidak tahu harus berbuat apa, Aria," bisik Dante. Suaranya yang biasanya sanggup memerintahkan ribuan tentara bayaran kini terdengar gemetar. "Dua tahun aku hanya melihatnya melalui foto atau kaca tebal penjara. Bagaimana jika dia takut padaku? Bagaimana jika dia melihat monster yang selama ini dibicarakan orang?"

Aria melangkah maju, menggenggam tangan Dante dan menuntunnya masuk. "Dia tidak tahu apa itu monster, Dante. Dia hanya tahu bahwa ayahnya adalah seorang pahlawan yang sedang pergi jauh. Masuklah. Temui dia."

Langkah kaki Dante terasa berat di atas lantai kayu. Setiap langkah seolah membawa beban dosa masa lalu yang ingin ia tinggalkan di gerbang Rebibbia. Saat ia sampai di tengah ruangan, sosok kecil itu mendongak.

Letizia.

Gadis kecil itu memiliki rambut hitam legam yang bergelombang, persis seperti ibunya. Namun saat matanya bertemu dengan mata Dante, ada warna abu-abu badai yang sangat familiar di sana. Mata Moretti. Letizia berhenti bermain, menatap pria asing tinggi besar yang berdiri di depannya dengan rasa ingin tahu yang murni.

Dante berlutut, mencoba menyamakan tingginya dengan sang putri. Ia tidak berani menyentuh, takut kehadirannya yang kasar akan menghancurkan kemurnian di depan matanya.

"Letizia..." bisik Dante, suaranya hampir pecah.

Letizia memiringkan kepalanya. Ia meletakkan balok kayu hijaunya, lalu perlahan merangkak mendekati Dante. Ia mengulurkan tangan kecilnya, menyentuh luka gores di pipi Dante dengan jari-jarinya yang mungil.

"Papa?" tanya Letizia dengan suara cadel yang sangat halus.

Dante memejamkan mata, membiarkan setetes air mata jatuh membasahi pipinya. Ia menarik Letizia ke dalam pelukannya—sebuah pelukan yang sangat hati-hati, seolah-olah ia sedang memegang porselen paling berharga di dunia. Letizia tidak menangis; ia justru menyandarkan kepalanya di bahu Dante, mencium aroma maskulin dan sisa bau laut yang menempel pada ayahnya.

Aria berdiri di sudut ruangan, menutup mulutnya dengan tangan untuk menahan isak tangis. Pemandangan itu adalah bayaran yang setimpal bagi setiap peluru yang ia lepaskan dan setiap risiko yang ia ambil. Sang Penjagal dari Milan telah benar-benar pulang. Bukan ke takhtanya, tapi ke rumahnya yang sesungguhnya.

Masa tenang itu hanya bertahan beberapa jam. Di ruang bawah tanah vila yang telah diubah menjadi pusat komando taktis, suasana kembali mencekam. Marco, Agostino, dan Katerina Volkov sudah menunggu di depan layar-layar monitor yang menampilkan pergerakan global.

Dante duduk di kursi utama, Letizia sudah tertidur di lantai atas di bawah pengawasan ketat para pelayan. Wajah "ayah" di wajah Dante telah hilang, digantikan oleh profil seorang komandan yang siap membakar dunia demi melindungi apa yang ia miliki.

"Katerina," Dante menunjuk ke arah wanita Rusia itu. "Jelaskan padaku kenapa kau bersedia mengkhianati bangsamu untuk membantuku. Dan jangan beri aku jawaban tentang 'keadilan'."

Katerina menyesap kopinya, matanya yang biru sedingin es menatap Dante tanpa gentar. "Bratva tidak lagi dipimpin oleh orang-orang dengan kode kehormatan, Dante. Viktor Volkov, sepupuku, adalah pria yang membunuh ayahku sendiri demi kursi di 'The Circle'. Dia menganggap Sisilia hanyalah properti yang bisa disewakan. Dia bekerja sama dengan sisa-sisa keluarga Lucchese untuk mendapatkan The Last Key."

"Apa sebenarnya The Last Key itu?" tanya Aria sambil membuka beberapa dokumen digital di laptopnya.

"Itu adalah akses ke akun 'Emas Hitam' di Bank of International Settlements di Basel," jawab Katerina. "Dana itu bukan hanya uang. Itu berisi data-data intelijen yang dikumpulkan klan Moretti dan Volkov selama lima puluh tahun. Siapa pun yang memegangnya bisa menjatuhkan pemerintahan mana pun di Eropa hanya dengan satu klik."

Marco menambahkan, "Masalahnya, kunci itu tidak berbentuk kode digital murni. Kakekmu, Dante, membuatnya menjadi sesuatu yang biologis. Dia menanamkan pola enkripsi di dalam struktur DNA garis keturunan murni Moretti. Itulah sebabnya mereka tidak hanya menginginkanmu, Dante. Mereka menginginkan Letizia. Dia adalah kunci hidup itu."

Dante menggebrak meja hingga cangkir kopi bergetar. "Mereka ingin menggunakan putriku sebagai perangkat lunak?"

"Persis," sahut Katerina. "Valerio tahu ini. Viktor tahu ini. Sekarang mereka sedang mengumpulkan pasukan di pelabuhan Marseille, hanya beberapa mil dari Corsica. Mereka tidak akan menunggu sampai kalian siap."

Aria berdiri, berjalan menuju peta digital Mediterania. "Jika mereka tahu kita di Corsica, mereka akan menyerang dengan kekuatan penuh. Serangan udara, laut, dan tentara bayaran. Kita tidak bisa bertahan di vila ini selamanya."

"Lalu apa rencanamu, Aria?" tanya Dante.

"Kita gunakan kelemahan terbesar mereka: keserakahan," Aria menunjuk ke arah sebuah titik di lepas pantai Italia, sebuah pulau karang kecil yang tidak berpenghuni. "Kita kirim sinyal palsu bahwa kita akan melakukan pertukaran data Phoenix di sana. Kita tarik Viktor dan Valerio keluar dari persembunyian mereka. Kita jadikan pulau itu sebagai ladang pembantaian."

"Dan Letizia?" tanya Dante cemas.

"Agostino akan membawanya ke sebuah biara di pedalaman Swiss melalui jalur pegunungan yang hanya diketahui oleh ordo keagamaan yang kita bantu di Roma," jawab Aria. "Dia akan aman di sana sementara kita menyelesaikan ini."

Dante menatap istrinya. Ia melihat perubahan total dalam diri Aria. Wanita yang dulu ia nikahi karena paksaan, wanita yang dulu ketakutan melihat darah, kini sedang merancang strategi pemusnahan massal.

"Kau yakin bisa melakukan ini, Aria?" tanya Dante pelan.

"Aku melakukan apa yang perlu dilakukan agar putriku tidak perlu memegang senjata seperti kita, Dante," jawab Aria tegas.

Malam itu, Dante masuk ke kamar Letizia. Gadis kecil itu tidur dengan sangat tenang, memeluk boneka beruang tua yang dibawa Aria dari New York. Dante mengusap rambut putrinya untuk terakhir kalinya sebelum misi berbahaya ini dimulai.

"Papa akan segera kembali, Letizia," bisiknya. "Aku berjanji, dunia yang akan kau lihat saat bangun nanti akan jauh lebih bersih."

Dante kemudian keluar ke balkon, di mana Aria sudah menunggu. Mereka berdiri di bawah taburan bintang Corsica yang jernih.

"Dante," panggil Aria.

"Ya?"

"Jika kita tidak berhasil kembali dari pulau itu... jika ini adalah akhir dari perjalanan kita..."

Dante segera menutup bibir Aria dengan jarinya. "Jangan katakan itu. Kita sudah melewati neraka Rebibbia, kita sudah melewati Sisilia. Kita adalah Moretti. Kita tidak mati demi ideologi. Kita hidup demi keluarga kita."

Dante menarik Aria ke dalam pelukannya, menciumnya dengan gairah yang bercampur dengan ketakutan akan kehilangan. Di bawah sinar rembulan, mereka bukan lagi sekadar pelarian; mereka adalah dua kekuatan alam yang sedang bersiap untuk bertabrakan dengan badai yang mereka ciptakan sendiri.

Tiba-tiba, radar di jam tangan Dante bergetar.

"Bos," suara Marco terdengar melalui earpiece. "Kapal pengintai Bratva sudah berada di radius sepuluh mil. Mereka mulai meluncurkan drone siluman."

Dante melepaskan pelukannya, matanya kembali menjadi abu-abu dingin yang mematikan. Ia mengeluarkan cincin gagak Moretti dari sakunya dan menyematkannya di jarinya.

"Waktunya dimulai," ucap Dante.

Aria mengambil senapan sniper yang sudah disiapkan Marco di sudut balkon. Ia memeriksa bidikannya ke arah laut yang gelap. "Biarkan mereka datang, Dante. Aku sudah menyiapkan neraka yang sangat istimewa untuk mereka."

Di kejauhan, lampu-lampu kapal perang tanpa bendera mulai terlihat di cakrawala, bergerak seperti predator yang lapar. Perang untuk masa depan Letizia baru saja dimulai, dan kali ini, tidak ada lagi ruang untuk negosiasi. Hanya ada darah di atas sutra, dan abu di atas kemenangan.

1
Septriani Margaret
kapan lanjutannya kk seru ih nanggung 🥺
Nida Saefullah
kerenn....
awesome moment
tekad yg 👍👍👍
awesome moment
👍👍👍
Nida Saefullah
👍💪
fitri ani
luar biasa
Coldmaniac: terima kasihhh
total 1 replies
awesome moment
blm slesekan? kpn lanjutnya?
Coldmaniac: ditunggu yaaaaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!