Rajendra Baskara, putra sulung keluarga konglomerat, dikhianati oleh adik angkatnya dan istrinya sendiri demi warisan keluarga. Setelah dibunuh, ia terbangun kembali di usia 20 tahun—sebelum pernikahan dan sebelum kehancuran hidupnya. Dengan ingatan masa depan, kecerdasan, dan pengalaman pahit, Rajendra memilih memutus hubungan keluarga dan membangun kerajaan bisnisnya sendiri, sambil menyiapkan balas dendam yang perlahan, menyakitkan, dan tak terhindarkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon asep sigma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JEJAK DIGITAL
Sabtu siang, Rajendra dan Arief duduk di kafe kecil di kawasan Kuningan menunggu Bima.
Kafe dengan interior industrial, dinding bata ekspos, meja kayu daur ulang, musik indie pelan di latar belakang. Tidak terlalu ramai untuk hari Sabtu.
Rajendra pesan kopi hitam, Arief pesan es teh manis. Mereka duduk di meja pojok dekat jendela.
"Bima orangnya gimana?" tanya Rajendra sambil menyeruput kopinya.
"Smart. Sedikit eccentric. Tapi kalau soal digital forensic, dia salah satu yang terbaik. Dia pernah kerja di tim cyber security perusahaan besar, terus resign dan jadi freelancer karena gak suka politik kantor."
"Bisa dipercaya?"
"Seratus persen. Gue kenal dia dari kuliah. Sama-sama di ITB. Dia angkatan di atas gue, tapi kita sering kolaborasi di project kampus."
Sepuluh menit kemudian, pintu kafe terbuka. Seorang pria masuk, usia sekitar tiga puluhan awal, pakai kaos hitam polos, jaket denim, celana cargo, tas ransel besar di punggung. Rambut agak panjang, janggut tipis, kacamata kotak.
Arief melambai.
"Bim! Sini!"
Bima berjalan mendekat, tersenyum lebar, lalu duduk di kursi kosong.
"Lama gak ketemu, Rief. Gimana kabar?"
"Baik. Ini bos gue, Rajendra."
Bima mengulurkan tangan.
"Bima. Senang ketemu."
Rajendra berjabat tangan.
"Rajendra. Thanks udah mau datang."
"Sama-sama. Jadi, Arief bilang lu butuh bantuan digital forensic? Case-nya tentang apa?"
Rajendra menjelaskan situasi dari awal. Laporan polisi palsu, dokumen bank palsu yang disubmit ke polisi, bagaimana dia bisa buktikan itu palsu, tapi sekarang butuh trace siapa yang bikin.
Bima mendengarkan dengan serius, sesekali mengangguk.
"Lu punya copy dokumen palsu itu?" tanya Bima.
"Punya. Gue foto waktu di kantor polisi."
Rajendra mengeluarkan ponsel, membuka foto dokumen bank palsu yang dia foto diam-diam waktu di Polda.
Bima menatap foto itu dengan fokus, zoom in, zoom out, melihat detail-detail kecil.
"Ini print out kan? Bukan dokumen digital?"
"Iya. Polisi terima dalam bentuk print out."
"Berarti yang gue bisa analisis terbatas. Kalau digital file, gue bisa extract metadata, lihat kapan dibuat, di komputer mana, pakai software apa. Tapi kalau cuma print out, gue cuma bisa analisis visual."
"Analisis visual bisa dapat info apa?"
"Beberapa hal. Font yang dipakai, apakah match dengan font resmi bank. Layout, apakah ada inkonsistensi. Watermark, apakah ada atau gak. Stempel dan tanda tangan, apakah terlihat asli atau hasil scan dan paste."
Bima zoom foto lebih detail.
"Ini stempel dan tanda tangan terlihat mencurigakan. Edge-nya terlalu sharp. Biasanya kalau stempel asli yang diteken langsung ke kertas, edge-nya sedikit blur karena tinta nyerap ke kertas. Tapi ini terlalu clean. Kemungkinan ini hasil scan stempel asli, terus di-paste ke dokumen digital, baru di-print."
Rajendra mengangguk, mencatat mental.
"Bisa dilacak siapa yang punya akses ke stempel asli?"
"Itu investigasi manual. Lu harus cek siapa aja yang punya akses ke stempel bank, atau siapa yang pernah kerja di bank dan mungkin bawa pulang stempel atau bisa bikin replika."
"Oke. Terus untuk font dan layout?"
Bima zoom ke bagian text.
"Font-nya Arial. Standard. Tapi spacing-nya sedikit off kalau dibandingkan dengan dokumen bank resmi. Ini terlihat seperti dibuat pakai Microsoft Word atau software text editor biasa, bukan sistem internal bank yang punya template fixed."
"Berarti ini jelas palsu?"
"Dari analisis visual, kemungkinan besar palsu. Tapi untuk bukti legal yang kuat, lu butuh expert testimony dari ahli forensik dokumen yang certified. Gue bisa bikin laporan analisis, tapi gue gak punya sertifikasi resmi sebagai ahli forensik. Jadi laporan gue bisa dipakai sebagai starting point, tapi belum cukup buat pengadilan."
Rajendra menghela napas.
"Berarti gue tetap butuh hire ahli forensik certified?"
"Iya. Tapi dengan laporan gue, lu sudah punya ammunition. Lu tahu apa yang harus dicari, apa yang harus dibuktikan. Jadi proses dengan ahli certified jadi lebih cepat dan lebih murah."
"Oke. Lu bisa bikin laporan analisis ini?"
"Bisa. Butuh dua hari. Fee lima juta seperti yang gue bilang ke Arief."
"Deal."
Mereka berjabat tangan.
Bima mengeluarkan laptop dari tas ranselnya, membuka aplikasi note-taking.
"Oke, gue catat semua detail yang lu punya. Tanggal dokumen dibuat, nomor rekening, nama bank, semua."
Rajendra memberikan semua informasi yang dia punya. Bima mencatat dengan teliti.
Setelah tiga puluh menit, semua informasi sudah dicatat.
"Gue akan mulai analisis besok. Senin sore lu sudah bisa dapat draft laporan. Lu review, kalau ada yang perlu direvisi, kasih tahu gue. Rabu final report sudah bisa lu pakai."
"Perfect. Thanks, Bim."
"Sama-sama. Oh ya, satu lagi. Lu bilang lu curiga keluarga lu yang bikin ini?"
"Iya."
"Mereka punya akses ke data pribadi lu? Nomor rekening, detail transaksi, semua?"
Rajendra berpikir.
"Harusnya enggak. Gue sudah keluar dari keluarga, gak share info apapun ke mereka."
"Tapi mereka bisa dapat dari sumber lain. Orang dalam di bank, misalnya. Atau hacker yang mereka hire untuk breach sistem bank."
Rajendra menegang.
"Lu pikir mereka sampai segitunya?"
"Kalau mereka desperate, apa aja bisa. Lu harus extra careful dengan data pribadi lu. Ganti password semua akun online. Enable two-factor authentication. Jangan pakai WiFi public tanpa VPN. Basic digital security."
"Oke. Gue akan lakuin itu."
Bima menutup laptopnya, memasukkan kembali ke tas.
"Arief, thanks udah refer case ini ke gue. Rajendra, good luck. Gue harap lu bisa dapet justice."
"Thanks, Bim."
Bima pergi, meninggalkan Rajendra dan Arief di kafe.
Arief menatap Rajendra.
"Lu oke? Lu keliatan stress."
"Oke. Cuma overwhelmed. Terlalu banyak hal yang harus dihandle bersamaan."
"Lu butuh break, bos. Serius. Kapan terakhir lu liburan?"
Rajendra berpikir. Terakhir liburan? Dia bahkan tidak ingat. Di kehidupan pertama mungkin. Tapi di kehidupan kedua ini, sejak dia balik ke tahun 2010, dia tidak pernah liburan. Semuanya kerja, kerja, dan kerja.
"Gue gak bisa liburan sekarang. Terlalu banyak yang harus dikerjain."
"Gue gak bilang liburan seminggu. Cuma satu hari. Minggu besok misalnya. Gak ngapa-ngapain. Cuma istirahat di rumah, atau jalan-jalan ringan. Clear your head."
Rajendra tersenyum tipis.
"Mungkin. Gue pikir dulu."
Mereka keluar dari kafe, berjalan ke halte bus terdekat.
Jakarta Sabtu sore cukup sepi dibanding hari kerja. Jalanan lebih lengang, udara sedikit lebih sejuk.
"Oh ya," kata Arief tiba-tiba. "Gue lupa bilang. Order hari ini udah tiga puluh. Highest single day sejak launch."
Rajendra menatapnya.
"Serius?"
"Serius. Gue cek dashboard pagi tadi. Traffic juga naik. Kayaknya artikel yang Dina share kemarin bawa traffic lumayan."
"Bagus. Conversion rate gimana?"
"Stabil. Tiga koma tujuh persen. Naik sedikit."
Rajendra merasa sedikit lega. Setidaknya dari sisi bisnis, semuanya jalan baik meski hidupnya di luar bisnis kacau.
"Dina udah atur interview dengan Jakarta Biz?"
"Udah. Senin depan, jam dua siang. Mereka akan datang ke kantor, foto produk, interview lu, sama mungkin interview seller kalau ada yang available."
"Oke. Gue siap."
Bus datang lima menit kemudian. Mereka naik, duduk berdampingan.
Di dalam bus, Rajendra menatap jendela, melihat Jakarta yang bergerak di luar.
Pikirannya melayang ke berbagai arah. Laporan Bima yang akan keluar Senin. Putusan sidang dua minggu lagi. Interview media Senin depan. Dera yang masih di luar sana, planning sesuatu yang belum dia tahu.
Terlalu banyak moving parts. Terlalu banyak variabel yang tidak bisa dia kontrol.
Tapi satu hal yang bisa dia kontrol adalah LokalMart.
Dia bisa pastikan platform jalan dengan baik. Seller happy. Customer happy. Tim solid.
Itu satu-satunya hal yang benar-benar dia pegang sekarang.
Arief turun di halte dekat rumahnya, melambai ke Rajendra sebelum pergi.
Rajendra lanjut sampai halte terakhir dekat kamar kosnya.
Turun bus, berjalan pelan ke kamar kos, naik tangga, masuk kamar, langsung berbaring di kasur tanpa ganti baju.
Lelah.
Fisik lelah, mental lebih lelah lagi.
Ponselnya bergetar, pesan dari Dina.
"Bos, gue udah finalisasi konten buat post Minggu besok. Lu mau review dulu atau langsung gue schedule?"
Rajendra mengetik balasan.
"Review dulu. Kirim link."
Beberapa detik kemudian, link Google Doc masuk.
Rajendra membuka, membaca konten yang Dina buat.
Post tentang salah satu seller mereka, pengrajin batik dari Solo, cerita perjalanan dia dari bikin batik untuk pasar lokal sampai sekarang bisa jual online lewat LokalMart.
Ditulis dengan baik. Emotional. Human. Exactly yang Rajendra mau.
"Bagus. Go ahead. Schedule buat Minggu pagi."
"Siap, bos. Lu istirahat ya. Jangan overthink."
"Gue usahain."
Rajendra menaruh ponsel di meja, menatap langit-langit kamar yang retak di beberapa tempat.
Dua minggu lagi putusan sidang.
Kalau dia menang, dia dapat warisan kakeknya. Enam puluh persen saham Grup Baskara. Kontrol penuh atas perusahaan keluarga.
Kalau dia kalah, dia kehilangan semua itu.
Tapi entah kenapa, kalah atau menang di sidang tidak lagi terasa seperti hal terpenting.
Yang terpenting adalah dia sudah buktikan ke diri sendiri bahwa dia bisa hidup tanpa mereka.
Dia bisa bangun sesuatu dari nol. Dia bisa survive tanpa nama Baskara. Dia bisa jadi orang yang lebih baik dari versi dia di kehidupan pertama.
Dan itu lebih berharga dari warisan miliaran.
Tapi tetap saja, menang akan lebih baik.
Rajendra menutup mata, mencoba tidur.
Besok Minggu. Hari libur. Mungkin dia akan ikuti saran Arief. Gak ngapa-ngapain. Cuma istirahat.
One day break sebelum minggu berikutnya yang pasti akan lebih gila lagi.
Di rumah keluarga Baskara, ruang makan besar terasa dingin meski lampu chandelier menyala terang.
Julian duduk di ujung meja dengan piring yang hampir tidak tersentuh. Ririn duduk di seberangnya, sesekali melirik ke Julian dengan tatapan khawatir. Dera duduk di samping Julian, makan dengan tenang seolah tidak ada yang salah.
Tidak ada yang bicara selama sepuluh menit pertama.
Sampai akhirnya Julian bicara, suaranya pelan tapi berat.
"Daniel telepon tadi siang. Dia bilang peluang kita menang di sidang kecil. Bukti mereka lebih kuat."
Dera meletakkan sendoknya, menatap Julian.
"Ayah, kan Dera udah bilang. Kita punya plan B."
"Plan B yang kemarin gagal. Rajendra bisa buktikan dokumen kita palsu. Sekarang polisi malah investigasi siapa yang submit laporan palsu itu."
"Itu karena eksekusinya kurang hati-hati. Kali ini Dera akan lebih teliti."
Julian menatap Dera dengan tatapan lelah.
"Dera, berapa kali lagi kita harus coba? Berapa kali lagi kita harus bohong, bikin dokumen palsu, jebak orang? Ini gak akan ada habisnya."
"Sampai Rajendra menyerah. Sampai dia sadar dia gak bisa menang lawan kita."
"Tapi dia gak akan menyerah! Kamu gak lihat? Dia berubah. Dia bukan anak yang dulu bisa kita kontrol. Dia sekarang punya kekuatan sendiri. Punya tim sendiri. Punya bisnis sendiri."
Dera diam, rahangnya mengeras.
Ririn yang dari tadi diam, akhirnya bicara dengan suara gemetar.
"Julian, mungkin kita harus berhenti. Mungkin kita harus terima kalau Rajendra memang berhak dapat warisan Pak Dimas. Itu keputusan Pak Dimas. Kita harus hormati."
Julian menatap Ririn dengan tatapan kosong.
"Kalau kita berhenti, kita kehilangan perusahaan. Kehilangan semua yang aku bangun selama puluhan tahun."
"Tapi kita masih punya dua puluh persen. Itu cukup untuk hidup nyaman."
"Dua puluh persen itu tidak ada artinya kalau Rajendra pegang enam puluh persen. Dia bisa pecat aku. Dia bisa ganti semua manajemen. Dia bisa bikin aku jadi orang luar di perusahaan yang aku sendiri bangun."
Hening.
Tidak ada yang bisa membantah itu.
Dera berdiri dari kursinya.
"Ayah, istirahat aja. Biar Dera yang handle. Dera punya satu rencana lagi. Kalau ini berhasil, Rajendra gak akan bisa pakai warisan itu meski dia menang di sidang."
"Rencana apa?"
"Ayah gak perlu tahu detailnya. Trust me."
Dera berjalan keluar ruang makan, meninggalkan Julian dan Ririn sendirian.
Julian menatap piring di depannya yang sudah dingin.
Ririn menatap suaminya dengan air mata di mata.
"Julian, aku mohon. Hentikan ini sebelum terlambat. Ini anakmu. Darah dagingmu."
Julian tidak menjawab.
Hanya duduk diam, menatap kosong, seperti orang yang sudah kehilangan jiwa.
[ END OF BAB 26 ]