Di bawah kaki Pegunungan Abu, terdapat sebuah desa kecil bernama Desa Qinghe. Desa itu miskin, terpencil, dan nyaris dilupakan dunia. Bagi para kultivator sejati, tempat itu tidak lebih dari titik tak berarti di peta Kekaisaran Tianluo.
Di sanalah Qing Lin tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dyrrohanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 25 - ujian kedua:pertarungan di tengah badai
Hari itu, angin dingin dari pegunungan mengguncang Sekte Batu Awan. Kabut tebal menutupi sebagian arena, dan bau tanah basah menyelimuti udara. Seluruh murid, dari tingkat luar hingga dalam, berkumpul untuk ujian resmi kedua—pertarungan langsung yang menilai kekuatan, refleks, dan penguasaan teknik.
Qing Lin berdiri di tepi arena, menatap sekeliling. Hatinya tenang. Tidak ada ambisi berlebih, tidak ada rasa takut. Hanya kesadaran satu hal: ia harus menghadapi ujian ini dengan fokus, dan menggunakan Siklus Darah Sunyi dengan sempurna.
Mentor Bayangan duduk di balkon tinggi, menatapnya dengan mata penuh arti.
“Ingat… kontrol, bukan agresi,” gumamnya pelan. “Biarkan Sutra Darah Sunyi membimbingmu.”
Arena mulai dipenuhi murid yang lebih kuat. Beberapa dari mereka sudah mencapai tingkat menengah, dengan aura qi yang berkilau seperti ombak. Qing Lin mengangkat kapaknya, menyesuaikan napas, dan memulai Siklus Darah Sunyi. Qi dalam tubuhnya berputar, menyebar ke seluruh sendi dan otot, memberikan kekuatan yang lebih dari tubuhnya sendiri.
Pertarungan pertama dimulai. Lawan Qing Lin adalah seorang murid luar bernama Meng Tao. Ia dikenal cepat, namun agresif. Ia melompat dengan aura berputar, menyerang dengan gerakan campuran tangan dan kaki yang cepat.
Qing Lin hanya mengamati, tubuh tetap rileks, napas stabil. Sutra Darah Sunyi menyesuaikan ritme lawan, memprediksi gerakan yang akan datang. Ketika Meng Tao menebas, Qing Lin menggeser kapak kayunya dengan sempurna, menghindar tanpa kehilangan keseimbangan.
“Ini… kecepatan dan presisi yang luar biasa,” bisik seorang murid luar yang menonton dari sisi arena. “Tanpa akar spiritual… tapi bisa mengimbangi murid luar terkuat!”
Qing Lin tidak membalas serangan dengan agresi. Ia menunggu, memanfaatkan momentum lawan. Setiap kali ia menghindar, Sutra Darah Sunyi bekerja, memperkuat otot dan refleksnya. Akhirnya, sebuah kesempatan muncul: Meng Tao terlalu fokus menyerang, meninggalkan celah kecil. Qing Lin memutar kapaknya, tidak untuk membunuh, hanya untuk menahan dan menjatuhkan lawan ke tanah.
Penonton terkejut. Tidak ada darah, tidak ada agresi—hanya teknik murni dan refleks luar biasa.
Ujian kedua ini berbeda dari sebelumnya. Setiap pertarungan lebih intens, lawan lebih kuat. Qing Lin menghadapi murid dalam tingkat awal bernama Li Xun, yang memiliki aura biru terang dan teknik tangan terbuka yang mematikan.
Pertarungan dimulai. Li Xun menyerang dengan serangan cepat, setiap pukulan membawa gelombang energi yang bisa mematahkan tulang biasa. Qing Lin mengatur napas, menggunakan Siklus Darah Sunyi untuk menyesuaikan kekuatan tubuhnya. Tubuhnya ringan, refleks lebih tajam, dan setiap gerakan terasa seperti memprediksi lawan sebelum serangan datang.
Li Xun terkejut. “Tanpa akar spiritual… tapi… bagaimana ia bisa bergerak begitu cepat?”
Qing Lin tetap tenang. Ia tidak menyerang, hanya menghindar dan menahan serangan dengan gerakan sederhana namun presisi. Sutra Darah Sunyi membantunya menahan energi lawan, menyebarkannya ke seluruh tubuh agar tidak merusak sendi atau otot.
Pertarungan berlangsung lama, tapi Qing Lin tetap polos. Ia tidak membalas dengan kekerasan, hanya menggunakan teknik defensif. Akhirnya, Li Xun terhuyung mundur, terengah-engah, tidak bisa menembus pertahanan sederhana Qing Lin.
“Ia… bukan hanya bertahan,” gumam Li Xun. “Tubuhnya… seperti menyesuaikan serangan kita sendiri…”
Setelah beberapa pertarungan, Qing Lin menghadapi lawan yang lebih sulit: seorang murid dalam tingkat menengah bernama Zhao Ling, terkenal dengan kekuatan fisik luar biasa dan teknik serangan putaran. Ia menatap Qing Lin dengan serius, menyadari aura berbeda yang muncul.
“Jangan remehkan murid luar ini,” kata Zhao Ling dalam hati. “Ada sesuatu yang… tidak biasa dalam dirinya.”
Pertarungan dimulai. Zhao Ling menyerang dengan teknik putaran cepat, memutar aura qi di sekeliling tubuhnya seperti badai kecil. Qing Lin mengatur napas, Sutra Darah Sunyi berdenyut di seluruh tubuhnya, memperkuat refleks dan ketahanan.
Serangan pertama Zhao Ling mengenai, tapi Qing Lin menggeser kapak kayunya, mengalihkan energi tanpa tersakiti. Setiap pukulan yang hampir mengenai tubuhnya diserap oleh Sutra Darah Sunyi, tubuhnya menyesuaikan momentum lawan.
“Ini… lebih dari sekadar pertahanan,” bisik seorang murid luar. “Ini… teknik yang menyerap energi lawan tanpa menyerang…”
Qing Lin tetap polos. Ia tidak mencari kemenangan agresif. Ia hanya menjaga keseimbangan, menyesuaikan Sutra Darah Sunyi, dan mempelajari setiap gerakan Zhao Ling.
Lama kelamaan, Zhao Ling terkejut. Tubuhnya terasa berat, karena setiap serangan yang diarahkan ke Qing Lin terasa hilang momentum. Refleks Qing Lin terlalu cepat, gerakannya sempurna, namun tidak membahayakan lawan.
Akhirnya, Zhao Ling berhenti, menatap Qing Lin dengan mata terbuka lebar. “Kau… berbeda dari semua murid luar yang pernah kuhadapi.”
Mentor Bayangan tersenyum samar dari balkon. “Ia mulai menguasai Siklus Darah Sunyi. Ini bukan kemenangan dengan kekerasan, tapi kemenangan yang jauh lebih kuat—kontrol penuh atas tubuh dan energi.”
Qing Lin menatap lawannya, tidak tersenyum, tidak sombong. Ia hanya mengangguk pelan. Ini adalah kemenangan yang sunyi, tapi nyata.
Malam hari, setelah ujian selesai, penatua Gu Yan memanggil murid yang berhasil menonjol. Qing Lin duduk di tepi taman, menyaksikan murid lain mendengar pengumuman.
“Murid luar bernama Qing Lin… menunjukkan pertumbuhan luar biasa. Meskipun tanpa akar spiritual, ia mampu menahan murid dalam tingkat awal hingga menengah, dengan teknik yang tidak agresif namun efektif. Sutra Darah Sunyi-nya berkembang lebih cepat dari perkiraan.”
Murid lain terkejut, sebagian takut, sebagian kagum. Dunia Sekte mulai menyadari potensi yang selama ini tersembunyi.
Mentor Bayangan berdiri di belakang Qing Lin. “Kau telah melakukan dengan baik hari ini. Tapi ingat… ujian nyata tidak selalu seperti arena. Dunia nyata lebih kejam, lebih kompleks. Siklus Darah Sunyi akan membantumu, tapi tetaplah polos, tetaplah manusiawi.”
Qing Lin mengangguk pelan, menutup mata, merasakan energi di seluruh tubuhnya. Ia tahu jalannya masih panjang, penuh tantangan, tapi setiap langkah terasa lebih mantap dari sebelumnya.
“Aku… masih polos,” gumamnya sambil menatap langit malam. “Tapi dunia… mulai mengakui keberadaanku.”