Sandrina mendapatkan tiket liburan keliling Eropa. Ketika berada di negara Italia, dia terpisah dari rombongannya. Saat berada di sebuah gang sepi, dia melihat pembunuhan yang dilakukan oleh Alecio dan anak buahnya
Demi menyelamatkan nyawanya Sandrina pura-pura buta dan tuli. Namun, kebohongannya itu segera ketahuan oleh Patrick, kaki tangan Alecio. Dia pun menjadi tahanan kelompok mafia, "Serigala Hitam".
Saat dalam perjalanan ke markas, Alecio dan anak buahnya mendapatkan serangan mendadak dari arah yang tak diketahui. Ban mobil yang ditumpangi oleh Alecio dan Sandrina kena peluru, sehingga mereka harus pindah ke mobil yang lain. Siapa sangka mereka berdua terkena tembakan. Bukan peluru timah atau obat bius, tetapi obat perangsang.
"Kamu adalah budakku! Jadi, sudah sepatutnya seorang budak menurut kepada tuannya." -Alecio-
"Ya Allah, ampuni dosaku. Lebih baik cabut nyawanya Alecio agar aku terhindar dari zina." -Sandrina-
"Bukannya Tuan Alecio impoten? Kenapa jadi Birahi?" -Max
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
“Apa yang terjadi? Siapa yang membuat Sandrina kekurangan sesuatu yang begitu penting?” batin Alecio bertanya-tanya. Pria itu melangkah mendekat tanpa suara.
Dan tepat saat itu, Sandrina berkata, “If I wear nothing, very dangerous situation.”
Alecio membeku. “Apa?!”
Marcela mengangguk cepat. “Yes, yes, I understand.”
Alecio masuk dengan wajah tegang. “What dangerous situation?”
Sandrina dan Marcela menoleh bersamaan.
Sandrina hampir lompat. “Eh?! Kamu dari mana?!”
Alecio menatap tajam. “What situation?”
Marcela mencoba menahan diri untuk tidak bicara. Dia membiarkan Sandrina yang menjelaskan.
Sandrina panik setengah mati. “Tidak ada! Tidak ada situasi!”
Alecio menatap Marcela. “Explain.”
Marcela menggigit bibir menahan tawa. “Boss, it’s personal matter.”
Alecio makin curiga. “Personal?”
Sandrina langsung berdiri di depan Marcela seperti tameng. “Sudah! Ini urusan women! You man, tidak perlu tahu!”
Alecio justru makin serius. “Kalau ada yang mengancammu di rumahku, aku harus tahu.”
Sandrina ternganga. “Mengancam apaan?! Ini bukan soal mafia!”
“Then what?”
Wajah Sandrina memerah. Untung saja dia pakai jilbab dan cadar, jadi tidak terlihat. Ia pun menoleh ke Marcela.
Marcela pura-pura melihat langit-langit.
Alecio makin mendekat.
“Sandrina.” Nada suaranya rendah, tetapi tegas. “Tell me.”
Sandrina menggeram frustrasi. “Ini soal daleman!”
Alecio terdiam.
“Daleman?”
“Ya! Daleman! Underwear! Kamu lupa beli!”
Suasana di sana langsung hening. Alecio menganga dan Sandrina munutup mukanya karena malu.
Patrick yang entah sejak kapan berdiri agak jauh langsung menutup wajahnya antara malu dan menahan tawa.
Alecio berkedip. Sekali. Dua kali. Otaknya memproses. Lalu, berkata, “Oh.” Hanya itu yang keluar dari mulutnya.
Sandrina mengangguk cepat. “Oh, saja? Aku semalaman stres tahu!”
Alecio mengalihkan pandangan, berdeham. Ekspresi wajahnya tidak berubah, tetapi ujung telinganya memerah tipis.
“Aku tidak memikirkan itu.”
“Ya jelas tidak! Kamu kan tidak pakai gamis!”
Patrick akhirnya gagal menahan tawa. Alecio melotot ke arahnya.
Marcela angkat tangan cepat. “I will fix it today, Boss.”
Alecio mengangguk cepat, seperti ingin mengakhiri pembicaraan ini secepat mungkin.
“Make sure everything complete.”
Sandrina menyilangkan tangan. “Lengkap, ya. Jangan setengah-setengah lagi.”
Alecio menatapnya sebentar.
“Noted.” Ia lalu berbalik pergi dengan langkah lebih cepat dari biasanya.
Patrick menyusulnya sambil berbisik, “Bos, wajah Anda merah.”
“Diam.”
“Tidak ada luka tembaknya tidak di pipi, kan?”
Alecio berhenti berjalan. Patrick langsung mundur dua langkah.
Beberapa jam kemudian, paket baru datang.
Marcela menyerahkan paper bag kecil khusus kepada Sandrina. Dalaman yang sangat lengkap.
Sandrina memeriksanya seperti auditor pajak. “Alhamdulillah.”
Di pintu, Alecio berdiri tanpa sengaja melihat pemandangan itu. Ia berkata pelan, “Sudah aman?”
Sandrina menoleh. Ada jeda kecil di antara mereka. “Iya. Aman.”
Alecio mengangguk pelan. Lalu, ia berkata dengan suara lebih lembut dari biasanya,
“Kalau ada yang kurang lagi, bilang padaku.”
Sandrina terdiam. Nada bicara Alecio berbeda dari biasanya. Bukan nada keras atau tegas, khas seorang mafia. Bukan juga nada sombong, tetapi perhatian. Ia mendengus kecil, menutup rasa gugupnya.
Mata mereka bertemu sepersekian detik. Jantung Sandrina berdetak sedikit lebih cepat. Alecio pun merasakan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan luka tembak.
Patrick yang melihat dari jauh hanya bergumam pelan, “Pantai berdarah kalah sama percakapan daleman.”
Francisco yang lewat menjawab santai, “Yang ini lebih berbahaya.”
Tanpa mereka sadari, hubungan yang awalnya penuh ancaman dan pelarian, perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit, dan jauh lebih hangat.
Ruang makan kastil tampak seperti biasa, meja panjang mengilap, kursi-kursi tinggi berukir, cahaya matahari masuk dari jendela besar. Yang tidak biasa adalah Alecio sudah duduk di ujung meja. Badannya tegap dan memakai kemeja hitam yang rapi. Seolah-olah semalam tidak ada peluru yang bersarang di tubuhnya.
Sandrina yang baru masuk ke ruangan itu hampir tersedak udara sendiri.
“Kamu, kenapa di mana?!” tunjuknya tanpa sopan santun.
Alecio menoleh santai. “Terserah aku mau di mana pun.”
“Seharunya kamu masih dirawat di ruangan Kemarin kamu setengah mati!”
“Aku masih setengah hidup,” jawab Alecio tenang.
Sandrina melangkah mendekat, matanya menyipit curiga. “Kamu ini manusia atau robot sih? Baru kemarin sadar, sekarang sudah duduk kayak bos seminar.”
Alecio menyandarkan tubuhnya dengan percaya diri. “Aku manusia kuat. Hanya orang lemah yang lama berbaring di tempat tidur.”
Sandrina langsung mencibir. “Oh, jadi orang yang luka tembak itu lemah ya? Oke. Nanti kalau kamu pingsan lagi jangan panggil aku.”
Patrick yang duduk di sisi lain meja pura-pura fokus pada kopinya agar tidak tertawa.
Alecio mengangkat dagu sedikit. “Tubuhku terbiasa dengan rasa sakit.”
Sandrina menatapnya dari atas ke bawah. “Tubuhmu mungkin kuat. Tapi kalau disuruh makan obat masih kayak bocah TK.
Patrick hampir menyemburkan kopi.Alecio melirik tajam ke arahnya.
Sandrina lalu duduk, tetapi matanya menatap curiga ke seluruh hidangan di atas meja.
Ia menelan ludah. Perutnya berbunyi pelan.
Alecio memperhatikannya.
“Everything halal,” katanya dalam bahasa Inggris sederhana. “No alcohol. No pork. I check.”
Sandrina mendongak. “Serius?”
Alecio mengangguk sekali. “I learn.”
Sandrina masih ragu. “Tidak ada ... babi, eh, pig?”
Alecio menghela napas tipis. “No pig. No wine. No strange meat.”
“Strange meat itu apa?”
“Daging aneh.”
Sandrina menatapnya lama, mencoba mencari tanda-tanda tipu daya.
Alecio mengangkat tangan sedikit. “You can trust me.”
Sandrina mendengus. “Kamu mafia.”
Alecio menatapnya datar. “Mafia juga bisa google.”
Patrick tersedak kali ini. Dia selalu tersiksa jika mendengarkan obrolan mereka berdua.
Sandrina akhirnya mengambil roti dengan hati-hati. Ia mencicipi sedikit dan merasakan rasanya. Lalu, mata dia membesar.
“Enak.”
Alecio menyembunyikan senyum kecilnya. “Of course.”
Beberapa menit kemudian, Sandrina sudah makan dengan lahap. Semua orang di meja itu diam-diam memperhatikannya.
Alecio memandangnya lebih lama dari yang seharusnya. Wangi sabunnya masih samar tercium. Rambutnya tertutup jilbab rapi. Wajahnya segar. Lagi-lagi tubuhnya kembali memberi reaksi aneh.
Alecio langsung berdeham pelan dan meminum air untuk mengalihkan perhatian.
Sandrina menatapnya curiga. “Kenapa kamu lihat-lihat aku?”
bukan kesempitan yah di ajak nikah ntar pas sandrina mau banyak lagi alasan ini itu