Helena kira setelah ia memilih menikah dengan seorang duda beranak 3 dan juga menjadi seorang mualaf kehidupannya akan membaik, namun ia salah, karena setelah menikah pun keluarga dan saudaranya tidak pernah berhenti mengusik kehidupannya belum lagi kedua anak tirinya tidak pernah menyukai keberadaannya bahkan Helena tidak pernah mendengar kata 'mama' keluar dari bibir mereka.
Dan suatu ketika, ia mengetahui niat Farhan menikahi dirinya, bahkan alasan mengapa tidak ada satupun keluarga besar Farhan menyukak dirinya. Hatinya benar-benar terluka, cinta yang tulus ia berikan kepada Farhan ternyata hanya dianggap sampah yang menjijikan olehnya.
Helena bertekad, ia akan membalas semua orang yang melukai hatinya agar mendapatkan hal yang setimpal dengan dirinya, karena mulai saat itu, ia akan berpura-pura menjadi lemah dan memaklumi banyak hal demi bisa membalas semua rasa sakit hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aure Vale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kau bukan mama kami
Helena tidak menyangka jika masakannya untuk makan malam mendapatkan penolakan dari kedua anak anak tirinya, bahkan Freya secara terang-terangan menolak untuk makan makanan yang dibuat oleh Helana.
"Aku gak mau makan ini, pa," rengek Freya kepada papanya sembari menyandarkan tubuhnya ketubuh papanya.
Farhan menghela napas pelan, lalu menatap putrinya dengan tatapan lembut, "kenapa? enak loh? kamu cobain dulu, oke," bujuk Farhan sembari mengusap lembut surai putrinya yang memang belum pakai hijab.
Freya menggeleng keras, "aku tidak peduli, pokoknya aku tidak mau makan malam," teriak Freya berjalan cepat kekuar dari ruangan makan dengan kaki yang dihentak keras ke lantai.
Melihat kepergian Freya yang sampai tidak mau makan malam, membuat hati Helena merasa tidak enak, seharusnya dia memang tidak perlu memasak karena sejak awal yang memasak di rumah ini adalah seorang chef, yang sudah masakannya sangat jauh lebih cocok di lidah Freya.
"Maaf," lirih Helena menatap Farhan yang sedang mengurut pelipisnya karena melihat tingkah Freya yang membuatnya pusing.
Melihat wajah sendu istrinya, Farhan segera menggelengkan kepalanya, mengatakan jika dirinya tidak masalah.
"It's oke, kamu makan dulu ya, biar aku yang naik untuk bujuk Freya makan malam!"
Helena mengangguk, ingin menawarkan diri jika ia saja yang membujuknya, yang ada Freya akan semakin tidak suka dengan Helena, jadi Helena biarkan suaminya yang membujuk putrinya agar mau makan. Lain kali Helena akan berusaha lebih keras untuk mendapatkan hati ketika anak-anak tirinya.
"Aku juga gak mau makan malam,"
Tiba-tiba Kenzo menaruh sendok dan garpu di atas piringnya yang kosong dengan sedikit membanting, sehingga menimbulkan suara yang nyaring dan juga berisik.
"Ada apa? Kenapa tidak mau makan?" tanya Farhan mengerutkan keningnya menatap putranya yang hendak bangkit dari kursi.
"Masakannya ga cocok di lidah aku," balas Kenzo langsung pergi meninggalkan meja makan.
Helena menatap sedih punggung Kenzo, dua anak-anaknya menolak untuk makan masakannya.
Farhan hendak bangkit dari kursi, tapi Helena menahannya.
"Tidak perlu mas, mereka biar makan malam di luar saja," cegah Helena yang tahu suaminya akan menghampiri Kenzo.
Farhan menghembuskan napasnya kasar, tidak menyangka jika keduanya akan begitu keras menolak kehadiran Helena di dalam rumah ini.
"Ya sudah kita makan malam di luar ya," ucap Farhan tersenyum lembut.
Helena menggelengkan kepalanya, menolak ajakan suaminya untuk makan malam bersama di luar, "mas dan anak-anak saja, aku harus menghabiskan makanan ini, sayang sekali jika tidak habis,"
"Tidak perlu, nanti kita buang saja, kamu tidak perlu memaksakan makan semua ini sendiri,"
Farhan mungkin bermaksud baik dengan mengatakan jika Helena tidak perlu memaksakan diri dengan memakan semua makanan yang ada di meja, tapi Helena menangkapnya berbeda, apa yang tadi Helena tangkap dari ucapan Farhan, Farhan secara tidak langsung juga tidak menyukai masakan dirinya, dan itu semakin membuat Helena merasa semakin minder. Apa memang seburuk itu masakan dirinya? Sampai Farhan pun lebih baik di buang saja daripada dihabiskan oleh dirinya?
"Ga enak ya mas, masakan aku?" tanya Helena.
Farhan panik. Bukan itu maksud dirinya, Farhan hanya tidak mau Helena menghabiskan makanan sebanyak itu ke dalam perutnya, pasti itu akan berakhir sakit dan mungkin sampai muntah, Farhan yang tidak ingin Helena sakit perut akibat memaksakan diri memasukkan semua makanan di meja makan ke dalam perutnya.
"Bukan itu maksud aku, aku gak mau kamu sampai sakit perut karena makan makanan sebanyak ini," ucap Farhan menghampiri istrinya yang duduk di sebrang meja.
"Iya tidak apa kok mas, lain kali aku akan berusaha masak makanan kesukaan mereka, siapa tahu Freya sama Kenzo mau makan, kan?" ucap Helena menghibur dirinya sendiri.
Helena menoleh dan memperhatikan si kecil yang makan lahap menggunakan sendok dengan di dampingi sus Widya. Hati Helena menghangat melihat bagaimana lahapnya Nael memakan masakan yang di masak dirinya.
"Wah, Nael pintar sekali makannya, Nael suka makannya?" tanya Helena mendekati Nael yang masih asik makan.
Nael berhenti sejenak dan menatap Helena dengan semangat.
"Naey cuka macakannya, enak," jawab Nael dengan suara cadelnya. Bahkan Nael memberikan satu jempol kepada Helena.
Helena terkekeh lucu, perasaan sedihnya meluap begitu saja mendengar jika Nael, si bontot suka dengan makanan yang ia masak.
"Kalau gitu, Nael habiskan ya, nanti aku masak yang banyak untuk Nael," ucap Helena mengusap lembut kepala Nael.
Nael mengangguk, "otey," balas Nael kembali menyuapkan makanannya.
"Kok aku? Mama dong harusnya," tegur Farhan mendengar Helena memanggil dirinya sendiri aku di depan Nael.
Helena menoleh dan menggeleng pelan, "tidak apa-apa mas, agar Nael terbiasa dulu sama aku,"
"Tidak bisa begitu, justru agar Nael terbiasa memanggil kamu mama, kamu kan sekarang jadi mamanya Nael," bantah Farhan tidak setuju.
"Aku takut Nael nolak panggil aku mama, mas," bisik Helena.
"Sus Widya tolong panggilkan Kenzo dan Freya, beritahu kepada mereka agar segera turun untuk makan malam di luar!"
"Baik, pak," jawab sus Widya langsung bangkit dari kursinya dan melangkah meninggalkan meja untuk memanggil kedua anak yang dulu juga sempat ia urus.
Setelah sus Widya pergi, Farhan duduk di samping Nael dan mengusap sayang kepalanya.
"Nael sudah kenyang makannya?" tanya Farhan lembut.
Nael mengangguk lalu menjauhkan piring makannya yang sudah terlihat kosong.
"Cudah, papa," jawab Nael mengusap mulutnya menggunakan kemeja papanya membuat Farhan melotot sempurna, karena kemeja putihnya berubah warna menjadi warna merah, karena si kecil yang makan sayur bayam merah.
"Ya ampun sayang, kemeja papa jadi kotor loh," ucap Farhan jahil.
"maaf, papa," sesal Nael menundukkan kepalanya merasa bersalah, ia tidak tahu jika ternyata akan meninggalkan warna merah di kemeja putih papanya.
"it's oke, tak apa,"
"Nael sekarang sudah punya mama baru loh," beritahu Farhan lembut, entah sudah keberapa kali Farhan mengatakan hal seperti itu kepada putra bungsunya, itu ia lakukan agar Nael seutuhnya bisa menerima Helena sebagai ibu sambungnya.
"Papa cudah kacih tau Nael loh kemayen," Maren cemberut karena ia ingat jika papanya mengatakan hal yang kemarin.
Farhan tertawa, ternyata ingatan anak kecil lebih tajam daripada orang dewasa yang banyak pikiran.
"Nael mau kan panggilnya mama, mama Helena," bujuk Farhan seraya membawa tatapan anaknya ke arah Helena yang duduk di samping kanan Nael.
Nael mengangguk antusias, "Naey panggilnya mama, yoh," beritahu Nael jika dirinya sudah memanggil Helena dengan kata mama.
"Oh, ya, kapan?"
"kemayen, pagi, ciang dan coye," (kemarin, pagi, siang dan sore).
"Pintarnya anak papa," puji Farhan memeluk Nael gemas.
"anak mama Elena juga," balas Nael happy.
"Jangan panggil dia mama Nael, dia bukan mama kita, mama kita itu cuman mama Elnara, bukan dia," tegur Freya yang tidak sengaja mendengar adiknya menganggap Helena sebagai mamanya.
"Dengar ya, kau bukan mama kami."