Bagi Putra Mahesa Aditama 30 tahun, menikahi Citra Anindya 20 tahun, pramusaji muda yang cengeng dan centil, adalah kesalahan fatal. Ia bersikap dingin, kasar, dan tak menganggap Citra ada.
Namun, Citra tak menyerah. Dengan tingkah manja dan kesabaran seluas samudra, ia terus berusaha meluluhkan hati beku sang suami, meski seringkali harus menyeka air mata akibat ucapan pedas Putra yang merendahkannya setiap waktu.
Mampukah ketulusan Citra meruntuhkan arogansi Putra, ataukah pernikahan ini hanya akan berakhir dengan luka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Jarum jam di dinding pos satpam sudah menunjukkan pukul sembilan malam ketika Citra akhirnya menyeret langkah kakinya memasuki gerbang Mansion Aditama. Rasanya tulang-tulang gadis itu mau rontok semua. Hari ini restoran sangat ramai, dan insiden pertemuan dengan Putra tadi siang membuat tenaganya terkuras habis, bukan hanya fisik tapi juga batin.
Yang Citra inginkan saat ini hanyalah mandi air hangat, lalu meringkuk di sofa kamar meski sempit dan melupakan dunia sejenak.
Namun, baru saja ia membuka pintu utama yang berat itu, hawa tidak enak langsung menyambutnya.
Rumah itu terasa lebih sunyi dan mencekam dari biasanya. Lampu ruang tengah menyala terang benderang, namun tidak ada tanda-tanda keberadaan Pak Aditama yang biasanya duduk tenang membaca buku di sofa. Citra baru ingat, mertuanya yang baik hati itu berpamitan tadi pagi untuk melakukan perjalanan bisnis ke Surabaya selama tiga hari.
Itu artinya, benteng pelindung Citra hilang. Ia sendirian di kandang singa.
"Eh, akhirnya pulang juga sang nyonya besar."
Suara cempreng Kinan terdengar dari arah ruang keluarga, membuyarkan lamunan Citra. Gadis itu menoleh dan melihat Kinan serta Putri sedang duduk santai di sofa kulit sambil menonton TV. Keduanya menatap Citra dengan senyum miring yang mencurigakan, seolah-olah mangsa yang ditunggu akhirnya masuk perangkap.
"Selamat malam, Putri, Kinan," sapa Citra sopan, mencoba menempatkan diri sebagai kakak ipar meski usianya lebih muda. Ia meremas tali tas selempangnya, hendak melangkah cepat menuju tangga. "Saya izin naik dulu ya. Mau mandi."
"Eits, tunggu dulu dong," cegat Putri tiba-tiba. Gadis itu bangkit dengan anggun, memblokir jalan Citra menuju tangga dengan tangan terlipat di dada. "Siapa yang suruh kamu istirahat? Enak aja."
Langkah Citra terhenti. Jantungnya mulai berdegup kencang. "Ada apa ya, Putri? Saya... saya capek banget hari ini..."
"Kita laper," sahut Kinan enteng sambil memainkan kuku-kukunya yang baru dimanikur, tanpa menoleh pada kakak iparnya itu. "Bibi-bibi di dapur udah kita suruh tidur semua. Kasian kan mereka kerja seharian. Nah, mumpung kamu baru pulang, sekalian dong masakin kita makan malam."
Citra melongo, tak percaya dengan apa yang didengarnya. "Tapi Kinan... Saya juga kerja seharian. Saya baru sampai..."
"Halah, kerjaan kamu kan cuma nganterin es teh manis doang, apa capeknya sih?" potong Kinan meremehkan, matanya menatap Citra sinis. "Lagian, Papa kemarin bilang masakan kamu enak waktu sarapan. Kita jadi penasaran. Beneran enak atau cuma cari muka doang di depan Papa."
"Ayo dong, buktikan kalau kamu berguna di rumah ini," tambah Putri dengan nada mendesak yang dingin, melangkah maju mendekati Citra. "Kecuali kalau kamu mau kita laporin ke Mas Putra kalau kamu malas melayani adik ipar saat Papa nggak ada. Kamu tahu kan Mas Putra paling benci kalau adiknya nggak diurus?"
Mendengar nama Putra disebut, nyali Citra menciut seketika. Ia tahu suaminya tidak akan membelanya, apalagi jika Papa tidak ada. Putra pasti akan menyalahkan Citra tanpa bertanya. Dengan sisa tenaga yang ada, Citra menghela napas panjang dan mengangguk lemah.
"Ya sudah... Putri sama Kinan mau dimasakin apa?" tanya Citra pasrah.
"Hmm... aku mau Spaghetti Carbonara. Tapi creamy-nya harus pas, jangan bikin enek," pesan Putri seenaknya, seolah sedang memesan pada pelayan restoran.
"Aku mau Nasi Goreng Seafood. Udangnya harus dikupas bersih, jangan ada kulitnya sedikitpun. Pedes level lima," sambung Kinan tanpa rasa bersalah.
Permintaan yang merepotkan untuk orang yang sudah berdiri sepuluh jam non-stop.
Tanpa sempat mengganti seragam kerjanya yang bau keringat dan asap dapur restoran, Citra masuk ke dapur luas yang dingin itu. Ia mulai memotong bawang, merebus pasta, dan mengupas udang satu per satu. Tangannya gemetar karena kelelahan, dan matanya berkali-kali berair terkena uap bawang. Kakinya yang lecet karena sepatu kets murah berdenyut nyeri setiap kali ia melangkah dari kulkas ke kompor.
Satu jam berlalu dengan penyiksaan fisik yang luar biasa.
Citra menyajikan dua piring makanan yang masih mengepul panas itu ke meja makan. Spaghetti yang creamy dan nasi goreng merah merona yang menggugah selera. Aromanya wangi, perut Citra sendiri keroncongan karena belum makan malam, tapi ia menahannya.
"Silakan, Putri, Kinan," ucap Citra lirih sambil menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan.
Putri dan Kinan duduk bak putri raja. Mereka mengambil sendok, mencicipi satu suapan kecil seolah sedang menjadi juri masak yang kejam di acara televisi.
Hening sejenak. Citra menunggu dengan harap-harap cemas, berdoa dalam hati semoga mereka suka dan membiarkannya istirahat.
Tiba-tiba, Kinan melepehkan nasi gorengnya ke tisu dengan ekspresi jijik.
"Cuih! Apaan nih? Asin banget! Lo mau bikin gue darah tinggi?!" bentaknya kasar.
Putri juga meletakkan garpunya dengan bunyi keras. "Ini carbonara atau lem kertas? Lengket banget di tenggorokan. Nggak enak. Bau amis lagi."
Hati Citra mencelos. Padahal ia sudah mencicipinya tadi, dan rasanya pas. "Tapi Putri... Saya udah cobain tadi, rasanya..."
"So? Lidah kampung kamu beda sama lidah kita yang biasa makan fine dining," potong Putri tajam. Ia berdiri, lalu dengan sengaja menyenggol piring spaghetti-nya di pinggir meja hingga jatuh ke lantai.
PRANG!
Piring porselen mahal itu pecah berhamburan. Saus putih kental mengotori lantai marmer yang bersih, bercampur dengan pecahan beling.
"Ups, licin," kata Putri tanpa rasa bersalah sedikit pun, menyeringai licik. "Buang aja semuanya, Kin. Nggak layak makan. Bisa sakit perut kita."
Kinan tertawa kecil, lalu menuangkan segelas air putih penuh ke atas piring nasi gorengnya, membuatnya menjadi bubur yang menjijikkan. "Yah, gagal deh makan enak. Udah ah, Put. Kita pesen delivery aja. Makanan dia mah levelnya makanan kucing."
Kedua adik ipar itu melenggang pergi meninggalkan ruang makan yang berantakan, seolah tidak baru saja menghancurkan harga diri seseorang yang seharusnya mereka panggil Kakak.
"Oh iya," Putri menoleh sebentar di ambang pintu, tatapannya dingin menusuk. "Bersihin itu sampai kinclong. Jangan ada bau amis yang ketinggalan. Kalau besok pagi masih kotor, awas kamu."
Tinggallah Citra sendirian di tengah kekacauan itu.
Gadis itu menatap makanan yang dibuatnya dengan susah payah kini berserakan di lantai, hancur tak berbentuk. Sama seperti hatinya saat ini. Rasa lelah yang luar biasa bercampur dengan rasa sakit hati membuat pertahanannya runtuh seketika.
Citra berjongkok, memunguti pecahan piring itu dengan tangan gemetar. Air matanya menetes jatuh ke lantai, bercampur dengan saus carbonara yang dingin.
Malam itu, Citra tidak tidur di sofa empuk kamarnya. Ia tertidur di lantai dapur yang dingin dengan sapu dan kain pel dalam pelukannya, setelah kelelahan membersihkan ulah adik-adik iparnya yang kejam. Tidak ada Putra yang menolong, tidak ada Pak Aditama yang membela. Hanya Citra dan kesepian yang memeluk erat.
suaminya bikin dia menyesal kalau bisa sih