NovelToon NovelToon
Menjadi Madu Dalam Semalam

Menjadi Madu Dalam Semalam

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Poligami / Tamat
Popularitas:73k
Nilai: 4.8
Nama Author: Siti Marina

kehidupan seorang gadis yang dulu bergelimang harta, Dimanja oleh ayah dan kakak laki-lakinya, sekarang hidup sederhana, karena perbuatan masa lalunya bersama Mamanya ...Selena.

"Panas...., Papa tubuhku rasanya sangat panas" rintih Patricia sambil berlari.
" cepat nak, kalau tidak lari, kau akan menjadi santapan para pria iblis itu" ucap Papanya yang bernama Tono, Putrinya akan dijual, bahkan mereka memberikan obat perangsang
Duarrrrrr...
suara guntur menggelegar ,hujan turun begitu lebatnya,membuat jalanan licin...
" Aaahhhh"
Patricia terjatuh, karena terpeleset,...
" Ayo cepat nak, "
" Iya pah"....
mereka memasuki gedung tua yang tak berpenghuni, suasananya begitu gelap....
"Paaaa...panas, ... hiks... hiks..... Cia tidak kuat pah, sakit"
Patricia terus menyakiti dirinya sendiri...
" Ya Allah....ini sangat menyiksa Cia...Pa....".
" Jangan, sakiti diri sendiri nak...." ucap Tono dengan nada khawatir....
" Brakkkkk"
tak lama kemudian... seorang pemuda datang dengan korek api yang meny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34

Pagi harinya, Alendra tersenyum saat melihat minyak angin di depan pintunya " Aku tahu ,kau peduli padaku Sayang, aku akan pastikan kalau Aku pantas berada di sampingmu", Alendra meregangkan ototnya, bersiap untuk melakukan aktivitas yang sebenarnya untuk masa depan keluarga kecilnya.

___

Selama seminggu penuh, Alendra hampir tidak tidur. Setiap malam, setelah semua santri terlelap, ia bekerja bak hantu di bangunan tua samping pagar pesantren. Dengan sisa tenaga setelah bekerja serabutan di siang hari, ia memperbaiki atap yang bocor, mengecat dinding dengan warna putih bersih yang menenangkan, dan memasang ventilasi agar udara pegunungan bisa masuk tanpa membuat ruangan lembap.

Alendra tahu Patricia sangat sensitif terhadap debu dan aroma yang menyengat, jadi ia menggunakan bahan-bahan yang paling aman. Ia bahkan membuatkan sebuah kursi kayu panjang dengan sandaran empuk di depan teras, khusus agar Patricia bisa duduk santai sambil melihat sawah.

Sore itu, Alendra mengundang Gus Azmi dan Ning Laila untuk meninjau rumah tersebut. Ia ingin memastikan bahwa rumah itu sudah "layak" dan "aman" menurut standar mereka sebelum ia berani mengajak Patricia.

"Gus, Ning... tolong lihat. Apakah ini sudah cukup pantas untuk Patricia dan bayi kami?" tanya Alendra dengan wajah yang sangat cemas, tangannya penuh dengan noda cat putih.

Ning Laila tersenyum haru melihat bagaimana seorang pria yang dulu begitu angkuh, kini sampai detail memperhatikan letak stop kontak agar Patricia tidak perlu membungkuk. "Ini lebih dari cukup, Alen. Ini adalah rumah yang dibangun dengan cinta, bukan dengan uang."

Malamnya, Alendra mendatangi Patricia di asrama. Ia tidak lagi memohon-mohon dengan suara keras. Ia hanya berdiri di depan pintu, menyerahkan sebuah kunci kecil dengan gantungan boneka rajut murahan yang ia beli di pasar.

"Cia... Mas tidak akan memaksamu pulang ke kota. Tapi Mas sudah menyiapkan sebuah tempat di sebelah sana," Alendra menunjuk rumah kecil yang lampunya sudah menyala hangat. "Mas cuma ingin kamu tahu, kalau kamu butuh tempat yang lebih luas untuk bernapas, pintu itu tidak akan pernah dikunci untukmu."

Alendra terdiam sejenak, lalu menunduk. "Di sana ada dapur kecil. Mas sudah siapkan bahan-bahan masakan kesukaanmu. Mas akan tidur di gudang belakang, Mas tidak akan masuk ke dalam kalau kamu tidak mengizinkan. Mas cuma ingin sedekat mungkin, supaya kalau tengah malam kamu butuh sesuatu, Mas bisa lari dalam hitungan detik".

Patricia hanya mengangguk, matanya berkaca-kaca, setelah menerima kunci tersebut, Alendra langsung pergi untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.

___

Keesokan harinya, Patricia diam-diam berjalan menuju rumah itu. Saat ia membuka pintu, matanya langsung tertuju pada sebuah sudut kecil, Sebuah keranjang bayi dari bambu yang dihaluskan dengan sangat rapi, di dalamnya terdapat selimut bayi yang baru dicuci bersih.

"Selamat datang di istana baru kita yang sederhana, Sayang. Maaf, tidak ada marmer, tapi Mas jamin tidak akan ada air mata lagi di sini."

Patricia menyentuh dinding yang dicat sendiri oleh Alendra. Ia bisa merasakan tekstur cat yang tidak rata, bukti bahwa Alendra mengerjakannya dengan tangan amatir yang penuh kesungguhan. Ia melihat bagaimana Alendra berusaha menciptakan kenyamanan kota dalam kesederhanaan desa.

***

Sore itu, Alendra sedang duduk di atas batu besar di luar pagar, tampak lesu karena mengira Patricia menolak rumah itu. Tiba-tiba, ia melihat Patricia berjalan keluar dari rumah tersebut, membawa sebuah sapu lidi.

"Mas..." panggil Patricia lirih.

Alendra menoleh secepat kilat. Jantungnya berdebar hebat. "I-iya, Cia?"

"Dapurnya sedikit berdebu. Dan... aku tidak suka letak meja makannya. Bisa tolong dipindahkan?"

Mata Alendra berbinar. Ia langsung melompat dari batu, hampir saja terpeleset karena kegirangan. "Bisa! Bisa sekali! Apapun! Mau dipindah ke genteng juga Mas kerjakan!"

Patricia tersenyum tipis, senyum pertama yang ia berikan setelah berbulan-bulan. "Jangan konyol. Pindahkan saja ke dekat jendela supaya aku bisa melihatmu bekerja di warung nanti."

Saat itulah, Alendra tahu bahwa hukumannya telah berubah menjadi kesempatan kedua. Ia langsung berlari masuk ke rumah, mulai memindahkan meja dengan semangat yang membara, sementara Patricia berdiri di pintu, menyadari bahwa meskipun tangannya kini akan kapalan, Alendra sedang membangun sesuatu yang jauh lebih kokoh dari sekadar perusahaan yaitu Sebuah keluarga kecil.

dua minggu kemudian, pemandangan di samping pesantren berubah. Alendra, sang pemimpin yang biasanya menandatangani kontrak triliunan rupiah, kini terlihat sibuk menurunkan tabung gas LPG 3kg dari atas mobil bak terbuka. Peluh membanjiri tubuhnya, napasnya tersengal karena beratnya beban baja itu.

Ia membuka sebuah warung sembako kecil. Di depannya terdapat papan kayu bertuliskan tangan: "Warung Barokah - Sedia Sembako & Gas".

Hubungan mereka kini semakin membaik,

Patricia berdiri di ambang pintu rumah sederhana mereka, memerhatikan suaminya yang sedang mengelap keringat dengan handuk kecil di leher. Hatinya perih. Ia melihat tangan Alendra yang dulu halus kini penuh luka gores dan kapalan karena mengangkat gas dan peti telur.

Malam harinya, di bawah temaram lampu 5 watt, mereka duduk berhadapan. Di atas meja hanya ada tempe goreng dan sambal korek, makanan yang dulu mungkin tidak akan dilirik Alendra.

"Mas... kamu tidak perlu melakukan ini. Kamu punya perusahaan besar di sana," ucap Patricia, suaranya mulai terisak. "Kenapa kamu rela seharian mengantar gas ke rumah warga hanya untuk beberapa ribu rupiah?"

Alendra menggenggam tangan Patricia. Tangannya terasa kasar, namun hangatnya masih sama.

"Dulu aku memberimu kemewahan, tapi aku tidak memberimu waktu. seharian bekerja, malam hari aku tidak bisa menemanimu.

Sekarang, aku tidak punya apa-apa, Cia. Tapi setiap kali aku mengantar gas atau menimbang beras, aku tahu aku sedang menafkahimu dengan keringatku sendiri. Aku ingin anak kita nanti tahu, ayahnya berjuang dari nol untuk menjaganya... yang yang paling penting, setiap waktu , aku bisa melihat mu."

Alendra menunduk, air matanya jatuh di atas meja kayu yang kasar. "Aku lebih suka jadi tukang gas di sampingmu, daripada jadi raja di istana yang kosong tanpamu."

Patricia menyentuh tangan Alendra. Ia bisa merasakan pengorbanan suaminya, tapi bayang-bayang saat ia melihat Alendra begitu terpukul saat mengetahui Kirana sakit keras, itu membuat nya ragu kalau di hati Alendra tidak ada namanya kecuali karena rasa tanggung jawab,meski Alendra sudah memastikan bahwa cintanya tidak pernah berubah padanya.

"Tapi aku tidak bisa menjanjikan cinta , Mas. Hatiku sudah terlalu banyak retakan," bisik Patricia pedih.

Alendra mencium tangan Patricia dengan sangat lama. "Aku tidak minta dicintai Cia. Biarkan aku saja yang mencintaimu, kau bisa memnggap ku jadi Asep atau siapapun di matamu, asal jangan usir aku dari sampingmu. Aku akan menunggumu di warung kecil ini, sampai kamu siap memanggilku sayang dengan senyum yang utuh lagi."

__

Malam semakin larut. Di luar, suara jangkrik bersahutan. Alendra kembali ke gudang kecilnya untuk merapikan tabung gas yang baru datang, sementara Patricia masuk ke kamar kecil mereka yang beralaskan springbed tanpa dipan.

Pesantren Al-Hidayah tetap menjadi saksi bisu. Tentang seorang pria yang meruntuhkan egonya hingga ke titik nadir, dan seorang wanita yang mencoba menyembuhkan lukanya di tengah kesederhanaan yang jujur. Mereka hidup berdampingan, sangat dekat secara jarak, namun masih ada jurang maaf yang sedang coba dijembatani Alendra lewat setiap butir beras dan tabung gas yang ia jual.

1
Atmita Gajiwi
pendek tapi ceritanya bagus
Mazree Gati
kasihan kirana,, mentang2 sebatangkara di bikin mati,,,
cinta semu
bagus juga
cinta semu
selamat menunaikan ibadah puasa juga Thor ...jangan lupa sampaikan salam Ramadhan buaya kang Alen-asep sm mbk Patricia-cia ...🙏♥️
Tika
gitu ya laki2...meski disini pemwran utama disini patricia..
tapi aku sebagai istri sah yg gak mau dimadu,,gak setuju sama sikap alendra.. dia lebih mikirken hilangnya istri muda,padahal istri pertama sdg koma...
Khodijah
novel nya sangat bagus menarik
Tika
kirana...semoga dapat hidayah sebelum maut...
Alice Chaiza
diawal ceritanya bagus semakin kesini semakin malas baca, patrecia terlalu melow harga diri ditindas diam saja, realistis aja thor klo buat cerita. ga mungkinlah orang kaya mau hidup mlarat apalagi harga diri ditindas diam aja bisanya cuma nangis😮‍💨
Alice Chaiza
ingat guys ini hanya di novrl, didunia nyata mana ada orang kaya rela hidup susah+miskin, kurasa cerita ini sedikit memaksa
fsf
baru kali ini ada orang bosen punya harta
fsf
100juta dia pikir alendra orang miskin ya, kamu salah sasaran 🤣🤣🤣
Tika
najwa..bantu kirana,,biar matinya baik2...
kasian juga ya...
ceuceu
Alhamdulillah tamat,walaw endingnya tetep.alen di desa ikut apa kata istri,setidaknya mama monica memberi peralatan rumah tangga ,ga ikut kemauan cia hidup sederhana ga kasian suami cuci baju manual.
ceuceu
hidup sederhana boleh cia,tapi suamimu imam yg harus kamu patuhi,di ajak pindah ya pindah ke kota krn suami mu CEO.
contoh najwa patuh sm suami tetap sederhana.
greget sama karakter patricia.
ceuceu
cia egois keras kepala/Panic/
ceuceu
Gus azmi harusnya menasehati cia agar patuh kepada auami.
sudah terlalu lama dia kabur tanpa ijin suami.
di saat suami sudah berubah terima maafnya,agama islam melarang istri keluar tanpa ijin suami,apa lg kabur ke pesantren,ada rukayya ada gus azmi yg bsa memberi nasehat memaafkan.
ceuceu
Cinta sejati wlw jauh akan tetap di hati.

kiran tdk pernah memiliki cinta alen.
ceuceu
bab menyedihkan/Sob/
Masyaa Allah patricia benar" hijrah/Rose/
ceuceu
harusnya di sisa umur kirana menjadi baik melayani suami,agar ketika pergi meninggalkan kesan baik di keluarga suhadi
haifa zaky
kami tggu kisah yg lain thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!