Elaine seorang mahasiswi kedokteran memiliki perasaan yang mendalam pada seorang pria adi kuasa, Killian. Salah satu pria dari kaum elite global. Yang bekerja sama dengan para mafia untuk menjalankan bisnis kotornya.
Damian. Kakaknya bekerja di interpol untuk menyelidiki masa lalu kematian orang tua mereka. Saat ia mengetahui adiknya memiliki hubungan khusus dengan anggota elite global dan mafia. Elaine harus memutuskan akan berdiri melindungi kekasihnya atau kakaknya, keluarga satu-satunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
“Kenapa kau mengambilnya?” Killian tidak habis pikir dengan tindakan Hansen mengambil kunci loker El yang terjatuh tadi.
“Sama-sama, tidak perlu sungkan.” Canda Hansen berlalu begitu saja. “Aku dewa cinta mu.”
“Panggil dia keruangan mu atau temui dia di lantai 3, ruang jaga dokter penyakit dalam disayap kiri gedung ini.” Sahut Hansen lagi yang kini menghilang setelah berbelok ke lorong.
“Dimana kunci loker mu?” Tanya Mia saat itu di ruang jaga dokter.
“Aku tadi menaruhnya di dalam kantongku.” Ucap El sambil terus mencari di dalam tasnya.
“Pergi ke ruang perawat depan, mereka punya kunci cadangan.” Saran Mia.
Killian yang berada diluar ruangan jaga itu. Segera menghindar. Ia memilih menyimpan kunci itu.
BIP BIP BIP
“Ya…” Sapa El saat handphone nya berdering.
“Hai Elaine.” Sapa suara yang membuat langkah kaki El terhenti saat itu, “Apa aku mengganggumu?”
“Lyxan…” Sebut El pelan.
Lyxan tertawa ringan El masih mengingatnya, “Ada apa kau menghubungi ku?” Tanya El kembali.
“Apa kau lupa akan tanggung jawabmu dokter?”
El terdiam ia masih bingung dengan situasi yang terjadi.
“Kau di Malice bukan? Kapan waktu senggangmu?”
Terdengar sayup-sayup Lyxan dipanggil oleh seseorang, pria itu di tengah kesibukannya sendiri masih sempat menghubungi Elaine.
“Kabari aku segera El.” Lyxan menutup panggilan tersebut dengan El yang masih tak percaya pria itu memintanya bertemu.
Sepanjang waktu dihari itu, pikirannya ramai akan segala cara bagaimana untuk menghindar dari Lyxan. Namun disisi lain ia mengetahui bahwa Killian ada hubungan dengan pria itu, entah teman dekat atau bukan.
“Kau yakin tidak ingin aku antar?” Tawar Zayn.
“Ya… Aku sudah menghubungi taxi.” Balas El yang tak mungkin menerima tawaran Zayn sedangkan rumah mereka berlawanan arah.
“Baiklah. Kalau begitu hati-hati El. Beristirahatlah besok.” Sahut Zayn yang mengetahui besok adalah jadwal libur Elaine.
Kembali El sibuk memainkan handphone nya, namun sorot mata nya teralihkan pada sepasang sepatu hitam yang berdiri melangkah mendekatinya.
“Dokter Elaine?” Sapa Hansen.
“Ya… ada yang bisa kubantu?” Tanya El kembali.
“Tuan Vane memanggil mu.”
El menoleh dibelakang Hansen terparkir mobil hitam. Tanpa menunggu jawaban dari Elaine, Hansen pun sudah membuka pintu belakang mobil itu. Elaine melangkah menuju mobil hitam itu dan menundukkan sedikit badannya untuk menyapa Killian.
“Malam…”
“Masuk saja dokter. Aku bisa mengantarmu pulang sekalian.” Lanjut Hansen menyela ucapan El.
El bingung dengan kondisi itu, entah harus menolaknya atau menerima dengan sopan tawaran tersebut.
“Tapi a…”
“Masuklah.” Sahut Killian dengan tatapannya masih fokus pada layar tablet.
“Silahkan dok…” Kembali Hansen menyela perkataan Elaine yang ia paham bahwa ada pemaksaan dari kejadian ini.
Elaine duduk disamping Killian, pria itu bahkan tidak mengeluarkan sepatah katapun. Ia sibuk menandatangani berkas melalui layar tabletnya.
“Tuan…”
“Panggil nama ku.” Perintah Lian dingin menyela Elaine.
El sempat terdiam, sejak tadi perkataannya selalu disela.
“Pak…”
El kembali terdiam saat, Killian mengetuk kaca mobil dari dalam. Kaca pembatas antara jok sopir dan jok penumpang bagian belakang.
“Kita langsung ke penthouse.” Perintah Lian lagi sembari menyerahkan tablet itu pada Hansen. Kembali Hansen menutup kaca tersebut untuk memberikan privasi pada Lian bersama El.
“Penthouse?” Bingung El.
“Kau mau kita ke apartemenmu?” Tawar Lian, “Dengan senang hati jika kau mengizinkan ku bermalam ditempat mu.” Senyum licik Lian.
El tak menjawab lagi. Ia membiarkan dirinya terbenam dalam kebingungan, pikirannya hanya satu. Setelah tiba nanti, ia akan bergegas pulang. Dan satu yang pasti, pertemuan di gedung pesta topeng saat itu bersama kakaknya ternyata berisi sekumpulan orang tidak waras dan aneh.
“Bagaimana kabar mu El?” Tanya Lian mencairkan suasana, “Apa luka dikaki mu sudah membaik?”
El menoleh menatap pria itu. Bahkan sejak tadi Lian sudah menatap El tak teralihkan.
“Apa maksud mu tuan…”
“Seingatku tadi siang kau menyebut nama kecil ku.” Sela Lian lagi, “Sudahi akting mu. Jangan pura-pura tidak mengenal ku Elaine.”
El tak menjawab, ia menoleh ke jendela mobil menatap jalanan.
“El… aku tidak suka diabaikan.”
“Dan aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan tuan Vane.” Tegas Elaine.
Killian hanya menghela nafas. Ia tak tahu apa tujuan Elaine menyembunyikan jati dirinya. Namun semua itu akan terkuak, sebentar lagi.
(Penthouse Killian)
“Kalau begitu saya pamit terlebih dulu.” Ujar Hansen setelah mengantar Elaine dan Killian menuju penthouse pribadi Lian.
El terperanjat mendengar ucapan Hansen, asisten pribadi Lian. Terlebih saat pria itu menutup pintu besar diruang tamu, meninggalkan El bersama Lian.
“Duduk lah.” Pinta Lian.
El patuh mengikuti kemauan pria itu.
SRAAAK
“Ternyata milik mu?!” Sahut Lian saat meletakkan kunci loker El di atas meja besar dan wanita itu langsung meraihnya.
“Lalu apa ini milikmu juga?”
SRRAAAAK
Kali ini Lian menaruh topeng milik El saat di gedung pertemuan. El berusaha tenang seakan baru pertama kali melihat topeng itu.
Melihat ekspresi datar wanita itu, membuat Lian tak sabar. Ia sudah mencari wanita itu cukup lama. Namun saat wanita itu di hadapannya, dengan mudahnya ia diabaikan begitu saja.
BRAAAAKK
Kedua lengan pria itu mengapit Elaine ditengahnya. Degup jantung El sedari tadi yang berdegup kencang, kini semakin tak karuan. Wajah pria itu terlalu dekat dengannya, dan semakin mendekat.
“Apa begini caramu berterima kasih pada penyelamat mu?” Suara Lian terdengar dingin ditelinga El. Ia dapat merasakan hembusan nafas pria itu di tengkuknya.
Lian menghirup aroma tubuh wanita itu. Jelas ia sangat mengingatnya. Dan ada rasa rindu didalamnya.
“Maaf.” Jawab El pelan.
“Maaf?” Lian mengernyitkan dahinya tak mengerti.
“Maaf, Aku rasa kau salah orang.”
“Heh?!” Senyum tak percaya Lian akan jawaban wanita itu.
“Jika aku bisa membuktikannya, sekali lagi kau tidak akan bisa lepas dari ku.”
El terdiam mendengarnya.
“Berhenti melakukan hal seperti ini tuan Vane.” El mendorong tubuh pria itu dan beranjak berdiri.
Namun hentakan pria itu membuat El terpojok diantara sandaran sofa dan tubuh Killian.
“Jika masih kudengar kau menyebut ku dengan cara seperti itu.” Lian mulai geram dengan jemarinya mengusap bibir El penuh tekanan, “Aku orangnya tidak bisa bersabar El.”
“Cukup panggil nama ku.” Perlahan Killian seakan ingin melumat habis bibir wanita itu, “Apa perkataan ku ini kurang jelas?”
El menutup matanya. Ia ketakutan. Saat bibir Lian terasa lembut menyentuh bibirnya, El sekuat tenaga mendorong tubuh pria itu itu.
“Lian hentikan.” Pinta El yang beranjak berdiri. Terlihat pria itu menghela nafasnya.
“Jangan bercanda lagi, aku rasa kau salah orang.”
“Ada bekas luka kecil dikaki sebelah kiri mu.” Lanjut Lian kemudian. yang kini duduk di sofa itu, menatap Elaine secara utuh yang berdiri dihadapannya.
“Apa maksud mu? Siapapun bisa memiliki luka.”
“Dua garis. Luka itu memiliki dua garis kecil.”
El terperanjat pria itu dapat mengetahuinya secara detail.
“Katakan jika kau tidak memiliki luka itu maka kau ku lepas.” Lian beranjak berdiri dan mencengkram dagu wanita itu, “Namun jika pembuktian ku ini benar, kau akan menanggung konsekuensinya.”
El menelan ludah. Ia tak tahu harus berkata apa. Dia memang memiliki bekas luka tersebut, saat kecil kakaknya tak sengaja melukai Elaine saat berlatih menggunakan pedang.
“A-aku akan pulang.” Gugup El, ia sebenarnya menyukai pria itu. Hanya saja saat menemukan berkas nama dikantor kakaknya dan tercantum nama Killian Vane, ia tidak tahu siapa pria di hadapannya yang sesungguhnya.
BRAAAAKK
Lian sudah habis kesabarannya. Ia menarik wanita itu hingga terjatuh tidur diatas sofa.
“APA YANG KAU LAKUKAN?” El mencoba berontak dari cengkraman pria itu, “Hentikan. Berhenti.” Pinta El saat tangan besar pria itu menjamah paha kiri El, semakin naik keatas. Elaine ketakutan menahan air matanya. Hanya mereka berdua didalam penthouse besar itu. Sekalipun ia berteriak, tak mungkin ada yang mendengarnya. Bahkan akses masuk kedalam penthouse itu bersifat pribadi.
“Bukankah disini bekas luka mu El.” Bisik Lian, “Apa perlu aku menggulingkan gedung itu lagi untuk mencari mu sekali lagi?” Tangan pria itu berhenti saat ia mencoba menahan hasrat dirinya. Bahkan El dapat merasakan nafas berat itu dihadapannya, pria itu tidak akan menciumnya lagi jika El tak mengizinkannya.
“Lian…” Sebut El saat tangan pria itu meremas kencang paha Elaine. Airmatanya yang ia tahan kini mengalir dari sudut matanya.
Lian tersenyum puas. Perlahan ia melepas cengkraman itu dan menatap wanita yang berbaring di bawah tubuhnya.
“Jadi kau mengakuinya? Kenapa tidak jujur sedari tadi?” Ucap Lian menghirup aroma pakaian wanita itu. Entah itu parfum atau bercampur desinfektan rumah sakit yang jelas ia sangat menyukainya.
Lian perlahan mengusap air mata El. “Kau takut padaku?”
El mendorong tubuh Lian hingga pria itu menjauh darinya. “Kau gila.” Kesalnya.
“Ini tidak akan terjadi jika sejak awal kau mengakuinya El.”