Aluza, seorang Office girl cantik di Bandara, terjebak dalam kenangan Ivan mantan kekasihnya yang sudah lama meninggal.
Namun di hari pertama Aluza bekerja ia di pertemukan kembali dengan seorang pilot bernama Bara yang wajahnya sangat mirip sekali dengan Ivan
Tapi Bara yang mirip Ivan itu ternyata memiliki kepribadian yang sangat berbeda. Dia kasar, angkuh, dan tidak peduli dengan perasaan orang lain.
Aluza terjebak dalam dilema, apakah dia bisa melupakan Ivan dan jatuh cinta dengan Bara, atau justru Bara akan menjadi racun yang menghancurkan hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elzaluza2549, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Pecat Jadi Pramugari
“Pilot Bara...dan juga kamu pramugari Diva...!Lalu apa kalian tau apa kesalahan kalian!?"Pak Andi selaku direktur penting di bandara terlihat begitu marah. sementara di depan nya ada pilot Bara dan pramugari Diva yang tengah duduk di dua kursi yang ada di hadapannya.
“Pak Andi sebenarnya ini tidak seperti yang pak Andi lihat.Ini semua salah Diva, Diva Mabuk dan dia___
“Kamu menginginkan nya juga pilot Bara!"Kata Diva yang sengaja memotong kalimat Bara yang belum selesai.“Tolong pak Andi saya benar-benar tidak bersalah pilot Bara lah yang memulai nya duluan!"
Bara tertawa hambar, menurut nya fitnah yang di lontarkan oleh Diva benar-benar tak masuk akal. Bahkan sudah jelas Diva sendiri lah yang saat tadi mabuk lalu tiba-tiba duduk di pangkuan nya.“Kamu tidak perlu berbohong Diva! kamu yang memulai nya duluan. Pak Andi Kalau pak Andi mau bukti bagaimana kalau kita lihat camera cctv yang ada di ruangan tunggu pilot ini!?"Tantang Bara.
"CCTV?" suara Pak Andi terdengar berat, memecah keheningan yang mencekam. "Kalian sadar tidak kalau apa yang kalian lakukan ini sudah melanggar aturan ketat perusahaan? Baik itu mabuk di area bandara, apalagi perilaku yang tidak pantas di ruang tunggu pilot! Ini bukan soal siapa yang memulai, tapi soal profesionalisme yang sudah kalian injak-injak!"
Diva menunduk, jemarinya saling bertaut erat. Wajahnya pucat, mungkin karena efek alkohol yang masih tersisa.“Gawat cctv.."Gumam Diva yang seketika menjadi diam dan ketakutan.
Sementara Bara tetap duduk tegak, meski rahangnya mengeras, ia tahu posisinya juga tidak sepenuhnya benar karena tadinya ia benar-benar tidak bisa menyingkirkan Diva saat kejadian itu terjadi.
"Baik," Pak Andi bangkit dari kursinya, menatap keduanya dengan tatapan dingin. "saya akan memanggil staf keamanan untuk memutar rekaman CCTV itu. Tapi sebelum itu, saya ingin kalian berdua tahu konsekuensi dari tindakan kalian ini bisa sangat berat. Lisensi pilot Bara bisa dipertanyakan, dan karir Diva sebagai pramugari bisa berakhir di sini. Apakah kalian siap menghadapi apa pun hasilnya nanti!"
Diva mendongak perlahan, matanya berkaca-kaca dan tangannya gemetar hebat. Ia melirik Bara sekilas, lalu kembali menatap Pak Andi dengan wajah penuh ketakutan. "Pak... saya... saya minta maaf. Saya memang salah minum alkohol sebelum bertugas, itu kesalahan besar saya. Tapi... tapi tolong, Pak... saya tidak ingin karir saya hancur begitu saja. Saya..." suaranya tercekat, ia tak sanggup melanjutkan kalimatnya.
"Cukup!" potong Pak Andi dengan nada yang tak bisa dibantah. "Kata-kata maaf tidak akan mengubah aturan yang sudah dilanggar. Sekarang, kalian tunggu di luar ruangan ini. Saya akan panggil staf keamanan sekarang juga. Jangan pergi ke mana-mana sampai saya panggil kembali!"
Bara dan Diva bangkit serentak, langkah mereka berat saat berjalan keluar ruangan direktur. Pintu tertutup di belakang mereka dengan bunyi yang terdengar sangat berat, seolah menutup juga harapan mereka untuk bisa lolos dari konsekuensi yang mengerikan itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Mama sedang apa?"Tanya Keyla di saat ia melihat mama nya Duduk sendirian di sofa sambil memperhatikan sebuah buku besar yang terlihat seperti majalah.“mama mau cari gaun pernikahan untuk siapa? oh pasti untuk kak Aluza yah...?"
“Memang nya di dunia ini wanita itu hanya ALuza saja!”Celetuk Vina “tentu saja mama mau cari referensi gaun pernikahan untuk Diva!”
Keyla tersenyum kecut,seraya menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa.“Memang nya kak Bara mengakui kalau Kak Diva itu pacarnya,kan pacar kak Bara bukan Kak Diva. Tapi kak Aluza!"Kata Diva membernarkan kalimatnya.
“Eh anak kecil. kamu tahu apa sih, sudahlah dari pada kamu di sini gangguin konsentrasi mama mending kamu ganti baju saja sana, habis pulang sekolah bukanlah malah ganti baju malah gangguin mama!"
Keyla memonyongkan bibirnya, merasa kesal karena dibilang anak kecil dan diusir begitu saja. "Huh, mama saja yang tidak mau dengar kenyataan! Nanti kalau terbukti kak Bara memang pacarnya kak Aluza, jangan kaget ya!" ucapnya sambil berjalan malas menuju kamarnya, langkah kakinya terdengar berat seolah menumpahkan kekesalannya.
Vina menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis melihat tingkah putri bungsunya itu. Ia kembali menatap buku besar di depannya, jari-jarinya kembali membalik halaman-halaman yang berisi berbagai desain gaun pernikahan yang indah. "Diva pasti akan sangat cantik dengan salah satu gaun ini," ucap Vina dengan nada yakin, seolah sudah yakin sepenuhnya bahwa hubungan Diva dan Bara adalah sesuatu yang pasti.
...****************...
Seorang staf keamanan berjalan cepat sambil memegang sebuah tablet, diikuti oleh Pak Andi yang wajahnya masih tampak serius.
"Masuk kalian berdua sekarang!" seru Pak Andi tegas.Jantung keduanya seakan berhenti berdetak sejenak. Saatnya kebenaran terungkap.
Bara dan Diva melangkah masuk dengan langkah berat, mata mereka tak lepas dari tablet yang ada di tangan staf keamanan. Pintu tertutup kembali, dan suasana di ruangan itu terasa semakin sesak.
"Duduk!" perintah Pak Andi singkat. Ia menunjuk layar tablet yang sudah siap diputar. "Lihat baik-baik. Ini bukti yang tidak bisa dibantah."
Jari staf keamanan menekan tombol putar. Rekaman CCTV mulai berjalan menampilkan ruang tunggu pilot yang sepi sekitar satu jam yang lalu.
Di layar, terlihat jelas Diva masuk dengan langkah sempoyongan,ia berjalan menuju Bara yang sedang duduk santai. Tanpa aba-aba, Diva langsung duduk di pangkuan Bara, membuat pria itu kaget dan berusaha mendorongnya perlahan, tapi Diva tampak menolak dan malah semakin mendekat. Bara terlihat bingung, dan menolak.
Rekaman berhenti. Keheningan kembali menyelimuti ruangan, kali ini lebih mencekam dari sebelumnya. Wajah Diva pucat pasi, ia menunduk dalam, tak berani menatap siapa pun terutama Bara dan Pak Andi. Ia tahu, semua tuduhannya tadi telah terbukti bohong.
Bara menghela napas panjang, rasa lega bercampur kecewa melanda hatinya. Ia melirik Diva sekilas, tapi segera mengalihkan pandangannya ke arah Pak Andi.
"Nah, ini kebenarannya," suara Pak Andi memecah keheningan, nadanya dingin dan tegas. "Diva, kamu mabuk di area terlarang, bertindak tidak pantas, dan bahkan berani menuduh rekan kerjamu yang tidak bersalah. Sedangkan kamu, Bara meski kamu tidak memulai dan bukti membela kamu, tapi kamu punya kelalaian. Kamu seharusnya bisa menangani situasi itu dengan lebih cepat dan tegas.Profesionalisme kamu juga dipertanyakan di sini."
Pak Andi berhenti sejenak, menatap keduanya bergantian dengan tatapan tajam. "Untuk keputusannya..."
Ia mengambil selembar kertas dari atas meja, lalu membacanya dengan suara lantang. "Diva, karena pelanggaran kamu yang sangat serius mabuk sebelum bertugas, perilaku tidak pantas, dan fitnah. kamu akan dipecat dengan segera. Surat pemberhentian akan segera diproses, dan catatan pelanggaran ini akan masuk ke database asosiasi pramugari, jadi kemungkinan besar kamu akan sulit bekerja di maskapai mana pun lagi."
Diva tersentak, air matanya langsung jatuh membasahi pipi. "Pak... tolong, Pak! Jangan lakukan ini pada saya! Saya mohon kesempatan lagi! Saya janji tidak akan mengulanginya lagi!" rintihnya, suaranya pecah dan penuh keputusasaan.
Pak Andi tidak bergeming. Ia kembali menatap Bara. "Untuk Bara karena kamu tidak terlibat dalam tindakan tidak pantas itu dan bukti membela kamu, lisensi kamu tidak akan dicabut. Tapi, karena kelalaian kamu dalam menangani situasi dan kurangnya kewaspadaan, kamu akan dikenakan sanksi penangguhan tugas selama dua Minggu dan wajib mengikuti pelatihan ulang tentang etika dan profesionalisme kerja. Itu keputusan final. Tidak ada banding."
Bara mengangguk pelan, meski hatinya terasa berat. "Terima kasih, Pak. Saya menerima keputusan ini dan akan menjalankan sanksi dengan baik."
"Baik. Sekarang kalian boleh pergi. Diva, serahkan seragam dan ID card kamu ke bagian administrasi hari ini juga. Bara, tunggu instruksi lebih lanjut dari HRD," ucap Pak Andi datar, lalu kembali duduk dan memalingkan wajah, seolah tak ingin melihat mereka lagi.