NovelToon NovelToon
ISTRI MANDUL JADI IBU ANAK CEO

ISTRI MANDUL JADI IBU ANAK CEO

Status: tamat
Genre:Menikah Karena Anak / Pelakor jahat / CEO / Romantis / Ibu Pengganti / Duda / Tamat
Popularitas:3.3M
Nilai: 5
Nama Author: Archiemorarty

Selama tiga tahun menikah, Elena mencintai suaminya sepenuh hati, bahkan ketika dunia menuduhnya mandul.

Namun cinta tak cukup bagi seorang pria yang haus akan "keturunan".
Tanpa sepengetahuannya, suaminya diam-diam tidur dengan wanita lain dan berkata akan menikahinya tanpa mau menceraikan Elena.

Tapi takdir membawanya bertemu dengan Hans Morelli, seorang duda, CEO dengan satu anak laki-laki. Pertemuan yang seharusnya singkat, berubah menjadi titik balik hidup Elena. ketika bocah kecil itu memanggil Elena dengan sebutan;

"Mama."

Mampukah Elena lari dari suaminya dan menemukan takdir baru sebagai seorang ibu yang tidak bisa ia dapatkan saat bersama suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31. PERTENGKARAN

Sore itu merayap turun perlahan di langit kota, membawa semburat jingga keemasan yang menimpa kaca jendela apartemen luas milik Raven. Cahaya senja menelusup masuk, memantul pada lantai marmer putih yang mengkilap, menciptakan nuansa hangat yang bertolak belakang dengan dingin yang merambat di dada Jessy sejak pagi.

Ia duduk di sofa ruang tengah, tangan meremas pangkuannya yang membesar oleh usia kehamilan tujuh bulan. Napasnya naik-turun tak stabil, bukan karena kondisi fisik semata, tetapi karena kecemasan yang amat menekan. Jessy mengelus bagian itu sambil berbisik pelan, entah pada bayinya atau pada dirinya sendiri.

"Ayahmu akan memberimu tempat ... harus," gumam Jessy lirih.

Namun suara itu tak cukup menenangkan. Setiap detik terasa seperti jarum yang menusuk, menunggu Raven pulang dari kantor. Ia telah meneleponnya tiga kali sejak siang, namun Raven hanya menjawab singkat: "Nanti kita bicarakan di rumah."

Di rumah.

Sejak kapan tempat ini disebut rumah? Jessy menghabiskan enam bulan terakhir tinggal di apartemen ini, mengisi sunyi demi menunggu laki-laki yang pulang hanya ketika ia tak bisa pergi ke tempat lain. Namun ia tetap bertahan, menggantungkan seluruh hidup dan rasa pada janji: "Kalau kau hamil, aku akan menikahimu."

Janji yang kini terasa rapuh.

Pintu elektronik berbunyi singkat, menandakan seseorang memasukkan kode akses. Jessy menegakkan tubuhnya, memegangi perutnya dengan kedua tangan. Suara berat langkah sepatu formal terdengar makin dekat.

Raven masuk, mengenakan kemeja hitam dengan jas yang belum sempat ia lepas. Rambutnya sedikit berantakan, tanda ia telah melewati hari yang panjang. Namun yang lebih jelas adalah wajah kesalnya, Raven pulang bukan dengan kepala dingin.

Jessy menelan ludah. "Raven?"

Raven melempar kunci mobil ke atas meja dan menghembuskan napas panjang, seolah sedang bersiap menghadapi sesuatu yang melelahkan. Matanya mengarah pada Jessy yang duduk dengan mata sembab.

"Kita bicara sekarang?" Raven bertanya datar.

Jessy mengangguk perlahan.

Raven menarik napas dan duduk di sofa lain, sengaja menjaga jarak.

Jessy merasakan itu seperti tamparan.

"Aku ... ingin membicarakan tentang pernikahan kita," kata Jessy.

Raven mengusap wajahnya, frustasi sudah tersirat dari gerakannya.

"Jessy, kita sudah membicarakan ini berkali-kali," tukas Raven.

"Belum selesai!" potong Jessy, emosinya memuncak tiba-tiba. "Kau bilang sebelum aku hamil, kau sendiri yang bilang kalau aku mengandung anakmu, kau akan menikahiku. Sekarang kandunganku tujuh bulan, Raven. Tujuh bulan! Apa lagi yang harus aku tunggu?!"

Raven menegakkan tubuh. "Jessy, dengarkan aku dulu."

"Aku sudah mendengar! Selama berbulan-bulan aku mendengar alasanmu, alasan ayahmu, alasan keluargamu, alasan perusahaanmu. Tapi bagaimana denganku? Dengan anak ini?" Jessy menyentuh perutnya, suaranya pecah. "Kau tidak pernah memikirkan bagaimana aku melewati semua ini sendirian!"

Raven menggeser duduknya, rahangnya mengeras. "Ayahku tidak setuju, Jessy. Kau tahu itu."

"Kenapa aku harus peduli pada setuju atau tidak setuju? Kau bukan anak kecil! Kenapa kau tidak bisa memutuskan apa pun sendiri?!" seru Jessy.

"Jessy, aku bukan anak kecil, benar," ujar Raven, suaranya lebih dingin. "Tapi ayahku memegang semuanya. Termasuk hak waris, termasuk saham perusahaan, termasuk masa depanku. Kalau aku menikahimu sekarang, dia akan menarik semuanya dariku."

Jessy membeku.

Raven melanjutkan, nada suaranya lebih tegas, dan lebih tajam. "Ayahku sudah berbicara langsung. Dia bilang: 'Jika kau menikahi perempuan itu, aku akan mencabut hak warismu. Nama Wattson akan hilang darimu.' Itu bukan ancaman kosong."

Jessy terdiam, lalu perlahan berdiri meski tubuhnya berat.

"Jadi semua ini ... hanya soal warisan?" tanya Jessy pelan, terlalu pelan untuk menutupi sakit di baliknya.

"Ini soal hidupku, Jessy. Masa depanku. Masa depan anak ini juga!" Raven membalas.

"Anak ini?" Jessy tertawa hambar. "Kau bahkan belum menyentuh perutku sebulan ini! Kau bahkan tidak bertanya bagaimana kondisinya!"

"Jessy-"

"Kalau benar masa depan anak ini kau pikirkan, kau akan menikahiku tanpa mempertimbangkan apa kata ayahmu!" Air mata Jessy jatuh. "Atau ... kau memang tidak pernah benar-benar menginginkanku?"

Raven terdiam. Bukan karena tidak ingin menjawab, melainkan karena setiap jawaban terasa salah.

Jessy memegangi dadanya, mencoba menahan gemuruh yang menyakitkan.

"Raven. Aku tinggal di sini. Sendirian. Menunggu. Memakan makanan yang kau suruh, minum vitamin yang kau pilih. Kau bilang kita akan menikah setelah trimester kedua. Kau bilang akan bicara dengan keluargamu. Kau ... kau membuatku percaya," ujar Jessy dengan suara bergetar.

Raven menutup mata dan mengusap pelipisnya. "Aku mencoba. Aku benar-benar mencoba bicara dengan ayahku. Tapi dia-"

"TIDAK PEDULI!" Jessy berteriak. "Tidak peduli! Aku tahu! Tapi kenapa itu membuatmu berpindah ke sisi ayahmu?! Kenapa kau tidak sekali saja berpihak padaku?"

Raven membalas dengan suara tinggi, suatu hal yang jarang ia lakukan.

"KARENA INI HIDUPKU, JESSY! Aku tidak bisa membuang segalanya hanya demi—-"

"Demi aku?" tanya Jessy, suaranya seperti pisau tumpul yang tetap menusuk.

Raven terdiam.

Keheningan turun perlahan, berat, menyesakkan.

Jessy mengusap matanya, air mata mengalir semakin deras.

"Aku malu ... karena seluruh dunia tahu aku selingkuhanmu. Aku penunggu bayang-bayang. Aku perempuan yang kau sembunyikan. Aku hanya ingin status jelas ... aku hanya ingin kau mengakui aku dan anak ini!" kata Jessy.

Raven mengepalkan tangannya.

Air mata Jessy menetes hingga membasahi gaun longgar yang ia kenakan.

"Raven ... aku bahkan tidak berani keluar rumah tanpa merasa semua orang memandangku seperti perempuan murahan. Kau janji padaku, kau janji akan memperbaiki semuanya. Kau janji akan menikahiku," kata Jessy.

Raven menggeser duduknya, wajahnya sempat melunak. "Jessy, aku mengerti perasaanmu, tapi-"

"Tidak. Kau tidak mengerti," bantah Jessy. Jessy mengangkat wajahnya, matanya memerah dan basah.

"Jessy-"

"Kau tahu apa yang paling aku takutkan?" potong Jessy. "Bahwa aku melahirkan anak ini ... tapi tidak punya siapa pun. Bahwa kau akan meninggalkanku begitu saja ketika semuanya sudah terlambat untuk kembali."

Raven melangkah mendekatinya, namun Jessy mundur selangkah. Ia mengangkat tangan, mencegah Raven mendekat.

"Kau tidak pernah memikirkanku. Hanya dirimu sendiri. Warisanmu. Nama keluarga Wattson-mu. Kau memilih itu daripada aku."

Raven menghela napas kasar. "Jessy, kalau aku kehilangan semua itu, bagaimana aku bisa menjamin kehidupan anak kita?"

"Kau tidak perlu kehilangan segalanya," jawab Jessy, suaranya memanas. "Kau hanya perlu menepati janji!"

Raven memalingkan wajah, tidak mampu menatapnya.

Lalu, kata-kata itu keluar, tanpa rencana, tanpa kendali.

"KALAU KAU MEMAKSAKU MENIKAHI MU, AYAH AKAN MENARIK HAK WARISKU! KAU TIDAK MENGERTI BETAPA SULITNYA POSISIKU!" seru Raven.

Jessy terpaku. "Kau lebih memilih kekayaan ... daripada aku?”

"Ini bukan hanya soal kekayaan-"

"LALU APA?!" Jessy menjerit. "APA?!"

Raven tidak menjawab.

Keheningan itu memberi jawaban yang jauh lebih kejam.

Jessy merasakan dunia runtuh.

Untuk beberapa detik, hanya suara napasnya yang pecah terdengar. Perutnya terasa keram atas semua emosi, Jessy mengusap perutnya sambil mengerang pelan.

"Baiklah," kata Jessy pelan, namun suaranya gelap. "Kalau begitu aku hanya tinggal mengambil keputusan sendiri."

Raven menegang. "Apa maksudmu?"

Jessy menatapnya, bola matanya merah, penuh luka dan amarah menyala yang belum pernah Raven lihat sebelumnya.

"Jika kau tidak mau menikahiku ..." Jessy mengambil napas panjang, lalu berkata dengan suara yang menusuk, "Aku akan menggugurkan anak ini."

Dunia seakan terhenti.

Raven memandang Jessy dengan mata membesar, wajahnya memucat seketika.

"Apa yang kau katakan?"

Jessy mengangkat dagunya, walau tubuhnya bergetar. "Aku akan mengakhiri kehamilan ini. Aku sudah bertahan. Aku sudah menunggu. Tapi kalau kau tidak mau bertanggung jawab ... maka aku tidak akan melahirkan bayi ini," katanya.

Raven langsung membeku mendengar hal itu, sebelum akhirnya murka keluar dari mulut Raven yang membuat Jessy gemetar takut, menyesal telah mengatakan hal itu.

1
Mutaharotin Rotin
🥰🥰🥰🥰🥰💐💐💐💐💐💐
Mutaharotin Rotin
ayo cerai dari Suamimu alena
ollyooliver🍌🥒🍆
kan bukan elenanya..dia menyesal hanya karena fakta ..dia tdk.merasa sakit dan buakn cemburu karena elena gk spesial buat raven😌
ollyooliver🍌🥒🍆
bukan karena elenanya tapi fakta ttng mandul
ollyooliver🍌🥒🍆
lah..kok kebahagian elena mengunrangi rasa bersalahnya? enak banget..emnya yg bagaimana ada keterikatan anatara bahagia elena dan rasa bersalah?
ollyooliver🍌🥒🍆
coba deh kalau gk tau fakta itu apakah raven akan meminta maaf? gk kan..bahkan setelah dia menghina..gk ada rasa bersalah atau menyesal karena ya..sampai sekarang dia minta maaf bukan karena elenanya tapi karena sebuah fakta
ollyooliver🍌🥒🍆
nahkan..bapaknya aja dibuat liat seperti anaknya gk menyesal karena kehilangan elena akan perbuatannya..gw dah bilang pemain wanita utama.kalah saing sama jessy🤭
ollyooliver🍌🥒🍆
tapi semua yg dikatakan raven bukanlah penyesalan setelah kehilangan elena..tapi karena fakta ttng dirinyaa. so dia gk bener" menyesal karena elena. justru sebaliknya jika bayi itu anak kandungnya..aadkah penyesalannya dan rasa bersalahnya pd elena? jawabannya..gk ada. so elena itu gk berrti apa" bahkan pesonanya kalah dengan jessy🤭
ollyooliver🍌🥒🍆
enk dong revannya..masih bisa nyari wanita lain jadi istrinya..harusnya jangan hanya dibuat mandul, lumpuh juga..biar dia tau bahwa dia gk layak hidup berdampingn dengan wanita. seperti dia yg ingin melempar jessy, jessy itu lebih banyak ruginya sedangkan raven? mandul doang
ollyooliver🍌🥒🍆
lah...jadi kalau anak itu anak kandungnya. jessy ndk akan diputuskan? jadi kesimpulannya..penghianat ttp bersaama memjadi keluarga cemara begitu? trus sia" dong kebahagian alena. sdh disakitin eh penghianat malah bahagia🙂
ollyooliver🍌🥒🍆
dia kasihan pd jessy atau karena raven gk bisa memproduksi anak laagi pd jessy?
Memey Nyoman
gblk sih kata akuuu
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
nah kan, mana nih si diana diani itu pengen di sodorin hasil usg nya di depan mata nya langsung 😜
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
kan di bilang juga ape, mulutnya di jaga, kemarin ngehina elena perkara rahim, sekarang sm Yang Kuasa di bikin dia yg ga ada rahim 😔
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
ini kalo sampe elena nanti bisa hamil awas aja ya, ku ketawain sambil ngopi caramel machiato sm makan bakwan kawi di pojokan 😜
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
bisa2 nya anak seumur jagung ngomong tentang ga bisa punya anak 🥲 pr matematika lu noh di garap, malah ngurusin ibu nya temen kayak ibu2 komplek julid aja 😌
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢: iya padahal jaman dulu pol mentok cuma ejek2an nama bapak aja kak wkwk
total 2 replies
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
kalo mah status jelas harusnya jangan mau sama suami orang, dimana2 stigma selingkuhan itu ga baik dia malah test drive 🙏🏻🙂
Archiemorarty: Hahaha... selingkuhan kan kalau baper gitu, lupa dia siapa🤣
total 1 replies
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
miris bgt masih ada yg percaya sm kata laki-laki "kalo hamil aku bakal tanggung jawab" padahal ga ada jaminan apa2, orang pinjem duit aja pake jaminan tanda pengenal, ini dia ngasih harga diri nya ga pake jaminan apa2 ke cowo yg bahkan dia tau udah beristri 🙂 secara umur dia bukan anak di bawah umur yg harusnya paham perempuan adalah pihak yg paling rugi slnya kalo udah ga di nikahin tp mau di gituin 🙂
Dewa Dewi
😂😂😂😂😂
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
lagi hamil ih mulutnya jangan jahat2 mbak wkwk di dunia ini aku percaya kuasa Tuhan di atas segalanya, Tuhan bisa bikin elena hamil & Tuhan juga bisa bikin kamu tiba2 rahim nya rusak karena rahim itu area kekuasaan-Nya jd mulutnya di jaga 🙂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!