Di dunia di mana Peringkat Bakat adalah hukum tertinggi, Lu Chen hanyalah sebutir debu. Saat Upacara Penentuan Takdir, dia dipermalukan di depan seluruh sekte karena hanya memiliki bakat F-Rank dengan afinitas spiritual nol. Dunia mencapnya sebagai sampah, namun mereka tidak tahu bahwa Lu Chen menyembunyikan sistem SSS+ "Omnipotence Mask" yang mampu menutupi keberadaan aslinya dari mata dewa sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Kota Pusat dan Topeng yang Baru
Setelah menghancurkan utusan Sekte Pedang Suci, Lu Chen tidak membiarkan dirinya terlena dalam kemenangan. Ia tahu bahwa pria berjenggot perak yang ia biarkan hidup akan membawa berita yang akan mengguncang stabilitas lima kerajaan besar. Namun, sebelum badai itu tiba, ia membutuhkan satu hal yang hanya bisa ditemukan di jantung peradaban: Batu Meteorit Jiwa Naga.
Targetnya adalah Kota Pusat (Central City), megapolis terapung yang merupakan titik temu perdagangan antara manusia, ras tersembunyi, dan sekte-sekte ortodoks maupun menyimpang. Di sana berdiri Paviliun Lelang Langit, tempat di mana uang bisa membeli nyawa dewa sekalipun.
"Sistem, aktifkan 'Persona: Pedagang Kelana'," perintah Lu Chen saat ia berdiri di gerbang kota yang menjulang setinggi seratus meter.
[Ding! Mengaktifkan Penyamaran Tingkat Lanjut.]
[Identitas Baru: Lin Feng, Pedagang Barang Antik Tingkat Rendah.]
[Kultivasi Terdeteksi: Tahap Pengumpulan Roh - Level 8.]
[Penampilan: Wajah biasa, mata sedikit lelah, jubah sutra yang mulai pudar warnanya.]
Lu Chen menatap pantulannya di permukaan air kolam gerbang. Wajah pemuda yang mampu membelah lembah itu kini hilang, digantikan oleh sosok pria paruh baya yang tampak tidak berbahaya. Ignis pun ikut berubah; semut naga itu kini terlihat seperti Kutu Kayu Hitam yang tidak menarik, bersembunyi di dalam lengan baju Lu Chen.
"Aku benci wujud ini, Lu Chen," gerutu Ignis melalui transmisi jiwa. "Aku merasa seperti serangga yang hanya pantas memakan debu."
"Sabar, Ignis. Kota ini dilindungi oleh 'Cermin Pendeteksi Iblis' kuno. Jika kau menunjukkan aura naga-mu sedikit saja, kita akan dikepung oleh ribuan prajurit penjaga kota sebelum sempat masuk ke rumah lelang," bisik Lu Chen sambil menyerahkan beberapa keping perak kepada penjaga gerbang.
Berhasil masuk, Lu Chen disambut oleh kemegahan yang luar biasa. Jalanan Kota Pusat terbuat dari marmer putih yang memancarkan energi spiritual tipis. Kereta-kereta yang ditarik oleh hewan buas jinak berlalu-lalang, dan aroma dari berbagai tanaman obat langka memenuhi udara. Namun, di balik keindahan ini, Lu Chen bisa merasakan tatapan tajam dari setiap sudut. Kota ini adalah sarang ular.
Ia melangkah menuju Paviliun Lelang Langit, sebuah bangunan berbentuk pagoda sembilan lantai yang terbuat dari kayu gaharu hitam dan emas. Di depan pintu masuk, kerumunan orang-orang kaya dan kultivator tingkat tinggi mengantre untuk menunjukkan undangan mereka.
"Undangan Anda, Tuan?" tanya seorang pelayan dengan nada yang sedikit meremehkan, melihat pakaian Lu Chen yang "sederhana".
Lu Chen tidak menjawab. Ia hanya mengeluarkan sebuah medali giok hijau yang ia dapatkan dari harta jarahan Penatua Agung Sekte Langit Biru. Mata pelayan itu seketika membelalak. Medali itu adalah kartu VIP tingkat perunggu—jarang dimiliki oleh pedagang kelana biasa.
"M-mohon maaf atas kelancangan saya, Tuan Lin! Silakan masuk ke lantai tiga," pelayan itu membungkuk dalam-dalam.
Di dalam paviliun, suasana begitu mewah. Cahaya berasal dari permata malam yang digantung di langit-langit. Lu Chen mengambil tempat di pojok ruangan, di mana ia bisa mengamati seluruh aula tanpa menarik perhatian.
"Banyak ahli di sini," lapor Ignis. "Di lantai atas, aku merasakan kehadiran setidaknya lima ahli Tahap Nascent Soul. Dan ada satu orang di balik tirai merah... auranya sangat aneh, seperti pedang yang terbungkus kain sutra."
Lu Chen melirik ke arah tirai merah di balkon VIP lantai atas. Sistemnya segera memberikan notifikasi.
[Peringatan: Mendeteksi 'Putri Salju' dari Kekaisaran Utara.]
[Kultivasi: Tahap Inti Emas - Level 9 (Puncak).]
[Tujuan: Mencari Obat untuk Ayahnya yang Terkutuk.]
"Sepertinya kita akan memiliki persaingan menarik," gumam Lu Chen.
Tak lama kemudian, juru lelang—seorang wanita cantik dengan suara yang memikat—naik ke panggung. Lelang dimulai dengan barang-barang biasa: pil pemulihan, pedang tingkat bumi, dan gulungan teknik tingkat rendah. Lu Chen tetap diam, tidak menawar satu pun.
Hingga barang ketujuh dikeluarkan.
"Barang berikutnya adalah sesuatu yang kami temukan di reruntuhan kuno Laut Selatan," suara juru lelang itu berubah menjadi serius. Seorang pelayan membawa sebuah kotak kotak hitam yang diselimuti segel es. Saat kotak dibuka, sebuah batu berwarna merah gelap yang berdenyut seperti jantung muncul.
"Batu Meteorit Jiwa Naga. Mengandung esensi api purba yang sangat murni. Harga pembukaan: 50.000 Batu Roh Tingkat Menengah!"
Seluruh aula seketika gempar. Bagi kultivator elemen api, ini adalah harta karun yang bisa meningkatkan kultivasi mereka secara drastis. Bagi Lu Chen, ini adalah kunci bagi Ignis untuk mencapai fase 'Dewasa'.
"60.000!" teriak seorang kultivator tua di barisan depan.
"80.000!" sahut yang lain.
"150.000!" Suara dingin terdengar dari balik tirai merah lantai atas. Putri Salju telah membuka suaranya, membuat suasana aula seketika hening. Nominal itu bukanlah jumlah yang kecil.
Lu Chen menyesap tehnya dengan tenang. Ia menunggu saat-saat terakhir.
"150.000 batu roh untuk pertama kali... kedua kali..." juru lelang mengangkat palunya.
"500.000 Batu Roh Tingkat Menengah."
Suara Lu Chen yang tenang memecah keheningan. Seluruh hadirin menoleh ke arah pojok ruangan, menatap sosok "pedagang antik" yang tampak miskin itu. Putri Salju di balik tirai merah tampak tertegun, auranya yang dingin sedikit bergejolak.
"Siapa kau?" suara Putri Salju terdengar dari balkon, penuh dengan rasa ingin tahu dan kewaspadaan.
Lu Chen tidak mendongak. Ia hanya menatap batu merah di panggung. "Hanya seorang pedagang yang tahu nilai dari sebuah barang, Tuan Putri."
"Berani sekali kau, Nak," bisik Ignis bangga. "Kau baru saja menantang salah satu kekuatan terbesar di benua ini dengan kantong yang sebenarnya... tunggu, dari mana kau dapat 500.000 batu roh?!"
"Aku menghancurkan seluruh gudang harta Sekte Langit Biru sebelum pergi, kau lupa?" jawab Lu Chen dalam hati dengan seringai tersembunyi.
Pertarungan harga ini bukan sekadar soal uang, melainkan pernyataan perang pertama Lu Chen di Kota Pusat. Topeng pelayan telah lepas, dan meskipun ia memakai penyamaran baru, taring naga di baliknya mulai terlihat.