Gu Yanqing hidup miskin, tanpa latar belakang, tanpa peluang.
Hingga suatu hari, Sistem Peningkatan Kekayaan aktif—memberinya kesempatan untuk naik kelas, selama semua yang ia peroleh masuk akal dan sah.
Dari nol ke kaya, dari diremehkan ke dikelilingi orang-orang yang terlihat tulus.
Tapi di dunia uang dan status, kepercayaan punya harga.
Dan saat harga itu terlalu mahal, tidak semua orang sanggup membayarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 : Sun Deqiao
Laporan keselamatan itu tergeletak terbuka di atas meja Zhao Haoran, halaman terakhir menghadap ke atas. Tinta biru pada kolom otorisasi terlihat tenang dan rapi, seolah tidak memikul beban apa pun.
Gu Yanqing duduk tegak di seberang meja.
Nama itu tercetak jelas di bawah tanda tangan:
Sun Deqiao.
Zhao telah mencetak profil perusahaan Dongkou Port Group dari basis data administrasi korporasi. Beberapa lembar kertas kini tersebar di meja: struktur organisasi, daftar direksi, pembagian kewenangan operasional.
“Sun Deqiao,” Zhao mengulang pelan, “Direktur Operasional.”
Gu menatap bagan struktur yang ditunjukkan Zhao.
Di puncak terdapat Dewan Direksi.
Di bawahnya, Direktur Utama.
Lalu beberapa direktur bidang: keuangan, operasional, logistik, keselamatan dan kepatuhan.
Nama Sun Deqiao tercantum pada jalur operasional yang membawahi seluruh kegiatan pelabuhan, termasuk unit keselamatan kerja.
“Itu berarti,” Zhao berkata datar, “seluruh laporan insiden besar yang berdampak pada operasional pelabuhan berada dalam lingkup persetujuannya.”
Gu tidak berbicara.
Ia memindai garis-garis hierarki itu dengan cara yang sama seperti ia memindai kronologi waktu sebelumnya.
Struktur bukan sekadar daftar nama. Struktur adalah jalur tanggung jawab.
Zhao melanjutkan, “Tanda tangan pada laporan keselamatan bukan formalitas. Itu pengesahan bahwa isi laporan telah ditinjau dan dinyatakan sesuai.”
Gu mengingat kembali perbedaan waktu tiga puluh menit. Pengawas fiktif. Kronologi yang dibalik.
Jika laporan itu dimanipulasi, dan tetap disahkan, maka ada dua kemungkinan: Sun Deqiao lalai atau Sun Deqiao mengetahui.
“Kelalaian manajerial,” Zhao berkata seolah membaca pikirannya, “tetap merupakan bentuk tanggung jawab hukum. Terutama jika kelalaian itu memungkinkan penyajian fakta yang tidak benar.”
Gu mengangguk tipis.
“Tetapi,” Zhao menambahkan, “jika kita dapat menunjukkan bahwa manipulasi bersifat sistematis, maka itu bukan lagi kelalaian. Itu pembiaran sadar.”
Ruangan terasa lebih padat.
Gu tidak merasakan ketakutan. Ia merasakan pergeseran skala.
Sebelumnya, perkara ini menyentuh Wang Jicheng—pengawas lapangan. Level operasional bawah.
Kini, nama yang berdiri di atas kertas adalah direktur operasional.
Zhao mengambil satu lembar lain.
“Menurut laporan tahunan perusahaan, Sun Deqiao telah menjabat selama tujuh tahun. Ia mengawasi modernisasi sistem logistik dan digitalisasi pengawasan.”
Gu memperhatikan kalimat itu.
Digitalisasi pengawasan.
“Itu berarti sistem CCTV, sistem pelaporan insiden, dan prosedur keselamatan berada dalam rantai koordinasinya,” Zhao melanjutkan.
Gu menyimpulkan dalam nada datar, “Ia tidak bisa mengklaim tidak memahami sistem yang ia awasi.”
Zhao mengangguk.
“Kecuali ia ingin mengakui bahwa sistem di bawahnya tidak terkendali.”
Keduanya terdiam beberapa detik.
Tanda tangan di atas kertas kini tidak lagi sekadar tinta.
Ia menjadi simbol otoritas.
Simbol bahwa laporan yang tidak sinkron dengan fakta telah melewati meja seorang direktur.
Zhao menutup berkas laporan dan menyusunnya rapi.
“Menyerang nama ini,” katanya pelan, “berarti menggugat tanggung jawab manajemen tingkat atas.”
Gu menjawab tanpa ragu, “Itu konsekuensi logis.”
Zhao menatapnya.
“Konsekuensi praktisnya berbeda.”
Ia membuka catatan kecilnya.
“Begitu nama Sun Deqiao dicantumkan sebagai pihak yang bertanggung jawab secara struktural, tim hukum perusahaan akan turun langsung. Bukan lagi penasihat tingkat cabang.”
Gu memahami implikasinya.
“Tekanan akan meningkat,” ia berkata.
“Bukan hanya tekanan hukum,” Zhao mengoreksi. “Tekanan sosial. Tekanan bisnis. Isolasi.”
Gu tidak menunjukkan perubahan ekspresi.
Ia telah memperkirakan bahwa konflik akan bergerak vertikal.
Panel sistem muncul singkat di hadapannya, bersih dan ringkas.
Status Evaluasi Perkara: Target tanggung jawab teridentifikasi.
Nama: Sun Deqiao — Direktur Operasional.
Evaluasi Risiko: Tinggi.
Indikasi: Potensi perlawanan terstruktur meningkat.
Panel itu tidak menawarkan perlindungan. Tidak memberi strategi.
Hanya penanda.
Gu memandangnya sekilas, lalu panel itu menghilang.
Zhao kembali berbicara.
“Kita perlu memastikan tanda tangan ini autentik.”
“Saya akan meminta notaris memverifikasi spesimen tanda tangan publiknya,” jawab Gu.
“Bagus.”
Zhao menambahkan, “Selain itu, kita harus mengamankan bukti bahwa laporan tersebut benar-benar menjadi dasar penolakan kompensasi.”
Gu mengangguk.
“Sudah ada surat penolakan resmi yang merujuk pada laporan keselamatan itu.”
“Artinya hubungan sebab-akibat jelas,” Zhao menyimpulkan.
Ia berdiri dan berjalan ke papan tulis.
Di bawah nama Wang Jicheng, ia menarik garis ke atas, menuju Sun Deqiao.
“Kasus ini tidak lagi berhenti pada individu lapangan,” katanya.
Gu menatap garis itu.
Ia melihat bukan hanya nama, tetapi lapisan kekuasaan.
Mandor.
Pengawas.
Manajer unit.
Direktur operasional.
Setiap lapisan memiliki kepentingan untuk menjaga citra dan stabilitas perusahaan.
Zhao melanjutkan, “Jika kita membuktikan manipulasi dokumen pada level ini, maka implikasinya menyentuh sistem pengendalian internal perusahaan.”
Gu berkata pelan, “Dan itu berarti reputasi.”
“Ya.”
Reputasi bagi perusahaan pelabuhan bukan sekadar citra. Itu berkaitan dengan kontrak, izin, hubungan dengan otoritas.
Gu memahami bahwa menggugat Sun Deqiao berarti membuka ruang yang lebih besar dari sekadar kompensasi.
Ia sedang mengetuk pintu struktur kekuasaan.
Zhao kembali duduk.
“Kita harus mengubah rumusan gugatan.”
Ia menuliskan kalimat baru:
“Turut tergugat: Sun Deqiao, dalam kapasitas sebagai Direktur Operasional Dongkou Port Group, bertanggung jawab atas pengesahan laporan keselamatan yang mengandung ketidaksesuaian fakta.”
Gu membaca kalimat itu tanpa ekspresi.
Tidak ada emosi.
Hanya fakta.
Nama di atas kertas kini resmi menjadi target hukum.
Zhao menatap Gu sekali lagi.
“Anda menyadari bahwa begitu ini diajukan, jalan mundur semakin sempit.”
Gu menjawab singkat, “Saya tidak mencari jalan mundur.”
Tidak ada nada heroik. Tidak ada kebencian.
Hanya konsistensi.
Di luar ruangan itu, Dongkou Port Group tetap beroperasi seperti biasa. Kontainer bergerak. Kapal bersandar. Dokumen ditandatangani.
Namun di atas meja Zhao, satu nama telah dipisahkan dari struktur anonim dan ditempatkan dalam lingkaran tanggung jawab.
Sun Deqiao.
Direktur Operasional.
Bukan lagi bayangan dalam bagan organisasi.
Melainkan pihak yang akan disebut secara eksplisit dalam gugatan.
Dan Gu Yanqing memahami satu hal dengan sangat jelas:
Semakin tinggi nama yang disentuh, semakin terstruktur perlawanan yang akan datang.
...
Lingkungan sekitar Dongkou Port tetap bergerak seperti biasa.
Truk kontainer keluar masuk gerbang utama. Sirene pendek terdengar setiap kali palang otomatis terangkat. Pekerja dengan helm kuning berjalan cepat menyusuri jalur logistik, wajah mereka datar, fokus pada target harian.
Namun bagi Gu Yanqing, ritme itu terasa sedikit berbeda.
Bukan lebih lambat. Bukan lebih cepat.
Lebih tertutup.
Ia berdiri di seberang kedai kecil yang dulu sering menjadi tempat berkumpul pekerja setelah jam kerja. Dua minggu lalu, ia masih bisa duduk di sana dan berbicara tanpa banyak hambatan. Kini, ketika ia masuk, percakapan di beberapa meja berhenti sepersekian detik sebelum kembali terdengar.
Tidak ada yang menatapnya secara terang-terangan.
Itu justru lebih jelas.
Gu memesan teh hangat dan duduk di sudut, posisi yang memungkinkannya melihat pintu masuk dan sebagian besar ruangan. Ia tidak mengeluarkan berkas apa pun. Tidak membuka laptop.
Ia hanya mengamati.
Salah satu saksi yang sebelumnya bersedia memberi pernyataan lisan—Chen Ming—biasanya duduk di meja dekat jendela. Hari itu kursinya kosong.
Gu mengeluarkan ponsel dan menghubungi nomor Chen Ming.
Nada sambung tidak terdengar.
Nomor tidak aktif.
Ia tidak menunjukkan reaksi.
Dua hari lalu, nomor itu masih terhubung.
Gu menekan layar dan menyimpan hasil panggilan itu dalam catatan kecilnya.
Nomor tidak aktif. Waktu: 10:14.
Ia berdiri setelah lima belas menit tanpa ada perkembangan. Saat keluar dari kedai, ia melihat dua pria berdiri di dekat trotoar seberang. Pakaian biasa. Tidak ada atribut perusahaan. Mereka tidak menatapnya, tetapi berdiri terlalu lama tanpa tujuan jelas.
Gu berjalan melewati mereka tanpa mempercepat langkah.
Ia tidak menoleh.
Tekanan struktural jarang datang dalam bentuk ancaman langsung. Ia hadir dalam bentuk atmosfer.
Sore itu, ia menuju alamat lain—rumah kontrakan Liu Zhen, pekerja yang terekam dalam CCTV berada di dekat forklift saat insiden.
Pintu rumah tertutup. Gembok terpasang.
Tetangga sebelah, seorang perempuan paruh baya, membuka pintu setelah Gu mengetuk.
“Liu Zhen?” tanya Gu singkat.
Perempuan itu menggeleng.
“Sudah pindah. Tiga hari lalu.”
“Ke mana?”
“Tidak tahu. Datang mobil perusahaan. Mereka angkut barang.”
Gu mencatat dalam pikirannya.
Mobil perusahaan.
“Apakah ia mengatakan sesuatu sebelum pergi?”
Perempuan itu ragu sebentar. “Katanya ada penempatan kerja sementara.”
Gu mengangguk pelan.
Ia tidak bertanya lebih jauh.
Langkahnya tidak berhenti di situ. Ia mencoba menghubungi dua saksi lain melalui pesan singkat.
Satu tidak dibalas.
Satu lagi membalas singkat: “Maaf, saya tidak bisa terlibat.”
Tanpa penjelasan.
Gu membaca ulang pesan itu dua kali.
Sebelumnya, orang yang sama berbicara panjang tentang tekanan kerja dan prosedur keselamatan yang diabaikan.
Perubahan itu terlalu cepat untuk dianggap kebetulan.
Ia kembali ke kantor Zhao Haoran sore itu.
Zhao mendengarkan laporan singkat Gu tanpa menyela.
“Nomor tidak aktif. Alamat kosong. Saksi menarik diri,” Zhao merangkum.
Gu mengangguk.
Zhao menyandarkan punggungnya pada kursi.
“Artinya langkah kita telah terdeteksi.”
Gu tidak menyangkal.
“Nama Sun Deqiao sudah tercantum dalam draf gugatan. Meski belum resmi didaftarkan, pergerakan informasi internal perusahaan biasanya cepat.”
Zhao melanjutkan, “Struktur besar seperti Dongkou Port Group memiliki mekanisme pertahanan. Begitu ancaman menyentuh level manajemen atas, responsnya sistematis.”
Gu berkata tenang, “Relokasi saksi. Pembatasan komunikasi.”
“Minimal.”
Zhao tidak terdengar terkejut.
Ia membuka laptop dan memperlihatkan dokumen draf gugatan terbaru.
Bagian “Turut Tergugat” kini mencantumkan Sun Deqiao secara eksplisit, dalam kapasitas jabatan.
“Begitu ini masuk ke pengadilan,” Zhao berkata, “jalur formal akan aktif. Perusahaan wajib menjawab secara tertulis. Itu menciptakan jejak hukum yang sulit dihapus.”
Gu menatap layar.
Jejak hukum.
Berbeda dengan percakapan di kedai atau pesan singkat yang bisa dihapus, dokumen resmi meninggalkan bekas.
“Apakah Anda siap jika akses terhadap saksi semakin dibatasi?” tanya Zhao.
Gu menjawab tanpa ragu, “Kita gunakan bukti objektif sebagai fondasi utama.”
CCTV. Laporan resmi. Tanda tangan.
Zhao mengangguk.
“Baik. Tetapi Anda harus menyadari satu hal.”
Ia berhenti sejenak.
“Semakin tinggi target, semakin sempit ruang gerak di lapangan.”
Gu memahami maknanya.
Tekanan tidak selalu berbentuk ancaman terbuka.
Ia bisa berupa keheningan kolektif.
Nomor yang mati.
Pintu yang terkunci.
Tatapan yang menghindar.
Malam itu, Gu kembali melewati gerbang Dongkou Port. Lampu sorot tinggi menerangi area bongkar muat. Dari kejauhan, bangunan kantor pusat berdiri dengan kaca reflektif yang gelap.
Di salah satu lantai atas, cahaya masih menyala.
Ia tidak tahu apakah itu ruang Sun Deqiao atau bukan.
Tetapi ia tahu satu hal: langkahnya telah naik ke tingkat yang terlihat dari atas.
Ponselnya bergetar.
Pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
“Berhati-hatilah. Chen Ming tidak bisa dihubungi sejak kemarin.”
Tanpa nama pengirim.
Gu membaca pesan itu dua kali.
Ia tidak membalas.
Ia hanya menyimpan tangkapan layar dan mencatat waktu penerimaan.
21:47.
Angin malam dari arah laut membawa bau asin dan suara logam beradu samar.
Gu berdiri beberapa detik lebih lama dari biasanya.
Ia menyadari sesuatu yang sederhana dan dingin:
Konflik ini tidak lagi horizontal.
Ia vertikal.
Dan dalam konflik vertikal, setiap langkah ke atas berarti ruang di bawah semakin tertutup.
Saksi pertama sulit dihubungi.
Saksi kedua pindah mendadak.
Saksi ketiga menarik diri.
Struktur telah bereaksi.
Gu Yanqing tidak merasakan panik.
Ia merasakan penyempitan.
Semakin tinggi nama yang disentuh, semakin sistematis respons yang muncul.
Dan kini satu fakta berdiri jelas di hadapannya:
Salah satu saksi utama tidak bisa ditemukan.
Indikasinya sederhana.
Saksi mulai menghilang.
Di bawah cahaya lampu pelabuhan yang keras dan dingin, Gu memahami dengan sangat tenang—
Semakin tinggi targetnya, semakin sempit ruang geraknya.