Mereka pikir, bercerai adalah pilihan terbaik untuk mengakhiri pernikahan yang terasa jauh dan hambar tanpa rasa. Namun siapa menyangka, Jika setelah pahit perceraian justru terbitlah madunya pernikahan... rasa rindu yang berkepanjangan, kehilangan, rasa saling membutuhkan, dan manisnya cinta?
Sweet after divorce...manis setelah berpisah.
"Setelah berpisah, kamu jadi terlihat menawan dimataku."
"Setelah berpisah, kamu jadi manis terhadapku."
"Mau rujuk?"
.
.
.
Cover by Pinterest and Canva
Dear pembaca, bijaklah memilih bacaan. Jika hanya ingin mampir dan tidak berniat membaca sampai akhir, maka jangan berani membuka ya 🤗 kecuali kalau sudah tamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Russel dan Ryu
Tapi Ganesha diam saja, ia justru tenang dan damai melihat adegan itu, menyisakan Afiqah dan wajah keruhnya di samping Ganesh.
"Nesh..." panggilnya lagi, justru memancing wajah geram Ganesha. Afiqah mendadak diam, mengatupkan mulutnya, tak lagi berani bicara selain dari mengikuti saja langkah Ganesha yang berjalan ke arah keluarga besarnya disana, selepas Anye turun kembali ke samping Ibas.
"Om Nesh!" sambut keduanya. Namun kedua bocah itu dibuat kebingungan kembali melihat Ganesha datang dengan wanita lain, layaknya Anye dengan lelaki lain.
Dewa yang mele nguh, "jangan sampai nanti gue yang pusing jelasin apa itu cere sama anak 6 taun, bang ke emang!" umpatnya.
Lendra tertawa, "6 taun dapat kado apa? Cek! Kado penjelasan cerai itu apa..." cibirnya pada sang kawan.
Apa ia harus deskripsikan dengan cara, membangun Lego menjadi sebuah rumah, lalu menghantamnya sampai hancur...karena yang ada Ryu merengut kesal sambil menjambaknya lalu Russel tertawa sambil menginjak-injak puing-puing Lego dengan kejamnya.
Wajah momy Ica sudah merengut, ia adalah manusia yang tak pernah bisa menutupi isi hati persis isian tahu goreng. Wajah cerianya mendadak kaku dan jutek, sementara Jihad yang paham, memegang tangannya mengusap lengan Ica agar istrinya tak berubah jadi seorang mediator genderuwo.
Kehadiran Ganesha bersama Afiqah menjadi magnet untuk cuaca buruk diantara pelangi hari ini.
"Hay, ini Abang sama adek ya... namanya ----" ia melirik Ganesha, yang bahkan nama keduanya saja Afiqah tak hafal.
"Russel, Ryu..." bukan Zahra atau Dewa apalagi Ganesha, tapi Anye seraya menunjuk balon di podium.
...***Happy birthday***...
...***Russel & Ryu***...
"Oh, iya maaf tante ngga lihat."
Pandangan Ryu dan Russel ikut menoleh ke arah balon nama mereka, "oh iya? Di mata aku balonnya gede kok keliatan, R--U--S--S--E--L, Russel. R--Y--U, Ryu." Eja Ryu. Afiqah dibuat tergagap.
"Berarti Tante harus pake kacamata, kaya Oma, kalo lagi baca..." timpal Russel.
Dan apa yang terjadi setelahnya? Russel menengadahkan tangannya, "kadonya?"
"Aduhh, maaf ya sayang. Kadonya ada di mobil, tante ambil dulu ya..." ucapnya dibuat semanis mungkin, pada bocah yang paling aktif berbicara itu, berbeda dengan Russel...Ryu justru sudah kembali bergabung bersama saudara-saudara yang lain, ia bahkan tak mau salim pada Afiqah.
Afiqah sudah setengah mati gugupnya melirik Ganesha yang justru setenang air.
Hanya dalam gerakan singkat Ganesha berhasil meraih keponakannya itu, "Abang...ngga boleh gitu ya..."
"Duduk." Pinta Ganesha pada Afiqah, Anye hanya melihat dan menyimak itu. Sungguh, pacaran seperti itu yang Ganesha harapkan dari Afiqah? Sementara ia dan Ibas sudah duduk kembali di tempatnya semula.
Afiqah meringis duduk menatap Ganesha membawa Russel ke arah Ryu berada.
Ada games yang kemudian membuat suasana menjadi ramai, terlebih teriakan dan seruan para bocah itu membuat acara ramai.
Zahra dan Dewa mengambil peran di depan podium bersama si empunya hajat.
Ibas berdehem kemudian minum, sesekali ia khusyuk tertawa melihat para bocah itu bernyanyi dan bermain games. Namun, ia melirik Anye dan bertanya tentang kehadiran Ganesha dan Ganesha.
Bahkan sejak awal ia kira bahwa Dewa adalah Ganesha.
"Zahra itu temenku," tunjuk Anye, "kalo dulu ipar, sekarang dia tetep jadi temen, saudara buatku. Bang Dewa juga...mommy sama daddy. Perpisahan bukan berarti aku mutusin silaturahmi kan? Terlebih sama si kembar..."
Ibas mengangguk-angguk paham, ia cukup dewasa untuk menanggapi hal itu.
"Mas marah ngga?" tanya Anye digelengi Ibas, "engga. Masa iya aku marah..." Ibas meraih tangan Anye dan menggenggamnya hangat.
Diantara obrolan itu, ada sepasang mata yang tak lepas melihat interaksi Anye dan Ibas.
Ganesha
Masih bisa kamu mesra-mesraan begitu? Setelah lewatin malam di ranjang sama saya?
Terlihat gelagat Anye yang terdistrek bunyi ponselnya, dan Ganesha melihat itu singkat di ujung lain bersama Afiqah yang juga khusyuk melihat ke arah podium sambil nyemil kue.
Anye, wajahnya itu mendadak kaku. Namun ia menggeleng mengenyahkan itu, mencoba tak peduli dengan pesan Ganesha tadi, tak pula membalasnya. Ia hanya akan menganggap Ganesha sedang menjeratnya lagi jika ia melayani. Lihatlah, ia dan Ganesha sudah jauh melangkah membawa pasangan masing-masing ke dalam hidup mereka. Jadi untuk apa terus berputar di kejadian yang lalu?
Ganesha tak suka, ia berdecak melihat itu. Hingga akhirnya Ryu menghampiri Anye dengan wajah berkeringat.
"Kenapa sayang?" Wajahnya ditekuk, entah malu atau----Ryu menarik-narik baju Anye memintanya mendengarkan ia berbisik.
"Mama, aku mau buang air..." bisiknya kecil malu-malu. Anye mengangguk tertawa kecil, ia paham jika ibunya sedang sibuk di depan podium bersama pembawa acara, begitupun Dewa. Ia tak berani bicara pada Omanya Ica yang tengah makan jadi....
"Oke, mama anter..." Anye sudah beranjak dari duduknya, meminta ijin sejenak pada Ibas, "mas, Ryu mau minta anter ke toilet."
"Oke." Ibas mengangguk. Langkah-langkah kecil Ryu diikuti Anye, dimana tangannya ditarik Ryu. Pergerakan itu dilihat Ganesha.
Dan ketika nama Ryu digemakan oleh pembawa acara, begitupun mereka yang mencari-cari si empunya hajat, Ganesha memberikan intruksi, "Ryu lagi ke toilet, biar gue yang susul."
*Oh, adek Ryu lagi ke toilet sebentar temen-temen...kita lanjut aja ya*!
"Mama, jangan ditinggal ya!" Ryu berteriak dari bilik kamar mandi, sementara Anye ada disana, tepat di depan pintunya yang terbuka sedikit.
"Ini tangan mama loh, Ry..." Anye memasukan sebelah tangannya dan ia goyangkan dari celah pintu itu.
Terdengar wushhhh! Lalu, "mama udah..."
Dengan tanpa rasa jijik, wanita ini masuk dan membantu Ryu cebokk, lebih tepatnya mencebokii Ryu.
Ganesha melangkah ke arah toilet lelaki. Namun tak ada jejak Ryu dan Anye, hingga tiba di depannya toilet wanita, dan mencoba mendorong pintunya.
Wanita itu sedang berjongkok sambil memasangkan celana Ryu, dengan kedua tangan Ryu bertumpu di pundaknya.
"Kenapa adek ngga bilang Oma? Atau bisikin umi sama ayah...kan Deket..."
"Ayah sama umi ngga denger. Aku malu, kalo sampe ribut di panggung pengen ee..."
Anye tertawa kecil. Ada hangat yang menggelitik di hati Ganesha, inilah yang ia inginkan. Namun ia tak pandai menyampaikan inginnya, isi hatinya, apalagi jika bukan karena gengsi, dan sifat kakunya itu. Ia yang sudah menghancurkan masa depan indah, terlalu menganggap kisah dan janji sesakral pernikahan itu bak permainan dan sistem.
Ia telat menyadari jika nyatanya, ia menginginkan Anye. Jika ternyata, cintanya untuk wanita terdahulu mampu dikikis Anyelir.
Ia adalah manusia yang sulit jatuh cinta. Namun----
Langkah Anye terhenti bersama Ryu di gandengannya yang memasang tampang segar kembali, "om Nesh. Om Nesh mau ee juga? Mau dicebokin mama Anye?"
Anyelir menutup mulutnya.
/
Afiqah mengedarkan pandangan mencari Ganesha, yang nyatanya datang dengan menggendong Ryu, tapi ...di sampingnya Anye ikut berjalan, terlihat seperti keluarga.
Seketika wajahnya cemberut jengkel. Matanya tak lepas memandang Ganesha, lelaki jangkung itu menurunkan Ryu di podium bersama Anye yang berdadah ria kembali duduk bersama Ibas, lalu matanya tetap mengarah pada Ganesha sampai lelaki itu duduk kembali di sampingnya.
"Sayang, kok lama?"
Ganesha melirik, "Ryu beraakk, jadi Anye yang cebokin."
Afiqah mengangguk. Namun---
"Nesh, kamu ngga mau kenalin aku lebih deket sama keluarga kamu, ya? Aku juga mau dipanggil mama gitu sama Ryu-Russel...atau sama anak kita gitu nantinya?" kelakarnya sungguh tak membuat Ganesha ingin tertawa apalagi tersenyum.
Ia justru menggeleng, "kamu becanda?" tanya Ganesha memancing gelengan Afiqah, "ya engga lah."
.
.
.
.
dahlah mw nyemangatin bang Ganesh buat berjuang ngeyakinin Anye bahwa dia tuh pantas dan mw merubah sifat jeleknya buat Anye... moga Anye nerima
cinta di tolak fitnah bertindak