NovelToon NovelToon
Mencari Jawaban

Mencari Jawaban

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

Hidup Almira dan Debo nyaris sempurna. Tumbuh besar di Washington D.C. dengan fasilitas diplomat, mereka melihat ayah mereka, Pak Baskoro, sebagai pahlawan tanpa celah. Namun, impian itu hancur berkeping-keping dalam satu malam di Bandara Soekarno-Hatta.
Koper yang seharusnya berisi oleh-oleh dari Amerika, berubah menjadi maut saat petugas menemukan bungkusan kristal putih seberat 5 kilogram di dalamnya. Ayah mereka dituduh sebagai kurir narkoba internasional.
Di tengah keputusasaan, teman-teman berkhianat dan harta benda disita. Almira dan Debo dipaksa menghadapi realita pahit: mereka kini adalah anak seorang "kriminal". Di tengah badai tersebut, muncul Risky, seorang pengacara muda yang dingin dan misterius. Risky setuju membantu, namun ia memperingatkan satu hal:
"Kebenaran terkadang lebih menyakitkan daripada kebohongan. Apakah kalian siap menemukan jawaban yang sebenarnya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17

Udara di kamar hotel itu mendadak jadi sangat tipis. Moncong senjata yang dingin dan hitam itu tampak begitu kontras di bawah lampu neon yang berkedip. Almira bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang menghantam tulang rusuk, tapi matanya tak lepas dari punggung Risky. Punggung yang baru saja ia peluk dengan penuh kepercayaan, kini terasa seperti tembok besar yang terbuat dari rahasia paling kelam.

"Risky, serahkan bendanya," suara Sekjen itu terdengar begitu tenang, seolah ia hanya sedang meminta laporan bulanan di kantor. "Kau anak Adiwangsa. Kau punya darah yang sama dengannya. Jangan sia-siakan karir cemerlangmu demi gadis yang bahkan tidak tahu bahwa ayahmu adalah alasan ibunya terkubur."

Risky tidak bergeming. Tangannya yang memegang pemantik api sedikit gemetar, tapi tatapannya tetap lurus. "Aku menghabiskan hidupku membenci sistem karena kupikir ayahku adalah korban. Ternyata dia adalah bagian dari mesin penghancur itu." Ia tertawa pendek, tawa yang terdengar seperti pecahan kaca. "Tapi itu tidak berarti aku akan membiarkan kalian menang."

"Risky, jangan!" Almira memekik saat melihat salah satu agen mulai menarik pelatuk.

"Debo, bawa Ayah ke kamar mandi! Sekarang!" perintah Risky tanpa menoleh.

Kekacauan pecah dalam sekejap. Risky tidak menyalakan pemantik itu ke arah hardisk. Sebaliknya, ia menendang meja kayu kecil di depannya hingga terbalik, menciptakan perlindungan sementara. Suara dentuman peluru menghantam kayu, serpihan furnitur terbang ke segala arah.

Almira terseret ke lantai, telinganya berdenging. Di tengah kebisingan itu, ia melihat Risky bergulat dengan salah satu agen. Gerakannya brutal, tidak beraturan, seolah ia sedang melampiaskan seluruh kemarahan pada dirinya sendiri lewat setiap pukulan yang ia daratkan.

"Al! Ambil hardisknya!" teriak Risky sambil menahan lengan seorang pria yang mencoba membidiknya.

Almira merangkak di antara kaki-kaki meja, jemarinya menggapai benda hitam itu. Begitu tangannya menyentuh permukaan logam yang dingin, ia langsung mendekapnya erat. Ia melihat Risky terkena hantaman popor senjata di pelipisnya hingga tersungkur, darah segar mulai mengalir menutupi matanya.

"RISKY!"

Almira tidak berpikir lagi. Ia meraih lampu meja yang masih menyala dan melemparkannya ke arah tumpukan gorden dan karpet yang kering. Api mulai menjilat kain tipis itu. Dalam hitungan detik, asap hitam tebal memenuhi ruangan, memicu alarm kebakaran hotel yang melengking memekakkan telinga.

Sistem sprinkler di langit-langit pecah, menyemburkan air yang bercampur dengan asap, menciptakan pandangan yang kabur dan licin. Dalam keremangan itu, Almira menarik kerah jaket Risky, memaksanya berdiri.

"Ayo! Kita tidak mati di sini!" Almira berteriak di depan wajah Risky.

Risky menatap Almira dengan pandangan yang kosong dan hancur. "Kenapa kau menyelamatkanku, Al? Ayahku membunuh ibumu!"

Almira mencengkeram wajah Risky dengan kedua tangannya, memaksanya untuk melihat ke dalam matanya. "Karena kau bukan ayahmu! Dan aku tidak akan membiarkan mereka mengambil satu lagi orang yang kucintai!"

Kata-kata itu seolah menyuntikkan nyawa kembali ke dalam tubuh Risky. Ia mengangguk pelan, lalu menyambar tangan Almira. Mereka berlari menembus asap, menuju jendela balkon yang menghadap ke gang sempit di belakang hotel. Debo dan Pak Baskoro sudah menunggu di sana, wajah mereka penuh jelaga.

"Lompat ke tumpukan sampah di bawah! Cepat!" Risky mengomando.

Satu per satu mereka melompat. Almira merasakan angin kencang menerpa wajahnya sebelum mendarat di tumpukan karung plastik yang empuk namun berbau busuk. Begitu kaki mereka menyentuh tanah, mereka tidak berhenti. Mereka berlari menyusuri labirin Little India, menghilang di antara kerumunan turis yang kebingungan karena suara alarm.

Mereka baru berhenti di sebuah gudang tua di pinggiran dermaga, tempat yang jauh dari jangkauan kamera pengawas. Napas mereka tersengal, menyisakan uap di udara malam yang dingin.

Almira duduk bersandar pada dinding beton, memeluk lututnya. Risky berdiri beberapa meter darinya, memunggungi mereka semua. Bahunya naik turun, dan isak tangis yang tertahan akhirnya pecah. Seorang pria yang selalu tampak tak tersentuh itu kini hancur berkeping-keping.

Pak Baskoro mendekati Risky, meletakkan tangan di bahu pria muda itu. "Risky... Adiwangsa memang berbuat salah. Tapi dia tidak pernah tenang. Dia mengirimkan dokumen-dokumen itu secara anonim kepadaku bertahun-tahun yang lalu sebelum dia meninggal. Dia ingin kebenaran ini terungkap, tapi dia terlalu pengecut untuk melakukannya sendiri."

Risky berbalik, wajahnya yang penuh darah tampak sangat rapuh. "Kenapa Om tidak mengatakannya sejak awal?"

"Karena aku takut," jawab Pak Baskoro jujur. "Aku takut jika kebenaran ini terungkap, kalian berdua akan saling membenci. Dan aku sudah melihat bagaimana kau menatap Almira. Aku tidak ingin kehilangan 'putra' lain karena dosa masa lalu."

Almira berdiri, berjalan mendekati Risky. Jarak di antara mereka terasa begitu berat, namun Almira mengikisnya. Ia meraih tangan Risky yang bergetar.

"Kita masih punya jawaban yang belum tuntas, Risky," bisik Almira. "Isi video itu... bukan cuma soal ayahmu. Ada nama lain di sana. Nama yang masih duduk di kursi kekuasaan tertinggi di Jakarta."

Risky menatap Almira lama, mencari sisa-sisa kebencian di sana, namun yang ia temukan hanyalah luka yang sama dengan miliknya. Ia menarik napas panjang, mencoba menyatukan kembali kepingan dirinya.

"Baiklah," suara Risky kembali rendah dan dingin, namun kali ini ada tekad yang berbeda. "Kita tidak akan lari lagi. Jika mereka ingin darah, kita berikan mereka kebenaran yang akan menenggelamkan seluruh kota."

Malam itu, di tepi pantai Singapura yang gelap, mereka tidak lagi sekadar mencari jawaban. Mereka sedang mempersiapkan pengadilan terakhir. Bukan di ruang sidang yang penuh dengan hakim yang bisa disuap, melainkan di hadapan publik yang tak bisa dibungkam.

1
Sulfia Nuriawati
potret pejabat ms kini, mw segalanya instant, g bs d pungkiri pasti d dunia nyata jg bgtu cm g ada yg berani bongkar
sabana: 🤭🤭🤭
lanjut baca kk
total 1 replies
Ophy60
Ikut tegang....memang uang dan jabatan membuat orang lupa diri.Pak Wirayuda dengan tega mengorbankan anak buahnya sendiri.
Ophy60
Apakah Hermawan juga korban ??
sabana: lanjutkan baca kak
total 1 replies
Ophy60
Sepertinya menarik kak...
sabana: lanjutkan kak, semoga suka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!