Seruni (20 tahun) adalah kembang desa cantik, lugu dan polos yang tinggal di wilayah terpencil daerah Tapal Batas.
Pernah bertunangan dengan salah satu pemuda dari kampung sebelah. Berujung putus dan gagal menikah karena ditikung adik tirinya bernama Rasti.
Suatu hari, Seruni dijodohkan dengan seorang pria dari kota. Musibah datang menerpa, di mana rombongan bus calon pengantin laki-laki mengalami kecelakaan, lalu terbakar hebat. Semua penumpang tewas di TKP termasuk calon suami Seruni.
Kepercayaan masyarakat setempat, jika sampai seorang gadis gagal menikah dua kali maka dianggap pembawa sial. Pastinya tak ada pemuda yang akan sudi menikahi Seruni.
Pak Tono selaku Kades yang berstatus sebagai ayah kandung Seruni, terpaksa menerima laki-laki asing bernama Bastian Fernando Malik yang mendadak bersedia menjadi suami Seruni. Tanpa diketahui semua orang bahwa Bastian tengah lari dan bersembunyi dari kasus pembunuhan yang menjeratnya.
Bagian dari Novel : Maafkan Mama, Pa🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 - Kebohongan Tania
Sedangkan putri yang sejak tadi dibicarakan oleh kedua orang tuanya di rumah, sedang terlelap pulas tidur di atas ranjang akibat pesta semalam.
Ya, dia adalah Tania Malik.
Bukan hanya sekedar pesta ulang tahun semata, melainkan berlanjut dengan pesta yang lain. Pesta berbagi pe_luh.
Teriknya cuaca di luar tak sebanding dengan panasnya suasana di dalam sebuah kamar apartemen sewaan. Di atas lantai sekitar ranjang, berceceran pakaian yang semalam membungkus kedua raga berlainan jenis tersebut hingga pakaian dalam mereka.
Sangat menggambarkan jelas bagaimana dahsyatnya gai_rah ranjang kedua anak manusia tersebut semalam.
"Haishh !!"
"Astaga Tania, kenapa kamu gak bangunin aku?" bentak si pria seraya memukul cukup kencang lengan Tania yang masih tertidur di sampingnya itu hingga terbangun.
"Ya ampun, Honey. Ganggu aja sih!" protes Tania dengan suara parau nya khas orang bangun tidur tanpa sadar.
Maklum nyawanya belum sempurna. Tidur nyenyak nya jadi ikut terganggu.
"Kemarin kan aku bilang jangan lupa bangunin aku jam enam! Ini sudah jam delapan! Aku ada rapat penting jam sembilan, Tania!" bentaknya dengan cepat memakai celananya, lalu berlari masuk ke dalam kamar mandi.
Tania pun terpaksa bangun dan merebahkan kepalanya di papan ranjang dengan sandaran bantal. Ia mengucek kedua matanya dan mengambil ponsel pribadinya di atas nakas. Lalu, perlahan ia mulai menyalakan gawainya.
"Ngomel mulu padahal semalam udah diservice!" gerutu Tania lirih.
Semalam Tania sengaja mematikan ponselnya agar acara pestanya tak diganggu oleh siapapun termasuk ibunya. Ia tak tau jika sang ayah sudah pulang dari urusan bisnisnya di luar kota.
Saat sudah menyala, ribuan notifikasi masuk terlihat di layar ponselnya. Banyak sekali panggilan tak terjawab yang masuk ke ponselnya dari sang ibu.
Pupil mata Tania melebar seketika tatkala ia membaca pesan masuk dari Selvi yang menanyakan keberadaannya sekaligus memberitahu jika Surya sudah pulang ke rumah kemarin malam.
Lima menit setelah Tania berpamitan pada Selvi untuk pergi ke pesta, Surya pulang ke rumah.
"Mati aku!" gumam Tania.
Ia segera turun dari ranjang dan memakai pakaian miliknya ala kadarnya.
TOK...TOK...TOK...
"Honey, buruan!" teriak Tania seraya menggedor kencang pintu kamar mandi.
Beruntung Tania tak perlu menunggu lama, karena si pria keluar dengan cepat setelah menyelesaikan acara bersih-bersih tubuh secepat kilat.
Ceklek...
Derit pintu terbuka menampilkan wajah masam pria yang bercinta dengan Tania semalam. Hubungan mereka sebenarnya bukan kekasih. Lebih mirip HTS (Hubungan Tanpa Status).
"Gara-gara kamu, aku terlambat ngantor!"
"Aku lebih gawat lagi, Papa udah pulang ke rumah!" balas Tania.
"Hah, kapan?"
"Semalam!" ketus Tania menjawabnya.
"Mam_pus aku!" batin si pria.
Tania seraya melangkah masuk ke dalam kamar mandi dan menutup kencang pintunya.
BRAKK !!
☘️☘️
Satu jam kemudian.
Setibanya di depan teras, Tania segera keluar dari mobilnya dan berlari masuk ke dalam rumah.
"TANIA !!" pekik Mama Selvi ketika ekor matanya melihat putrinya itu lari seko_nyong-ko_nyong hendak masuk ke dalam kamar.
Sontak langkah kaki Tania segera berhenti dan membalikkan tubuhnya ke arah belakang. Ia melihat sang ibu berdiri dengan berkacak pinggang dan menatap tajam ke arahnya.
"Ma_ma," cicit Tania sedikit tergagap dengan nafas ngos-ngosan.
"Dari mana aja kamu, hah?" bentak Mama Selvi.
"Ya kan aku dari pesta ulang tahun Sasha, Ma." Jawab Tania yang sudah terlihat santai.
Tania berusaha membuang jauh-jauh rasa gugupnya saat ini agar ibunya tak curiga tingkah lakunya yang liar di luar sana.
"Mama sudah tau soal itu. Tapi, kenapa kamu gak pulang semalam? Janji kamu kan pulang jam sebelas," cecar Mama Selvi.
"Aku nemenin Sasha, Ma. Semalam kita banyak ngobrol terus buka-buka kado, eh malah ketiduran!" jawab Tania terpaksa berbohong.
"Semalam mama coba hubungi ponselmu dan Sasha. Semuanya gak aktif. Kamu bukan tidur sama cowok kan?"
"Ya ampun, Mama gak percaya amat sih sama anak sendiri!" ketus Tania seraya melangkah pergi meninggalkan Mama Selvi dengan masuk ke dalam kamarnya.
Mama Selvi tak tinggal diam. Ia ikut masuk ke dalam kamar Tania.
"Mama cuma khawatir sama kamu, Tan."
"Aku bukan anak kecil lagi, Ma! Umurku mau genap dua puluh lima tahun!" desis Tania seraya melemparkan tasnya serampangan ke atas ranjangnya.
"Jangan sampai kamu salah bergaul, Tan. Ingat, kamu itu anak mama satu-satunya yang nanti bisa mewarisi seluruh kekayaan papamu," tutur Mama Selvi mengungkapkan rasa cemas di hatinya.
"Jangan sampai merusak dirimu sendiri! Kamu harus cari calon suami yang lebih kaya dari papamu! Jangan cuma modal cinta!" tegasnya.
Tania memilih duduk di tepian ranjang. Lalu, ia melepaskan sepatu hak tingginya dan melemparkan secara asal. Tania merebahkan tubuhnya yang lelah di atas ranjang sembari menghela nafas beratnya.
"Aku bisa jaga diri. Mama gak perlu cemas," kilah Tania.
"Yang perlu mama pikirkan, bagaimana caranya agar papa segera memberikan jabatan dan saham di perusahaannya atas nama kita?" lanjutnya.
"Mama lagi mengusahakan untuk itu. Tanpa kamu suruh, mama pastinya ingin papamu memberikan semua asetnya untuk kita. Jangan sampai semuanya jatuh ke tangan Bastian dan tangan kita kosong melom_pong tanpa apapun!"
"Apa semalam papa tau kalau aku gak pulang ke rumah?" tanya Tania.
"Pastinya tau," jawab Mama Selvi. Wajah Tania seketika berubah pias. "Kamu tenang saja, mama sudah berikan alasan yang tepat ke papamu."
Tania pun akhirnya bernafas lega mendengarnya.
"Papa udah berangkat ke kantor?" tanya Tania.
"Udah," jawab Mama Selvi.
"Bagus deh. Aku jadi bebas sejenak gak diinterogasi," sahut Tania.
"Kita gak boleh lengah. Kamu harus segera menunjukkan ke papamu kalau kompeten dan bisa kerja di perusahaan miliknya,"
"Caranya?"
"Segera tuntaskan kuliahmu, Tania!" bentak Mama Selvi cukup jengah melihat akhir-akhir ini Tania semakin malas kuliah. Bahkan terkadang putrinya itu susah diatur.
"Argghh !! Malas banget, Ma!" jerit Tania terlihat frustasi.
"Tinggal skripsi doang, apa susahnya Tania?" desak Mama Selvi.
"Susah banget, Ma. Aku lagi males mikir urusan skripsi apalagi kampus!"
"Mau gak mau kamu harus cepat lulus kuliah. Kalau enggak, kamu akan kehilangan kesempatan emas dari papamu."
"Kesempatan gimana, Ma?"
"Papa janji bakal ngasih jabatan di perusahaan setelah kamu lulus kuliah," jawab Mama Selvi.
"Kenapa syaratnya susah banget sih?" gerutu Tania.
"Ya, itu mau nya papamu. Mama udah berusaha bujuk, tapi papamu tetap ng0tot dengan pendiriannya."
"Bukankah Bastian bakal di penjara, Ma? Kenapa aku harus repot-repot selesaikan kuliah buat gantikan dia?"
Bersambung...
🍁🍁🍁
turunan mamanya klop.....
semangat pengantin baru...buat Bas tahu bahwa istrinya Masin perawan tingting...
Bang Bastian....,, masak setelah sekian waktu dirimu bersama seruni,, dirimu belum bisa menilai seruni itu orangnya gimana....