Arsy Raihana Syahira percaya hidupnya akan sempurna. Pernikahan yang tinggal menghitung hari mendadak batal, setelah ia memergoki calon suaminya sendiri berselingkuh dengan sahabat yang selama ini ia percayai dengan sepenuh hati.
Belum sempat Arsy bangkit dari keterpurukan, cobaan lain kembali menghantam. Ayahnya mengalami serangan jantung dan terbaring kritis setelah mengetahui pengkhianatan yang menimpa putri kesayangannya. Dalam satu waktu, Arsy kehilangan cinta, kepercayaan, dan hampir kehilangan orang yang paling ia cintai.
Di tengah kehancuran itu, datanglah Syakil Arrafiy—CEO sekaligus teman semasa sekolah, dan lelaki yang diam-diam telah mencintai Arsy sejak lama. Mendengar kabar tentang Arsy, Syakil datang ke rumah sakit tanpa ragu. Di hadapan ayah Arsy yang terbaring lemah, Syakil mengucapkan sebuah permohonan yang tak pernah Arsy bayangkan sebelumnya: melamar Arsy sebagai istrinya.
Maukah Arsy menerima lamaran pernikahan dari laki laki yang telah lama mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
“Kamu puas sekarang?” suara Arsy bergetar, tapi cukup keras untuk membuat Radit menoleh. “Kamu puas lihat ayahku kayak gini?!”
Radit menatap Arsy sekilas. Tatapannya kosong. Tidak ada penyesalan. Tidak ada rasa bersalah.
“Arsy, jangan mulai lagi deh,” katanya datar.
“Jangan mulai?” Arsy tertawa kecil, tapi tawanya terdengar patah. “Ayahku jatuh pingsan di depan mata kamu, Radit! Itu semua karena kamu! Karena ucapan kamu!”
Radit menghela napas, seperti sedang menghadapi drama yang melelahkan.
“Itu bukan salah aku,” jawab Radit santai. “Aku cuma berkata jujur kepada ayah kamu.”
Arsy mengepalkan tangannya. Kukunya menancap di telapak tangan sendiri.
“Jujur?” suaranya meninggi. “Kamu pikir kejujuran kamu itu nggak ada akibatnya? Ayahku punya riwayat jantung, Radit! Kamu tahu itu! Kamu sering datang ke rumah ini, dan kamu tahu kondisinya!”
Radit mengangkat bahu.
“Itu urusan keluarga kamu,” kata Radit tanpa ragu. “Aku nggak pernah minta ayah kamu untuk ikut campur.”
Kalimat itu menghantam Arsy lebih keras daripada apapun. Beberapa tetangga yang mendengar langsung terdiam. Ada yang menggeleng tak percaya. Ada yang berbisik geram.
“Radit! Kamu manusia atau bukan?!” teriak Arsy yang membuat Radit menatap Arsy dengan dingin.
“Arsy please, nggak usah drama seolah Lo yang paling tersakiti disini deh. Hubungan kita sudah selesai. Jangan tarik aku ke dalam urusan yang bukan jadi tanggung jawab aku.”
Arsy mendekat satu langkah. Matanya merah, wajahnya basah oleh air mata yang terus mengalir.
“Kalau ayahku kenapa-kenapa,” ucapnya pelan tapi penuh ancaman, “aku nggak akan pernah maafin kalian. Sampai kapan pun.”
Radit menatap Arsy beberapa detik. Lalu, tanpa ekspresi apa pun, ia mengalihkan pandangannya ke Nadira.
“Ayo Nadira, kita pergi dari sini sekarang.” katanya singkat.
Nadira terlihat ragu. Matanya sempat melirik ke arah Pak Rahman yang masih terbaring, lalu ke arah Arsy yang hancur. Namun keraguan itu hanya berlangsung sesaat. Radit mengulurkan tangannya. Dan Nadira menerimanya. Tangan mereka saling menggenggam. Pemandangan itu membuat dada Arsy terasa diremas lebih kuat. Air matanya jatuh tanpa bisa ia cegah.
“Pergi!!!” ucap Arsy lirih, suaranya pecah. “Pergi jauh jauh dari hidup aku.”
Radit tidak menjawab. Ia langsung menarik Nadira berjalan menjauh dari halaman rumah Arsy. Langkah mereka mantap, seolah tak ada apa pun yang perlu mereka sesali. Bisik-bisik tetangga semakin ramai. Namun hal itu sama sekali tidak mempengaruhi Radit maupun Nadira yang mantap meninggalkan Arsy dan juga kondisi yang dialaminya saat ini.
“Ya Allah, tega banget mereka...”
“Itu cewek sahabatnya sendiri, kan?”
“Kasihan Arsy…”
Nadira menunduk, tapi tetap berjalan mengikuti Radit. Ia tidak menoleh lagi. Tidak sekali pun. Dan malam itu, di bawah lampu teras yang redup, Arsy melihat dua orang yang paling ia percaya berjalan pergi, meninggalkannya dalam kehancuran yang bahkan belum sempat ia pahami sepenuhnya.
Suara sirene ambulans akhirnya terdengar dari kejauhan. Arsy tersentak. Ia langsung berbalik dan berlari kembali ke arah ayahnya.
“Ambulans! Ambulansnya datang!” teriak seseorang.
Mobil putih itu berhenti tepat di depan rumah Arsy. Dua orang petugas medis turun dengan cepat, membawa tandu dan peralatan darurat.
“Apa yang terjadi?” tanya salah satu petugas.
“Serangan jantung!” jawab tetangga yang lain.
“Tiba-tiba ambruk!”
Petugas medis segera memeriksa kondisi Pak Rahman. Salah satu dari mereka memasang alat di dada Pak Rahman, sementara yang lain mengecek denyut nadi dan tekanan darahnya. Arsy berdiri di samping mereka, tubuhnya gemetar.
“Pak… Ayah saya kenapa, Pak?” tanya Arsy dengan panik.
“Kami akan bawa beliau ke rumah sakit sekarang,” jawab petugas itu cepat tapi tenang. “Mohon beri kami jalan.”
Pak Rahman segera diangkat ke atas tandu yang membuat Arsy memegang tangan ayahnya dengan erat dan enggan untuk melepaskan.
“Saya ikut pak!” katanya cepat dan membuat petugas medis itu mengangguk. “Silakan.”
Tanpa berpikir panjang, Arsy naik ke dalam ambulans bersama ayahnya. Pintu belakang ditutup, dan sirene kembali meraung, memecah keheningan malam. Di dalam ambulans, cahaya lampu putih ambulans yang terang membuat wajah pak Rahman terlihat semakin pucat. Arsy duduk di samping tandu, menggenggam erat tangan ayahnya dengan kedua tangannya.
“Ayah…” suaranya bergetar. “Maafin Arsy, Ayah…” Air mata Arsy jatuh satu per satu ke punggung tangan ayahnya. “Kalau Arsy nggak keras kepala, kalau Arsy nggak maksa nikah, Ayah nggak akan lihat semua ini.” ia terisak. “Ayah jangan ninggalin Arsy, Arsy cuma punya Ayah.”
Petugas medis bekerja cepat. Ada yang memeriksa monitor, ada yang menyiapkan oksigen. Bunyi alat-alat medis terdengar bersahut-sahutan, menambah rasa takut di dada Arsy. Namun Pak Rahman tetap tidak sadarkan diri. Tangan ayahnya terasa dingin di genggamannya.
“Ayah, dengerin Arsy, ya…” Arsy mendekatkan wajahnya. “Ayah kuat. Ayah selalu kuat. Kali ini juga ayah harus kuat.”
Ambulans melaju kencang, lampu sirene memantul di dinding-dinding jalanan kota yang sepi. Arsy menatap wajah ayahnya tanpa berkedip, seolah takut jika ia mengalihkan pandangan sedetik saja, sesuatu yang buruk akan terjadi.
“Ayah… jangan tinggalin Arsy…” bisik Arsy berulang kali, seperti doa yang ia panjatkan dengan putus asa.
Namun tak ada jawaban. Dan di dalam ambulans yang melaju menuju rumah sakit itu, Arsy menyadari satu hal dengan menyakitkan, kalau malam ini ia bukan hanya kehilangan calon suami atau sahabatnya, tetapi juga hampir kehilangan seseorang yang menjadi dunianya.
Mobil ambulans seketika berhenti ketika mobil itu berhenti mendadak di depan pintu rumah sakit. Lampu-lampu rumah sakit yang terang menusuk mata Arsy yang sejak tadi hanya mengenal gelap dan ketakutan.
“Cepat bawa pasien ini ke IGD! Pasien mengalami serangan jantung!” teriak petugas medis yang suaranya menggema begitu pintu ambulans dibuka.
Arsy tersentak. Pegangannya pada tangan ayahnya semakin menguat, seolah takut jika lelaki itu akan menghilang begitu saja jika ia melepaskannya walau sedetik. Namun petugas bergerak cepat. Tandu diturunkan dan membuat roda-roda besinya berbunyi nyaring saat didorong masuk ke dalam lorong
IGD.
“Ayah… Ayah mau dibawa ke mana?” suara Arsy terdengar serak, nyaris tak terdengar.
“Kami akan membawa pak Rahman ke ruang IGD, Mbak,” jawab salah satu perawat sambil terus berjalan. “Mohon tenang, ya.”
Tenang.
Kata itu terasa seperti lelucon pahit di telinga Arsy. Ia berjalan cepat mengikuti tandu ayahnya dan hampir berlari. Tangannya tak pernah lepas dari pinggiran tandu, matanya tak pernah meninggalkan wajah Pak Rahman yang terbaring tak sadarkan diri dengan selang oksigen yang terpasang di hidungnya.
Lorong IGD terasa panjang. Bau antiseptik menusuk hidung. Suara langkah kaki, bunyi alat medis, dan teriakan petugas medis bersahut-sahutan, menambah rasa sesak di dada Arsy.
Begitu sampai di depan sebuah pintu dengan tulisan RUANG TINDAKAN – IGD, tandu Pak Rahman berhenti mendadak.
“Maaf, Mbak,” kata seorang perawat sambil menahan langkah Arsy. “Sampai di sini saja. Keluarga tidak diperbolehkan masuk.”
dpsng alat monitor jantung, aku yg bntu jaga di rs tiap mlm/Pray//Cry/
Lihat anakmu pak😭
Kami lah nyalahin si Radit