NovelToon NovelToon
Istri Dadakan Tuan Arrafiy

Istri Dadakan Tuan Arrafiy

Status: tamat
Genre:CEO / Cinta setelah menikah / Selingkuh / Pengkhianatan / Tamat
Popularitas:3.8M
Nilai: 4.9
Nama Author: Sylvia Rosyta

Karya ini telah terpilih sebagai pemenang YAAW 2026 periode 1 kategori 2 juara 3🥳 🎉 🎉

Arsy Raihana Syahira percaya hidupnya akan sempurna. Pernikahan yang tinggal menghitung hari mendadak batal, setelah ia memergoki calon suaminya sendiri berselingkuh dengan sahabat yang selama ini ia percayai dengan sepenuh hati.

Belum sempat Arsy bangkit dari keterpurukan, cobaan lain kembali menghantam. Ayahnya mengalami serangan jantung dan terbaring kritis setelah mengetahui pengkhianatan yang menimpa putri kesayangannya. Dalam satu waktu, Arsy kehilangan cinta, kepercayaan, dan hampir kehilangan orang yang paling ia cintai.

Di tengah kehancuran itu, datanglah Syakil Arrafiy—CEO sekaligus teman semasa sekolah, dan lelaki yang diam-diam telah mencintai Arsy sejak lama. Mendengar kabar tentang Arsy, Syakil datang ke rumah sakit tanpa ragu. Di hadapan ayah Arsy yang terbaring lemah, Syakil mengucapkan sebuah permohonan yang tak pernah Arsy bayangkan sebelumnya: melamar Arsy sebagai istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

“Kamu puas sekarang?” suara Arsy bergetar, tapi cukup keras untuk membuat Radit menoleh. “Kamu puas lihat ayahku kayak gini?!”

Radit menatap Arsy sekilas. Tatapannya kosong. Tidak ada penyesalan. Tidak ada rasa bersalah.

“Arsy, jangan mulai lagi deh,” katanya datar.

“Jangan mulai?” Arsy tertawa kecil, tapi tawanya terdengar patah. “Ayahku jatuh pingsan di depan mata kamu, Radit! Itu semua karena kamu! Karena ucapan kamu!”

Radit menghela napas, seperti sedang menghadapi drama yang melelahkan.

“Itu bukan salah aku,” jawab Radit santai. “Aku cuma berkata jujur kepada ayah kamu.”

Arsy mengepalkan tangannya. Kukunya menancap di telapak tangan sendiri.

“Jujur?” suaranya meninggi. “Kamu pikir kejujuran kamu itu nggak ada akibatnya? Ayahku punya riwayat jantung, Radit! Kamu tahu itu! Kamu sering datang ke rumah ini, dan kamu tahu kondisinya!”

Radit mengangkat bahu.

“Itu urusan keluarga kamu,” kata Radit tanpa ragu. “Aku nggak pernah minta ayah kamu untuk ikut campur.”

Kalimat itu menghantam Arsy lebih keras daripada apapun. Beberapa tetangga yang mendengar langsung terdiam. Ada yang menggeleng tak percaya. Ada yang berbisik geram.

“Radit! Kamu manusia atau bukan?!” teriak Arsy yang membuat Radit menatap Arsy dengan dingin.

“Arsy please, nggak usah drama seolah Lo yang paling tersakiti disini deh. Hubungan kita sudah selesai. Jangan tarik aku ke dalam urusan yang bukan jadi tanggung jawab aku.”

Arsy mendekat satu langkah. Matanya merah, wajahnya basah oleh air mata yang terus mengalir.

“Kalau ayahku kenapa-kenapa,” ucapnya pelan tapi penuh ancaman, “aku nggak akan pernah maafin kalian. Sampai kapan pun.”

Radit menatap Arsy beberapa detik. Lalu, tanpa ekspresi apa pun, ia mengalihkan pandangannya ke Nadira.

“Ayo Nadira, kita pergi dari sini sekarang.” katanya singkat.

Nadira terlihat ragu. Matanya sempat melirik ke arah Pak Rahman yang masih terbaring, lalu ke arah Arsy yang hancur. Namun keraguan itu hanya berlangsung sesaat. Radit mengulurkan tangannya. Dan Nadira menerimanya. Tangan mereka saling menggenggam. Pemandangan itu membuat dada Arsy terasa diremas lebih kuat. Air matanya jatuh tanpa bisa ia cegah.

“Pergi!!!” ucap Arsy lirih, suaranya pecah. “Pergi jauh jauh dari hidup aku.”

Radit tidak menjawab. Ia langsung menarik Nadira berjalan menjauh dari halaman rumah Arsy. Langkah mereka mantap, seolah tak ada apa pun yang perlu mereka sesali. Bisik-bisik tetangga semakin ramai. Namun hal itu sama sekali tidak mempengaruhi Radit maupun Nadira yang mantap meninggalkan Arsy dan juga kondisi yang dialaminya saat ini.

“Ya Allah, tega banget mereka...”

“Itu cewek sahabatnya sendiri, kan?”

“Kasihan Arsy…”

Nadira menunduk, tapi tetap berjalan mengikuti Radit. Ia tidak menoleh lagi. Tidak sekali pun. Dan malam itu, di bawah lampu teras yang redup, Arsy melihat dua orang yang paling ia percaya berjalan pergi, meninggalkannya dalam kehancuran yang bahkan belum sempat ia pahami sepenuhnya.

Suara sirene ambulans akhirnya terdengar dari kejauhan. Arsy tersentak. Ia langsung berbalik dan berlari kembali ke arah ayahnya.

“Ambulans! Ambulansnya datang!” teriak seseorang.

Mobil putih itu berhenti tepat di depan rumah Arsy. Dua orang petugas medis turun dengan cepat, membawa tandu dan peralatan darurat.

“Apa yang terjadi?” tanya salah satu petugas.

“Serangan jantung!” jawab tetangga yang lain.

“Tiba-tiba ambruk!”

Petugas medis segera memeriksa kondisi Pak Rahman. Salah satu dari mereka memasang alat di dada Pak Rahman, sementara yang lain mengecek denyut nadi dan tekanan darahnya. Arsy berdiri di samping mereka, tubuhnya gemetar.

“Pak… Ayah saya kenapa, Pak?” tanya Arsy dengan panik.

“Kami akan bawa beliau ke rumah sakit sekarang,” jawab petugas itu cepat tapi tenang. “Mohon beri kami jalan.”

Pak Rahman segera diangkat ke atas tandu yang membuat Arsy memegang tangan ayahnya dengan erat dan enggan untuk melepaskan.

“Saya ikut pak!” katanya cepat dan membuat petugas medis itu mengangguk. “Silakan.”

Tanpa berpikir panjang, Arsy naik ke dalam ambulans bersama ayahnya. Pintu belakang ditutup, dan sirene kembali meraung, memecah keheningan malam. Di dalam ambulans, cahaya lampu putih ambulans yang terang membuat wajah pak Rahman terlihat semakin pucat. Arsy duduk di samping tandu, menggenggam erat tangan ayahnya dengan kedua tangannya.

“Ayah…” suaranya bergetar. “Maafin Arsy, Ayah…” Air mata Arsy jatuh satu per satu ke punggung tangan ayahnya. “Kalau Arsy nggak keras kepala, kalau Arsy nggak maksa nikah, Ayah nggak akan lihat semua ini.” ia terisak. “Ayah jangan ninggalin Arsy, Arsy cuma punya Ayah.”

Petugas medis bekerja cepat. Ada yang memeriksa monitor, ada yang menyiapkan oksigen. Bunyi alat-alat medis terdengar bersahut-sahutan, menambah rasa takut di dada Arsy. Namun Pak Rahman tetap tidak sadarkan diri. Tangan ayahnya terasa dingin di genggamannya.

“Ayah, dengerin Arsy, ya…” Arsy mendekatkan wajahnya. “Ayah kuat. Ayah selalu kuat. Kali ini juga ayah harus kuat.”

Ambulans melaju kencang, lampu sirene memantul di dinding-dinding jalanan kota yang sepi. Arsy menatap wajah ayahnya tanpa berkedip, seolah takut jika ia mengalihkan pandangan sedetik saja, sesuatu yang buruk akan terjadi.

“Ayah… jangan tinggalin Arsy…” bisik Arsy berulang kali, seperti doa yang ia panjatkan dengan putus asa.

Namun tak ada jawaban. Dan di dalam ambulans yang melaju menuju rumah sakit itu, Arsy menyadari satu hal dengan menyakitkan, kalau malam ini ia bukan hanya kehilangan calon suami atau sahabatnya, tetapi juga hampir kehilangan seseorang yang menjadi dunianya.

Mobil ambulans seketika berhenti ketika mobil itu berhenti mendadak di depan pintu rumah sakit. Lampu-lampu rumah sakit yang terang menusuk mata Arsy yang sejak tadi hanya mengenal gelap dan ketakutan.

“Cepat bawa pasien ini ke IGD! Pasien mengalami serangan jantung!” teriak petugas medis yang suaranya menggema begitu pintu ambulans dibuka.

Arsy tersentak. Pegangannya pada tangan ayahnya semakin menguat, seolah takut jika lelaki itu akan menghilang begitu saja jika ia melepaskannya walau sedetik. Namun petugas bergerak cepat. Tandu diturunkan dan membuat roda-roda besinya berbunyi nyaring saat didorong masuk ke dalam lorong

IGD.

“Ayah… Ayah mau dibawa ke mana?” suara Arsy terdengar serak, nyaris tak terdengar.

“Kami akan membawa pak Rahman ke ruang IGD, Mbak,” jawab salah satu perawat sambil terus berjalan. “Mohon tenang, ya.”

Tenang.

Kata itu terasa seperti lelucon pahit di telinga Arsy. Ia berjalan cepat mengikuti tandu ayahnya dan hampir berlari. Tangannya tak pernah lepas dari pinggiran tandu, matanya tak pernah meninggalkan wajah Pak Rahman yang terbaring tak sadarkan diri dengan selang oksigen yang terpasang di hidungnya.

Lorong IGD terasa panjang. Bau antiseptik menusuk hidung. Suara langkah kaki, bunyi alat medis, dan teriakan petugas medis bersahut-sahutan, menambah rasa sesak di dada Arsy.

Begitu sampai di depan sebuah pintu dengan tulisan RUANG TINDAKAN – IGD, tandu Pak Rahman berhenti mendadak.

“Maaf, Mbak,” kata seorang perawat sambil menahan langkah Arsy. “Sampai di sini saja. Keluarga tidak diperbolehkan masuk.”

1
Ima Kristina
Mending Arsy mulai belajar menjadi istri yang tangguh pantas mendampingi Syakil
Nurma Sadiah
😍😍
Ima Kristina
Wah Syakil kejar setoran tuh
Ima Kristina
Beruntung sekali Arsy dicintai begitu dalam pria seperti Syakil
Ima Kristina
Masyaallah seandainya semua suami di dunia co cweet kayak Syakil pasti rumah tangga aman sentosa 😄😄
Ima Kristina
Bukannya Syakil sudah ijab qobul di RS waktu itu kok ijab lagi ...kirain cuman pesta resepsi saja
Ima Kristina
hadeh Syakil dan Arsy bikin baper saja
Ima Kristina
siap siap hareudang hareudang
Ima Kristina
papa gimana sih gak paham kode dari mama
Ima Kristina
Dapat dari mana ibu mertua sebaik itu
Ima Kristina
Semuga Arsy segera Hamidun biar bisa membuat keluarga Syakil makin sayank
Ima Kristina
Bentar lagi ulat bulu muncul nich
Ima Kristina
Masyaallah beruntung sekali Arsy bisa masuk dalam keluarga Syakil yang penuh kehangatan
Ima Kristina
Aku ikut deg deg ser kayak Arsy
Ima Kristina
Kebaikan apa yang dilakukan Arsy sehingga mendapatkan suami yang begitu mencintainya,baik , bertanggung jawab, dan pasti tajir melintir
Inooy
pantas aj dapat lomba YAAW 2026,,cerita nya bagus bangeeett walaupun ada yg mengatakan cerita nya cuma satu arah dn terlalu sempurna..mungkin karena g ada pembalasan dendam ato pun tentang pelakor2an,,tp aq suka karena d sini inti nya tentang cinta sejati, tentang penerimaan yg tulus, tentang keikhlasan, tentang cinta dlm diam tanpa harus memaksakan, tentang melindungi walaupun g ada balas dendam...
pokok nya aq suka bangeet selain itu ka othor nya ramah pake buangeeet 👍👍🥰❤️
makasih y ka Sylvi cerita nya, aq suka ❤️❤️❤️❤️
Inooy: sama sama ka Sylvi..
total 4 replies
Ima Kristina
penasaran lanjut kakaaa
Ima Kristina
Aku jadi kepikiran keluarga Syakil bisa menerima Arsy yang sederhana menjadi menantu gak ya
Ima Kristina
Masyaallah cinta tulus Syakil untuk Arsy luar biasa...co cweet banget sich....
Ima Kristina
Bagi Arsy seperti mimpi menjadi istri seorang konglomerat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!