NovelToon NovelToon
Sekretaris Bar-Bar Pak Bian

Sekretaris Bar-Bar Pak Bian

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Sekretaris
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

" Tinggalkan saja pacarmu itu. Tampangnya saja seperti tukang galon"

"OHH tidak boleh menghina manusia begitu pak. Biar seperti tukang galon, tapi cinta saya melebihi samudra"

"Halah paling juga nanti kamu nyesal"

Haruna Kojima gadis keturunan Jepang yang biasa di panggil Nana. Setiap hari harus mendengarkan mulut judes bos nya. Siap lagi kalo bukan Abian Pangestu, pria bermulut pedas tidak pandang bulu laki-laki maupun perempuan dimatanya sama. Tapi untungnya Nana punya kesabaran setebal skripsi anak teknik. Jadi ucapan judes sang bos hanya seliweran angin lewat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rapat Dengan Tuan Chen

Mobil berhenti di depan sebuah resort mewah yang langsung menghadap ke birunya Samudra Hindia. Setelah proses check-in yang cepat, Nana hampir tidak percaya saat melihat kamarnya. Luas, beraroma melati, dan memiliki balkon pribadi yang menyuguhkan pemandangan pantai Bali.

Begitu pintu tertutup, Nana langsung melemparkan tasnya ke sembarang arah.

"Ahhh... Akhirnya!" seru Nana. Ia menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang king size yang sangat empuk dengan sprei putih bersih yang terasa dingin di kulit.

"Nyamannyaaa... Ini baru namanya keadilan sosial bagi seluruh asisten!"

Nana berguling-guling dari ujung kanan ke ujung kiri kasur, menikmati empuknya bantal bulu angsa yang jauh berbeda dengan bantal tipis di kosannya. Rasa lelah akibat terbang di baris paling belakang pesawat seketika menguap, berganti dengan rasa kantuk yang luar biasa nyaman. Tanpa sadar, Nana terlelap begitu saja dalam hitungan menit.

Satu jam kemudian, cahaya matahari yang mulai berubah menjadi oranye keemasan menembus celah gorden, menggelitik kelopak mata Nana. Ia mengerjap, perlahan bangun sambil merenggangkan tubuhnya yang terasa jauh lebih segar.

"Wah, sudah sore!" gumamnya melihat jam.

Nana segera beranjak ke kamar mandi. Ia memanjakan diri di bawah guyuran shower air hangat yang melimpah. Setelah merasa bersih dan wangi, ia memilih pakaian yang santai namun tetap nyaman untuk cuaca Bali yang gerah.

Nana mengenakan sebuah kaos slim fit berwarna putih yang mengikuti lekuk tubuhnya dengan sempurna, dipadukan dengan celana pendek kain berwarna cokelat muda. Ia membiarkan rambutnya yang masih sedikit basah terurai begitu saja, memberikan kesan segar sekaligus santai.

Baru saja ia hendak mengambil ponselnya di atas nakas, terdengar suara ketukan di pintu yang memisahkan kamarnya dengan kamar Abian pintu connecting door yang ternyata tidak terkunci rapat.

"Haruna? Kamu sudah bangun?" suara berat Abian terdengar dari balik pintu.

Nana mematung. Ia lupa kalau bosnya itu adalah tetangga sebelahnya yang bisa muncul kapan saja.

Nana melangkah menuju pintu penghubung dan membukanya dengan santai. "Ada apa, Pak?" tanya Nana sambil menyeka sisa air di lehernya dengan handuk kecil.

Begitu pintu terbuka, Abian yang sudah berdiri di sana langsung terdiam. Matanya tanpa sadar turun, memperhatikan kaos slim fit putih yang melekat sempurna di tubuh Nana, menonjolkan lekuk gitar Spanyol yang selama ini selalu ia bahas dalam hati. Belum lagi celana pendek yang memperlihatkan kaki jenjang asistennya itu.

Pikiran Abian mendadak kacau. "Sial, kenapa dia harus terlihat seperti itu di luar jam kantor?" batinnya.

Abian berdehem keras, berusaha membuang bayangan nakal yang baru saja melintas di kepalanya. Ia membuang muka ke arah lain, berpura-pura menatap pemandangan di luar jendela balkon.

"Ehem! Baru bangun tidur sudah bergaya seperti itu," ucap Abian dengan nada judes andalannya untuk menutupi kegugupan.

Nana mengernyitkan dahi. "Lho, kan saya sedang istirahat, Pak. Masa di kamar hotel harus pakai blazer?"

Abian kembali menatap Nana dengan tatapan datar, meskipun jantungnya masih sedikit tidak keruan. "Segera siapkan dokumen. Kita akan pergi rapat jam tujuh malam ini dengan klien dari Singapura, sekalian makan malam formal di restoran hotel bawah."

"Jam tujuh? Baik, Pak," jawab Nana sigap.

Abian sudah berbalik hendak kembali ke kamarnya, namun ia berhenti sejenak dan menoleh lagi. Matanya menatap tajam kaos ketat yang dipakai Nana.

"Oh, ya, satu lagi," ucap Abian dengan nada memerintah.

"Jangan memakai pakaian sejuta umat itu."

Nana menunduk melihat kaos putihnya. "Maksud Bapak kaos ini? Kenapa? Ini nyaman kok."

"Terlalu ketat. Membuat mata orang sakit melihatnya," dusta Abian,

Pakai pakaian yang lebih sopan dan tertutup. Kita akan bertemu klien penting. Mengerti?"

Nana memutar bola matanya. "Iya, Pak Bos. Saya pakai baju yang tertutup rapat sampai leher kalau perlu. Puas. Lagi pula ini saya pakai buat tidur?"

"Bagus," sahut Abian singkat sebelum menutup pintu penghubung dengan suara klik.

Di balik pintu, Abian bersandar sambil mengembuskan napas panjang. Ia meraba dadanya yang berdegup kencang. "Gila. Kalau dia terus-terusan pakai baju seperti itu, bisa-bisa stok tisuku habis lagi di Bali ini," umpatnya pada diri sendiri.

Tepat pukul tujuh malam, suasana restoran fine dining di hotel tersebut terasa sangat elegan dengan deburan ombak. Nana mengenakan midi dress berwarna hitam yang tertutup hingga tulang selangka, namun tetap saja potongan gaun itu tidak bisa menyembunyikan siluet tubuhnya yang proporsional.

Abian sudah duduk di sana, tampak sangat berwibawa dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Di hadapan mereka, duduk Tuan Chen, seorang investor properti bertangan dingin dari Singapura.

"Jadi, Tuan Abian," Tuan Chen membuka suara sambil memotong steaknya.

"Kenapa saya harus memberikan izin akuisisi resort ini kepada perusahaan Anda? Ada tiga perusahaan lain yang menawarkan angka lebih tinggi."

Abian menyesap minumnya tenang. Ia memberikan kode mata pada Nana.

Nana dengan sigap membuka tabletnya dan memutar presentasi singkat. "Izin saya menjelaskan, Tuan Chen. Perusahaan kami tidak hanya menawarkan angka, tapi keberlanjutan. Dalam dokumen poin 4.2 yang saya siapkan di depan Anda, kami menyertakan rencana pengembangan ekowisata yang akan menaikkan nilai tanah di sekitar resort ini hingga 40% dalam dua tahun."

Tuan Chen menaikkan alisnya, tampak tertarik.

"Siapa yang mengerjakannya?"

"Asisten saya, Haruna," jawab Abian singkat,

Rapat berlanjut dengan diskusi, Nana dengan lincah menjawab pertanyaan-pertanyaan sulit dari asisten Tuan Chen mengenai proyeksi laba rugi. Abian sesekali menimpali dengan argumen-argumen strategis yang mematikan lawan bicara.

Tuan Chen tiba-tiba tersenyum dan menatap Nana dengan intens.

"Nona Haruna, selain pintar, Anda juga sangat menarik. Jarang saya melihat asisten sehebat Anda tetap terlihat segar setelah penerbangan jauh," puji Tuan Chen. "Bagaimana kalau setelah ini kita minum di bar lantai atas? Hanya untuk merayakan kesepakatan kecil kita?"

Nana tersenyum profesional, namun merasa tidak nyaman. "Terima kasih atas tawarannya, Tuan Chen, tapi..."

"Maaf, Tuan Chen," potong Abian tiba-tiba.

"Asisten saya memiliki jadwal yang sangat padat. Setelah ini, dia harus merapikan notulensi rapat dan menyiapkan berkas untuk besok pagi. Dia tidak punya waktu untuk... minum-minum santai. Lagi pula kami tidak bisa minum-minum"

Tuan Chen tertawa canggung. "Ah, Tuan Abian sangat protektif terhadap aset perusahaannya, ya?"

"Dia bukan sekadar aset," jawab Abian sambil menatap Nana sekilas, lalu kembali menatap Tuan Chen dengan mata elangnya.

"Dia adalah tangan kanan saya. Dan saya tidak suka tangan kanan saya kelelahan karena urusan di luar pekerjaan."

Nana tertegun mendengarnya. Di satu sisi ia bersyukur Abian melindunginya, di sisi lain ia merasa Abian sedang menandai wilayahnya.

Setelah dua jam penuh ketegangan, Tuan Chen akhirnya menjabat tangan Abian. "Baiklah. Penjelasan asisten Anda meyakinkan saya. Kirimkan draf finalnya besok pagi ke email saya."

Begitu Tuan Chen pergi, Nana mengembuskan napas lega dan langsung menyandarkan punggungnya ke kursi. "Huft... selesai juga. Bapak tadi galak sekali sama Tuan Chen."

Abian menutup laptopnya dengan kasar. "Dia terlalu banyak bicara hal yang tidak penting. Sekarang kembali ke kamar, kerjakan notulensinya, dan kirim ke saya sebelum jam dua belas malam."

Nana mengerucutkan bibirnya. "Tadi katanya saya harus istirahat dan jangan kelelahan, sekarang malah dikasih tenggat waktu jam dua belas. Bapak labil ya?"

Abian berdiri, merapikan jasnya. "Itu tadi hanya alasan agar dia tidak membawamu pergi. Sekarang cepat jalan, atau saya tambah tugasmu."

Nana berjalan di belakang Abian menuju lift, memperhatikan punggung lebar bosnya. "Dasar gengsian. Bilang saja tidak rela aku pergi sama pria lain," batin Nana sambil tersenyum tipis.

1
Mundri Astuti
yeee masa bos besar ga bisa cari tau, anak buahnya kemana
partini
aduh kerja Ampe lupa ibu,,itu ga baik tapi udah ga ada mau gimana lagi so sad ini
Asyatun 1
lanjut
Mundri Astuti
lah si Abi gengsi di gedein, suka bilang aja, digaet yg lain baru tau nanti
Fbian Danish
up LG Thor....💪
Asyatun 1
lanjut
partini
cemburu dah
Asyatun 1
lanjut
partini
wah ternyata gang jobles jomblo ngenes 🤣🤣,,
ig: denaa_127
Covernya ngga sesuai ih🤣
Asyatun 1
lanjut
partini
siapa itu ,,semoga temen nya pak Bian biar ga sengaja ketemu di kantor
Nina Malik
seru banget sih bahasa nya lucu,tidak membosankan dan bikin gereget🥰🥰🥰
Asyatun 1
lanjut
partini
good story
partini
darting Mulu masa,,
Nana ga ada teman laki Thor kayanya asik deh kalau satu tempat kerja ketemu teman lama
Ani
gede gengsi
Fbian Danish
lanjut kak author.. ceritanya bagus,seru... lucu.❤️❤️❤️❤️
partini
KA Bali pakai paspor
𝐈𝐬𝐭𝐲
bos lucnut EMG bian ya, kasihan itu Nana suruh duduk di paling belakang 😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!