Pernikahan kontrak atau karena tekanan keluarga. Mereka tinggal serumah tapi seperti orang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Pertemuan di Balik Kabut
Pagi itu, fajar menyingsing tanpa permisi, seolah tidak peduli bahwa duniaku baru saja lumat. Sinar matahari menerobos masuk dengan lancang lewat celah gorden hotel yang kusam, menyengat mataku yang masih perih dan bengkak. Aku terjaga dengan rasa mual yang melilit, bukan karena gangguan fisik, melainkan akibat bayangan pesan dari Clara yang terus berputar di kepala seperti kaset rusak yang tak mau berhenti. Aku tidak sanggup hanya berdiam diri di kamar pengap ini. Aku harus tahu, sedalam apa Mas Fikar telah menyeretku ke dalam pengkhianatan ini.
Aku sempat menyalakan ponsel sejenak, sekadar memeriksa tumpukan notifikasi yang masuk. Sebuah pesan dari informan yang dulu membantuku melacak masa lalu Mas Fikar memberikan informasi krusial. Mas Fikar terlihat menuju sebuah kafe tertutup di kawasan Jakarta Selatan, tipe tempat yang biasa dipakai para pengusaha untuk pertemuan rahasia yang jauh dari radar publik.
Tanpa pikir panjang, aku mulai bersiap. Kukenakan kacamata hitam besar untuk menyembunyikan wajahku yang sembap dan melilitkan syal demi menyamarkan identitas. Aku perlu melihat semuanya dengan mata kepalaku sendiri, meski aku tahu, ini mungkin akan menjadi nisan bagi sisa-sisa harapanku yang paling kecil sekalipun.
Begitu sampai di kafe itu, detak jantungku memburu hebat, berdegup kencang hingga suaranya terasa memekakkan telinga sendiri. Di sudut ruangan yang remang, aku menemukannya. Pria yang semalam bersimpuh di kakiku sambil memohon ampun, kini duduk tenang berhadapan dengan wanita yang menjadi sumber segala mimpi burukku, Clara.
Clara terlihat berbeda. Tidak ada lagi pakaian seksi yang biasanya ia gunakan untuk memprovokasi. Ia hanya mengenakan terusan longgar, namun saat ia sedikit bergeser, aku melihat perutnya yang mulai membuncit. Detik itu juga, dadaku seperti dihantam bongkahan batu besar. Oksigen di sekitarku mendadak habis. Jadi, itu nyata. Dia benar-benar sedang mengandung.
Aku bersembunyi di balik pilar besar, posisi yang cukup dekat untuk mengamati gerak-gerik mereka tapi tetap aman agar tidak tertangkap basah. Mas Fikar tampak sangat gelisah, berkali-kali ia mengusap wajahnya dengan kasar. Sementara itu, Clara bicara dengan nada yang tenang namun terasa sangat tajam. Dari gerak bibirnya, aku bisa merasakan ada tuntutan besar yang sedang dilemparkan di meja itu.
Lalu, sebuah pemandangan membuat seluruh persendianku mendadak lemas. Mas Fikar mengeluarkan map cokelat dan sebuah buku cek. Ia menuliskan sesuatu di sana dengan tergesa, lalu menggesernya ke arah Clara. Wanita itu menyunggingkan senyum puas, sebuah senyuman kemenangan yang seolah menegaskan bahwa dialah yang kini memegang kendali atas segalanya.
Air mataku jatuh lagi, membasahi masker yang kupakai hingga terasa lembap dan menyesakkan. Jadi, beginikah cara Mas Fikar menyelesaikannya? Dengan lembaran uang? Apakah itu uang tutup mulut agar rahasia ini tetap terkubur dariku? Ataukah itu uang tunjangan untuk anak yang kini tumbuh di rahim Clara? Apapun alasannya, tindakan Mas Fikar adalah bukti nyata bahwa ada kesalahan fatal yang memang harus ia bayar.
Ada dorongan kuat untuk lari ke sana, menyiram wajahnya dengan air, dan meneriakkan semua rasa sakit yang menyumbat dadaku. Namun, kakiku seperti dipaku ke lantai. Aku merasa begitu kecil dan tidak berarti. Aku merasa seperti barang yang sedang dinegosiasikan harganya. Di satu sisi ada aku, istri sah yang terikat lewat kertas kontrak, dan di sisi lain ada Clara, wanita yang membawa darah daging yang selama ini tak sanggup kuberikan.
Mas Fikar kemudian meraih tangan Clara sejenak. Hanya sebentar, tapi bagiku momen itu terasa seperti keabadian yang menyiksa. Apa yang dia bisikkan? Apakah dia menjanjikan masa depan untuk janin itu? Ataukah dia memohon agar Clara tidak menghancurkan sisa pernikahannya? Apapun itu, melihat tangan suamiku menyentuh wanita lain setelah semua janji suci yang ia ucapkan semalam adalah sebuah penghinaan yang tidak termaafkan.
Aku memutar tubuh, tidak kuat lagi menonton lebih lama. Aku keluar dari kafe itu dengan langkah seribu, mengabaikan rasa pening yang mulai menghantam kepalaku. Aku berlari menuju parkiran dan masuk ke dalam taksi dengan napas yang tersengal-sengal. Di dalam mobil yang melaju, aku meraung tanpa suara, membekap mulutku dengan tangan agar sopir taksi tidak mendengar kehancuranku.
Sakitnya luar biasa, melampaui rasa cemburu biasa. Ini adalah pengkhianatan total. Mas Fikar tidak hanya membohongi aku soal masa lalunya, tapi dia sedang aktif menjalin kesepakatan di belakang punggungku, saat bibirnya bahkan masih terasa hangat menyebut namaku dengan nada cinta.
"Kita ke mana, Mbak?" tanya sopir taksi dengan nada cemas melihat bahuku yang berguncang hebat.
"Ke mana saja. Tolong, bawa aku jauh-jauh dari tempat ini," jawabku parau.
Aku menatap kosong ke luar jendela, melihat deretan gedung tinggi Jakarta yang tampak seperti monster beton yang siap menelanku hidup-hidup. Aku baru menyadari bahwa istana cinta yang baru saja kami susun ternyata hanyalah sebuah rumah kaca yang rapuh. Satu lemparan kenyataan dari Clara sudah cukup untuk membuatnya hancur menjadi kepingan tajam yang kini menusuk tepat di jantungku.
Kini aku sadar, keputusanku untuk pergi semalam adalah langkah yang benar. Mas Fikar tidak layak mendapatkan kesetiaanku. Dia masih berkubang di lumpur masa lalunya, dan aku tidak sudi ikut tenggelam bersamanya. Jika dia ingin bertanggung jawab atas anak itu, silakan saja. Tapi dia tidak bisa memiliki aku sekaligus. Aku bukan pilihan kedua, dan aku bukan cadangan yang bisa ia simpan sambil ia sibuk membereskan kekacauan hidupnya yang lain.
Hari ini, di balik kabut polusi Jakarta dan kabut air mata yang mengaburkan pandangan, aku memantapkan satu hal. Pernikahan ini benar-benar telah mati. Bukan karena durasi kontraknya telah usai, melainkan karena kejujurannya telah lenyap tak bersisa.
aku kok bingung bacanya...
ntar giliran kewajiban nuntut, tp hak sbagai suami ga d jalankan.
ku doain semoga arini ketemu laki laki lain yang memperlakukan dia dgn baik, biar aris ini menyesal seumur hidup
Sedih
Tapi maaf sebelum nya, apa narasi nya ke copy dua kali🙏🙏 Soal nya ada bagian yg sama pas ngebahas perjanjian pernikahan mereka.