Lin Xiao, seorang Supreme Alchemist dan petarung tingkat Dewa di "Alam Kayangan", dikhianati oleh kekasih dan sahabatnya demi merebut "Kitab Keabadian". Ia meledakkan jiwanya sendiri, tetapi bukannya musnah, ia bereinkarnasi 500 tahun kemudian ke tubuh seorang tuan muda yang dianggap sampah di sebuah kota kecil di Benua Bawah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Semakin dalam Lin Xiao melangkah ke jantung Hutan Kabut Hitam, semakin pekat kabut yang menyelimuti pandangannya. Di sini, cahaya matahari hampir tidak bisa menembus kanopi pohon raksasa yang berusia ratusan tahun. Udara berbau belerang dan pembusukan.
Ini adalah zona kematian. Wilayah Binatang Iblis Tingkat 2 Puncak dan Tingkat 3. Bahkan para tetua keluarga besar pun enggan menginjakkan kaki di sini sendirian.
Namun, mata Lin Xiao justru berbinar. Indra spiritualnya, yang jauh lebih peka dari kultivator biasa, menangkap fluktuasi energi panas yang kuat dari balik tebing batu di depannya.
"Energi Yang murni... sangat padat," bisik Lin Xiao. Dia menjilat bibirnya yang kering. "Pasti ada tanaman spiritual tingkat tinggi di sana."
Dia memanjat tebing batu licin itu dengan gesit seperti cecak. Saat mencapai puncak tebing dan melihat ke bawah, pemandangan di lembah tersembunyi itu membuatnya menahan napas.
Di tengah lembah yang suram, terdapat sebuah kolam alami berukuran kecil. Airnya tidak bening, melainkan berwarna merah keruh dan mendidih, mengeluarkan uap panas.
Tepat di tengah kolam itu, tumbuh setangkai bunga teratai yang kelopaknya menyala merah seperti api yang dipadatkan.
"Teratai Jantung Api (Fire Heart Lotus)!" seru Lin Xiao dalam hati.
Ini adalah harta karun! Tanaman spiritual Tingkat 3 Menengah. Bagi kultivator elemen api, ini benda suci. Bagi Lin Xiao yang mempraktikkan Teknik Naga Surga Purba, yang membutuhkan energi Yang ekstrem untuk menempa tubuh, ini adalah jalan pintas menuju surga.
Satu kelopak saja setara dengan kultivasi tiga bulan. Dan bunga itu memiliki sembilan kelopak mekar sempurna.
"Jika aku memakan itu, menerobos ke Tingkat 5 bukan lagi mimpi," kalkulasi Lin Xiao.
Namun, dia tidak gegabah. Tanaman tingkat tinggi selalu memiliki penjaga.
Lin Xiao mengamati kolam itu dengan seksama. Permukaan air yang mendidih tiba-tiba bergejolak. Sebuah kepala raksasa berbentuk segitiga perlahan muncul dari dalam air panas.
Itu adalah ular. Bukan ular biasa.
Tubuhnya setebal tong kayu, panjangnya diperkirakan mencapai lima belas meter. Sisiknya bukan kulit, melainkan lapisan metalik berwarna hitam kelam yang berkilauan seperti baju zirah besi. Matanya kuning vertikal, menatap dunia dengan aura pembunuh yang dingin.
Piton Sisik Besi (Iron-Scaled Python). Binatang Iblis Tingkat 2 Puncak (Setara dengan Qi Gathering Tingkat 9).
"Sial," umpat Lin Xiao pelan. "Hampir masuk ke Tingkat 3 (Ranah Golden Core). Kulitnya sekeras baja murni. Pedang biasa tidak akan bisa menggoresnya."
Perbedaan kekuatan sangat jomplang. Lin Xiao di Tingkat 3 Awal melawan monster setara Tingkat 9. Ini seperti bayi melawan raksasa berbaju besi.
Tapi Lin Xiao tidak mundur. Dia menyentuh gagang pedang hitam Xuan di punggungnya.
"Risiko tinggi, hasil tinggi. Maaf Ular Kecil, teratai itu milikku."
Lin Xiao mengambil sebuah batu sebesar kepalan tangan, lalu melemparkannya sekuat tenaga ke arah sisi lain lembah untuk membuat pengalihan.
Tuk! Krosak!
Suara batu menabrak semak terdengar.
Kepala Piton Sisik Besi langsung menoleh cepat ke arah suara. Lidah bercabangnya menjulur, mendeteksi getaran.
Sekarang!
Lin Xiao melesat turun dari tebing seperti elang menyambar mangsa. Targetnya bukan ular itu, melainkan bunga teratai di tengah kolam.
Kecepatannya maksimal. Langkah Kilatan Hantu!
Dia mendarat ringan di atas batu pijakan di tengah kolam, tangannya terulur hendak mencabut teratai itu.
Namun, reaksi Piton Sisik Besi jauh lebih cepat dari dugaan. Ekornya yang tersembunyi di dalam air tiba-tiba meledak keluar, menyapu ke arah Lin Xiao seperti cambuk raksasa.
BUM!
Lin Xiao merasakan bahaya. Dia membatalkan niat mengambil bunga, menarik pedang Xuan secepat kilat, dan menggunakannya sebagai tameng di depan dada.
CLANG!
Ekor baja itu menghantam pedang Xuan.
Rasanya seperti ditabrak kereta kuda yang melaju kencang. Lin Xiao terlempar mundur, kakinya berselancar di atas air panas sebelum dia menjejakkan kaki ke tanah di pinggir kolam.
"Ugh..." Lin Xiao merasakan darah manis di tenggorokannya. Hantaman itu mengguncang organ dalamnya. "Kekuatan fisiknya mengerikan."
Piton itu kini sepenuhnya keluar dari air. Tubuhnya yang panjang melingkar, mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, menatap pencuri kecil yang berani mengganggu hartanya.
HISSS!
Piton itu membuka mulutnya lebar-lebar, menyemburkan kabut hijau beracun ke arah Lin Xiao.
"Racun korosif!"
Lin Xiao menahan napas, melompat mundur zig-zag menghindari awan racun. Tempat di mana kabut itu mendarat, tanah dan bebatuan langsung mendesis dan meleleh menjadi cairan hitam.
"Aku tidak bisa bertarung jarak jauh. Racunnya merepotkan," analisis Lin Xiao cepat. "Satu-satunya cara adalah pertarungan jarak dekat. Hancurkan titik lemahnya."
Titik lemah ular ada di "tujuh inci" (jantung), tapi sisik piton ini terlalu keras.
"Kalau begitu, hancurkan dari dalam."
Mata Lin Xiao berkilat gila. Dia melakukan hal yang tidak terduga. Alih-alih lari, dia berlari menuju ular itu.
Piton itu tampak marah melihat mangsanya mendekat. Ia meluncur maju, mulutnya terbuka siap menelan Lin Xiao bulat-bulat.
"Ayo sini, cacing besar!" teriak Lin Xiao.