NovelToon NovelToon
Pengantin Genderuwo

Pengantin Genderuwo

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Dunia Lain / Suami Hantu
Popularitas:13.6k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

Mirasih gadis yatim piatu yang di tinggal orang tuanya karena kecelakaan, di adopsi Pamannya.Tapi di balik kebaikan semu pamanya,ternyata semua harta ayah ibu nya di ambil semua ,dia dijadikan pembantu,kerap di siksa dan di pukuli hingga di jadikan tumbal pesugihan nya kepada genderuwo.Hanya secercah harapan kepada Aditya yang membuatnya kuat dan sabar menghadapi semuanya.. Apakah Aditya jujur dan setia janjinya kepada Mirasih?Sampai kapanpah Mirasih menjadi pengantin Ki Ageng sang Genderuwo itu ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan

​Pagi di desa itu pecah dengan kicauan burung yang hinggap di dahan pohon mangga, namun udara terasa lebih berat daripada biasanya. Di dalam rumah kayu yang hangat, Aditya sudah terbangun sejak fajar. Hatinya tidak tenang; ada rasa rindu yang bergejolak, bercampur dengan kebingungan mendalam atas tatapan sinis warga yang ia terima kemarin sore. Fokus utamanya hari ini hanya satu: menemui Mirasih. Ia harus meluruskan segala kesalahpahaman, memberikan oleh-oleh yang telah ia siapkan dengan susah payah, dan meyakinkan kekasihnya itu bahwa ia tetaplah Aditya yang dulu.

​"Ibu, Adit mau ke rumah Mirasih sebentar. Mau meluruskan sesuatu," pamit Aditya saat Mak Inah sedang menyiapkan teh hangat di meja makan.

​Mak Inah terdiam sejenak, menatap anak laki-lakinya dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia teringat kata-kata pedas Mirasih kemarin, namun ia juga melihat ketulusan di mata Aditya. "Pergilah, nak. Selesaikan apa yang harus diselesaikan. Luruskan kesalahan pahaman ini.Ibu masih berharap dengan dia.Tapi ingat, hati-hati dalam bicara. Mirasih sekarang... dia bukan lagi Mirasih yang dulu kita kenal."

​Saat Aditya bersiap melangkah ke pintu, Ningsih keluar dari kamar Siti dengan wajah yang sudah segar. Ia mendengar percakapan itu dan seketika rasa keingintahuannya memuncak. Ada rasa cemburu yang terselip saat melihat Aditya begitu antusias menyiapkan bungkusan kain sutra dan beberapa perhiasan perak kecil yang dibelinya di Jakarta untuk Mirasih.

​"Mas Adit mau ke tempat Mbak Mirasih itu ya?" tanya Ningsih dengan nada yang diusahakan tetap manis. "Ningsih ikut ya, Mas? Ningsih mau kenalan sama perempuan yang Mas ceritakan terus itu. Masa Ningsih sudah jauh-jauh ke sini tidak menyapa teman lama Mas?"

​Aditya ragu. Ia tahu suasana sedang panas, namun di sisi lain, ia merasa tidak enak hati menolak permintaan Ningsih yang sudah dianggapnya sebagai adik sendiri. Dalam pikiran polos Aditya, jika Mirasih melihat Ningsih, mungkin Mirasih akan mengerti bahwa hubungan mereka murni sebatas kakak-adik dan rekan kerja.

​"Apa tidak capek, Ning? Jalannya agak jauh kalau pakai sepeda," tanya Aditya memastikan.

​"Tidak, Mas. Ningsih kuat kok!" jawab Ningsih mantap. Di dalam hatinya, ia membatin, “Aku harus lihat seperti apa perempuan desa ini. Paling-paling kulitnya kusam dan pakai daster batik biasa. Aku harus tunjukkan kalau aku, gadis kota, jauh lebih pantas untuk Mas Adit.”

​Akhirnya, Aditya menyerah. "Ya sudah, ayo. Kamu duduk di belakang ya, sepedanya sudah agak tua."

​Mereka berdua berangkat menggunakan sepeda jengki lama milik Aditya. Aditya mengayuh dengan pelan, sementara Ningsih duduk di boncengan belakang sambil memegang pinggang Aditya. Di sepanjang jalan, pemandangan itu menjadi tontonan gratis bagi warga desa.

​"Lihat itu... benar-benar tidak tahu malu," bisik Bu Minto yang sedang menyapu halaman. "Baru datang semalam, sudah boncengan mesra keliling desa. Kasihan Mirasih, calon suaminya malah asyik pamer perempuan kota."

​"Iya, kenapa tidak segera dinikahkan saja kalau sudah seberani itu bawa menginap ke rumah? Benar-benar merusak moral desa kita," sahut tetangganya.

​Aditya mendengar gunjingan itu. Telinganya memerah menahan amarah, namun ia mencoba tetap tenang. Ia fokus pada tujuannya. Baginya, omongan warga hanyalah angin lalu yang akan hilang saat ia berhasil menjelaskan semuanya pada Mirasih. Sementara itu, Ningsih justru merasa bangga. Ia sengaja merapikan blus kotanya dan sedikit mengangkat dagu, merasa bahwa semua mata tertuju padanya karena ia tampak lebih modern dan "berkelas" dibandingkan wanita desa lainnya.

​Namun, saat sepeda itu berbelok ke arah area pemukiman yang baru diperbaiki, detak jantung Aditya melambat. Ia berhenti di depan sebuah bangunan yang membuat nyalinya seketika menciut.

​"Mas... ini benar rumahnya?" tanya Ningsih dengan suara yang tiba-tiba mengecil.

​Aditya terpaku. Di depannya berdiri sebuah rumah megah yang lebih mirip istana daripada hunian desa. Pagar besinya menjulang tinggi dengan aksen emas yang menyilaukan mata di bawah sinar matahari pagi. Halaman luasnya tertata rapi dengan rumput hijau yang tampak seperti karpet mahal.

​Belum sempat Aditya mengetuk pagar, dua orang petugas keamanan berseragam lengkap segera mendekat. Salah satu dari mereka memegang radio panggil.

​"Mas Aditya, ya?" tanya satpam itu dengan nada yang sangat formal, namun matanya menatap tajam ke arah Ningsih.

​"I-iya, Pak. Saya mau bertemu Mirasih," jawab Aditya gagap.

​"Nimas Mirasih sudah menunggu kedatangan Anda di dalam. Silakan masuk, sepedanya biar diparkir di sini saja," ujar satpam itu sambil membukakan gerbang otomatis yang berderit halus.

​Aditya dan Ningsih melangkah masuk dengan perasaan yang sangat aneh. Ningsih, yang tadinya merasa sangat hebat sebagai orang kota, kini merasa seperti debu. Rumah ini bahkan jauh lebih mewah daripada rumah-rumah di kawasan elit Jakarta yang pernah ia lihat dari balik pagar proyek tempat Aditya bekerja.

​Pintu utama yang terbuat dari kayu jati berukir dibuka oleh seorang pelayan. Mereka dipersilahkan masuk ke ruang tamu yang luasnya hampir separuh dari luas rumah Mak Inah. Lantai marmer yang dingin membuat kaki Aditya yang hanya bersandal jepit merasa sangat tidak pantas.

​Di sana, di atas sebuah sofa beludru berwarna merah marun, duduklah seorang wanita.

​Aditya seolah lupa cara bernapas. Wanita yang duduk di depannya itu adalah Mirasih, namun ia tampak seperti jelmaan dewi dari khayangan. Mirasih mengenakan kebaya sutra berwarna hijau botol yang membalut tubuhnya dengan sempurna, menonjolkan lekuk tubuh yang kini tampak lebih berisi dan elegan. Rambutnya disanggul rapi dengan tusuk konde emas yang berkilauan. Kulitnya yang dulu agak kusam karena bekerja di sawah, kini tampak sangat putih bersih dan bercahaya.

​Wajahnya dirias dengan sangat apik namun tetap natural, mempertegas kecantikan klasiknya yang kini terpancar dengan aura kewibawaan yang luar biasa. Tatapan matanya tajam, dingin, namun sangat memikat.

​"Selamat datang , Aditya," ucap Mirasih. Suaranya rendah, berwibawa, dan sangat tenang—sangat berbeda dengan suara Mirasih yang dulu selalu ceria atau menangis manja.

​Aditya berdiri mematung. Oleh-oleh kain sutra yang ia bawa dari Jakarta kini terasa sangat murahan di tangannya. Ia terpesona, takjub, sekaligus ngeri. Kecantikan Mirasih saat ini seolah memiliki daya magis yang membuat siapa pun akan tunduk padanya.

​"Mi-Mirasih... kamu... kamu cantik sekali," gagap Aditya, matanya tak bisa berpaling dari wajah anggun itu.

​Sementara itu, di samping Aditya, Ningsih merasa seperti disambar petir di siang bolong. Segala kesombongannya sebagai gadis kota luruh seketika. Ia menatap Mirasih dengan mulut sedikit terbuka. Ia berharap akan melihat perempuan desa yang kumal, namun yang ia temui adalah seorang "Ratu" yang kecantikannya bahkan tidak bisa ia tandingi meskipun ia menggunakan kosmetik paling mahal di mal Jakarta.

​Ningsih merasa sangat kerdil. Penampilan Mirasih yang ayu, elegan, dan berkelas membuatnya sadar bahwa ia sedang berhadapan dengan lawan yang berada di level yang sangat berbeda. Hawa dingin yang memancar dari Mirasih membuat Ningsih tidak berani menatap mata wanita itu lama-lama.

​Mirasih tersenyum tipis—sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata. Ia melirik Ningsih yang berdiri kaku di samping Aditya.

​"Dan siapa tamu yang kau bawa ini, Aditya?" tanya Mirasih dengan nada yang sangat halus namun menusuk. "Apakah ini wanita yang namanya Ningsih itu? Yang katanya sudah menjagamu dengan sangat 'baik' selama di Jakarta?"

​Ruangan itu mendadak menjadi sangat dingin. Aditya menelan ludah, ia merasa udara di sekitarnya seolah menipis. Ia datang untuk menjelaskan cinta, namun ia baru menyadari bahwa ia baru saja masuk ke dalam singgasana seorang wanita yang tidak lagi membutuhkan cintanya, melainkan sedang menunggu saat yang tepat untuk menghancurkannya.

​Aditya menoleh ke arah Ningsih yang sedikit gemetar, lalu kembali menatap Mirasih yang duduk dengan anggunnya. Di sana, di ruang tamu yang mewah itu, Aditya menyadari bahwa jurang yang terbentang di antara mereka kini bukan lagi soal jarak Jakarta-desa, melainkan sesuatu yang jauh lebih dalam dan berbahaya.

​"Mirasih, ini tidak seperti yang kamu dengar..." Aditya memulai dengan suara bergetar, namun Mirasih hanya mengangkat satu tangannya, memberikan isyarat agar Aditya diam.

​"Duduklah, Aditya. Dan kau juga, Nona Kota. Kita punya banyak hal untuk dibicarakan sebagai teman... atau mungkin sebagai orang asing yang pernah saling mengenal," ucap Mirasih sambil menuangkan teh ke cangkir porselen yang sangat mahal, gerakannya sangat tenang, seolah ia sedang mengendalikan setiap detak jantung orang-orang di ruangan itu.

1
Nurr Tika
kasian adit padahal ga salah
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
apakah Mak Inah meninggal?
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
baru sadar kau Adit ,
membawa Ningsih ke desa adalah
kehancuran mu
Nurr Tika
lanjut thor
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
Aditya terlalu lemah
sampai kapan kau biarkan keadaan bgini
bahkan kau pun tak kan bisa membawa Mirasih kembali menemukan jiwa nya yg tergadai iblis
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
ruwett ruwet
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
penjelasnmu tak kan mampu
menarik kembali Mirasih yg dlu Aditya
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
kamu tdk akan bisa kembali memiliki Mirasih Aditya
selama kemewahan dari iblis dinikmati Mirasih yg dgn sukarela menggadaikan nyawa nya
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
andaikan Mirasih tdk terbujuk rayu iblis yang memiliki jiwa nya ..
semua kepalsuan itu di tanganmu sendiri Mirasih ...
mata hati mu tertipu iblis yg dulu kau benci
Nurr Tika
kamu akan menyesal mirasih
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
Mirasih matii sisi manusia nya
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
masa pubertas sitii
jodoh ngga ya sama mas Budi
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
badai yang diciptakan oleh Mirasih
kabut ghoib genderuwo tak akan membiarkan Mirasih lepas darinya
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
setitik nafas Mirasih masih mengingat Tuhan ,tapi mengingkarinya
mungkin kah Budi penawar luka Mirasih setelah kehilangan Aditya
Nurr Tika
knp ga dari awal mirasih ikut adit ke kota
Nurr Tika
kenapa kamu mau menuruti mereka
Nurr Tika
sungguh kasihan mirasih
Nurr Tika
tega sekali meraka
Nurr Tika
mending kabur aja
Nurr Tika
ga tega liat mirasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!