Fang Yuan kehilangan kedua orang tuanya karena ulah kultivator.Lalu Ia hidup bersama kakeknya hingga akhirnya sang kakek pun meninggalkannya seorang diri.
Di tengah kerasnya dunia, Fang Yuan menemukan sebuah buku kultivasi. Tanpa bakat, tanpa dukungan, hanya dengan tekad.
“Aku akan melakukan apa pun 1000 kali… sampai berhasil.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Paviliun Megah(fix)
Fang Yuan berjalan menyusuri jalanan utama Kota Awan Putih.
Di sekelilingnya, ia melihat anak-anak sebayanya tertawa bersama orang tua mereka, atau pasangan yang berjalan mesra. Pemandangan itu seperti duri yang menusuk matanya.
"Kegiatan yang membosankan," bisik Fang Yuan, meskipun ada secercah rasa iri yang terkubur jauh di lubuk hatinya. "Aku jadi rindu pada mereka yang sudah mati. Setidaknya dalam kematian, mereka tidak perlu melihat betapa busuknya dunia ini."
Langkahnya terhenti di depan sebuah bangunan yang berdiri angkuh di antara toko-toko lainnya.
Bangunan itu memiliki pilar-pilar giok putih dan atap emas yang melengkung indah. Di depannya tergantung papan nama bertuliskan: "Paviliun Harta Surgawi".
Fang Yuan merasakan denyut Qi yang stabil dari dalam bangunan tersebut. "Energi di sini jauh lebih murni. Sepertinya ini tempat para kultivator membuang-buang uang mereka."
Dengan jubah lusuh dan topi bambu yang miring, Fang Yuan melangkah masuk.
Interior paviliun itu begitu elegan, harum dupa cendana menenangkan saraf, namun sambutan yang ia terima justru sebaliknya.
Seorang pria paruh baya dengan pakaian rapi menghampirinya, matanya memindai Fang Yuan dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan meremehkan.
"Tuan, tempat ini bukan untuk pengemis. Apa yang ingin Anda beli?" tanya pria itu, suaranya sopan namun nadanya penuh penghinaan.
Fang Yuan tidak membalas hinaan itu dengan kata-kata.
Ia langsung mengeluarkan artefak pedang terbang milik Liu Shen yang masih memiliki noda darah samar, serta beberapa keping perak. "Bisakah aku mendapatkan buku teknik bela diri dengan ini?"
Mata pria itu sedikit membelalak melihat artefak tersebut.
Ia tahu itu adalah barang rampasan, namun di kota ini, asal-usul barang bukan urusannya selama itu berharga. "Hmm, tunggu sebentar. Barang ini cukup berharga. Saya akan mencarikan sesuatu yang ... cocok."
Pria itu pergi ke bagian belakang, membiarkan Fang Yuan berdiri sendirian di tengah ruangan. Orang-orang kaya yang lewat menutup hidung mereka saat berpapasan dengan Fang Yuan.
"Dasar manusia. Selalu melihat kemasan sebelum isi." batin Fang Yuan geram. Ia mengepalkan tangannya di balik jubah.
Beberapa saat kemudian, pria tadi kembali sambil membawa sebuah buku tua dengan sampul yang sudah kumal dan sedikit sobek.
"Ini adalah 'Teknik Tinju Penghancur Batu'. Cocok untuk seseorang dengan kekuatan fisik seperti Anda."
Fang Yuan menerima buku itu. Ia tahu ia sedang diperas, namun ia tidak punya pilihan. Saat pria itu hendak berbalik, Fang Yuan menahannya.
"Tunggu. Aku ingin bertanya ... apakah teknik kultivasi tingkat tinggi dijual kepada orang biasa di sini?"
Pria itu terdiam, lalu berbisik dengan nada mengejek, "Tergantung berapa banyak emas yang kau punya, Tuan. Tapi jujur saja, teknik yang kami pajang di sini paling tinggi hanya kelas 1 atau 2. Teknik asli yang bisa membuatmu mendaki langit hanya ada di dalam sekte-sekte besar. Yang dijual bebas hanyalah sisa-sisa dari mereka yang sudah gagal atau mati."
Fang Yuan mengangguk perlahan lalu berjalan keluar. "Sudah kuduga. Pengetahuan adalah rantai yang mereka gunakan untuk menjaga kita tetap di bawah."
Sekarang, kantong peraknya kosong. Ia memiliki teknik bela diri, namun ia butuh sumber daya lebih—pil, uang, dan batu energi.
Fang Yuan berhenti di sebuah gang yang agak gelap, matanya menyapu kerumunan sampai ia menemukan targetnya.
Seorang pria bertubuh raksasa dengan tato di lengannya sedang tertawa bersama tiga anak buahnya.
Mereka tampak seperti kelompok tentara bayaran atau preman lokal yang sering memeras orang asing.
Sebuah ide cemerlang sekaligus gila muncul di otak Fang Yuan.
Ia berjalan ke arah mereka dengan langkah yang sengaja dibuat tidak stabil.
Saat jaraknya sudah dekat, Fang Yuan sengaja menabrak bahu pria raksasa itu hingga tubuhnya sendiri terpental jatuh ke tanah.
BRUK!
"Aduh ... maafkan aku, Tuan-tuan yang perkasa. Jalannya terlalu licin." ucap Fang Yuan sambil berdiri perlahan, membersihkan debu dari pakaiannya yang memang sudah kotor.
Pria raksasa itu berhenti tertawa. Wajahnya memerah karena merasa terhina ditabrak oleh seorang pemuda kurus yang tampak seperti gelandangan. "Bajingan kecil! Apa kau tidak punya mata?! Apa kau ingin aku menghajarmu sampai mati?!"
Fang Yuan mendongak. Di balik topi bambunya, ia menampakkan senyum anehnya—senyum yang membuat bulu kuduk orang yang melihatnya berdiri.
"Ya, aku mau, Tuan. Tolong, berikan aku pukulan yang lembut, ya? Jangan terlalu keras." jawab Fang Yuan dengan suara yang terdengar tulus namun mengerikan.
Para preman itu terdiam sejenak, saling pandang dengan ekspresi bingung dan heran.
"A-apa-apaan orang gila ini?" salah satu anak buahnya bergumam, merasa ada yang salah dengan tatapan mata Fang Yuan yang kosong.
"Dia mengejek kita, Bos! Dia pikir kita tidak berani memukulnya!"
Fang Yuan melebarkan senyumnya. Ia sengaja memancing mereka untuk menyerang terlebih dahulu di tempat sepi.
Di dalam hatinya, ia sudah menghitung. "Satu mangsa, dua mangsa, tiga mangsa ... mari kita lihat berapa banyak barang berharga yang mereka bawa di balik otot-otot besar itu."
ini mengingatkanku pada wang lin.
tapi aku menyukai alur ini, sangat menarik.