Arkan, seorang pemuda yang dianggap sampah kultivasi, ternyata menyimpan kekuatan terlarang di telapak tangannya. Saat 5 elemen bersatu dengan kehampaan Void, satu galaksi pun harus tunduk. Saksikan perjalanan Arkan
Body Tempering
Qi Gathering
Qi Foundation
Core Formation
Soul Realm 2 pengikut nya
Earth Realm
Sky Realm cici
Nirvana Realm arkan
Dao Initiate
Dao Master Dao arkan& cici
Sovereign
Divine
Universal (Kaisar Drak)
Eternal Ruin (Puncak Arkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roni alex saputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harmoni KEHAMPAAN EMPAT PILAR
Portal hitam itu menutup dengan dentuman sunyi yang menggetarkan dimensi ruang. Begitu mereka melangkah masuk, hiruk-pikuk Distrik Naga Emas yang sedang gempar hilang seketika, digantikan oleh hamparan galaksi hitam-perak yang tak berujung. Liem-Banyu dan Srikandi-Tan terjatuh bertelut, paru-paru mereka terasa panas menghirup oksigen yang terlalu padat dengan esensi Qi kuno.
"Arkan, kau membawa serangga baru?" Dewi Qi Lin melirik Liem dan Srikandi dengan tatapan meremehkan, namun sedetik kemudian dia tersenyum sinis. "Ah, si kutu buku formasi dan si bayangan kotor. Baiklah, mereka bisa berguna untuk membersihkan debu di istanamu nanti."
[Bagian 2: Ujian Neraka Dewi Qi Lin]
Dewi Qi Lin melayang di depan Liem-Banyu dan Srikandi-Tan. "Kalian beruntung Arkan tidak menghapus eksistensi kalian. Tapi di sini, tidak ada tempat untuk yang lemah. Jika kalian ingin mengikutinya, kalian harus merombak seluruh tulang dan daging kalian!"
Dewi Qi Lin menjentikkan jari. Seketika, sisa energi dari Wangsa Tan-Kusuma yang tadi ditelan Arkan—energi murni dari ribuan kultivator yang sudah dimurnikan oleh pusaran Black Hole—ditembakkan langsung ke tubuh Liem dan Srikandi.
"Aaaaaaaagh!" Srikandi-Tan berteriak histeris saat tulang belulangnya dipatahkan dan disambung kembali oleh energi perak Dewi. Bakat 'Tulang Hampa'-nya dipaksa mekar secara brutal. Tubuhnya kini menjadi wadah yang sempurna untuk menghilang di balik kegelapan.
Liem-Banyu lebih ngeri lagi. Matanya berdarah saat 'Mata Langit'-nya dipaksa melihat jutaan garis formasi semesta sekaligus. Pengetahuan tentang struktur atom, pola mantra kuno, dan aliran Qi jagat raya masuk ke otaknya seperti air bah yang menghancurkan nalar manusianya.
[Bagian 3: Proses Pembuatan Pil Reruntuhan]
Sambil memantau dua pengikut baru itu, Dewi Qi Lin mengambil kotak Akar Langit Tujuh Warna dari tangan Cici. "Waktunya tidak banyak. Arkan, duduklah bersila bersama gadis cahayamu."
Dewi Qi Lin memanggil api ungu-perak dari telapak tangannya, mulai membakar bahan-bahan obat langka tersebut. Dalam hitungan detik, api itu mengkristal menjadi dua butir pil berwarna hitam pekat dengan guratan emas yang berdenyut layaknya jantung.
"Pil Reruntuhan Langit," ucap Dewi. "Satu untukmu Arkan, satu untuk Cici. Telan, dan biarkan kehampaan menyatukan kalian."
Begitu pil itu tertelan, sebuah ledakan energi elemen pecah di dalam tubuh Arkan. Lima elemennya—Tanah, Api, Air, Angin, dan Petir—mulai mengamuk. Namun, Black Hole di pusat energinya berputar lebih cepat, menyedot semua amukan itu dan memadatkannya menjadi satu titik inti.
[Bagian 4: Sinkronisasi Empat Arah]
Arkan berdiri di tengah, menyalurkan Petir Hitam-nya sebagai penyeimbang agar tubuh dua pengikutnya tidak meledak. Cici memegang tangan Arkan, menyalurkan Cahaya Suci-nya untuk menyembuhkan luka dalam mereka berempat secara simultan. Ini adalah Quad-Sync.
"Satukan niat kalian dengan ketiadaan!" bentak Arkan. Rambut putihnya memanjang, auranya menyatu dengan bayangan Shunya yang menggeram di latar belakang.
BOOM! BOOM! BOOM!
Tiga ledakan energi kembali mengguncang dimensi Black Hole.
Srikandi-Tan bangkit dengan gerakan yang nyaris tak kasat mata. Dia seolah-olah menyatu dengan bayangan Arkan sendiri. Ranah kultivasinya melonjak drastis, menembus hambatan dan mendarat mantap di Puncak Qi Foundation.
Liem-Banyu membuka mata. Kacamata kayunya hancur, menampakkan mata biru jernih yang bisa melihat menembus benda padat, ilusi, bahkan nasib seseorang. Ranahnya ikut terkunci di Puncak Qi Foundation.
Cici, melalui sistem Sync Level yang mutlak dengan Arkan, merasakan seluruh pembuluh darahnya diperkuat oleh cahaya ilahi. Tubuhnya memancarkan aura dewi yang begitu murni hingga Liem dan Srikandi secara otomatis bersujud di depannya.
[Bagian 5: Kebangkitan Sang Pembawa Kiamat]
Namun, ledakan terbesar datang dari Arkan. Dia menggeram, kedua matanya terbuka lebar. Mata kirinya kini sepenuhnya menjadi pusaran hitam yang berputar, sementara mata kanannya bersinar perak ilahi milik Dewi Qi Lin.
Di tengah dadanya, sebuah inti hitam seukuran bola kelereng terbentuk sempurna—Void Core. Arkan resmi melangkah melampaui batas manusia biasa. Dia kini berada di ambang Core Formation, dengan kekuatan fisik yang sanggup merobek ruang hanya dengan tangan kosong.
"Sudah cukup," Arkan mengibaskan jubah hitamnya. Aura dinginnya kini berkali-kali lipat lebih ngeri. Dia berdiri, menatap dua pengikut barunya yang kini sudah menjadi monster tempur.
[Bagian 6: Perintah Pertama Sang Reruntuhan]
"Liem-Banyu, kau adalah otakku. Srikandi-Tan, kau adalah belatiku," ucap Arkan datar. "Mulai hari ini, siapa pun yang berani menatap Cici dengan niat buruk, kalian tidak perlu menunggu perintahku untuk menghapus nama mereka dari sejarah."
"Kami bersumpah setia sampai maut menjemput, Tuan Arkan!" teriak keduanya serempak. Mereka sadar, mereka bukan lagi manusia biasa. Mereka adalah Empat Pilar Reruntuhan.
Arkan mengangguk dingin. Dia menoleh ke arah portal keluar yang mulai terbuka kembali menuju Distrik Naga Emas. "Wangsa Tan-Kusuma hanyalah kerikil kecil. Sekarang, mari kita tunjukkan pada dunia luar... apa yang terjadi ketika sang kiamat membawa pasukannya."
Arkan melangkah keluar portal, diikuti oleh Cici yang kini memancarkan aura dewi cahaya, Liem dengan formasi di tangannya, dan Srikandi yang menghilang dalam bayangan. Di belakang mereka, Shunya (Harimau Ekor 10) mengintai, siap melahap siapa pun yang berani menghalangi jalan mereka.
Status Update Akhir Bab 12:
Arkan & Cici: Puncak Qi Foundation (Setengah Langkah Core Formation).
Liem-Banyu & Srikandi-Tan: Puncak Qi Foundation (Full Battle-Ready).
Tim: Resmi terbentuk (The Apocalypse Squad)
[Bagian 7: Evolusi Fisik Sang Reruntuhan]
Saat Arkan berdiri tegak di pusat dimensi Singularity, tubuhnya mengalami perubahan yang mengerikan namun indah. Kulitnya tidak lagi seperti manusia biasa; ia memancarkan kilau porselen yang dingin, seolah-olah setiap pori-porinya telah ditempa oleh tekanan jutaan ton gravitasi. Rambut Putih-Hitam-nya kini memanjang hingga menyentuh pinggang, dan setiap helainya bergetar halus—setiap helai itu adalah antena yang bisa merasakan getaran Qi sejauh puluhan kilometer di dunia luar.
"Arkan," suara Dewi Qi Lin melembut, namun tetap berwibawa. "Kau baru saja menyentuh ambang Core Formation. Tapi ingat, Void Core di dadamu itu lapar. Jika kau tidak terus memberinya makan dengan esensi musuh-musuhmu, ia akan mulai memakan jiwamu sendiri."
Arkan menatap telapak tangannya. Di sana, garis-garis petir hitam masih menari-nari. "Biarlah dia lapar, Dewi. Dunia ini penuh dengan sampah yang layak ditelan. Jika dia menginginkan jiwa, aku akan memberinya jiwa para kaisar."
[Bagian 8: Sumpah di Bawah Bayangan Shunya]
Liem-Banyu dan Srikandi-Tan yang baru saja naik ke Puncak Qi Foundation, saling pandang. Mereka merasa sangat kuat, namun saat menatap Arkan, mereka sadar bahwa kekuatan mereka hanyalah butiran debu di depan badai. Di belakang Arkan, Shunya (Harimau Ekor 10) menggeram rendah. Ukurannya kini sebesar rumah, dengan mata merah yang seolah bisa menembus dosa-dosa mereka.
"Tuan Arkan," Liem-Banyu memberanikan diri bicara, suaranya bergetar karena tekanan aura Arkan. "Dengan 'Mata Langit' ini, aku melihat masa depan yang gelap di luar sana. Sekte-sekte besar di Distrik Naga Emas tidak akan tinggal diam. Mereka akan mengirim pasukan Sovereign untuk menyelidiki musnahnya Wangsa Tan-Kusuma."
Arkan menyeringai tipis—sebuah seringai yang tidak memiliki kehangatan. "Biarkan mereka datang, Liem. Aku butuh batu asah untuk menguji Void Core baru ini. Srikandi, kau tahu apa yang harus dilakukan jika ada yang mencoba mendekati Cici?"
Srikandi-Tan menghilang seketika, hanya menyisakan suara bisikan di telinga Arkan. "Sebelum mereka sempat berkedip, kepala mereka sudah akan berada di bawah kaki Nona Cici, Tuan."
[Bagian 9: Melangkah Keluar dari Ketiadaan]
Cici mendekat ke arah Arkan, menggenggam tangannya. Kontras antara cahaya perak suci Cici dan kegelapan abadi Arkan menciptakan harmoni yang aneh di dalam dimensi itu.
"Arkan... aku siap," ucap Cici mantap.
Arkan mengangguk. Dia menjentikkan jarinya ke arah udara kosong. Portal hitam yang tadinya tenang, mendadak berputar gila-gilaan, merobek ruang dimensi untuk kembali ke titik kordinat di dunia nyata.
"Liem, siapkan formasi pengabur indra begitu kita sampai. Aku tidak ingin ada lalat yang mengikuti kita ke penginapan. Srikandi, bersihkan semua jejak energi yang tertinggal. Kita akan keluar sebagai penguasa baru di kota ini," perintah Arkan.
"Siap, Tuan Arkan!" sahut keduanya dengan penuh hormat.
Keempat sosok itu melangkah masuk ke dalam portal. Di belakang mereka, dimensi Black Hole itu berdenyut sekali lagi, seolah-olah sedang bersendawa setelah menelan habis sisa-sisa kejayaan Wangsa Tan-Kusuma. Kelap-kelip bintang di dalamnya meredup, menyisakan keheningan mutlak yang menunggu mangsa berikutnya.