Tak semua tempat suci adalah rumah, sebagian hanya penjara bagi hati yang pernah salah.
Hanin dibesarkan dengan keyakinan bahwa cinta hanya halal setelah akad. Di desanya tabu seorang berpacaran. Namun, ia memilih mencintai diam-diam, hingga satu foto tanpa hijab, dalam pelukan Fahmi, menjadikannya aib keluarga.
Hanin dikirim ke pesantren. Sebuah penjara yang dibungkus kesucian. Pesantren berada di suatu desa yang jauh dari kota dan keramaian.
Di sana, ia bertemu Ghania, sahabat yang terasa seperti rumah. Sampai hari pertunangan itu tiba, hari ketika Hanin diperkenalkan pada calon suami Ghania. Pria itu ternyata Fahmi, mantan kekasihnya.
Di balik tembok Penjara Suci, Hanin terjebak antara iman, persahabatan, dan cinta lama yang belum benar-benar mati.
Diam demi menjaga kehormatan,
atau jujur dengan risiko menghancurkan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Tiga Belas
Langit menjelang maghrib ketika Hanin kembali dari makam dengan langkah yang terasa lebih berat dari biasanya, namun juga lebih pasti.
Rumah itu menyambutnya dengan sunyi yang berbeda. Ia berdiri di ruang tengah, menatap dinding yang masih dipenuhi foto keluarga.
“Abi … Umi … Hanin benar-benar harus pergi ya?” bisiknya pelan.
Tak ada jawaban, tentu saja. Hanya detak jam dinding yang terdengar teratur.
Malam itu Hanin memberanikan diri mengetuk rumah Bu Rini, tetangga yang sejak hari pertama selalu paling sigap membantu.
“Assalamu’alaikum, Bu .…”
“Wa’alaikumussalam, Nin. Masuk, Nak.”
Hanin duduk pelan. Jemarinya saling meremas. “Bu … Hanin mau minta tolong.”
Bu Rini langsung memandangnya penuh perhatian. “Apa pun itu, bilang saja.”
“Hanin mau kembali ke pondok besok pagi.” Suaranya sedikit bergetar. “Rumah ini … boleh Hanin titip? Sesekali dibersihkan, dibuka jendelanya biar nggak pengap.”
Bu Rini tersenyum lembut, lalu menggenggam tangan Hanin. “Ya Allah, tentu saja boleh. Kamu jangan khawatir. Rumah ini tetap kami jaga.”
Air mata Hanin langsung turun. “Takutnya nanti berdebu atau rusak kalau tak ada orang.”
“Rumah ini bukan cuma rumah kamu, Nin. Ini rumah kami juga. Tempat almarhum Abi kamu sering bantu warga, tempat Umi kamu bikin pengajian.” Bu Rini mengusap punggung tangannya. “Kami nggak akan biarkan kosong tak terurus.”
Hanin menunduk. “Terima kasih, Bu. Hanin nggak tahu harus bilang apa.”
“Doakan saja kami,” jawab Bu Rini sambil tersenyum.
Malam itu Hanin berkemas. Tidak banyak yang dibawanya. Beberapa pakaian, kitab, dan foto kecil Abi dan Umi yang ia selipkan di antara buku.
Ia berdiri lama di depan kamar orang tuanya sebelum menutup pintu. “Hanin pergi dulu Abi, Umi. Doakan Hanin kuat.”
Pagi-pagi sekali, setelah salat Subuh, Hanin menarik koper kecilnya ke depan rumah. Bu Rini dan dua tetangga lain sudah berdiri di pagar.
“Hati-hati di jalan, Nin.”
“Iya, Bu.”
“Kalau kangen, pulang.”
Hanin tersenyum tipis. “Pasti.”
Sebelum benar-benar pergi, ia menoleh sekali lagi ke arah rumah itu.
“Assalamu’alaikum, Abi … Umi.” Lalu ia melangkah pergi.
Perjalanan menuju pesantren terasa panjang. Setiap pohon, setiap tikungan, mengingatkannya pada perjalanan dulu saat Abi mengantarnya pertama kali.
“Nin, jangan cengeng ya di pondok,” suara Abi seakan terngiang.
Hanin menggigit bibirnya. “Sekarang yang cengeng malah nggak punya Abi,” gumamnya pelan.
Ketika mobil travel berhenti di depan gerbang pesantren, dadanya mendadak sesak.
Gerbang itu masih sama. Papan nama besar berdiri kokoh. Suara anak-anak mengaji samar terdengar dari dalam.
Ia menarik napas panjang. “Aku pulang, tapi tanpa Abi dan Umi.”
Baru beberapa langkah masuk, seseorang berlari dari arah asrama putri. “Nin!”
Hanin mendongak. Ghania.
Gadis itu berlari tanpa peduli kerudungnya hampir terlepas. Begitu sampai, ia langsung memeluk Hanin erat. Tangis Hanin yang sejak tadi ditahan akhirnya pecah.
“Nia .…”
Ghania ikut menangis. “Ya Allah, Nin … kamu kurusan.”
“Hanin nggak punya siapa-siapa lagi, Nia …,” ucapnya sesenggukan.
“Jangan bilang begitu!” Ghania memegang bahunya. “Kamu punya Allah. Kamu punya aku. Kamu punya kami semua di sini.”
Tangis Hanin makin keras. Beberapa santri kecil yang lewat ikut menatap iba.
“Abi sama Umi pergi dua-duanya, Nia. Hanin masih nggak percaya…”
Ghania memeluknya lagi. “Aku tahu … aku tahu sakitnya nggak kebayang. Tapi kamu nggak boleh runtuh.”
“Hanin capek, rasanya kosong banget.”
“Kalau kosong, isi dengan Al-Qur’an,” bisik Ghania lembut. “Isi dengan doa. Isi dengan sabar.”
Hanin mengangguk dalam tangis. Ustazah Rahma yang mendengar kabar kedatangannya ikut mendekat.
“Hanin .…”
Hanin menyalami tangan beliau dan langsung menangis lagi.
“Maafkan Hanin baru kembali sekarang, Ustazah.”
“Tidak ada yang perlu dimaafkan.” Ustazah Rahma mengusap kepalanya. “Kami semua mendoakan orang tuamu setiap hari.”
“Hanin takut nggak kuat.”
“Kalau kamu jatuh, pondok ini tempat kamu bersandar,” jawab beliau tegas.
Malam pertama di asrama terasa berbeda. Ranjang tingkat yang dulu terasa biasa kini seperti saksi kesepiannya.
Ghania duduk di sampingnya. “Kamu mau cerita?” tanyanya pelan.
Hanin menatap langit-langit. “Setiap sudut rumah kosong, Nia. Nggak ada yang manggil aku makan. Nggak ada yang nungguin aku pulang.”
Ghania menggenggam tangannya. “Sekarang setiap kali azan maghrib, kita makan bareng di sini. Kamu nggak sendirian.”
“Aku takut kalau nanti tiba-tiba kangen.”
“Kalau kangen, nangis saja.”
Hanin menoleh. “Kamu kok kuat banget sih ngomongnya?”
Ghania tersenyum kecil. “Karena kalau aku ikut rapuh, siapa yang peluk kamu?”
Hanin tertawa kecil di sela tangisnya. “Makasih ya, Nia.”
“Janji satu hal.”
“Apa?”
“Jangan simpan marah ke Allah lagi.”
Hanin terdiam. Lalu mengangguk pelan. “Aku sudah minta maaf.”
“Bagus.”
Hari-hari berikutnya mulai terisi. Subuh berjamaah. Zikir pagi. Setoran hafalan. Mengajar anak-anak TPA sore hari.
Awalnya Hanin mengajar dengan suara pelan. Masih sering melamun.
Suatu sore, seorang anak kecil bernama Rara menarik bajunya.
“Kak Nin .…”
“Iya, Rara?”
“Kok Kakak sering kelihatan sedih?”
Hanin tersenyum tipis. “Memang kelihatan ya?”
Rara mengangguk polos. “Iya. Mata Kakak merah terus.”
Hanin jongkok di depan anak itu. “Orang tua Kakak baru meninggal.”
Rara terdiam. Lalu tiba-tiba memeluknya.
“Ayah Rara juga sudah di surga,” katanya lirih.
Air mata Hanin langsung jatuh. “Rara kangen?”
“Iya … tapi Ustazah bilang kalau kita rajin baca Qur’an, ayah dapat cahaya.”
Hanin tersenyum dalam tangis. “Betul sekali.”
Sejak hari itu, setiap mengajar, Hanin berusaha lebih hidup.
“Ayo, siapa yang lancar Iqro jilid tiga?” serunya suatu sore.
“Akuuu!” teriak anak-anak.
“Tapi baca yang jelas ya. Jangan kayak lagi makan kerupuk!”
Anak-anak tertawa. Ghania yang mengawasi dari jauh tersenyum lega melihat perubahan itu.
Malamnya, ia duduk di samping Hanin di serambi masjid. “Kamu tadi sudah mulai ketawa lagi,” godanya.
Hanin tersenyum kecil. “Anak-anak itu polos banget. Mereka bikin aku lupa sedih sebentar.”
“Itu obatnya.”
“Tapi kalau malam datang .…” Hanin menunduk. “Rasanya tetap sepi.”
“Sepi itu wajar.” Ghania menatapnya serius. “Yang nggak boleh itu putus asa.”
Hanin menghela napas. “Aku cuma takut kalau nanti kenangan itu datang terus.”
“Biarkan datang. Kenangan bukan musuh.”
“Aku masih suka ngomong sendiri seolah Abi dan Umi dengar.”
“Teruskan,” jawab Ghania cepat.
“Hah?”
“Teruskan. Semoga itu cara kamu berdamai.”
Hanin tersenyum tipis. “Kamu bijak banget sih.”
“Karena aku sering baca buku,” jawab Ghania santai.
Hanin tertawa pelan.
Kegiatan pesantren semakin padat. Hanin mulai membantu mengajar kelas dasar membaca Al-Qur’an.
Suatu hari, Ustazah Rahma memanggilnya. “Hanin, kamu bersedia pegang kelas tambahan sore?”
“InsyaAllah, Ustazah.”
“Kamu yakin tidak keberatan?”
Hanin terdiam sebentar. “Kalau sibuk, mungkin hati Hanin nggak terlalu kosong.”
Ustazah Rahma tersenyum. “Kesibukan bisa jadi rahmat kalau niatnya benar.”
Di kelas tambahan itu, Hanin menemukan pelarian yang menenangkan.
“Ayo, baca bersama. A ... Ba ...."
Suara anak-anak menggema. Setiap huruf yang mereka lafalkan, Hanin niatkan sebagai doa untuk kedua orang tuanya.
Ya Allah, jadikan setiap huruf ini cahaya untuk Abi dan Umi. Suatu malam, setelah tahajud, Hanin duduk sendiri di sudut masjid.
“Nia …,” bisiknya ketika melihat sahabatnya datang.
“Kamu belum tidur?”
“Aku tadi mimpi.”
“Mimpi apa?”
Hanin menahan napas. “Aku mimpi Umi tersenyum. Cuma sebentar.”
Ghania langsung tersenyum lebar. “Itu jawaban doamu.”
“Apa iya?”
“Iya. Kamu minta kan mereka datang sebentar?”
Air mata Hanin jatuh lagi. Tapi kali ini bukan hanya karena sedih.
“Aku bangun dengan hati hangat.”
“Itu tanda kamu mulai ikhlas.”
Hanin mengusap air matanya. “Aku masih kangen banget.”
“Kangen itu bukti cinta.”
“Aku takut lupa suara mereka.”
“Suara mungkin memudar. Tapi doa tidak.”
Hanin mengangguk pelan. Hari-hari di pesantren terus berjalan. Hanin mulai terbiasa dengan rutinitas.
Setiap selesai mengajar, ia sering berkata pelan pada dirinya sendiri, “Aku harus kuat. Demi Abi dan Umi.”
💪💪 Hanin
jadi pnsaran kan tu gnia 🤦
cerita othor kelewat aku baca 🙏
Akan dia cerita kan kedekatan mereka dulu ??