Inara Zahra Putri seorang siswi SMA kelas XI, ia pandai dalam seni lukis dan memiliki bakat bernyanyi.
Namun ia selalu menyembunyikan kemampuannya karena takut tidak diterima atau di anggap tidak serius dalam akademik.
Karena, sang ayah ingin ia menjadi seorang dokter di masa depan dan mengambilan pelajaran tentang kedokteran.
ia merasa dilema!!!
Apakah ia tetap memenuhi harapan keluarga menjadi dokter...?
Atau memperdalam bakatnya dalam bidang seni...?
••《 Inara juga memiliki rahasia kecil yang selalu ia simpan dalam hatinya, ia menyukai seseorang secara diam-diam...!》••
☆☆Dalam cerita mengacu pada paduan budaya Minang kabau dan kehidupan perkotaan modern.
●● Cerita ini hanya fiktif belaka murni karangan author tidak sesuai dengan sejarah..!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jasmine Oke, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Berkunjung kerumah Uwo
"Tentu mengantarkan bantuan, dan juga memberikan kejutan untukmu!, maaf tadi pagi tidak sempat mengantarmu." Ucap Kenzo lagi sambil tersenyum juga minta maaf.
"Iya aku benar-benar terkejut sampai jantungku mau keluar, dan tidak siap bertemu denganmu." Gumam Inara dalam hati.
"Tidak masalah lagian aku juga sudah melupakannya, aku tahu bang Ken sibuk." Ucap Inara kepada Kenzo.
"Kami kembali sebentar lagi, sore ini kami kembali, bersama kepala sekolah!, kamu harus hati-hati disini! Jika ada bahaya cepat lari." Ucap Kenzo sambil memberikan nasihat kepada Inara.
Inara hanya manyun karena Kenzo hanya beberapa jam disini, tadinya ia sudah berencana mengajak kenzo jalan-jalan disekitar kota Pariaman.
"Mengapa kamu cepat sekali perginya." Ucap Inara pelan, tetapi kenzo masih mendengar keluhannya.
"Besok sekolah! Kami hanya bertugas mengantarkan bantuan lalu kembali lagi." Ucap Kenzo sambil mengelus kepalanya Inara.
Lalu ia mengajak Inara jalan-jalan di sekitar sana, mereka jalan-jalan cukup lama, setelah itu Kenzo kembali bersama anggota lainnya, termasuk kepala sekolah ke kota Padang. Inara mengantar kepergian Kenzo menuju busnya.
"Bang, jika sudah sampai kabari aku ya, dan tolong sampaikan juga kepada bunda bahwa aku baik-baik aja disini." Pesan Inara kepada Kenzo.
"Iya, kembalilah ke poskomu untuk istirahatlah." Ucap Kenzo dengan lembut.
Setelah kepergian Kenzo dan Tim dua lainnya, Inara kembali melakukan aktivitasnya, seperti semula. Dan malampun tiba tim pmr beristirahat di posko telah mereka didirikan.
Esok harinya tim PMR melakukan kegiatan pemeriksaan kesehatan dan gerakakn bersih. Ketua tim sudah menjelaskan semua kegiatan tim PMR dan pak luruh setuju maka kegiatan tersebut diadakan hari ini.
Merek melakukan pemeriksaan kesehatan di setiap rumah kerumah, setiap anggota tim datang kerumah atau tenda para warga untuk memberikan pemeriksaan tekanan darah, berat badan, atau kesehatan ringan.
Dan mereka juga menyaran kepada para untuk selalu menjaga kesehatan juga minum air bersih yang telah di rebus.
Karena dengan adanya bencana pasti ada timbul penyakit jika tidak menjaganya dengan baik.
Setelah pemeriksaan setiap anggota tim, menyampaikan kepada semua orang, bahwa mereka akan mengadakan gerakan kebersihan melakukan kerja bakti bersama-sama untuk membersihkan lingkungan sekitar wilayah desa ini.
Maka setelah kunjungan selesai siang harinya mereka mulai bekerja membersihkan lingkungan desa, bagi para warga yang belum mendirikan tenda mereka membantu membuat tenda.
Tidak terasa hari sudah sore, mereka menyelesaikan pekerjaan kerja bakti dengan lancar, setelah itu mereka kembali ketempat masing-masing untuk membersihkan diri dan istirahat.
Malam ini tim PMR kembali menginap didesa, mereka akan meninggalkan desa besok pagi, karena ketua tim sudah berjanji akan membawa mereka jalan-jalan disekitar kota Pariaman sorenya baru kembali ke kota Padang.
Pagipun tiba tim PMR bersiap untuk pergi warga desa mengantar mereka bersama-sama. Sambil mengucapkan terimakasih karena telah datang ketempat mereka.
"Ketua tim hari ini aku tidak ikut jalan-jalan, kalian aja." Ucap Inara saat pertengahan jalan ia memberitahu ketua tim.
"Mengapa? Seru kalau bermain bersama!." Ucap ketua tim baginya lebih seru jika seluruh anggota lengkap.
"Aku sudah berjanji kepada bunda untuk mengunjungi rumah nenekku dekat sini!." Ucap Inara lagi tidak menutupi ru.ah neneknya ada disini.
"Oh begitu baiklah, jika ada waktu kita jalan-jalan dengan anggota lengkap! Apakah kamu turun disini." Ucap Ketua tim lagi, mengizinkan Inara singgah kerumah neneknya, apa hak nya melarang seseorang berkunjung kerumah kerabat.
"Tidak aku turun di kampung perak." Ucap Inara lalu ia meminta sopir bus untuk lewat jalan kampung perak.
Tidak lama setelah itu bus sampai di kampung perak, Inara turun dari bus, sebelum itu mereka pamitan kepada ketua tim dan teman-teman lainnya.
Inara berjalan kaki beberapa menit menuju kerumah uwonya, setelah itu ia sudah berdiri didepan rumah uwonya, rumahnya sederhana hanya berlantai satu.
"Assalamualaikum.." inara bengetuk pintu sambil mengucapkan salam, karena ia melihat pintu tertutup, inara mengetuk pintu berkali-kali , setelah mengucapkan salam dua kali baru ada sawutan dari dalam.
"Waalaikumsalam, maaf kami berada dibelakang rumah" ucapan dari dalam, lalu membuka pintu.
"Siapa ya?" Ucap wanita paruh baya yang sedang membuka pintu, ia belum melihat siapa yang datang.
"Bibi apakah kamu lupa denganku." Ucap inara langsung menyapa bibi istri dari pamannya.
Baru wanita itu melihat tamu yang datang, terbitlah senyuman dibibirnya.
"Onde mande! Nak nara toh, ba'a ndak bari kaba kalau tibo? Pamanmu dan sepupumu bisa manjapuik. 《Ya Ampun! Nara mengapa tidak memberi kabar kalau sudah datang?, pamanmu atau kakak sepupumu bisa menjemput》 " ucap bibi kenapa Inara lalu ia membawa Inara masuk kedalam.
"Ndak ba'a do bibi!, Nara kebetulan lalu jalan siko, indak usah mangganggu paman samo abang Riko. 《 tidak apa-apa bibi! Kebetulan aku memang lewat sini, tidak perlu merepotkan paman dan bang Riko》 " ucap Inara membalas ucapan bibinya.
Setelah sampai di dalam, inara menaruh semua barangnya di sudut lalu ia mengikuti bibi kebelakang rumah.
"Bibi, Manga urang dibelakang, sampai Nara tibo pun ndak tadanga do?.《 bibi, ngapain orang berada dibelakang, saat aku datangpun tidak ada yang mendengarnya.》 " ucap nara lagi, penasaran apa yang kegiatan apa yang ada dihalaman belakang.
"Uwo nio mananam ubi parancih samo ubi jala, di laman balakang, keceknyo taragak makan gulai pucuak parancih samo goreng ubi jala!. 《Uwo ingin menanam singkong dan ubi jalar di halaman belakang, katanya dia rindu dengan gulai pucuk singkong dan goreng ubi jalar.》" Ucap Bibi Inara.
"Wah kalau begitu aku gabung, ya?." Ucap Inara ia berlari ke halaman belakang, sambil memanggil neneknya.
"Uwoo Nara datang...." Ucap Inara saat melihat neneknya ia langsung memeluknya.
"Uwo Nara kangen, kapan Uwo pergi ke Padang." Ucal Inara sambil manja kepada neneknya.
"Cucu uwo lah tibo...! Siko cubo uwo caliak ado yang barunah ndak!. 《 cucu ku sudah datang...! Sini coba Uwo lihat apakah ada berubah》 " ucap Nenek Inara sambil meneliti Inara dari atas sampai bawah.
"Tidak ada yang berubah Uwo tetap seperti dulu cantik dan imuut." Ucap Inara sambil tersenyum lalu bersikap manja kepada neneknya.
"Ado yang berubah... mato uwo masih rancak alun rabun masih jaleh mancaliak.. 《 ada perubahan, Mata uwo masih sehat belum rebun masih jelas melihat》 " ucap Uwo lagi.
"Masak sih berubah dari mananya uwoo." Ucap inara sambil mengambil hpnya lalu membuka camera depan melihat wajahnya.
"Tambah rancak kamek manih dicaliak!, cucu uwo lah jadi gadih gadih gadang, dulu masih ketek masih bisa uwo dukuang!.
.
.
.
terima atau tidak masalah nanti?