NovelToon NovelToon
Pelindung Cinta: Kisah Ibu Tiri Yang Tak Tergoyahkan

Pelindung Cinta: Kisah Ibu Tiri Yang Tak Tergoyahkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Duda / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

desainer muda yang mandiri, tak pernah menduga bahwa pertemuan tak sengaja dengan Raka—seorang CEO tampan, sukses, dan penuh kasih—akan mengubah hidupnya selamanya. Raka bukan hanya pria idaman, tapi juga ayah tunggal dari Arka, anak kecil yang ditinggalkan oleh mantan istrinya, Lita, seorang wanita ambisius yang selingkuh dan tak peduli pada buah hatinya. Saat Aira memasuki kehidupan mereka sebagai ibu tiri yang penuh dedikasi, dia harus menghadapi badai godaan: para pelakor licik yang mengincar Raka karena ketampanan dan kekayaannya, serta ancaman utama dari Lita yang kembali dengan agenda rahasia untuk merebut semuanya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 6: Bayang-Bayang Masa Lalu

Malam di Jakarta tak pernah benar-benar gelap. Lampu-lampu kota menyala di mana-mana. Dari lantai 29 apartemen The Rosewood, Raka bisa melihat hamparan cahaya yang membentang sejauh mata memandang. Jakarta seperti lautan kunang-kunang yang tak pernah tidur.

Tapi Raka tak melihat keindahan itu.

Ia duduk di kursi kerjanya. Sebuah kursi kulit hitam yang harganya setara dengan gaji tiga bulan karyawan butik tempat Aira bekerja. Di atas meja, secangkir kopi sudah dingin. Laptop menyala dengan layar yang sudah gelap karena terlalu lama tak disentuh.

Tangannya memegang ponsel. Membaca pesan yang sama berulang kali.

"Aku akan datang. Mau kau suka atau tidak."

Lita. Wanita yang pernah ia cintai. Wanita yang memberinya Arka. Wanita yang juga menghancurkannya.

Raka menarik nafas panjang. Ia memejamkan mata. Tiba-tiba ia kembali ke tiga tahun lalu. Malam itu. Malam ketika dunianya runtuh.

---

Malam itu hujan. Sama seperti malam-malam di Jakarta yang penuh air.

Raka pulang larut. Rapat dengan investor Jepang molor sampai jam sepuluh malam. Ia sempat menelepon Lita, bilang akan pulang telat. Lita bilang tidak apa-apa. Katanya, "Urus aja kerjamu. Aku jagain Arka."

Raka percaya. Kenapa tidak? Lita istrinya. Ibu dari anaknya.

Tapi saat pintu rumah terbuka, yang ia temukan bukan kehangatan. Bukan istri yang menyambut. Bukan anak yang tertidur lelap.

Ruangan gelap. Hanya lampu tidur di kamar Arka yang menyala.

Raka masuk ke kamar Arka. Anaknya terbaring di tempat tidur. Wajahnya merah. Keringat dingin membasahi dahi. Bibirnya kering. Raka meraba dahi Arka. Panas. Sangat panas.

"Arka? Nak?"

Arka tak menjawab. Hanya mengerang pelan.

Raka berteriak memanggil Lita. Tak ada jawaban. Ia keliling rumah. Dapur. Ruang tamu. Kamar utama. Kosong.

Di meja ruang tamu, ada sebuah amplop putih. Di atasnya, hanya satu kata: "Raka".

Surat itu pendek. Sangat pendek.

*"Rak, maaf. Aku pergi. Dengan Richard. Dia bisa memberiku hidup yang lebih baik. Jaga Arka. Jangan cari aku. Lita."

Raka membaca surat itu mungkin seratus kali. Matanya tak percaya. Tangannya gemetar. Ia ingin marah. Ia ingin berteriak. Tapi dari kamar Arka, terdengar suara tangis. Tangis anak kecil yang terbangun sendiri, dalam keadaan demam, tanpa ibunya.

Raka berlari ke kamar Arka. Menggendong anaknya. Merasakan panas tubuh anak itu menjalar ke dadanya.

"Ark, sabar ya. Bapak antar ke rumah sakit."

Di mobil, dalam perjalanan ke rumah sakit, Arka meracau. "Mama... Mama..."

Raka hanya bisa mengecup kening anaknya. Matanya basah. Tapi ia tak boleh menangis. Ia harus kuat. Untuk Arka.

---

Raka membuka mata. Kembali ke malam ini. Kopinya semakin dingin. Layar laptop masih gelap.

Tiga tahun sudah. Luka itu masih sama perihnya.

Ponselnya bergetar. Lagi. Kali bukan pesan, tapi panggilan telepon. Nomor itu lagi. Lita.

Raka membiarkannya berdering. Sampai akhirnya berhenti.

Semenit kemudian, sebuah pesan masuk.

"Aku tahu kau tak mau angkat. Tapi aku ibunya Arka. Aku punya hak. Aku akan datang Jumat depan. Ke rumah. Kita bicara baik-baik. Atau kau mau aku buat ramai di kantormu?"

Ancaman.

Raka tersenyum getir. Lita tak pernah berubah. Dulu ia pergi dengan sopan, meninggalkan surat. Sekarang ia kembali dengan ancaman.

Ia tak membalas. Tak perlu.

Tapi di hatinya, kegelisahan mulai merambat. Lita bukan wanita sembarangan. Jika ia sudah bilang akan datang, ia pasti datang. Dan Raka tak tahu bagaimana menjelaskan ini pada Arka. Bagaimana menjelaskan bahwa ibu yang telah lama pergi, tiba-tiba ingin kembali.

---

Keesokan paginya, Aira datang lagi. Kali ia membawa pola baju yang sudah jadi. Hanya perlu dicoba ke Arka untuk memastikan ukurannya pas.

Bi Inah membukakan pintu. Wajah wanita itu tampak sedikit tegang.

"Selamat pagi, Nona. Silakan masuk."

Aira merasakan ada yang aneh. Suasana apartemen ini berbeda. Lebih sunyi dari biasanya. Atau mungkin lebih tegang.

"Ada apa, Bi Inah?"

Bi Inah menghela nafas. "Tuan lagi di ruang kerja. Sejak semalem. Katanya mau lembur. Tapi saya tahu, beliau hanya duduk diam di situ. Gelisah."

Aira mengernyit. "Ada masalah?"

Bi Inah ragu. Tapi akhirnya berkata pelan, "Mungkin... mantan istri Tuan. Beberapa hari ini sms-an terus. Saya lihat dari handphone yang ketinggalan di meja makan."

Aira diam. Ia tak tahu harus berkata apa. Ini bukan urusannya.

"Aira!"

Suara Arka menyelamatkannya dari kecanggungan. Arka berlari dari kamar. Wajahnya cerah. Pagi ini ia memakai baju kaos bergambar pesawat.

"Lihat! Baju baru! Dari Bapak!"

Aira berjongkok. "Wah, bagus sekali. Arka suka pesawat?"

"Suka! Arka mau jadi pilot kalau besar nanti. Bisa terbang ke mana-mana."

Aira tertawa. "Pilot itu keren."

Arka menarik tangan Aira. "Ayo lihat kamarku! Aku punya gambar pesawat banyak!"

Aira menoleh ke Bi Inah. Bi Inah mengangguk. Aira pun mengikuti Arka.

Di kamar Arka, dinding-dindingnya penuh dengan gambar pesawat. Ada yang dicetak, ada yang digambar sendiri dengan krayon. Kertas-kertas itu ditempel dengan selotip, tidak rapi, tapi penuh semangat.

"Ini pesawat tempur. Ini pesawat penumpang. Ini helikopter," Arka menjelaskan satu per satu.

Aira duduk di lantai, mendengarkan dengan sabar.

Tiba-tiba Arka berhenti. Menatap Aira.

"Aira, Bapak sedih ya?"

Aira terkejut. "Kenapa tanya begitu?"

"Semalam Arka bangun. Mau minum. Arka lihat Bapak di ruang tamu. Duduk aja. Gelap. Enggak nyalain lampu. Bapak kayak... kayak... patung."

Aira diam. Hatinya terenyuh.

"Mungkin Bapak capek, Ark."

Arka menggeleng. "Bukan. Arka tahu. Waktu Mama pergi dulu, Bapak juga duduk kayak gitu. Lama. Enggak gerak."

Aira tak tahu harus berkata apa. Anak kecil ini terlalu peka. Terlalu mengerti untuk usianya.

"Aira, Mama Arka jahat ya?"

Pertanyaan itu seperti pisau.

"Arka... Aira enggak tahu Mama Arka. Tapi Aira yakin, Mama Arka sayang sama Arka."

Arka diam. Lalu berkata lirih, "Tapi Mama pergi. Waktu Arka sakit."

Aira meraih tangan Arka. Memeluknya pelan.

"Aira, kamu jangan pergi ya? Janji?"

Aira memeluk Arka lebih erat. Matanya basah.

"Janji."

---

Tak jauh dari kamar Arka, di ruang kerja yang pintunya sedikit terbuka, Raka berdiri. Ia mendengar percakapan itu. Mendengar pertanyaan Arka. Mendengar jawaban Aira.

Ia tak tahu lagi harus bagaimana. Selama ini ia pikir melindungi Arka berarti memberinya kehidupan yang nyaman. Memberi makan enak, pakaian bagus, mainan mahal. Tapi ia lupa, luka Arka tak bisa disembuhkan dengan benda mati.

Raka melangkah keluar ruang kerja. Menuju kamar Arka.

Pintu kamar terbuka. Ia melihat Aira dan Arka duduk di lantai. Arka memeluk Aira. Wajahnya tenang. Sangat tenang. Seperti kapal yang akhirnya menemukan pelabuhan.

"Selamat pagi," sapa Raka pelan.

Aira menoleh. Matanya masih sedikit basah. Tapi ia tersenyum.

"Selamat pagi, Pak."

Arka melepaskan pelukannya. Berlari ke Raka.

"Bapak! Lihat, Aira datang!"

Raka menggendong Arka. Mencium rambutnya.

"Iya, Nak, Bapak lihat."

Arka menunjuk ke arah Aira. "Bapak, Aira cantik ya?"

Aira tersipu. Raka tersenyum. Senyum pertama pagi itu.

"Iya, Nak. Aira cantik."

Aira menunduk. Merasa malu. Tapi juga hangat.

"Arka, Aira mau coba bajunya dulu, boleh?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.

"Boleh!"

Aira membuka tasnya. Mengeluarkan baju setengah jadi berwarna biru muda. Dengan gambar dinosaurus yang sudah dijahit aplikasi di bagian depan. Belum selesai, tapi bentuknya sudah jelas.

"Wah, Dinosaurus! Punyaku!" Arka senang bukan main.

Ia langsung melepas baju tidurnya tanpa malu. Raka tertawa. Membantu Arka memakai baju itu.

Cobaan singkat. Baju itu pas. Ukurannya tepat. Arka berputar-putar di kamar, pamer.

"Aira hebat! Aira hebat!"

Aira tertawa. Raka ikut tertawa. Untuk pertama kalinya pagi itu, ruangan ini dipenuhi tawa.

Tapi di balik pintu apartemen yang tertutup rapat, bayang-bayang masa lalu mulai merayap mendekat. Di sebuah hotel berbintang di kawasan Thamrin, seorang wanita dengan koper mahal sedang check-in. Wanita itu melihat ke arah Jakarta yang macet di luar jendela. Tersenyum tipis.

"Arka, Mama datang," bisiknya.

Wanita itu mengeluarkan ponsel. Mengetik pesan pendek.

"Rak, aku sudah di Jakarta. Kita bicara besok. Aku tunggu di kafe dekat kantormu. Jam 10. Jangan kabur."

Pesan itu terkirim.

Di apartemen The Rosewood, ponsel Raka bergetar di saku celananya. Ia merasakannya. Tapi tak segera membuka. Ia masih menikmati tawa Arka. Masih menikmati hangatnya pagi itu.

Ia tak tahu, hangat itu akan segera digantikan badai.

---

Dua jam kemudian, Aira pamit. Baju Arka sudah diukur. Tinggal finishing. Janji minggu depan jadi.

Raka mengantar sampai lift.

"Nona Aira, terima kasih."

"Sudah sering bilang terima kasih, Pak."

"Karena Nona pantas dapat terima kasih berkali-kali."

Aira tersenyum. Lift datang. Pintu terbuka.

"Sampai jumpa, Pak."

"Sampai jumpa."

Aira masuk. Pintu lift tertutup. Raka berdiri di depan lift, lama. Hingga Bi Inah datang mengingatkan.

"Tuan, sarapan sudah siap."

Raka mengangguk. Berbalik. Tapi belum sempat melangkah, ponselnya bergetar. Ia keluarkan. Membaca pesan itu.

Wajahnya berubah.

"Rak, aku sudah di Jakarta. Kita bicara besok."

Raka memejamkan mata. Menarik nafas panjang.

"Hari ini juga," gumamnya. "Dia datang hari ini juga."

Bi Inah melihat perubahan wajah tuannya. Tahu ada yang tak beres.

"Tuan, ada apa?"

Raka tak menjawab. Ia masuk ke ruang kerja. Menutup pintu.

Di dalam, ia duduk di kursinya. Memandangi ponsel dengan layar pesan itu. Ia ingin marah. Tapi tak tahu pada siapa. Ia ingin lari. Tapi tak tahu ke mana.

Pilihan tinggal dua: hadapi, atau hancur.

Tapi bagaimana cara menghadapi wanita yang pernah menghancurkan hidupnya? Dan bagaimana cara melindungi Arka dari kehadiran ibu yang pernah meninggalkannya?

Raka tak punya jawaban.

---

Di Tanah Abang, Aira membuka pintu kostnya. Ia letakkan tas. Duduk di lantai. Memikirkan pagi ini. Memikirkan Arka. Memikirkan Raka. Memikirkan senyum mereka.

Ponselnya bergetar. Bukan Maya. Bukan klien. Tapi nomor tak dikenal.

Aira mengangkat. "Halo?"

Suara wanita di seberang. Halus. Manis. Tapi ada nada dingin di dalamnya.

"Halo, selamat siang. Maaf mengganggu. Saya Lita. Mungkin Nona kenal? Saya mantan istri Raka. Ayahnya Arka."

Aira tertegun. Jantungnya berhenti sejenak.

"Halo? Nona masih di sana?"

Aira menarik nafas. "Iya, Bu. Ada perlu apa?"

Lita tertawa kecil. Tawanya dingin.

"Saya hanya ingin kenalan. Saya dengar Nona sering main dengan Arka. Saya ibunya. Saya ingin berterima kasih. Mungkin kita bisa bertemu?"

Aira diam. Ia tak tahu harus menjawab apa.

"Nona?"

"Bu, saya... saya hanya desainer yang kebetulan buat baju untuk Arka. Tidak lebih."

"Ah, Nona rendah hati. Saya tahu Nona lebih dari itu. Arka cerita banyak tentang Nona. Pada ibunya."

Aira terkejut. "Arka bicara dengan Ibu?"

Lita tertawa lagi. "Tentu. Saya ibunya. Saya punya hak bicara dengan anak saya. Yah, meskipun Raka tak suka. Tapi itu urusan kami. Nona, bagaimana kalau kita bertemu? Sore ini? Saya traktir kopi."

Aira bingung. Ia tak punya alasan untuk menolak. Tapi juga tak punya alasan untuk menerima.

"Bu, saya—"

"Ah, Nona, jangan tolak. Saya hanya ingin berterima kasih. Sungguh. Saya ibu yang baik. Datanglah. Saya kirim alamatnya."

Telepon ditutup.

Aira menatap ponselnya. Tangannya gemetar. Ada apa ini? Mengapa Lita tiba-tiba menghubunginya?

Beberapa detik kemudian, sebuah pesan masuk. Alamat sebuah kafe di kawasan Menteng. Jam 4 sore.

Aira duduk di lantai kostnya. Pikirannya kacau. Ia harus pergi? Atau tidak?

Ia ingat Arka. Ingat senyum Arka. Ingat pertanyaan Arka. "Mama Arka jahat ya?"

Mungkin ini kesempatan untuk tahu. Siapa sebenarnya Lita. Apa maunya.

Aira membuka ponsel. Mengetik pesan untuk Maya.

"May, aku ada janji jam 4. Tolong jaga butik ya. Kalau ada klien, bilang aku keluar."

Maya membalas cepat. "Siap, Mba! Janji sama siapa? Cowok ya?"

Aira tak membalas. Ia hanya menatap layar ponsel. Di luar, Jakarta siang itu terik. Tapi di hatinya, dingin.

Ia tak tahu, pertemuan sore ini akan mengubah segalanya.

---

1
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
Pena Biru: terimakasih tapi yang ini sudah tamat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!