NovelToon NovelToon
GANTI MEMPELAI : MAHKOTA PELINDUNG TUAN ARDIANSYAH

GANTI MEMPELAI : MAHKOTA PELINDUNG TUAN ARDIANSYAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / CEO / Romantis / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:62.1k
Nilai: 5
Nama Author: santi.santi

Dipaksa menikah dengan pria yang terkenal dingin dan kejam untuk menggantikan Kakak tirinya yang pergi melarikan diri menjelang pernikahan, Gia tak bisa menolak.

Gia berdiri di samping Tuan Ardiansyah yang berkuasa, dengan seluruh tubuh gemetar dan air mata yang menggenang di pelupuk mata.

Dia takut kalau Tuan Ardiansyah tau yang ada di balik kain veil itu adalah dirinya, bukan Siska Kakaknya.

Tapi tangan hangat dengan jari yang besar justru menggenggam tangannya.

"Bernapaslah, ikuti kataku. Semua akan baik-baik saja!"

Bagaimana jadinya jika Tuan Ardiansyah yang terkenal kejam itu justru tak seperti yang orang katakan. Dia justru begitu hangat dan perhatian, apa Siska akan menyesal telah meninggalkan pernikahan waktu itu?
Apa Siska akan kembali dan merusak kebahagiaan yang baru saja Gia dapatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di balik kaca film hitam

Mobil sedan mewah itu meluncur pelan keluar dari gerbang mansion. Di kursi belakang, suasana begitu hening. Gia duduk mepet ke arah pintu, matanya menatap keluar jendela, sementara Ares duduk di sisi lain dengan tablet di tangannya, tampak sibuk dengan pekerjaan.

​Namun, fokus Ares sebenarnya tidak pada laporan keuangan di layarnya. Ia bisa melihat pantulan wajah Gia di kaca jendela. Gadis itu terlihat sangat kecil dan rapuh di dalam mobil yang luas ini.

​"Gia!" panggil Ares tiba-tiba.

"I-iya, Tuan?" Gia tersentak kecil.

"Tuan? Bukannya tadi kau memanggilku Mas?" Ares menaikkan sebelah alisnya.

"Maaf kalau tadi saya lancang Tuan. S-saya hanya tidak tau harus bagaimana ketika bersikap di depan Nyonya" Suara Gia terdengar begitu kecil seperti cicak yang terinjak kaki besar Ares.

​Ares meletakkan tabletnya. Ia mengamati jari-jari Gia yang saling bertautan dengan gelisah.

"Maafkan ucapan Mama tadi. Dia memang keras, tapi dia akan melunak kalau kamu tidak menunjukkan rasa takut padanya. Dan satu lagi, aku lebih suka kamu memanggilku seperti tadi!"

​Gia menoleh pelan, menatap mata tajam pria di sampingnya.

"Saya mengerti, Emm..Mas. Saya tahu posisi saya di rumah ini memang sulit. Saya hanya... tidak ingin menjadi beban!"

​Ares menghela napas panjang. Ia bergerak mendekat, mempersempit jarak di antara mereka. Bau parfum maskulin yang elegan kembali menyapa indra penciuman Gia, membuatnya sedikit pening namun juga merasa nyaman.

​"Kau bukan beban!" Ucap Ares rendah. Ia meraih tangan Gia, membuka kepalan tangan gadis itu yang kaku, lalu mengusap telapak tangannya dengan ibu jari.

"Aku yang memilih untuk melanjutkan pernikahan ini. Jadi, mulai sekarang, berhenti merasa seperti orang asing!"

​Gia merasakan getaran aneh di dadanya saat kulit mereka bersentuhan.

"Kenapa Mas membela saya di depan Nyonya tadi? Padahal semalam Mas bilang kita hanya... transaksi."

​Ares terdiam sejenak. Matanya menatap dalam ke arah mata Gia, seolah mencari sesuatu di sana.

​"Karena kamu istri Mas!" Jawab Aresta tegas.

Meleleh sudah hati Gia. Siapa yang tak melambung tinggi ketika mendapatkan sikap manis dari pria tampan dan kaya raya seperti Ares. Tapi Gia kembali disadarkan dengan kenyataan. Dia saat ini duduk bukan pada posisinya, melainkan di posisi Siska yang dia tempati.

Dia juga ingat ketika Ares memanggilnya sayang di depan Mamanya tadi. Gia menganggap itu adalah sebagian dari sandiwara yang sedang mereka mainkan sejak di altar kemarin.

"Siapa pun yang memakai nama Ardiansyah adalah tanggung jawabku. Tidak ada yang boleh merendahkanmu, bahkan Mama sekalipun!"

​Ares kemudian merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kartu kredit. Ia meletakkannya di telapak tangan Gia.

​"Gunakan ini. Beli apa pun yang kamu suka. Mas tidak akan melarangnya!" Perintahnya.

​"Tapi Mas. Saya tidak butuh, saya bisa bekerja dan mendapatkan uang sen..."

​"Gia!" Potong Ares, jemarinya kini berpindah ke dagu Gia, mengangkatnya sedikit agar mereka bertatapan langsung.

"Mas tidak suka dibantah. Kamu tidak perlu bekerja lagi sekarang. Belajarlah menjadi istri seorang Aresta Ardiansyah. Kamu harus terbiasa dengan ini semua, karena mulai hari ini, itu adalah duniamu!"

​Wajah Gia memerah sempurna. Jarak mereka sangat dekat, ia bahkan bisa merasakan hembusan napas Ares di kulit wajahnya. Untuk sesaat, Gia lupa bahwa pria ini sedang patah hati karena kakaknya. Yang ia lihat hanyalah seorang pria yang sangat protektif dan penuh wibawa.

​"Terima kasih, Mas!" Bisik Gia lirih.

​"Satu lagi," tambah Ares saat mobil hampir sampai di depan butik mewah.

"Jangan pernah berpikir untuk lari. Mas sudah kehilangan satu mempelai, Mas tidak akan membiarkan yang kedua hilang juga!"

​Gia tertegun. Kalimat itu terdengar seperti janji, tapi juga seperti peringatan bahwa ia kini telah terikat sepenuhnya pada pria bernama Aresta ini.

Butik mewah di pusat kota itu terasa sangat sunyi dan eksklusif saat Ares dan Gia melangkah masuk. Para pelayan langsung membungkuk hormat menyambut sang CEO Ardiansyah Group.

​"Pilih apa pun yang kamu suka, Gia. Mas akan menunggumu di sana!" Ucap Ares sambil menunjuk sofa kulit di sudut ruangan.

​Gia mulai melihat-lihat deretan gaun indah. Namun, ketenangannya terusik saat suara tawa melengking terdengar dari arah ruang ganti VVIP. Tiga orang wanita sosialita dengan tas bermerek dan perhiasan berkilau keluar dari sana. Mereka adalah teman-teman dekat Siska.

​"Oh, lihat siapa ini?" ucap salah satu dari mereka, yang bernama Fiona. Ia melipat tangan di dada sambil menatap Gia dengan pandangan menghina.

"Bukannya ini adik tiri Siska? Si anak haram yang numpang hidup di rumah Siska?"

​Dua teman lainnya tertawa kecil mendengar temannya menghina status Gia.

"Siska bilang kamu cuma pembantu di rumah mereka. Kenapa kamu bisa ada di butik sekelas ini? Jangan-jangan kamu mau maling ya?"

​Gia berusaha tetap tenang, meski tangannya dingin.

"Saya tidak mau maling, saya di sini sama suami saya!"

​"Suami?" Fiona tertawa lebih keras.

"Maksudmu Tuan Ardiansyah? Jangan mimpi. Semua orang tahu kamu cuma tambal sulam karena Siska pergi. Kamu itu seperti barang tiruan, Gia. Murahan dan tidak punya kelas!"

​Gia menarik napas dalam, mencoba mengingat kata-kata Ares tadi pagi.

"Barang tiruan atau bukan, saya adalah wanita yang berdiri di altar bersama Tuan Ares. Dan di mata hukum, saya adalah Nyonya Ardiansyah. Bukan kalian, dan bukan juga Kak Siska!"

​"Lancang kamu ya!" Fiona mengangkat tangannya, hendak mendorong bahu Gia.

​Namun, sebelum tangan itu menyentuh Gia, sebuah tangan besar dan kuat mencengkeram pergelangan tangan Fiona dengan sangat keras hingga wanita itu meringis kesakitan.

​"Siapa yang kalian sebut murahan?" suara Ares menggelegar di dalam butik, dingin dan mematikan.

​Ketiga wanita itu seketika pucat pasi. Mereka tidak menyadari Aresta memperhatikan sejak tadi.

​"T-Tuan Ardiansyah... kami hanya bercanda!" gagap Fiona.

​Ares melepaskan tangan Fiona dengan kasar, seolah-olah baru saja menyentuh sampah. Ia merangkul pinggang Gia dengan posesif, menariknya merapat ke tubuhnya.

​"Istriku jauh lebih berkelas daripada kalian semua yang menutupi kekurangan diri dengan barang bermerek!"

Ucap Ares tajam. Matanya menatap mereka satu per satu dengan tatapan menghunus.

"Mulai hari ini, aku akan memastikan nama kalian masuk dalam daftar hitam di seluruh relasi bisnis Ardiansyah. Jangan harap kalian bisa menginjakkan kaki di acara sosial mana pun!"

​"Tuan, kami mohon... maafkan kami!" tangis mereka pecah. Di dunia mereka, dikucilkan oleh Ardiansyah berarti kehancuran status sosial.

​"Keluar!" perintah Ares pendek.

​Setelah mereka lari terbirit-birit, Ares berbalik menatap Gia. Ia melihat mata istrinya yang sedikit berkaca-kaca namun terlihat bangga karena berhasil membela diri tadi.

​Ares mengusap pipi Gia dengan lembut untuk menenangkannya.

"Kamu melakukannya dengan baik Gia. Kamu membela dirimu sendiri. Mas bangga padamu!"

​Gia menatap Ares dengan perasaan haru. Baru kali ini ada yang mengapresiasi apa yang Gia lakukan.

"Terima kasih sudah datang tepat waktu, Mas!"

​Ares tersenyum tipis, sebuah senyum yang kali ini mencapai matanya.

"Mas akan selalu datang tepat waktu untukmu. Sekarang, ayo kita pilih gaun paling mahal di sini. Mas ingin dunia tahu bahwa istri Mas ini adalah permata yang paling berharga!"

1
Esther
Ares cemburu berat sama Satria🤭
astr.id_est 🌻
cieee celembu 🤭😄😄😄
astr.id_est 🌻
romantis bgtt ares 🥰🥰🥰
Shee_👚
gpp di posesif suami sendiri, toh posesif juha kebutuhan dan ke ingin gia terpenuhi jadi nikmati aja di cintain sebegitu besarnya sama suami
Shee_👚
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
sabar satria, dah maklumin aja orang lagi bucin mah suka begitu
Shee_👚
ada yang kebakaran tapi bukan karena api🤭
Shee_👚
aduh cilaka ini di pasangin sama satria, bisa-bisa ares berasap 🤣🤣🤣
Hanima
Lanjut Gia
Hanima
👍👍
Esther
Ares bener2 ya😄
Tuh semua jadi tahu kalau Gia istri Ares Ardiansyah, gak ada yg berani nganggu tuh di kampus
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
Gia semoga kamu selalu bahagia 🥰🥰
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
tahu yang lembut?
Maharani Rani
lanjuttt😍
astr.id_est 🌻
sukaaaaaa
Nar Sih
tuh kan jdi pusat perhatian gia yg yg sdh ketahuan istri ceo ares ardiansyah pasti bnyk mahasiswa yg patah hti nih
Hanima
Lanjut Aress
Shee_👚
gpp lah di posesif selama itu untuk kebaikan, selama tidak mengekang pa pun ke bahagian gia.
merry yuliana
crazy up kak 💪🙏
Shee_👚
satria lngsung kicep dah liat ares, sabar ga satria belum jodoh🤣
Maharani Rani
lanjutt❤️❤️❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!