NovelToon NovelToon
San Sekai No Koi Monogatari

San Sekai No Koi Monogatari

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Sistem / Anime / Tamat
Popularitas:380
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Shin Kurogane bukanlah remaja biasa. Di balik penampilannya yang santai dengan jaket kulit dan ikat kepala merah, ia membawa beban harapan kakeknya untuk menjadi sosok yang bermanfaat. Namun, hidupnya berubah total saat ia menginjakkan kaki di Kamakura Private High School, sebuah institusi elit tempat bertemunya tiga dunia yang berbeda.
​Tiba-tiba, sebuah suara sarkastik dari entitas bernama Miu bergema di kepalanya, memperkenalkan "Template Pekerjaan". Kini, Shin bukan hanya harus menyeimbangkan hidupnya sebagai siswa, tapi juga sebagai penulis novel jenius, koki berbakat, dan ahli medis dadakan.
​Di sekolah ini, ia terjebak di antara sepupu-sepupunya yang dingin seperti Yukino dan Eriri, guru-guru yang butuh perlindungan emosional seperti Shizuka dan Mafuyu, hingga gadis-gadis misterius seperti Utaha dan Megumi. Tanpa kekuatan supranatural atau sihir, Shin harus menggunakan kecerdasan analitis, karisma alami, dan bantuan sistemnya untuk menavigasi drama remaja, persaingan kreatif, da

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dialog di Bawah Lampu Jalan

Lampu-lampu jalan di sepanjang jalur setapak Akademi Sakura mulai berkedip hidup, menyebarkan cahaya kekuningan yang temaram ke atas aspal yang masih lembap oleh sisa kabut pagi. Suasana sekolah sudah sangat sepi; hanya terdengar sayup-sayup suara teriakan dari klub bisbol yang masih berlatih di lapangan jauh. Angin malam bertiup pelan, membawa aroma tanah dan dingin yang mulai menusuk pori-pori.

Aku berjalan menuruni anak tangga gedung utama, merasakan beban tas di bahuku yang seolah menjadi pengingat akan hari yang panjang ini. Namun, langkahku melambat saat mataku menangkap siluet yang sangat kukenal. Di sana, di atas kursi taman yang terletak tepat di bawah lingkaran cahaya lampu jalan, duduk seorang gadis dengan ekspresi yang begitu datar hingga ia tampak seperti bagian dari dekorasi taman itu sendiri.

Kato Megumi.

Ia tidak sedang bermain ponsel, tidak pula sedang membaca buku. Ia hanya duduk diam, menopang dagu dengan satu tangan sembari memperhatikan serangga kecil yang terbang mengitari bola lampu di atasnya. Kehadirannya begitu tipis, seolah-olah dunia ini secara tidak sadar setuju untuk mengabaikannya.

Aku mendekat, sengaja membiarkan suara langkah sepatuku di atas kerikil memberikan peringatan kecil. "Menunggu seseorang di bawah cahaya lampu jalan yang redup... jika ini adalah adegan dalam novelku, aku akan menyebutnya sebagai 'Momen Kehadiran yang Terlupakan'."

Kato menoleh perlahan. Matanya yang jernih memantulkan cahaya lampu, memberikan binar kecil yang jarang terlihat. "Ah, Ren-kun. Kau keluar lebih lama dari yang kubayangkan. Aku sempat berpikir mungkin Hiratsuka-sensei benar-benar membawamu ke ruang interogasi polisi atau semacamnya."

Aku berhenti tepat di samping kursi taman tersebut, menyandarkan tubuhku pada tiang lampu yang dingin. "Hampir saja. Tapi Sensei ternyata lebih suka bernegosiasi daripada melakukan eksekusi. Lalu, kenapa kau masih di sini, Kato-san? Bukankah bus terakhir untuk rute rumahmu lewat sepuluh menit yang lalu?"

Kato menghela napas pelan, sebuah suara kecil yang sangat halus. "Begitulah. Aku tadi terlalu asyik membantu di ruang klub relawan dan kehilangan jejak waktu. Dan saat aku keluar, aku melihatmu masih berada di dalam, jadi aku pikir... tidak ada salahnya menunggu sebentar."

"Menungguku?" Aku menaikkan sebelah alis, menatapnya dengan pandangan analitis yang dibumbui sedikit rasa ingin tahu. "Variabel apa yang membuatmu memutuskan untuk melakukan hal yang begitu merepotkan bagi orang seperti aku?"

"Entahlah," jawabnya singkat sembari bangkit dari kursi. Ia merapikan rok seragamnya dengan gerakan yang sangat teratur. "Mungkin karena aku merasa berhutang budi soal kejadian di belakang gedung olahraga tadi. Atau mungkin, aku hanya penasaran apakah wajah 'menyeramkan' milikmu tadi pagi sudah benar-benar hilang."

Aku terkekeh, mulai berjalan di sampingnya menuju gerbang sekolah. "Wajah itu hanya muncul saat naskah hidupku mencoba diganggu oleh penulis amatir. Sekarang, aku kembali menjadi Ren Saiba yang membosankan—atau setidaknya, begitulah yang ingin kuperlihatkan."

[Keahlian Analitis: Aktif]

[Status: Kato Megumi menunjukkan tingkat kenyamanan 85%]

[Analisis: Tidak ada tanda-tanda ketegangan romantis yang meledak, namun ada koneksi emosional yang stabil.]

Kami berjalan menyusuri trotoar yang sunyi. Hanya ada suara langkah kaki kami yang saling bersahutan. Cahaya toko-toko yang sudah tutup di pinggir jalan memberikan nuansa melankolis yang pas untuk mengakhiri hari ini.

"Bagaimana dengan Yukinoshita-san?" tanyaku, memecah kesunyian. "Apakah dia mengatakan sesuatu setelah kau membantunya di klub?"

"Yukinoshita-san tetaplah Yukinoshita-san," Kato menjawab dengan nada datarnya yang khas. "Dia sangat teliti, sangat dingin, tapi aku bisa merasakan bahwa dia merasa sedikit... terganggu. Bukan karena surat itu, tapi karena fakta bahwa kau yang menyelesaikannya. Dia tipe orang yang ingin memegang kendali atas segalanya, Ren-kun. Dan kehadiranmu adalah variabel yang tidak bisa dia kendalikan."

"Kontrol adalah ilusi bagi mereka yang takut pada ketidakpastian," ujarku puitis, menatap lurus ke jalanan di depan. "Dia harus belajar bahwa terkadang, membiarkan orang lain mengambil beban adalah satu-satunya cara untuk tetap tegak."

Kato berhenti melangkah tepat di bawah lampu merah persimpangan. Ia menoleh padaku, menatapku dengan tatapan yang sangat dalam, seolah sedang mencoba membaca sesuatu yang tersembunyi di balik mataku. "Lalu, siapa yang akan mengambil bebanmu, Ren-kun? Kau bertindak seolah kau adalah sutradara yang mengatur semua orang, tapi kau sendiri tampak seperti orang yang tidak punya tempat untuk bersandar."

Pertanyaan itu menghantamku lebih keras daripada pukulan Tatsuya tadi siang. Bukan karena itu menyakitkan, tapi karena kebenarannya yang telanjang. Sebagai seorang transmigran dengan sistem di kepalaku, aku memang merasa seperti seorang pengamat yang berada di luar garis waktu normal.

Aku tersenyum tipis, kali ini sebuah senyuman yang mengandung sedikit kegetiran yang dewasa. "Mungkin itu adalah harga yang harus kubayar untuk naskah yang sempurna, Kato-san. Lagipula, seorang sutradara tidak seharusnya muncul di depan kamera, bukan?"

"Tapi hidup bukan film," Kato kembali berjalan saat lampu berubah menjadi hijau. "Dan kau bukan hanya seorang sutradara. Kau juga manusia yang harus pulang ke rumah dan makan malam."

Kami sampai di stasiun kereta yang mulai sepi. Sebelum ia melangkah masuk ke area peron, Kato berhenti dan menyerahkan sebuah benda kecil ke tanganku. Sebuah gantungan kunci berbentuk kucing sederhana yang tampak sangat biasa.

"Hadiah dari toko serba ada tadi siang. Anggap saja sebagai penanda agar kau tidak lupa bahwa kau juga salah satu 'karakter' di dunia ini, bukan hanya penulisnya," ucapnya dengan senyum tipis yang tulus sebelum berbalik dan menghilang di balik gerbang tiket.

Aku berdiri diam di peron stasiun, menatap gantungan kunci di telapak tanganku. Sistem di kepalaku tidak memberikan notifikasi apa pun, namun aku merasakan sebuah getaran yang berbeda di dadaku.

[Status Pekerjaan: 82%]

[Analisis Baru: Karakter 'Kato Megumi' adalah variabel penyeimbang yang paling krusial.]

Hari ini ditutup bukan dengan kemenangan besar atau pengakuan cinta yang dramatis, melainkan dengan sebuah percakapan di bawah lampu jalan dan sebuah gantungan kunci murah. Namun bagiku, ini adalah perkembangan plot yang paling jujur yang pernah kualami sejak terbangun di dunia ini.

Suara pintu geser kereta yang tertutup bergema di peron yang sunyi, meninggalkan keheningan yang kini hanya ditemani oleh dengung rendah kabel listrik di atas kepala. Aku masih berdiri di sana, menatap rel yang membentang jauh ke kegelapan, sebelum akhirnya aku memasukkan gantungan kunci dari Kato ke dalam saku. Logam kecil itu terasa dingin, namun maknanya memberikan beban yang nyata pada kesadaranku.

Aku menaiki kereta terakhir menuju rumah. Di dalam gerbong yang hampir kosong, aku duduk menyandarkan kepala pada kaca jendela yang dingin. Pantulan wajahku di kaca tampak asing; seorang remaja dengan mata yang menyimpan rahasia seorang pria dewasa yang telah melewati ambang kematian.

[Sistem Evolusi Pekerjaan]

[Template: Penulis Novel (Mangaka)]

[Kemajuan: 85%]

[Catatan: Hubungan antar variabel mencapai titik jenuh. Disarankan untuk sinkronisasi data rumah tangga.]

Aku memejamkan mata sejenak, membiarkan goyangan kereta menenangkan sarafku yang tegang sejak konfrontasi dengan Tatsuya dan diskusi intens dengan Shizuka. Hidup sebagai pusat dari fusi dunia ini ternyata jauh lebih melelahkan daripada sekadar mengumpulkan aset atau membangun reputasi. Ada tanggung jawab emosional yang tidak tertulis dalam panduan sistem mana pun.

Sesampainya di depan pintu apartemen, aku berhenti sejenak untuk menetralkan aromaku—memastikan bau tembakau dari belakang gedung olahraga benar-benar sudah hilang sebelum Rin menciumnya. Aku memutar kunci dan masuk.

"Aku pulang," ucapku pelan.

"Lama sekali!" Suara Rin menyambar dari arah dapur. Ia muncul dengan celemek yang masih terpasang, memegang sebuah sudit kayu. Wajahnya menunjukkan kekesalan yang sudah mencapai puncaknya, namun matanya memancarkan kelegaan yang ia coba sembunyikan. "Kau tahu sekarang jam berapa? Aku sudah memanaskan sup ini tiga kali!"

Aku meletakkan tas di atas meja ruang tamu dan berjalan mendekatinya. Tanpa berkata apa-apa, aku menepuk kepalanya dengan lembut—sebuah gerakan protektif yang biasanya membuat Rin marah, namun kali ini ia hanya terdiam. "Ada sedikit hambatan dalam variabel kepulanganku, Rin. Maaf membuatmu menunggu."

Rin mendengus, membuang muka meski ia tidak menepis tanganku. "Cepat ganti pakaianmu. Baumu seperti... seperti debu dan jalanan malam. Aku tidak mau kau jatuh sakit lagi setelah semua kerja keras yang kulakukan untuk merawatmu."

Setelah mandi dan mengganti pakaian dengan kaos santai, aku duduk di meja makan. Rin menyajikan nasi hangat dan sup miso yang aromanya sangat menenangkan. Kami makan dalam keheningan yang nyaman, sebuah ritme yang perlahan-lahan mulai terbentuk di antara kami sebagai saudara yang baru saja kembali 'mengenal' satu sama lain.

"Kak," panggil Rin tiba-tiba, suaranya kini lebih lembut. "Soal surat itu... apakah sudah selesai?"

Aku berhenti menyuap nasi, menatapnya dengan pandangan yang tenang. "Sudah. Variabel pengganggunya sudah dikoreksi. Kau tidak perlu khawatir lagi tentang hal-hal seperti itu di sekolah."

Rin menatapku dengan tajam, seolah sedang mencoba menembus dinding di kepalaku. "Jangan terlalu sering menjadi pahlawan sendirian, Ren. Kau punya keluarga di sini, meskipun aku hanya adikmu yang kau anggap cerewet. Jika kau hancur, naskahmu juga akan ikut hancur, bukan?"

Aku tertegun sejenak, lalu tersenyum—sebuah senyum yang benar-benar tulus, tanpa ada embel-embel analitis di baliknya. "Kau benar. Naskah ini butuh protagonis yang sehat."

Setelah makan malam, aku masuk ke kamarku dan menyalakan laptop. Cahaya layar menyinari wajahku di tengah kegelapan kamar. Aku mulai mengetik bab baru untuk novelku, menuangkan semua emosi, teknik bela diri, dan ketegangan ruang guru ke dalam kata-kata yang bernyawa.

[Misi Pekerjaan: Penulis Novel (Mangaka)]

[Status: Menulis Bab Klimaks - Ordinary Days]

[Bahasa Sistem: Peningkatan Kecepatan Mengetik Aktif]

Jemariku menari di atas papan ketik, menciptakan suara klik-klik yang konstan. Di sela-sela menulis, aku memikirkan langkahku besok. Tatsuya hanyalah pion kecil. Haruno adalah pengamat yang berbahaya. Dan Shizuka... Shizuka adalah variabel tak terduga yang kini memiliki kunci menuju sisi prioritasku.

Aku juga memikirkan tentang proyek baru yang harus kubangun—sebuah sistem perlindungan internal yang tidak terlihat. Aku tidak bisa selamanya mengandalkan konfrontasi fisik. Aku butuh pengaruh sosial, sebuah jaringan yang membuat siapa pun berpikir seribu kali sebelum menyentuh orang-orang di sekitarku.

"Jika dunia ini adalah sebuah naskah, maka aku akan memastikan bab selanjutnya adalah tentang kedamaian yang dipaksakan," tulisku di baris terakhir draf malam itu.

Aku mematikan laptop, merebahkan tubuh di tempat tidur, dan menatap gantungan kunci pemberian Kato yang kulepaskan di atas meja nakas. Hari ini telah berakhir dengan 85% kemajuan template pekerjaanku. Besok, aku akan kembali ke Akademi Sakura, menghadapi pagi yang mungkin kembali berkabut, namun dengan pondasi yang jauh lebih kuat.

Aku memejamkan mata, membiarkan kesadaran menyerah pada kantuk yang dalam, sementara sistem dalam pikiranku terus bekerja melakukan sinkronisasi terakhir untuk hari ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!