NovelToon NovelToon
From Turis To Will You Marry Me

From Turis To Will You Marry Me

Status: tamat
Genre:Mafia / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ws. Glo

David Mendoza adalah pria paling menakutkan dan problematik di Sao Paulo, Brazil. Selain karena ia seorang Chief Executive Officer (CEO) perusahaan minyak dan gas terbesar kedua di negara itu, David merupakan ketua kartel kelas kakap. Sehingga membuatnya amat diwaspadai, baik di dunia bawah tanah maupun dalam pergulatan bisnis. Tidak ada yang berani menyentuhnya.
Sampai pada suatu hari, Laila Cakrawala yang merupakan seorang turis asal Indonesia, membuatnya terpana. Sejak saat itu, David terobsesi untuk mendapatkan Laila yang ternyata sudah menikah.
Tetapi, hubungan rumit itu jelas memancing banyak tantangan, baik soal perasaan maupun alur kehidupan mereka, meski sekalipun David berhasil menjerat Laila dengan kedok uang pinjaman sebesar lima ratus juta!
Akankah ini semua bakal berakhir bahagia? Atau malah, sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ws. Glo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

(Episode 33) Kabar mengejutkan di jam makan siang

Siang itu, matahari menggantung tinggi di langit seperti bola api raksasa yang tidak kenal ampun. Udara di luar gedung ODM Company terasa begitu terik hingga panasnya menembus kaca-kaca besar yang melapisi dinding gedung pencakar langit tersebut.

Sebaliknya, di ruang kerja David Mendoza tetap terasa tenang dan sejuk berkat pendingin udara yang bekerja tanpa henti. Meski begitu, suasana di dalam sana tampak dipenuhi kesibukan yang tidak kalah panasnya dibandingkan cuaca di luar.

Di balik meja kerjanya yang luas dan elegan, David duduk tegap sambil memegang ponsel di telinganya. Wajahnya terlihat serius, alisnya sedikit berkerut, menandakan bahwa percakapan yang sedang ia lakukan bukan membahas perihal biasa.

Suaranya terdengar rendah namun tegas, sesekali ia menyela pembicaraan di ujung sana dengan kalimat singkat yang penuh pertimbangan. Tangannya yang bebas sesekali mengetuk permukaan meja dengan ujung jarinya, sebuah kebiasaan yang sering muncul ketika ia sedang bergulat dalam pikiran.

Di hadapannya, beberapa dokumen penting terbuka rapi, tetapi fokusnya saat ini sepenuhnya tertuju pada orang yang berada di balik telepon itu.

Tiba-tiba terdengar suara ketukan pelan di pintu ruangan.

Tok… tok… tok…

David tidak langsung menoleh. Ia masih tenggelam dalam pembicaraan seriusnya. Namun setelah beberapa detik, ia mengangkat sedikit kepalanya dan berkata singkat tanpa menghentikan percakapan di telepon.

"Masuk." Suara itu terdengar datar, namun tetap berwibawa.

Cekritt…

Pintu ruangan itu terbuka perlahan, memperlihatkan sosok wanita yang melangkah masuk dengan hati-hati. Ia tak lain adalah Laila, sekretaris pribadi David yang baru saja resmi bekerja di sana beberapa waktu lalu, meski status aslinya jauh lebih dari itu.

Di tangannya terdapat beberapa berkas dokumen yang kelihatan cukup tebal. Begitu masuk, ia sempat melirik ke arah David.

Pria itu hanya menatapnya sekilas, lalu kembali fokus pada telepon yang masih menempel di telinganya. Bisa dibilang pembicaraan itu memang sangat penting, karena David bahkan tidak memberikan reaksi lebih.

Namun Laila tidak terlalu memikirkan hal tersebut. Ia berjalan mendekati meja kerja David, lalu meletakkan beberapa berkas yang dibawanya.

"Dev… ah maksud saya, Pak David, tolong tandatangani dokumen ini," ucap Laila. Nada suaranya sedikit canggung karena hampir saja ia memanggil pria itu dengan sebutan yang terlalu pribadi untuk situasi kantor.

David masih berbicara di telepon ketika ia melirik dokumen tersebut.

"Oh…," gumamnya pendek. Tanpa banyak basa-basi, ia mengambil pena yang terletak di atas meja, lalu segera menandatangani setiap halaman dokumen itu dengan gerakan cepat dan cekatan. Tangannya bergerak dengan lihai seolah sudah terbiasa melakukan hal tersebut ratusan kali setiap hari.

Sementara itu, Laila berdiri di depan meja sambil menunggu. Tanpa sadar, matanya mulai memperhatikan David lebih lama dari yang seharusnya.

Semakin diperhatikan dengan saksama, pria itu memang sangat tampan. Rahangnya tegas, dihiasi garis brewok tipis yang membuat wajahnya terlihat semakin maskulin. Rambutnya tertata rapi. Gerakan tubuhnya terlihat berwibawa dan professional. Bahkan cara ia berbicara di telepon juga terdengar sangat berkharisma, seakan tiap kata yang keluar dari mulutnya memiliki bobot tersendiri.

Laila terlarut sesaat dalam renungan itu. Hingga pipinya perlahan memerah. Kemudian, ia menunduk sedikit menyadari jikalau entah mengapa ia merasa aneh, karena tersipu melihat pria yang menurutnya tidak ia cintai.

Yang jelas, melihat David dalam mode profesional seperti ini justru membuat pesonanya terasa berkali-kali lipat lebih kuat.

David pun telah selesai menandatangani semua dokumen tersebut. Tanpa menghentikan percakapan di telepon, ia mengulurkan kembali berkas itu kepada Laila.

"Nih."

Laila tersentak kecil dari lamunannya.

"Oh… iya." Ia segera mengambil dokumen tersebut. Tapi ekspresinya sedikit berubah menjadi bingung.

Di dalam hatinya, ia mulai bertanya-tanya. "Tumben sekali..."

"Biasanya kalau cuma berduaan begini, dia pasti akan menggangguku. Paling tidak, menggodaku dengan kalimat-kalimat tengilnya."

"Sikapnya ini berbanding terbalik dengan yang tadi pagi," batin Laila sebab pria itu nyaris tidak memperhatikannya.

Matanya kembali melirik David yang masih berbicara di telepon.

"Entah siapa gerangan yang meneleponnya. Sepertinya mereka sedang membahas hal yang sangat penting," Lagi-lagi Laila termenung.

Tapi sebelum Laila sempat berpikir lebih jauh, Sebuah benda kecil tiba-tiba mengetuk pelan keningnya.

Tok!

"Auw!" Laila langsung meringis sambil memegang dahinya. Ia menatap tajam ke arah David. Pria itu ternyata mengetuk keningnya menggunakan ujung pena.

Wajah David tetap tenang. Ia hanya mengangkat sebelah alisnya sedikit, memberi isyarat tanpa kata. Seolah mengatakan keluar!

Laila langsung menggembungkan pipinya dengan kesal. Ia mendengus pelan. "Dasar menyebalkan!" batinnya.

Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Laila berbalik dan berjalan keluar dari ruangan itu dengan langkah agak cepat.

Brakk!

Pintu tertutup dengan sedikit keras. David tidak terlalu mempedulikannya. Ia beralih kembali pada teleponnya.

"Tentu saja," ucapnya dengan nada serius. "Saya akan menghadiri acara itu bersama istri saya."

Beberapa detik kemudian—

Tuttt.

Sambungan telepon berakhir.

David menarik napas pelan, lalu meletakkan ponselnya di meja. Wajahnya yang tadi serius perlahan berubah menjadi lebih santai. Ia berdiri dari kursinya, merapikan sedikit jasnya, lalu berjalan keluar dari ruangannya.

Di seberang situ, pintu ruangan Laila terbuka sedikit. David mengalunkan langkah, lalu mendorong pintu itu perlahan.

"Sayang…?" Ia melongok ke dalam.

Di sana, Laila sedang duduk di kursinya sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kerjanya.

Ternyata sebuah kotak bekal.

Begitu mendengar suara David, Laila langsung terperangah dan menoleh. David tersenyum lebar melihatnya. Senyum yang begitu hangat dan berbeda jauh dari sikap dinginnya tadi.

Namun Laila langsung memalingkan wajahnya dengan mendengus. "Hngm!"

Laila masih ngambek. Membuat David semakin melebarkan senyum gemasnya oleh reaksi itu. Ia masuk ke dalam ruangan Laila dan duduk santai di salah satu kursi tamu. Pandangan matanya tertuju pada meja kerja Laila. Di sana terdapat dua kotak bekal yang sudah dikeluarkan.

"Apa itu untukku?" tanya David dengan nada tengil.

Laila hanya mengangguk. Tidak ada suara apalagi komentar.

David mengangkat alisnya. Kemudian ia mencoba menyanjung Laila, "wah… istriku ternyata sangat perhatian."

Laila masih enggan memandanginya. Ia sibuk membuka kotak bekal tersebut.

"Ngomong-ngomong," lanjut David. "Sejak kapan kau membawa bekal?"

"Perasaan..."

"Tadi aku meminta Mia memasakkan makan siang yang sehat," ujar Laila menyela omongan David yang belum sempat ia selesaikan.

David terdiam sejenak.

Laila melanjutkan dengan nada santai. "Lalu aku menyuruh Leo mengambilkannya. Ini baru saja sampai." Ia lantas mengatur makanan itu di atas meja dengan rapi. Aroma masakan hangat langsung menyebar di ruangan kecil itu.

Kemudian Laila menoleh sedikit ke arah David. "Ngapain cuma bengong?"

Ia mengangkat dagunya. "Ayo sini makan."

David terdiam sejenak. Tiada lama, sorot matanya melembut. Tidak tahu kenapa, melihat pemandangan sederhana seperti demikian, membuat dadanya terasa hangat. Sudah lama sekali ia tidak merasakan hal ini. Perasaan diperhatikan dan dirawat oleh orang yang ia cintai.

Oleh sebabnya, dengan sikap spontan David berdiri dan berjalan mendekati Laila. Aih-alih duduk di kursi yang berada disebelah wanita itu, ia malah memeluknya dari samping.

Pelukan itu lembut, hangat, dan penuh rasa syukur. "Thank you, my darling…"

Laila langsung membeku. Wajahnya memerah seketika. "Heh!" Ia menepuk pelan lengan David.

"Apaan sih…" Dengan canggung, Laila melepaskan pelukan itu.

"Iya sama-sama," balasnya berdeham kecil. "Ya sudah, ayo makan. Karena setelah ini, kita harus lanjut bekerja keras."

David tersenyum kecil. "Baik, Bu Sekretaris."

Mereka pun mulai makan bersama. Suasana di ruangan kecil itu berubah menjadi hangat dan santai. David makan dengan lahap. Seolah ia sudah sangat lapar sejak tadi.

Menyaksikan hal itu, hati Laila tiba-tiba terasa terenyuh. Ia memperhatikan David diam-diam. Di dalam hatinya, ia tersenyum.

"Laki-laki kalau makan, memang kelihatan kasihan ya..." ia menahan tawa kecil.

Kemudian pikirannya mulai melayang. "Kalau begini terus… Berarti aku mesti menyiapkan bekal makan siang untukku dan David setiap hari, dong?"

"Mmm…"

Laila berpikir keras. "Kira-kira besok bawa menu apa ya?"

Mendadak matanya berbinar. "Aha!"

Sebuah ide muncul di kepalanya. "Bagaimana kalau… masakan Indonesia saja?"

"Hihihi, sesekali biarin dia nyobain makanan Indonesia yang pedas dan berkuah, ah. Hahaha, membayangkannya saja sudah membuatku bersemangat," Laila tertawa kecil. Ia nampak antusias memikirkan hal itu.

David hanya tersenyum sambil terus makan, ketika melihatnya begitu. Dalam hati ia bergumul, "entah apa yang direncanakannya."

Selang beberapa menit kemudian, makan siang mereka pun selesai.

David bersandar sedikit di kursinya.

"Oh iya," katanya tiba-tiba. "Aku lupa menyampaikan sesuatu."

Laila menoleh. "Apa?"

David menatapnya dengan tenang namun menyimpan sebuah makna tersirat. "Minggu depan…"

Ia berhenti sebentar lalu berucap, "kita akan menghadiri acara pembukaan kantor cabang Miu Corp."

"Karena sebagai investor, aku tidak boleh melewatkan agenda itu..." lanjut David membuat Laila tersedak.

Degggg!!

1
M
/Determined/
Wssshh🐳: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣💪
total 2 replies
Masha 235
maaf ya author yg nulis cerita ini ..maaf kalo sekiranya ada kata kataku yg menyinggung🙏🙏ini secara tidak langsung cerita ini kn perselingkuhan ,1 wanita punya 2 suami..maaf nggak repect🙏🙏
M: yaudah kan tinggal gausah baca kak🙏 novel modelan begini juga banyak kali😂 anda datang-datang cuma ngasih komen begini. ngotorin karya orang aja😍🙏 pelit like dan cuma numpang baca aja banyak omong😍 hargai author. minimal sebagai pembaca ada etikanya🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!