Tiga hari ia bergulat dengan maut. Bayinya lahir tanpa tangis. Lalu diam selama 25 tahun.
Aryo hanya penarik becak. Istrinya buruh cuci. Mereka tak punya uang untuk rumah sakit, apalagi untuk terapi. Tapi ketika dokter bilang anaknya tak akan pernah normal, Aryo cuma berkata: "Dia tetap anakku."
Warga bilang anaknya kena guna-guna. Tetangga bergunjing di setiap pos kamling. Batu dilempar ke rumahnya tengah malam. Tapi Aryo bertahan. Sampai suatu hari, istrinya batuk darah. Dan Aryo harus memilih: selamatkan istri, atau rawat anak yang tak pernah bisa memanggilnya Bapak?
Kisah nyata seorang ayah yang mengajarkan arti cinta tanpa syarat.
Siap-siap sediakan tisu. Karena setiap bab akan membuatmu terisak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: TIGA HARI DALAM RAHIM
Tiga hari.
Aryo menghitungnya dari suara ayam jago yang berkokok setiap fajar. Sekarang ayam itu berkokok untuk keempat kalinya. Tiga hari istrinya, Dewi, bergulat dengan maut di atas dipan bambu ini. Tiga hari Aryo hanya bisa duduk di kursi reyot itu, memegangi tangan dingin Dewi, dan berdoa pada Tuhan yang tak kunjung menjawab.
"Wi..."
Suara itu hanya bisik. Hampir seperti angin. Tapi cukup untuk membuat jantung Aryo berhenti sejenak. Ia mendekatkan telinga ke bibir istrinya. Wangi tanah dan keringat. Wangi perjuangan.
"Wi... aku... aku udah enggak kuat..."
Aryo menggenggam tangan Dewi lebih erat. Dingin. Terlalu dingin. Padahal tadi pagi masih hangat. Sekarang dinginnya seperti es yang merambat dari ujung jari ke seluruh tubuh.
"Kamu harus kuat, Ri. Bentar lagi. Kita ke rumah sakit."
Dewi menggeleng lemah. Matanya terpejam. "Enggak usah... Mas... enggak usah... rumah sakit... mahal..."
"NGACO!" potong Aryo. Tapi suaranya bergetar. Matanya basah. "Kamu jangan mikir mahal! Yang penting kamu selamat! Anak kita selamat!"
Dewi diam. Napasnya naik turun. Cepat. Terlalu cepat. Aryo hitung: satu... dua... tiga... empat... lima... enam... tujuh... delapan. Delapan napas dalam sepuluh detik. Kata Bu Satinah, itu tandanya... tandanya...
Ah, Aryo nggak berani mikir.
Ia pandangi istrinya. Dewi kurus banget sekarang. Dulu, waktu masih pacaran, Dewi montok. Pipinya chuby. Suka ngambek kalau Aryo telat jemput. Kalau lagi marah, bibirnya manyun, tapi matanya masih senyum. Manja banget.
Sekarang? Pipinya cekung. Kulitnya pucat kayak kertas. Rambutnya lepek, basah oleh keringat dingin. Bibirnya kering, pecah-pecah. Tangannya yang dulu lembut, sekarang kurus kering. Tulangnya jelas kelihatan.
Aryo pegang perut Dewi. Perut besar itu. Di dalam sana, ada anaknya. Anak pertama. Yang selama 5 tahun mereka doakan setiap malam.
Tuhan, ini anak yang Bapak minta. Ini anak yang Bapak tunggu. Jangan ambil. Jangan ambil mereka.
Tiba-tiba, Aryo merasakan gerakan. Kecil. Dari dalam perut Dewi. Bayinya bergerak. Masih hidup.
Ia tempelkan pipinya ke perut istrinya. Berdebar. Jantung kecil itu berdetak. Satu... dua... tiga... jeda panjang. Empat... lima... jeda lagi.
Aryo hitung. Takut. Takut kalau jeda itu makin panjang. Takut kalau suatu saat detak itu berhenti total.
"Nak... bertahan..." bisik Aryo, nyaris tanpa suara. "Bapak di sini... Bapak belum lihat wajahmu... Bapak belum gendong kamu... Nak..."
Air matanya jatuh. Membasahi kain basah di perut Dewi.
Dewi merasakan hangat itu. Tangannya yang lelah meraih rambut Aryo. Mengelusnya lemah. Seperti dulu, saat Aryo pulang capek narik becak, Dewi selalu ngelus rambutnya.
"Dia dengar, Wi..." bisik Dewi. "Dia tahu... bapaknya sayang..."
"PAK! PAK ARYO!"
Suara teriakan dari luar rumah. Bu Satinah. Pintu kayu didorong keras. Perempuan gemuk dengan daster lusuh itu masuk, napasnya memburu. Wajah bulatnya merah, keringat mengucur di pelipis.
"Pak! Saya dengar ada mobil lewat! Mungkin bisa nebeng ke rumah sakit! Cepet!"
Aryo terkesiap. Semangat mengalir lagi. Ia gendong Dewi. Tubuh istrinya ringan. Terlalu ringan. Seperti gendong kapas. Mana mungkin orang dewasa seringan ini?
"Kuat, Ri... kita berangkat... kamu harus kuat..."
Dewi diam. Matanya terpejam. Tangannya menjuntai lemas.
Aryo melangkah ke pintu. Tapi di ambang rumah, langkahnya terhenti.
Dewi menarik napas panjang. Panjang sekali. Lalu diam.
Terlalu diam.
"Ri? Ri! RI! JANGAN TIDUR!"
Aryo goyang-goyang tubuh Dewi. Nggak ada respons. Dadanya nggak bergerak.
"RI! RI! JANDA! JANGAN! JANGAN PERGI!"
Jeritannya memecah malam. Ayam-ayam di kandang tetangga berkokok panik. Anjing-anjing menggonggong.
Bu Satinah menjerit, lari keliling kampung minta tolong.
Tapi Dewi diam. Membisu.
Aryo berlutut di pintu, masih menggendong Dewi yang tak bergerak. Ia tempelkan telinga ke dada istrinya.
Jantung Dewi berdetak. Satu... dua... tiga... jeda panjang. Empat... lima... jeda lagi.
Masih ada. Tapi lemah. Sangat lemah.
"Tuhan..." bisik Aryo, menatap langit-langit rumah yang bocor. "Tolong... aku nggak minta apa-apa... aku nggak minta kaya... aku nggak minta enak... tapi tolong... tolong selamatkan istriku... selamatkan anakku..."
Nggak ada jawaban. Cuma suara jangkrik di luar. Dan suara isak tangisnya sendiri.
"PAK! PAK! MOBILNYA MASIH ADA!"
Bu Satinah kembali. Di belakangnya, seorang bapak-bapak dengan peci lusuh. Sopir angkutan desa.
"Pak, ini Pak Karjo. Beliau mau anter ke rumah sakit. Gratis, Pak. Gratis."
Aryo nggak sempat mikir. Ia gendong Dewi, lari ke mobil. Mobil tua warna hijau pudar. Pintunya bunyi krekesan.
Sepanjang jalan, Aryo pegang tangan Dewi. Nggak lepas. Tangannya gemetar. Kakinya juga gemetar. Gigi-giginya gemeletuk, padahal nggak dingin.
"Kuat, Ri... bentar lagi... sebentar lagi... kita udah jalan... kamu harus kuat..."
Dewi diam. Napasnya makin tipis.
Pak Karjo ngebut. Jalanan rusak, mobil oleng ke kiri ke kanan. Aryo jatuh bangun, tapi tangannya nggak lepas dari Dewi.
Di tikungan, ia lihat ke luar jendela. Jalanan gelap. Hujan mulai turun. Rintik-rintik di kaca mobil.
Aryo ingat sesuatu. Lima tahun lalu. Waktu pertama tahu Dewi hamil. Ia lompat-lompat kegirangan di pinggir jalan. Beli gorengan buat tetangga. "Saya mau punya anak! Saya mau jadi bapak!" Teriaknya waktu itu.
Sekarang? Ia duduk di mobil tua, menggendong istri yang sekarat, dan berdoa dalam hati.
Tuhan, aku nggak minta banyak. Dulu aku minta anak. Dikasih. Sekarang aku minta istriku selamat. Jangan ambil dia. Aku nggak tahu hidup tanpa dia.
"PAK! PAK! SAMPAI!"
Pak Karjo berhenti di depan UGD. Aryo turun, gendong Dewi. Berlari masuk sambil teriak minta tolong.
Perawat-perawat panik. Brankar didorong. Dewi diangkat.
Saat Dewi dipindahkan ke brankar, tangannya yang lemas menjuntai. Aryo pegang tangan itu. Cium. "Aku tunggu di sini, Ri... aku tunggu..."
Dewi nggak jawab. Matanya terpejam.
Pintu UGD tertutup. Lampu merah di atas pintu menyala.
Aryo di lorong sendirian. Basah kuyup. Kaki berdarah kena pecahan kaca waktu lari tadi. Ia nggak peduli. Ia hanya duduk di lantai, memandangi pintu itu.
Bu Satinah duduk di sampingnya. Nggak ngomong apa-apa. Cuma megang pundak Aryo.
"Bu..." suara Aryo serak. "Dewi... Dewi selamat kan, Bu?"
Bu Satinah diam. Nggak bisa jawab.
"Bu... saya takut... saya takut kehilangan dia..."
Air mata Aryo jatuh. Jatuh tanpa suara. Bahunya bergetar. Rahangnya ngunci, susah payah nahan isak.
Bu Satinah peluk Aryo. Perempuan gemuk itu juga nangis.
"Kuat, Pak... Dewi kuat. Dia ibu yang kuat. Dia pasti selamat."
Jam dinding di lorong berdetak. Tek... tek... tek... Aryo hitung setiap detaknya. Satu jam. Dua jam. Tiga jam.
Pintu UGD terbuka.
Seorang dokter keluar. Wajahnya lelah. Mungkin sudah 24 jam jaga. Ia melihat Aryo yang duduk di lantai, basah kuyup, mata sembab.
"Bapak suaminya Mbak Dewi?"
Aryo berdiri. Lututnya gemetar. Kepalanya pusing. Tapi ia paksakan.
"Ia... ia... gimana, Dok? Istri saya? Anak saya?"
Dokter itu diam sebentar. Terlalu lama. Aryo rasanya ingin pingsan.
"Ikut saya, Pak. Ada yang perlu Bapak lihat."
Aryo digiring ke sebuah ruangan. Bukan ruang tunggu biasa. Ruangan kecil, dingin, hanya ada kursi kayu dan meja. Di dinding ada poster kesehatan. Ibu hamil. Bayi sehat.
Aryo memalingkan muka. Terlalu perih lihat itu.
"Pak, anak Bapak lahir. Perempuan."
Aryo napas lega. Anaknya lahir. Selamat.
Tapi dokter melanjutkan, "Tapi... proses kelahiran terlalu lama. Bayi kekurangan oksigen. Kami sudah berusaha, tapi..."
Dokter berhenti.
Aryo menahan napas. "Tapi apa, Dok?"
"Ada kemungkinan kerusakan otak, Pak. Kami belum bisa pastikan seberapa parah. Tapi anak Bapak... dia tidak menangis saat lahir. Hanya mengeluarkan suara 'wow' pendek, lalu diam. Itu tanda..."
Aryo nggak dengar lanjutan kalimat dokter. Kata-kata itu masuk ke telinga, tapi nggak sampai ke otak. Kerusakan otak? Apa itu? Anaknya kenapa?
"Bisa lihat anak saya, Dok?"
Dokter mengangguk. Antar ke sebuah ruangan. Di balik kaca, Aryo lihat sebuah inkubator. Bayi mungil di dalamnya. Sangat mungil. Merah. Kabel di mana-mana. Selang di hidung.
"Kenapa dia diam, Dok?" tanya Aryo. "Kenapa nggak nangis? Bayi lain nangis. Anak saya kok diem?"
Dokter menjelaskan sesuatu. Panjang lebar. Tentang otak, tentang oksigen, tentang cerebral palsy. Aryo nggak dengar. Matanya hanya pada bayi itu. Anaknya. Darah dagingnya. Yang selama 9 bulan ia doakan setiap malam.
Ia tempelkan telapak tangan ke kaca. Dingin. Tapi ia berharap bayi itu merasakan hangatnya.
"Nak... Bapak di sini... Bapak nggak akan ninggalin kamu..."
Bayi itu tak bergerak. Aryo terus menatap. Berharap ada respons.
Tiba-tiba, tangan mungil itu bergerak. Sedikit. Aryo yakin itu bukan hayalan.
Perawat masuk, menepuk pantat bayi itu. Sekali. Dua kali. Akhirnya...
"WOW..."
Suara kecil itu keluar sebentar. Lalu diam lagi. Tapi bagi Aryo, itu adalah suara terindah di dunia. Ia tersenyum. Air matanya jatuh.
"Itu dia, Pak," kata perawat. "Dia bertahan. Dia anak yang kuat."
Aryo keluar ruangan. Dewi masih di UGD, belum sadar. Tapi anaknya selamat. Ada harapan.
Dokter memanggil lagi. Wajahnya serius. "Pak, bayi Bapak butuh perawatan intensif. Setidaknya dua bulan. Biayanya..."
Dokter menyebut angka. Aryo jatuh lunglai.
Ia keluar ruangan. Merogoh saku celana. Uangnya sisa Rp 5.000. Cuma cukup buat beli nasi bungkus satu.
Di rumah, nggak ada yang bisa dijual. Kambing udah habis buat biaya lahiran. Sawah udah digadaikan. Becak? Itu satu-satunya sumber penghasilan. Kalau dijual, besok narik apa?
Aryo duduk di lorong. Menunduk. Lampu neon mendengung. Pasien lalu lalang. Keluarga lain datang sambil bawa makanan, bawa uang, bawa harapan.
Aryo? Ia cuma bawa ketakutan.
Bu Satinah datang. Duduk di sampingnya. "Pak, gimana?"
Aryo diam. Nggak bisa jawab.
"Pak, saya pinjemin dulu. Nggak usah mikir utang. Yang penting bayi bapak selamat."
Aryo menatap Bu Satinah. Matanya basah. "Bu... saya... saya nggak tahu harus bilang apa..."
"Nggak usah bilang apa-apa. Saya lihat perjuangan bapak. Saya salut."
Aryo pegang tangan Bu Satinah. Nggak bisa ngomong. Hanya bisa nangis.
Malam itu, Aryo tidur di lorong rumah sakit. Beralas koran, ditemani suara monitor dan langkah perawat.
Ia mimpi. Mimpi Dewi tersenyum, menggendong bayi mereka. Bayi itu tertawa. Sehat. Normal.
Tapi saat ia bangun, yang ada cuma lampu neon redup dan bau obat di hidung.
Ia ke jendela NICU. Bayinya masih di inkubator. Masih diam. Masih dengan selang di mana-mana.
Aryo tempelkan tangan ke kaca. Lagi.
"Nak... Bapak janji... Bapak bakal jagain kamu. Sakit atau sehat, kamu tetap anak Bapak. Bapak nggak bakal ninggalin kamu. Nggak bakal, Nak. Nggak bakal."
Bayi itu tak bergerak. Tapi di monitor, detak jantungnya stabil. Sekuat tenaga. Sekuat cinta seorang ayah yang baru saja melihat anaknya untuk pertama kali.
Di luar, hujan reda. Fajar mulai merekah. Ayam jago di kejauhan berkokok.
Hari kelima akan segera dimulai. Dan Aryo tahu, perjuangannya baru saja dimulai.
Perjuangan yang akan berlangsung bukan dua bulan. Tapi mungkin... seumur hidup.
[BERSAMBUNG]
Catatan
Cerebral Palsy (CP) atau lumpuh otak adalah sekelompok kondisi yang memengaruhi gerakan, koordinasi, dan postur tubuh akibat gangguan atau kerusakan pada otak yang sedang berkembang