Andreas St. Clair adalah definisi dari kesempurnaan yang arogan. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris dinasti elit New York, ia tidak memiliki toleransi untuk kegagalan atau amatirisme. Baginya, film terbarunya hanyalah bisnis biasa, hingga ia dipasangkan dengan Seraphina Vanderbilt, Terkenal Gadis Manis Manhattan yang reputasinya sebersih salju.
Ketegangan memuncak di lokasi syuting saat adegan ciuman mereka gagal hingga enam kali.
Andreas, yang muak dengan kekakuan Seraphina, menghina bakat dan profesionalitasnya di depan semua orang. Namun, Andreas tidak tahu bahwa di balik sikap dingin Seraphina, tersimpan sebuah rahasia, itu adalah ciuman pertamanya, baik di depan kamera maupun dalam hidupnya.
Terluka dan dipicu amarah, Seraphina melepaskan topeng "gadis baik-baik" miliknya. Dia menantang ego Andreas dengan keberanian yang belum pernah dilihat dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Andreas menarik napas panjang, mencoba mengisi rongga dadanya yang terasa hampa. Dia menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa, menatap langit-langit trailer dengan tatapan kosong.
"Namanya Veris Cloth," suara Andreas pecah, nyaris berbisik. "Kau mungkin mengenalnya sebagai model, tapi bagiku, dia adalah satu-satunya rumah yang kupunya."
Sera tertegun. Dia tahu Veris, wanita dengan senyum hangat yang selalu tampak dewasa di setiap sampul majalah. Di kalangan elit New York yang dingin dan penuh kompetisi, sosok seperti Veris adalah anomali.
"Ibuku pergi saat aku masih sangat kecil," lanjut Andreas tanpa menoleh pada Sera. "Ayahku... dia adalah pria hebat, tapi dia bukan tipe orang yang akan menanyakan bagaimana hariku. Baginya, St. Clair harus kuat, tidak boleh retak. Veris adalah satu-satunya orang yang memelukku saat aku gagal mendapatkan peran, atau saat aku merasa muak dengan namaku sendiri. Dia memiliki sisi keibuan yang tidak pernah kudapatkan dari siapa pun."
Sera mendengarkan dalam diam. Dia mulai memahami mengapa Andreas begitu hancur semalam. Pria ini tidak hanya kehilangan seorang kekasih; dia kehilangan sistem pendukungnya, satu-satunya tempat dia bisa menjadi manusia biasa tanpa embel-embel Aktor Puncak.
Andreas mengambil ponselnya dari lantai, menatap nama Veris di layar untuk terakhir kalinya. Jemarinya ragu sejenak, namun kemudian matanya menajam. Rasa sakit itu mulai berubah menjadi ketegasan yang pahit.
"Dia bilang dia menemukan kehidupan baru. Seseorang yang punya waktu untuknya," Andreas mencibir pada dirinya sendiri.
"Artinya, dia sudah membangun tembok di antara kita. Dan jika dia sudah menemukan kebahagiaan lain, maka tidak ada lagi celah bagiku untuk kembali. Aku tidak akan mengemis pada seseorang yang sudah menutup pintu."
Sera bisa merasakan harga diri seorang St. Clair kembali bangkit, namun kali ini bukan dengan keangkuhan, melainkan dengan penerimaan yang menyakitkan.
Sera tidak tahu apa yang merasukinya. Dia, yang tadi pagi ingin sekali menampar Andreas, kini justru merasa ingin melindungi kerapuhan pria itu. Dia menggeser duduknya, lebih dekat dengan Andreas.
"Kehidupan baru itu bukan milikmu, Andreas. Tapi kau juga punya kehidupanmu sendiri. Kau punya panggung ini, kau punya bakatmu, dan..." Sera menjeda kalimatnya, mencari kata yang tepat. "...kau punya orang-orang di sini yang meski kau anggap kaku sebenarnya menghargaimu."
Andreas menoleh, menatap mata Sera. Untuk pertama kalinya, dia melihat Sera bukan sebagai Vanderbilt yang Manis atau Lawan Main yang Kaku, melainkan sebagai wanita yang benar-benar bisa melihat menembus topengnya.
"Kenapa kau masih di sini, Sera? Bukankah kau muak padaku?" tanya Andreas, suaranya kini lebih tenang.
Sera tersenyum tipis, sebuah senyuman yang kali ini benar-benar tulus. "Aku masih punya tisu untuk menghapus residumu jika kau macam-macam. Tapi untuk sekarang... kupikir kau butuh seseorang yang tidak menuntutmu untuk menjadi sempurna."
Di luar trailer, suara kru yang memanggil-manggil untuk adegan selanjutnya terdengar sayup-sayup. Namun di dalam, Andreas merasa sebuah beban berat yang selama ini dia pikul sendirian mulai terangkat. Dia sadar, dunianya dengan Veris mungkin sudah berakhir, tapi di depan matanya, ada Seraphina, gadis yang baru saja memberinya alasan untuk tetap berdiri tegak di atas puncak.
Malam itu, di dalam apartemennya yang mewah di Manhattan, Sera sedang melakukan siaran langsung di media sosial untuk menyapa para penggemarnya sembari menghapus riasan wajah setelah hari yang melelahkan di lokasi syuting.
Sambil mengusap wajah dengan kapas, ribuan komentar membanjiri layarnya, banyak di antaranya yang menggoda tentang chemistry panasnya dengan Andreas hari ini.
Tiba-tiba, saat ia mengusap bibir bawahnya, Sera meringis kesakitan.
"Aduh," gumamnya pelan sambil menyentuh bibirnya yang tampak sedikit pecah dan memerah, mungkin akibat ia menggosoknya terlalu keras dengan tisu di lokasi syuting tadi siang.
Malam itu di apartemennya yang sepi, Andreas terus memperhatikan layar ponselnya. Ia melihat Sera yang sedang melakukan live, mendadak meringis kesakitan saat menyentuh bibir bawahnya. Ribuan komentar penggemar yang menjodoh-jodohkan mereka terus mengalir, namun Andreas tidak peduli. Ia merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi di lokasi syuting tadi.
Tak butuh waktu lama bagi Andreas untuk mengetik pesan pribadi dan mengirimkannya ke ponsel Sera.
Andreas: "Hey Sera, apa bibirmu sakit karena kena gigiku saat adegan ciuman kita yang terakhir kali? Aku melihatmu meringis di live tadi."
Sera yang baru saja selesai menghapus riasannya, melihat notifikasi pesan itu muncul di layar. Ia memutar bola matanya, merasa kesal sekaligus terkejut karena Andreas ternyata menonton siarannya. Dengan ketus, ia langsung membalas.
Sera: "Aku sariawan, bodoh! Bukan karena gigimu. Lagipula, siapa yang menyuruhmu menonton live-ku?"
Andreas yang membaca balasan itu justru menghela napas lega. Ia tersenyum tipis di balik layar ponselnya. Sosok Sera yang bar-bar dan ceplas-ceplos ini entah bagaimana terasa jauh lebih nyata dan menghibur dibandingkan dengan kesunyian yang ditinggalkan oleh Veris.
Baginya, sariawan Sera adalah masalah kecil, namun perhatian yang ia berikan adalah awal dari sesuatu yang lebih besar dalam hubungan mereka yang rumit.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰