Alana, agen intelijen terbaik, melakukan kesalahan fatal saat menyamar. Bukannya mendapatkan data rahasia, ia malah tertangkap basah oleh Arkano Dirgantara, raja mafia paling berbahaya.
Hanya ada dua pilihan bagi Alana: Mati di tangan Arkano, atau menjadi istrinya.
Terjebak dalam pernikahan kontrak yang penuh intrik, Alana harus berpura-pura menjadi istri yang patuh sambil terus menjalankan misinya. Namun, saat Arkano mulai menunjukkan sisi posesif yang gelap sekaligus mempesona, Alana terjebak di antara tugas negara atau perasaan hatinya.
"Kau mangsaku, Alana. Dan seorang predator tidak akan pernah melepaskan tangkapannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: HUKUMAN SANG RAJA MAFIA
Suasana di dalam mobil SUV yang membawa mereka kembali ke mansion terasa jauh lebih dingin daripada udara malam di luar. Arkano duduk bersandar di kursi belakang, matanya terpejam, namun rahangnya yang mengeras menunjukkan bahwa pria itu sedang menahan amarah yang luar biasa.
Alana duduk di sampingnya, meremas jari-jarinya sendiri. Ia tahu Arkano sedang meledak di dalam. Kejadian di balkon hotel tadi benar-benar menyentuh batas kesabaran sang mafia.
Begitu mobil berhenti di depan lobi mansion, Arkano langsung turun tanpa menunggu Marco membukakan pintu. Ia menarik tangan Alana dengan sentakan yang tidak terbantahkan, menyeretnya masuk menuju kamar utama di lantai atas.
Brak!
Pintu kamar dibanting menutup. Arkano langsung mengunci pintu itu dengan kasar.
"Arkano, dengarkan aku dulu—"
"Dengarkan apa, Alana?" Arkano berbalik, langkahnya cepat dan mengintimidasi hingga Alana terdesak ke pintu. "Melihatmu membiarkan pria itu menyentuh tanganmu? Melihatmu ragu-ragu saat dia mengajakmu lari?"
Arkano menekan kedua tangannya ke pintu, tepat di sisi kepala Alana. Napasnya yang memburu terasa hangat di kening Alana. "Kau pikir aku tidak tahu apa yang ada di kepalamu saat itu? Kau ingin kembali padanya, kan? Kembali ke kehidupanmu yang membosankan sebagai polisi?"
"Rian hanya khawatir padaku!" balas Alana, mencoba membela diri meskipun suaranya bergetar. "Dia sahabatku, Arkano. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi!"
"Dia adalah masa lalumu, Alana! Dan di duniaku, masa lalu yang mengganggu harus dimusnahkan," desis Arkano. Mata gelapnya menatap bibir Alana yang merah, lalu kembali ke matanya. "Kau sudah menjadi istriku. Kau mengenakan namaku. Tapi kau masih membiarkan tikus itu mendekatimu?"
Tiba-tiba, Arkano menarik kalung berlian hitam yang tadi ia pasangkan di leher Alana. Ia tidak memutuskannya, tapi menariknya hingga wajah Alana terpaksa mendongak menatapnya.
"Aku bisa memberikanmu dunia, Alana. Aku bisa menghancurkan Hendra untukmu. Tapi satu hal yang tidak akan pernah kuberikan padamu adalah kebebasan untuk mengkhianatiku."
Arkano menundukkan wajahnya, mencium leher Alana dengan kasar dan posesif, meninggalkan tanda merah di sana. Alana mengerang kecil, antara benci dan sensasi aneh yang menyerang sarafnya. Ia mencoba mendorong dada Arkano, namun pria itu justru semakin mempererat pelukannya, seolah ingin menyatukan tubuh Alana ke dalam tubuhnya.
"Lepaskan... Arkano..." bisik Alana lemah.
Arkano melepaskan leher Alana, lalu menatapnya dengan pandangan yang lebih lembut namun tetap dominan. Ia mengusap tanda merah yang baru saja ia buat dengan ibu jarinya. "Ini adalah peringatan, Alana. Jangan pernah biarkan pria lain menyentuhmu lagi. Atau aku akan memastikan pria itu tidak akan pernah bisa menyentuh apa pun lagi seumur hidupnya."
Suasana mendadak berubah. Amarah Arkano perlahan mendingin, berganti dengan ketegangan romantis yang menyesakkan paru-paru. Arkano tidak lagi membentak, ia justru menarik Alana ke dalam pelukan yang lebih posesif namun protektif.
Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Alana, menghirup aroma parfum wanita itu yang mulai bercampur dengan keringat dingin. "Kenapa kau tidak pergi saja tadi? Kenapa kau memilih tinggal saat Rian menarik tanganmu?"
Alana terdiam sejenak. Ia bisa saja berbohong. Tapi di dalam pelukan ini, ia merasa kejujuran adalah satu-satunya senjata yang tersisa. "Karena Hendra belum hancur. Dan karena... aku tahu Rian tidak akan bisa melindungiku darimu."
Arkano terkekeh rendah, suara baritonnya bergetar di dada Alana. "Pilihan yang cerdas. Kau tahu monster mana yang lebih kuat."
Arkano melepaskan pelukannya, namun tangannya tetap berada di pinggang Alana. Ia menuntun Alana duduk di tepi ranjang. Pria itu berlutut di depan Alana, sebuah posisi yang sangat jarang dilakukan oleh seorang pemimpin mafia besar. Ia mulai melepaskan sepatu hak tinggi Alana satu per satu dengan gerakan perlahan.
"Mulai besok, aku akan meningkatkan pengawalanmu. Marco akan mengikutimu ke mana pun kau pergi," ujar Arkano tanpa mendongak.
"Kau memenjarakanku lagi?"
"Aku menjagamu, Alana. Hendra sudah tahu kau berpihak padaku. Dia akan mengirim pembunuh bayaran, bukan sekadar pelayan seperti Rian. Aku tidak mau kehilangan investasi terbaikku."
Alana menatap kepala Arkano yang tertunduk di depannya. Ada perasaan aneh yang mulai tumbuh. Ia seharusnya membenci pria ini karena telah merenggut kebebasannya, tapi cara Arkano memperlakukannya—antara kekejaman dan kasih sayang yang ganjil—mulai mengacaukan logika Alana.
"Arkano," panggil Alana pelan.
Arkano mendongak. "Ya?"
"Jika aku membantumu menghancurkan bisnis Hendra... apa yang akan kau lakukan setelahnya?"
Arkano berdiri, ia duduk di samping Alana dan menarik wanita itu agar bersandar di bahunya. "Aku akan membersihkan namaku. Aku akan mengubah Dirgantara menjadi perusahaan legal sepenuhnya. Aku lelah hidup di bawah bayang-bayang. Aku ingin kau berdiri di sampingku sebagai Nyonya Dirgantara yang sesungguhnya, tanpa perlu memegang pistol lagi."
Alana tertegun. Jadi itu rencana jangka panjang Arkano? Pria ini tidak ingin selamanya menjadi mafia.
"Tapi kau butuh bukti kuat untuk menjatuhkan Hendra di mata publik, kan?" tanya Alana lagi.
Arkano mengangguk. "Dia punya brankas rahasia di rumah pribadinya. Di sana ada catatan semua aliran dana dari klan mafia lain ke kantong pribadinya. Jika kita mendapatkan itu, tamatlah riwayatnya."
"Aku tahu di mana brankas itu," ujar Alana mantap. "Aku pernah ke sana sekali saat pertemuan divisi."
Arkano menoleh, menatap istrinya dengan bangga. "Kau ingin melakukannya? Menyelundup ke rumah Komisarismu?"
"Aku ingin melihat wajahnya saat dia sadar bahwa aku, 'Silent Cat' miliknya, yang akan memasukkan dia ke penjara," jawab Alana dengan mata yang berkilat penuh dendam.
Arkano menarik Alana ke dalam ciuman yang lebih lembut kali ini. Sebuah ciuman yang bukan lagi sekadar penegasan kepemilikan, tapi sebuah perjanjian kerja sama yang mematikan.
"Baiklah, Sayang. Kita akan melakukannya. Tapi dengan satu syarat," bisik Arkano di sela ciuman mereka.
"Apa?"
"Kau tidak boleh jauh dari jangkauan pandanganku selama operasi berlangsung. Aku tidak akan membiarkanmu terluka sedikit pun."
Alana mengangguk. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa pernikahan kontrak ini bukan lagi sekadar sandiwara pelarian. Di atas ranjang besar itu, di tengah kegelapan malam, dua orang yang seharusnya menjadi musuh bebuyutan itu justru merancang strategi untuk menghancurkan hukum yang telah mengkhianati mereka.
"Sekarang, tidurlah," perintah Arkano sambil menarik selimut untuk mereka berdua. Ia memeluk Alana dari belakang, melingkarkan lengannya yang kokoh di perut wanita itu. "Besok adalah awal dari akhir bagi Hendra."
Alana memejamkan mata. Meskipun ia berada di pelukan seorang monster, entah kenapa, malam itu ia tidur dengan sangat nyenyak. Ia merasa aman, sesuatu yang tidak pernah ia rasakan bahkan saat ia masih memakai seragam kepolisiannya.
Apakah misi penyusupan ke rumah Hendra akan berjalan mulus? Atau adakah jebakan lain yang menanti mereka?