Hidup Aulia Maheswari berubah dalam sekejap. Sebuah pengkhianatan merenggut kepercayaan, dan luka yang datang setelahnya memaksanya belajar bertahan.
Saat ia mengira hidupnya hanya akan diisi trauma dan penyesalan, takdir mempertemukannya dengan sebuah ikatan tak terduga. Sebuah kesepakatan, sebuah tanggung jawab, dan perasaan yang tumbuh di luar rencana.
Namun, bisakah hati yang pernah hancur berani percaya pada cinta lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Di berhentikan secara tidak terhormat.
Tidak ada yang menjawab. Keempatnya hanya menunduk semakin dalam, seolah lantai jauh lebih layak ditatap daripada wajah pria di hadapan mereka. Ruangan itu terasa kian mencengkeram. Dingin merayap pelan, menelusup hingga ke tulang, sementara tidak ada suara selain napas yang sengaja ditahan. Hanya suara Archio yang terdengar jelas, berat, dan menguasai seluruh ruang.
Bahkan Sadewa, yang sama sekali tidak terlibat, memilih diam. Rahangnya mengeras, telapak tangannya yang lembap ditekan kuat ke paha. Ia sangat mengenal aura kakaknya. Saat pria itu marah, tidak ada yang berani bergerak sembarangan.
Archio berdiri tegak dengan bahu kokoh, sorot matanya menyapu keempat pria di depannya sebelum akhirnya berbicara, “Saya memanggil kalian ke sini tentu bukan tanpa alasan.” Nadanya rendah, namun setiap kata terasa memiliki bobot.
Ia melangkah perlahan, lalu berhenti tepat di belakang kursi Adrian. “Selain laporan anggaran yang tidak sesuai, setelah saya telusuri lebih dalam, saya menemukan bukti bahwa dana perusahaan yang kalian alihkan ke rekening pribadi digunakan untuk membangun beberapa properti serta membuka usaha. Benar begitu?”
Tidak ada jawaban. Hanya bahu yang terlihat menegang, napas yang terasa semakin berat.
Senyum tipis terukir di sudut bibir Archio, bukan senyum ramah, melainkan garis dingin yang sulit diartikan. “Saya tidak sedang meminta pengakuan,” lanjutnya tenang. “Saya sudah memegang buktinya.” Ia kembali berjalan, mengitari mereka perlahan seperti predator yang memastikan mangsanya tidak memiliki celah untuk lari.
“Tindakan kalian bukan hanya merugikan calon pembeli yang mempercayai reputasi perusahaan,” ucapnya, suaranya kini lebih tajam, “tetapi juga mencoreng nama baik perusahaan yang telah dibangun selama puluhan tahun. Satu proyek gagal bisa kami perbaiki, kerugian finansial masih bisa kami tutup. Tapi kepercayaan… itu tidak bisa dibeli kembali.”
Kata terakhir itu jatuh berat, memenuhi ruangan dengan sunyi yang menekan.
Adrian menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering, dan untuk pertama kalinya sejak duduk di sana, ia benar-benar menyadari satu hal. Ini bukan lagi teguran. Ini adalah akhir dari segalanya.
“Oleh karena itu, sebagaimana peraturan yang berlaku di perusahaan ini, kesalahan sekecil apa pun tidak pernah kami toleransi, terlebih lagi untuk pelanggaran sebesar ini.” Ia berhenti sejenak, memberi ruang agar kalimatnya meresap tanpa gangguan. “Dengan ini, terhitung mulai hari ini, kalian resmi diberhentikan dari jabatan secara tidak terhormat!"
Kalimat itu jatuh seperti palu hakim yang mengetuk akhir persidangan.
Tidak ada yang siap. Kepala-kepala yang sejak tadi tertunduk perlahan terangkat, mata membulat sempurna, napas tertahan, wajah kehilangan warna. Untuk beberapa detik, ruangan itu benar-benar mati.
.
.
Lalu kursi Adrian bergeser kasar ke belakang.
Pria itu bangkit terlalu cepat hingga lututnya sempat membentur meja, namun ia tidak peduli. Dalam dua langkah tergesa, tubuhnya sudah jatuh berlutut di depan Archio. “Pak… saya mohon… jangan pecat saya.” Suaranya berat, pecah oleh panik yang tidak lagi mampu ia sembunyikan.
Tidak ada lagi sisa wibawa seorang manajer pada dirinya. Yang tersisa hanyalah seorang pria yang ketakutan kehilangan segalanya.
“Saya akan mengembalikan semua dana yang sudah saya gunakan. Saya akan mengklarifikasi kepada semua pihak yang dirugikan. Apa pun akan saya lakukan, Pak… tapi tolong… jangan berhentikan saya.”
Tangannya terulur, hampir menyentuh sepatu Archio, namun sebelum itu terjadi, pria berwibawa itu melangkah mundur satu langkah saja, cukup untuk menciptakan jarak yang terasa mustahil ditembus. Tatapannya turun ke arah Adrian, dingin dan tidak tersentuh.
“Pak Adrian,” ujarnya pelan. Tidak keras, tidak pula tinggi, justru ketenangan itu terasa jauh lebih menekan. “Keputusan ini bukan dibuat karena Anda memohon atau tidak. Ini adalah konsekuensi.”
Archio berjalan melewati pria yang masih berlutut itu tanpa sedikit pun menoleh. “Bimantara Group tidak dibangun untuk ditopang oleh orang-orang yang mengkhianati kepercayaan,” katanya, langkahnya berhenti di sisi meja. “Dan satu hal yang perlu Anda pahami, jabatan bisa saya berikan kepada siapa saja yang layak, tetapi integritas tidak bisa diajarkan kepada orang yang sejak awal memilih untuk tidak memilikinya.”
Udara terasa semakin berat, seakan paru-paru enggan bekerja.
“Kembalilah berdiri, Pak Adrian. Menjatuhkan diri tidak akan mengubah keputusan saya.” Nada suaranya tetap datar, tanpa emosi, namun justru di situlah letak luka yang sebenarnya.
Ia terdiam sejenak sebelum menambahkan, “Lagipula, tim legal kami akan segera menghubungi Anda. Ada proses hukum yang harus diselesaikan.”
Dan dalam sekejap, harapan terakhir Adrian runtuh.
...****************...
Archio menatap Adrian yang masih berlutut di hadapannya tanpa perubahan raut sedikit pun. Tidak ada kemarahan yang meledak, tidak pula simpati yang menghangatkan. Justru ketenangan pria itu terasa jauh lebih menekan, seolah seluruh keputusan telah selesai dibuat bahkan sebelum Adrian membuka mulutnya untuk memohon.
“Bangun, Pak Adrian.”
Suaranya rendah namun mengandung perintah yang tidak bisa ditawar. Adrian berdiri perlahan dengan tubuh gemetar, napasnya tidak teratur, sementara telapak tangannya terasa dingin oleh keringat. Ia berusaha mengatakan sesuatu, tetapi kata-kata seperti tertahan di tenggorokannya.
Tanpa tergesa, Archio kembali ke belakang meja kerjanya lalu membuka sebuah map hitam yang sejak tadi terdiam di sana. Beberapa lembar dokumen ia keluarkan dan diletakkan di hadapan Adrian dengan gerakan tegas.
“Silakan dibaca.”
Baru beberapa detik mata Adrian menyusuri baris demi baris tulisan itu, warna wajahnya langsung memudar. Di sana tertera laporan transaksi mencurigakan, aliran dana proyek yang berbelok ke rekening pribadi, dokumen pembelian properti, hingga foto pembangunan rumah mewah yang belum lama selesai. Bahkan usaha kecil yang didirikan atas nama keluarga pun tidak luput dari catatan tim audit.
“Kami tidak pernah menuduh tanpa dasar,” ujar Archio tenang. “Audit internal dan tim forensik keuangan telah menelusuri semuanya. Dana itu mungkin sempat melewati beberapa rekening perantara, tetapi jejaknya tetap ada. Anda terlalu meremehkan sistem pengawasan perusahaan ini.”
Ruangan mendadak terasa semakin sempit. Tidak ada satu pun yang berani bergerak, bahkan sekadar menarik napas panjang.
“Kalian telah menyalahgunakan wewenang, melanggar klausul integritas, serta menyebabkan kerugian besar baik secara finansial maupun reputasi,” lanjutnya. “Namun perusahaan tetap bertindak sesuai prosedur, karena itu saya memberi dua pilihan.”
Harapan tipis seketika terbit di mata Adrian.
“Pertama, kasus ini kami limpahkan ke jalur hukum sebagai tindak penggelapan dana perusahaan. Kedua, penyelesaian dilakukan secara korporasi dengan kewajiban mengembalikan seluruh kerugian.”
Sadewa yang sejak tadi diam menambahkan dengan nada formal, “Apabila dana tersebut tidak dapat dikembalikan sepenuhnya, maka perusahaan berhak melakukan penyitaan terhadap aset pribadi yang bersangkutan.”
Kalimat itu membuat jantung Adrian seperti berhenti berdetak.
Archio menatapnya lurus sebelum melanjutkan, “Rumah, kendaraan, properti investasi, rekening, hingga usaha yang Anda bangun dari aliran dana tersebut akan masuk dalam daftar penarikan. Data kepemilikan sudah kami kantongi, termasuk rumah baru yang baru saja Anda selesaikan beberapa bulan lalu.”
Untuk pertama kalinya, Adrian benar-benar terlihat kehilangan pijakan. Rumah itu adalah simbol keberhasilannya, hadiah yang ia banggakan, masa depan yang ia janjikan pada Arumi. Dan kini, semuanya disebut begitu saja dalam satu kalimat dingin.
“Saya akan mengembalikannya, Pak… beri saya waktu,” ucapnya lirih.
Archio sedikit membungkuk, kedua tangannya bertumpu pada meja, sorot matanya tajam namun tetap terkendali. “Anda sudah mengambilnya selama berbulan-bulan tanpa izin. Jadi jangan bicara kepada saya tentang waktu.”
Tidak ada nada tinggi, tetapi setiap katanya jatuh seperti ketukan palu.
“Tim legal akan mengirimkan surat resmi dalam waktu dekat. Terhitung hari ini akses Anda ke seluruh sistem perusahaan dicabut, kartu identitas dinonaktifkan, dan seluruh fasilitas ditarik. Sampai kerugian itu tertutupi, anggap saja apa yang Anda miliki sekarang… hanyalah titipan.”
Hening menyelimuti ruangan, membawa kesadaran pahit bahwa tidak ada lagi yang bisa ditawar.
Archio kemudian merapikan lengan jasnya dengan gerakan tenang sebelum berkata singkat, “Silakan tinggalkan ruangan saya, dan kalian harus meninggalkan kantor ini sekarang juga!"
.
.
Adrian dan ketiga rekannya keluar dari ruangan dengan langkah lesu dan wajah pucat. Pintu tertutup pelan di belakang mereka, menyisakan keheningan yang berat.
Belum sempat suasana mencair, Bimo yang sejak tadi berada di dalam ruangan segera mendekat ke sisi Archio dan membisikkan sesuatu.
Hanya satu kalimat, namun cukup untuk membuat ekspresi Archio berubah seketika.
Tanpa banyak tanya, pria itu langsung meraih jasnya dan berjalan cepat keluar dari ruangan.
Langkahnya panjang, Tergesa.
Seolah ada sesuatu yang tidak boleh ia datangi terlambat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tuh malah sudah berpelukan bukan dekat lagi tapi nempel