Di dunia yang penuh sandiwara, kebenaran adalah satu-satunya hal yang paling berbahaya."
Bagi semua orang di SMA Garuda, Jenny adalah definisi kesempurnaan. Sebagai ketua pemandu sorak yang ceria dan ramah, hidupnya tampak lengkap dengan kehadiran Jonathan, ketua OSIS yang kaku namun romantis, serta Claudia, sahabat yang selalu ada di sisinya. Jenny memiliki segalanya—atau setidaknya, itulah yang ia percayai.
Namun, di balik pintu ruang OSIS yang tertutup dan senyum manis para sahabat, sebuah pengkhianatan sedang tumbuh subur. Jonathan yang ia puja dan Claudia yang ia percaya, menyembunyikan api di balik punggung mereka.
Hanya satu orang yang berani mengusik "gelembung" bahagia milik Jenny: Romeo. Sang kapten tim voli yang kasar, red flag, dan rival bebuyutan Jenny sejak hari pertama. Romeo benci kepalsuan, dan ia tahu betul bahwa mahkota yang dipakai Jenny sudah retak sejak lama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Lapangan voli SMA Garuda sore itu terasa sangat panas, namun suasananya jauh lebih mencekam daripada biasanya. Latihan rutin tim voli putra berubah menjadi arena pembuktian harga diri. Jonathan, yang biasanya tidak pernah tertarik dengan olahraga fisik yang menguras keringat, tiba-tiba muncul di pinggir lapangan dengan jersei olahraga lengkap.
Ia mendaftarkan diri untuk ikut latihan tanding. Matanya yang merah dan kantung mata yang menghitam menunjukkan bahwa ia tidak tidur semalaman. Dan targetnya hanya satu: Angga.
Jenny duduk di tribun bersama Emy, mengenakan cardigan merahnya. Ia terkejut melihat Jonathan ada di lapangan. "Ngapain si Robot itu di sana?" gumam Jenny sinis.
"Kayaknya dia mau balas dendam lewat fisik, Jen. Liat tuh mukanya, serem banget," bisik Emy.
Pertandingan dimulai. Jonathan berada di tim cadangan, sementara Angga dan Romeo berada di tim utama. Begitu peluit berbunyi, Jonathan bermain dengan sangat agresif. Ia tidak peduli pada teknik, yang ia pedulikan hanyalah bagaimana cara menjatuhkan Angga.
Saat posisi mereka berdekatan di depan net, Jonathan melakukan block yang sangat kasar. Tangannya bukan mengenai bola, melainkan sengaja menghantam tangan Angga dengan keras.
PLAK!
"Agh!" Angga meringis kesakitan, memegangi pergelangan tangannya.
"Sori, nggak sengaja. Tangan gue licin," ucap Jonathan datar, namun matanya menatap Angga dengan penuh kebencian.
Romeo yang melihat itu langsung menghampiri Jonathan. Ia mencengkeram kerah jersei Jonathan. "Heh, Robot! Kalau mau main kasar, lawan gue. Jangan main pengecut kayak gini!"
"Gue nggak main kasar, Romeo. Gue cuma main serius. Kenapa? Takut jagoan baru Jenny ini lecet?" tantang Jonathan. Ia benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya.
Pertandingan berlanjut. Jonathan semakin menjadi-jadi. Saat Angga hendak melakukan spike, Jonathan sengaja melompat dan mendarat di area kaki Angga, mencoba membuat Angga terkilir. Untungnya, Angga memiliki refleks yang cepat dan berhasil menghindar.
Jenny yang melihat itu dari tribun langsung berdiri. Ia tidak bisa diam saja melihat kekasih barunya dicurangi. Jenny berlari turun ke pinggir lapangan, membuat wasit menghentikan pertandingan sejenak.
"Jonathan! Berhenti jadi orang gila!" teriak Jenny di pinggir lapangan. "Lo pikir dengan cara kayak gini gue bakal balik ke lo? Yang ada gue makin jijik!"
Jonathan menoleh ke arah Jenny, napasnya memburu. "Kamu nggak paham, Jen! Dia udah ambil semuanya dari aku! Dia ambil kamu!"
"Nggak ada yang ambil gue dari lo! Lo sendiri yang buang gue ke tempat sampah!" balas Jenny telak.
Angga menepuk pundak Romeo agar melepaskan Jonathan. Ia berdiri tegak, menatap Jonathan dengan tenang meski tangannya masih terasa nyeri.
"Jo, kalau lo mau main secara laki-laki, ayo. Tapi jangan bawa-batu emosi lo ke lapangan. Lo itu Ketua OSIS—eh, maksud gue mantan Ketua OSIS berprestasi, kan? Mana logika lo yang selalu lo banggain itu?" sindir Angga.
Permainan dimulai lagi untuk poin terakhir. Bola melambung tinggi di area tim Angga. Romeo memberikan umpan toss yang sempurna untuk Angga.
"Ngga! Hancurin!" teriak Romeo.
Angga melompat sangat tinggi. Di depannya, Jonathan sudah bersiap untuk melakukan block dengan cara apa pun. Namun, Angga tidak mengarahkan bola ke tangan Jonathan. Ia melakukan spike dengan kekuatan penuh ke arah celah di samping telinga Jonathan.
BOOM!
Bola menghantam lantai dengan bunyi dentuman yang sangat keras, hanya beberapa sentimeter dari kaki Jonathan. Jonathan tersentak dan jatuh terduduk karena kaget dan kehilangan keseimbangan.
Wasit meniup peluit panjang. Tim Angga menang.
Angga berjalan menghampiri Jonathan yang masih terduduk di lantai lapangan. Ia tidak mengulurkan tangan untuk membantu, ia hanya berdiri di depannya.
"Lo kalah lagi, Jo. Di sekolah, di hati Jenny, dan sekarang di lapangan," ucap Angga pelan agar hanya Jonathan yang dengar. "Mending lo pulang, cuci muka, dan sadar kalau dunia nggak berputar di sekitar lo lagi."
Jenny langsung berlari menghampiri Angga, memeriksa tangan cowok itu. "Kamu nggak apa-apa, Ngga? Ada yang luka?"
"Gue aman, Sayang. Cuma memar dikit," jawab Angga sambil tersenyum manis dan sengaja mengecup kening Jenny di depan Jonathan yang masih terduduk lemas.
Romeo berjalan melewati Jonathan sambil menendang bola voli ke arahnya. "Balik ke perpustakaan sana, Robot. Lapangan ini bukan tempat buat orang cengeng kayak lo."
Jonathan hanya bisa menatap lantai lapangan dengan pandangan kosong. Air matanya menetes lagi, bercampur dengan keringat. Ia benar-benar telah menjadi bahan tertawaan di tempat yang seharusnya menjadi ajang pembuktiannya.