Sejak kuliah, Kanaya sudah mengagumi seorang Narendra Atmaja, namun ia sadar akan statusnya dan mencoba membuang jauh-jauh perasaannya. Hingga suatu hari sahabatnya mendaftarkan Kanaya ke sebuah aplikasi kencan dan ia harus bertemu dengan pria yang menjadi teman kencannya, akhirnya Kanaya menemui pria tersebut dan betapa terkejutnya ia ketika mengetahui jika pria yang menjadi teman kencannya adalah pria yang ia kagumi sejak kuliah.
Bagaimana kelanjutannya? Apa yang akan terjadi pada Kanaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ini Kesempatan!
Narendra menatap pintu kamar Kanaya sejenak seolah sedang menilai tingkat keamanan bangunan itu lalu tatapannya kembali ke arah Kanaya dan kali ini tatapannya lebih tajam dari sebelumnya.
"Kunci pintunya dari dalam, jangan buka untuk siapa pun malam ini," ucap Narendra datar, namun ada nada protektif yang terselip di sana.
Kanaya hanya mengangguk patuh, merasa seperti murid yang sedang diberi instruksi oleh gurunya. "Iya, Narendra. Hati-hati di jalan, mobilmu mungkin agak sulit memutar di depan sana," ucap Kanaya yang merasa tidak enak.
Narendra tidak menjawab, ia hanya memberikan anggukan kecil lalu berbalik. Kanaya berdiri di ambang pintu, memerhatikan punggung tegap itu menjauh dan menghilang di kegelapan gang, suaranya langkah sepatunya yang tegas perlahan memudar digantikan suara jangkrik malam.
Begitu sampai di dalam kamar, Kanaya segera mengunci pintu dan menyandarkan tubuhnya di sana. Kanaya memejamkan mata dan mencoba menormalkan detak jantungnya yang sedari tadi menggila. Kamar kos yang biasanya terasa tenang, kini terasa sangat sempit dan penuh dengan bayang-bayang Narendra.
"Ini gila, kenapa aku bisa ketemu Narendra lagi? Ini sudah 5 tahun dan aku juga sudah pindah ke luar kota, tapi aku masih saja bertemu Narendra," gumam Kanaya.
Ditengah rasa tidak percayanya, tiba-tiba ponsel di tangannya bergetar dan sebuah notifikasi pesan muncul dari nomor baru yang belum ia simpan.
Simpan nomorku, jangan sampai pesan atau telepon dariku nanti masuk ke folder spam karena tidak kamu kenali, Narendra.
Kanaya mendengus pelan, namun jemarinya bergerak cepat menyimpan nomor itu, belum sempat ia meletakkan ponselnya, pesan berikutnya menyusul.
Aku sudah di mobil, segera istirahat. Jangan biarkan riasan tebalmu itu menempel sampai besok pagi, itu tidak baik untuk kulitmu.
Kanaya melotot melihat pesan tersebut, "Riasan tebal? Dia benar-benar memperhatikannya?" gumam Kanaya kesal sekaligus malu.
Kanaya segera menuju cermin dan melihat wajahnya yang memang tampak jauh lebih menor dari biasanya akibat ulah Arin.
^^^Iya, ini mau dibersihkan, terima kasih sudah mengantar.^^^
Sama-sama, sampai bertemu hari Sabtu.
Kanaya melempar ponselnya ke kasur dan menelungkupkan wajahnya di bantal, berteriak tanpa suara. Antara rasa kesal pada Arin yang menjebaknya dan rasa sesak yang kembali muncul karena menyadari bahwa perasaannya selama lima tahun ini ternyata tidak pernah benar-benar mati.
Baru saja Kanaya ingin memejamkan mata untuk menenangkan pikiran, suara gedoran pintu yang heboh mengejutkannya dan Kanaya sudah bisa menebak siapa pelakunya.
"Nay! Kanaya! Buka pintunya, Nay! Aku tahu kamu sudah di dalam!" teriak Arin dari depan kamar Kanaya.
Dengan langkah gontai dan wajah yang masih separuh tertutup riasan tebal, Kanaya membuka pintu. Arin langsung menerobos masuk dengan wajah yang campur aduk antara rasa bersalah dan rasa ingin tahu yang meledak-ledak.
"Kenapa?" tanya Kanaya.
"Hehehe, maaf. Jadi, gimana? kamu lanjut sama pria tadi?" tanya Arin.
"Kamu gila, Rin," ucap Arin lalu Kanaya pun masuk kedalam kamar dan membersihkan wajahnya.
Arin yang sadar akan kesalahannya pun masuk, "Maaf ya, aku ngelakuin ini itu buat kamu, biar kamu bisa lupa sama Narendra," ucap Arin yang tidak tahu jika pria tadi ada di aplikasi kencan itu adalah Narendra.
Kanaya yang sedang mengusap wajahnya dengan kapas pembersih langsung terhenti dan ia menatap Arin melalui pantulan cermin dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Biar aku lupa sama Narendra?" tanya Kanaya pelan dengan suaranya yang terdengar getir.
"Iya, Nay! Aku nggak tega liat kamu terus-terusan nunggu orang yang bahkan nggak pernah nyari kamu. Makanya aku cariin cowok di aplikasi itu, tapi tadi pas aku liat dari jauh ada mobil mewah, aku pikir... wah, temenku hebat juga langsung dapet spek dewa," cerocos Arin tanpa dosa, ia duduk di pinggir kasur Kanaya sambil memperhatikan sahabatnya itu.
Arin memang tadi tidak sengaja melihat mobil Narendra dan ia yakin jika itu adalah mobil pria yang sedang mengantar Arin.
Kanaya menghela napas panjang, ia membalikkan badannya menghadap Arin. "Rin, kamu tahu siapa pria yang ada di aplikasi itu? Pria yang tadi duduk di kafe dan nganter aku pulang?" tanya Kanaya.
Arin mengernyitkan dahi, "Siapa? Kamu belum kasih tahu namanya kan? Ganteng nggak?" tanya Arin.
"Narendra, Rin. Pria itu Narendra Atmaja," ucap Kanaya.
Mendengar ucapan Kanaya, seketika Arin bungkam. Matanya membulat sempurna dan mulutnya menganga seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan sahabatnya, "A-apa? Kamu bercanda kan, Nay? Nggak mungkin! Itu beneran Narendra? Narendra yang kamu sukai pas kuliah? Si anak kedokteran?" tanya Arin.
Kanaya hanya mengangguk lemas lalu kembali melanjutkan kegiatannya membersihkan riasan, "Dunia sesempit itu Rin dan gara-gara aplikasi konyol yang kamu buat, dia sekarang punya nomorku, tahu tempat tinggalku dan parahnya... dia ngajak aku pergi hari Sabtu besok," ucap Kanaya.
Arin langsung melompat dari kasur dan menghampiri Kanaya, "Demi apa! Jadi kalian beneran ketemu lagi gara-gara aplikasi itu? Nay, ini mah namanya takdir! Bayangin nih ya, dari ribuan orang di aplikasi kencan, kenapa harus dia yang match sama kamu?" ucap Arin.
"Ini bukan takdir, Rin. Ini bencana buat jantungku," gumam Kanaya, meskipun jauh di dalam lubuk hatinya ada rasa hangat yang tak bisa ia pungkiri.
"Bencana apanya! Ini kesempatan! Lima tahun kamu pergi buat menghindar dari Narendra dan sekarang dia muncul di depan mata kamu dengan cara yang paling nggak terduga, kamu harus dandan yang paling cantik hari Sabtu nanti!" seru Arin heboh dan rasa bersalahnya tadi seolah menguap digantikan peran barunya sebagai mak comblang.
"Tapi aku takut, Rin. Aku takut kalau ini cuma kebetulan yang bakal bikin aku sakit hati karena terlalu berharap," gumam Kanaya.
Arin memegang kedua bahu Kanaya dan menatapnya serius, "Nay, dengerin aku. Kalau dia nggak tertarik, dia nggak bakal minta nomor kamu, apalagi ngajak jalan hari Sabtu. Kali ini, jangan lari lagi, tapi hadapi," ucap Arin.
Kanaya terdiam meresapi ucapan Arin, selama lima tahun ini ia telah menjadi ahli dalam melarikan diri. Kanaya membangun dinding yang begitu tinggi di kota kecil ini hanya agar tidak perlu menghadapi kenyataan bahwa hatinya masih tertinggal di ibu kota.
"Tentu saja aku tidak akan lari, Rin. Mau lari ke mana lagi coba? Dia sudah tahu alamat kosku, bahkan dia punya nomorku," ucap Kanaya.
"Bagus! Begitu dong, itu baru Kanaya yang pemberani, pokoknya Sabtu nanti, aku bakal datang lebih pagi buat dandanin kamu lagi. Tapi janji, kali ini nggak bakal kemenoran kayak tadi dan kita pakai tema natural effortless beauty biar dia makin naksir kamu," ucap Arin.
Kanaya hanya bisa memutar bola matanya malas, "Terserah kamu saja, Rin. Yang penting sekarang kamu pulang, aku mau istirahat," ucap Kanaya.
Setelah melalui drama perpisahan yang panjang karena Arin masih ingin menginterogasi detail pembicaraan di kafe, akhirnya Kanaya berhasil mengusir sahabatnya itu. Suasana kamar kembali sunyi, menyisakan Kanaya dengan sejuta pikiran yang berkecamuk.
.
.
.
Bersambung.....