Namaku Kazumi Flora. Dengan tinggi 154 cm, aku mungkin tampak mungil di tengah megahnya Lembah Biru, namun jiwaku seluas dan sedalam danau ini. Sejak kecil, alam adalah rumahku, dan bunga-bunga adalah sahabatku. Setiap helai kelopak, setiap hembusan angin, dan setiap riak air danau menyimpan cerita yang tak pernah usai aku dengarkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 23
Mobil berhenti tepat saat matahari mulai merendah, menyiram cakrawala dengan warna jingga keemasan yang memantul indah di permukaan air laut. Angin pantai yang sejuk langsung menyapa wajahku begitu pintu terbuka, membawa aroma garam yang segar dan menenangkan.
Kaelen tidak langsung mengajakku berjalan. Ia melepaskan sepatu ketsnya, menggulung celana kainnya hingga betis, lalu berbalik membantuku melepas alas kakiku. Ia menggandeng tanganku erat, menuntunku berjalan di atas pasir putih yang masih terasa hangat.
"Indah banget, Kael..." bisikku pelan. Suara deburan ombak yang ritmis seolah mencuci semua rasa lelah dan sedih dari kejadian di kampus tadi.
Kami berjalan sampai air laut yang dingin membasahi ujung jari kaki kami. Kaelen menghentikan langkahnya, menatap lurus ke arah cakrawala. Suasana menjadi hening, hanya ada suara angin dan ombak. Tiba-tiba, ia menarikku ke dalam pelukannya dari belakang, menyandarkan dagunya di bahuku.
"Kazumi," suaranya terdengar sangat rendah, hampir seperti bisikan yang menyayat hati. "Dulu, di Dunia Seberang, aku hanya bisa melihatmu dari kejauhan di antara taman bunga Han. Aku selalu takut jika aku mendekat, kegelapan dalam diriku akan menghancurkan kesucianmu."
Aku merasakan pelukannya semakin erat, seolah ia takut aku akan menghilang ditelan ombak.
"Saat kita melintasi gerbang itu, aku sempat berpikir aku akan kehilanganmu selamanya. Aku takut dunia ini memisahkan kita, atau membuatmu melupakanku," lanjutnya. Ada getaran emosi yang nyata dalam suaranya—sebuah sisi rapuh dari sang mantan pangeran yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun.
Aku berbalik di dalam pelukannya, menangkup wajahnya yang terpapar sinar sunset. Matanya yang biru elektrik kini tampak berkaca-kaca, memantulkan cahaya senja yang haru.
"Tapi kita di sini sekarang, Kael. Kamu asisten dosenku, dan aku mahasiswamu. Kita nyata," bisikku sambil mengusap pipinya.
Kaelen meraih tanganku, mengecup telapak tanganku lama sekali. "Terima kasih karena tetap memilihku, bahkan setelah sihirku hilang. Di dunia tanpa sihir ini, aku baru sadar... bahwa kamulah satu-satunya keajaiban yang tersisa untukku."
Satu tetes air mata jatuh dari sudut mataku, bukan karena sedih, tapi karena rasa haru yang luar biasa. Di bawah langit senja yang mulai berubah menjadi keunguan, Kaelen mendekatkan wajahnya. Ia mencium keningku, lalu turun ke ujung hidungku, sebelum akhirnya membisikkan kata-kata yang membuat hatiku bergetar hebat.
"Aku mencintaimu, Kazumi. Lebih dari sekadar janji seorang pelindung, ini janji seorang pria."
Aku terdiam sesaat, membiarkan kata-kata Kaelen meresap ke dalam jiwaku bersama semilir angin laut. Air mata haru yang tadinya menggantung kini jatuh melewati pipiku, tapi senyumku mengembang dengan tulus
.
"Aku juga mencintaimu, Kael," bisikku dengan suara serak namun mantap. "Dari dulu, sekarang, dan di dunia mana pun kita berada, perasaanku tidak pernah berubah."
Mendengar jawabanku, Kaelen menarik napas panjang seolah beban berat yang selama ini ia pikul di pundaknya luruh seketika. Ia melepaskan pelukannya perlahan, lalu menggenggam kedua tanganku, membawaku sedikit lebih jauh ke arah riak air laut yang membasahi kaki kami.
Tiba-tiba, Kaelen berlutut di atas pasir yang basah. Butiran ombak putih yang tipis menyapu lututnya, namun ia tidak peduli jika celana kainnya kotor. Ia merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna biru gelap.
"Kazumi," panggilnya, menatapku dengan binar mata yang begitu dalam dan penuh kesungguhan. "Aku tidak ingin hanya menjadi pacarmu. Aku tidak ingin hanya sekadar menjagamu di kampus ini. Aku ingin menjadi tempatmu pulang untuk selamanya."
Ia membuka kotak itu, memperlihatkan sebuah cincin perak dengan permata biru kecil yang berkilau terkena sisa cahaya matahari, sangat mirip dengan warna matanya.
"Mungkin aku bukan lagi pangeran dengan kekuatan sihir, dan mungkin hidup kita di dunia ini tidak akan selalu mudah. Tapi aku berjanji akan memberikan seluruh hidupku untukmu. Kazumi, maukah kamu menikah denganku? Menjadi pendamping hidupku selamanya?"
Aku menutup mulutku dengan tangan, tidak percaya bahwa momen ini terjadi begitu cepat di tengah deburan ombak yang syahdu. Di belakangnya, matahari hampir tenggelam sempurna, menyisakan siluet dirinya yang berlutut gagah menantang samudera.
"Iya, Kael... aku mau!" jawabku sambil terisak bahagia.
Kaelen tersenyum—senyum paling lega yang pernah kulihat. Ia memasangkan cincin itu ke jariku, lalu berdiri dan langsung mengangkat tubuhku, memutarku di udara di tengah butiran ombak yang pecah di kaki kami. Suara tawanya yang renyah beradu dengan suara laut, menandakan bahwa di dunia tanpa sihir ini, kami baru saja memulai keajaiban kami sendiri.
Kaelen mengangkat tubuhku semakin tinggi, seolah ingin menunjukkan pada semesta betapa bahagianya dia saat ini. Suaranya yang biasanya rendah dan terkontrol, kini pecah menjadi teriakan lepas yang menggema di sepanjang garis pantai.
"KAZUMI, AKU MENCINTAIMUUUU!" teriaknya ke arah laut lepas, suaranya bersahutan dengan deru ombak.
Aku tertawa di antara sisa air mata haruku, memegangi bahunya erat-erat saat dia terus memutar tubuhku. "Kael! Malu dilihat orang!" seruku, meski sebenarnya aku tidak peduli sama sekali.
"Biar saja!" teriaknya lagi, wajahnya mendongak menatapku dengan binar kebahagiaan yang belum pernah kulihat selama ratusan tahun mengenalnya. "Biar ombak tahu! Biar angin dunia ini tahu kalau gadis paling berharga di dua dunia ini akhirnya menjadi milikku selamanya!"
Ia menurunkanku perlahan, namun tidak membiarkan kakiku benar-benar menjauh dari jangkauan kakinya. Ia menangkup wajahku, napasnya sedikit terengah karena semangat yang meluap-luap.
"Kamu dengar itu, Kazumi? Aku tidak akan lagi bicara soal takdir atau ramalan dunia lama," ucapnya dengan nada yang lebih dalam, meski suaranya masih sedikit ditinggikan agar mengalahkan suara ombak.
"Sekarang, takdirku adalah kamu! Aku akan bekerja keras di lab itu, aku akan mengajar, aku akan melakukan apa saja agar bisa membangun rumah kecil untuk kita!"
"Kael, pelan-pelan..." aku tersenyum, mengusap pipinya yang terasa hangat oleh semburat senja.
"Tidak bisa pelan-pelan, Sayang! Aku sudah menunggu terlalu lama untuk ini!" Ia kembali berteriak ke arah cakrawala yang mulai menggelap. "DENGAR SEMUA! KAZUMI AKAN JADI ISTRIIIIKU!"
Aku menarik kerah kemejanya agar dia berhenti berteriak, lalu menyadarkan kepalaku di dadanya. "Iya, Pak Asdos. Aku dengar. Satu pantai juga dengar."
Kaelen tertawa rendah, memelukku begitu erat sampai aku bisa merasakan detak jantungnya yang berpacu cepat. "Aku akan menjagamu lebih dari aku menjaga nyawaku sendiri. Terima kasih, Kazumi... Terima kasih sudah mau menungguku sampai ke dunia ini."