Di dunia sihir yang dipenuhi kutukan dan warisan kekuatan kuno, nama Raksha Lozarthat dikenal sebagai salah satu penyihir terhebat hingga ia dijatuhkan oleh kutukan terlarang milik seorang penyihir kuno. Kutukan itu tidak membunuhnya, namun jauh lebih kejam: jiwa Raksha dipaksa keluar dari tubuh aslinya dan terperangkap dalam tubuh seorang gadis lemah bernama Roselein Tescarossa.
Tubuh asli Raksha kini telah menjadi mayat, terbaring membusuk oleh waktu, sementara jiwanya terikat pada wadah yang tidak mampu menampung kekuatan sihir besarnya. Setiap kali ia mencoba menggunakan sihir tingkat tinggi, tubuh Roselein berada di ambang kehancuran. Ia bukan lagi penyihir agung, seorang gadis rapuh yang setiap langkahnya dibayangi rasa sakit dan keterbatasan.
Satu-satunya cara untuk mengakhiri kutukan ini adalah mengalahkan penyihir kuno yang telah menghancurkan hidupnya.
Akankah ambisi dendamnya berhasil atau justru terlena didalam tubuh baru, tempat dimana Raksha berada didunia barunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Racun yang Tidak Mengenai Sasaran
Aula Evaluasi dipenuhi cahaya.
Di tengah ruangan, sebuah bola kristal sihir melayang setinggi dada orang dewasa, berputar perlahan, memancarkan cahaya bening yang bereaksi terhadap mana. Pilar-pilar di sekelilingnya dipenuhi ukiran formasi pengukur: kuno, presisi, dan tidak bisa dibohongi.
Hari ini adalah ujian sihir tengah semester.
Setiap murid akan menunjukkan satu sihir utama di hadapan kristal. Tidak harus yang terkuat, melainkan yang paling mereka kuasai.
Lein berdiri di barisan, menenangkan napas.
Raksha memperingatkan dalam diam.
Jangan menonjol. Jangan menghilang.
Nama pertama dipanggil.
“Reyd Aclica.”
Reyd melangkah maju dengan sikap tenang.
Semua murid perempuan antusias melihatnya.
Aula langsung senyap, setelahnya.
Ia mengangkat tangan kanannya. Mana berkumpul, padat dan terarah.
“Potongan Angin.”
Udara bergetar. Sebilah angin tipis, tajam seperti bilah tak kasatmata meluncur ke depan, memotong udara dengan suara mendesis. Kristal bersinar terang, mencatat stabilitas, kecepatan, dan kontrol.
Potongan itu berhenti tepat sebelum batas pelindung.
“Presisi tinggi,” gumam salah satu dosen.
Reyd menunduk singkat, lalu kembali ke barisan.
Nama berikutnya.
“Grack Lyvonalis.”
Grack menyeringai kecil saat maju. Ia mengepalkan tangannya.
“Tinju Api.”
Api menyelimuti lengannya, terkondensasi padat, bukan kobaran liar. Ia melayangkan satu pukulan ke udara. Ledakan panas terkendali meletup, membuat kristal berkilau jingga.
“Daya hancur yang bagus,” kata instruktur. “Kontrolnya cukup.”
Grack mengangguk puas.
Kemudian.
“Lysa Freylan.”
Beberapa murid saling pandang. Lysa bukan tipe yang mencolok.
Ia melangkah maju dengan sedikit gugup, namun matanya mantap. Kedua tangannya dirapatkan di dada.
“Sihir Penyembuh. Resonansi Lembut.”
Cahaya hijau menyebar perlahan, seperti napas hangat. Kristal bersinar stabil, tanpa lonjakan. Formasi di lantai menunjukkan aliran mana yang tenang dan berkelanjutan.
Beberapa dosen condong ke depan.
“Efisiensi tinggi,” kata salah satu penyihir senior. “Hampir tidak ada kebocoran mana.”
Lysa tersenyum kecil... lega.
Lein memperhatikannya dengan saksama.
Sihir seperti itu jarang terlihat.
Nama demi nama dipanggil. Api, petir, ilusi, penguatan tubuh. Beragam warna dan bentuk memenuhi aula. Sorak kecil terdengar, diselingi catatan dingin para dosen.
“Roselein Tescarossa.”
Lein melangkah maju.
Bisikan muncul, namun cepat mereda. Semua mata tertuju padanya: bukan karena harapan, melainkan rasa ingin tahu.
Ia berdiri di hadapan bola kristal.
Raksha menahan aliran mana.
Lein menutup mata sejenak.
“Hati Peri Malam.”
Mana mengalir keluar dengan lembut. Lantai di bawah kakinya berkilau redup, rumput kecil tumbuh perlahan, bunga-bunga gelap bermekaran tanpa paksaan. Udara terasa lebih hidup... namun tidak menekan.
Serangga cahaya muncul, berputar tenang.
Kristal bersinar stabil.
Aula hening!
“Tidak ofensif,” gumam seorang dosen.
“Tapi sangat seimbang,” jawab yang lain.
Gram Blackfullet mengamati tanpa berkata apa-apa. Matanya tajam, namun ekspresinya hampir puas.
Lein membuka mata, lalu menunduk ringan.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada ejekan.
Hanya keheningan yang berat oleh penilaian.
Namun saat ia kembali ke barisan, Lysa tersenyum padanya. Grack mengacungkan jempol. Reyd menatapnya dengan ekspresi tenang... tanpa keraguan.
Raksha menghembuskan napas pelan.
Ujian ini ia lewati.
Dari kejauhan Dorna berdiri terlalu lama di aula yang hampir kosong.
Ujian telah selesai. Para murid mulai berpencar, namun Dorna masih menatap bola kristal sihir yang perlahan meredup. Tangannya mengepal, kukunya menekan telapak kulitnya sendiri.
Sihirnya rapi.
Mantra serangannya tepat.
Namun tidak ada pujian berarti.
Tidak seperti Lein.
Gadis itu... dengan sihir yang tidak meledak, tidak melukai namun mendapatkan keheningan yang lebih berat daripada tepuk tangan.
Keheningan yang berarti diperhatikan.
“Ini tidak adil,” gumam Dorna.
Ia melihat Lein berjalan keluar aula, sendirian. Reyd dan yang lain tertinggal sebentar untuk berbincang dengan dosen.
Kesempatan itu cukup dia gunakan untuk memberinya pelajaran.
“Lein,” panggil Dorna dari balik lorong samping.
Lein berhenti. Ia menoleh dengan tenang. “Ada apa?”
Dorna melangkah mendekat, senyumnya tipis namun matanya dingin. “Kau menikmati perhatian itu?”
Lein menggeleng pelan. “Aku tidak mencarinya.”
“Kau selalu bilang begitu,” balas Dorna. “Tapi kau tetap mengambilnya. Pangeran. Dosen. Semua.”
Lein menarik napas pelan. “Jika kau ingin bicara, kita bisa bicara baik-baik.”
“Tidak,” kata Dorna. “Aku ingin kau berhenti mengambil hati semua orang.”
Mana di udara berubah.
Raksha langsung merasakannya.
Beracun.
Dorna mengangkat tangannya sedikit. Tidak ada mantra keras, tidak ada lingkaran sihir mencolok. Hanya bisikan pendek dan dari bayangan dinding, serangga-serangga kecil berwarna hijau kehitaman muncul, sayapnya berkilau tajam.
“Racun Serangga”
Makhluk-makhluk itu melesat, membawa aura toksik yang bisa melumpuhkan dalam hitungan detik.
Lein tidak bergerak mundur.
Ia mengangkat tangan... bukan untuk menyerang, melainkan untuk memanggil perlindungan alam.
Namun sebelum mananya terbentuk.
“Cukup, Dorna!”
Angin menghantam lorong dengan keras.
Potongan Angin Reyd membelah udara di antara mereka, memotong lintasan serangga-serangga itu tanpa menyentuh tubuh Lein. Makhluk-makhluk sihir itu terhempas dan menghilang menjadi debu mana.
Reyd berdiri di depan Dorna, ekspresinya dingin... jauh dari sikap santai biasanya.
“Apa yang kau lakukan?” suaranya rendah, berbahaya.
Dorna mundur setengah langkah. “Aku, aku hanya... ”
“Kau menyerang murid lain,” potong Reyd. “Tanpa duel resmi. Juga tanpa izin.”
Lorong itu kini dipenuhi keheningan yang berat.
Lein menurunkan tangannya perlahan. Jantungnya berdetak kencang: bukan karena takut, melainkan karena menyadari betapa mudahnya semua ini berubah menjadi buruk.
“Aku tidak terluka,” kata Lein pelan. “Hentikan saja ucapanmu, Lein.”
Reyd menoleh padanya, lalu kembali menatap Dorna. “Pergi dari sini. Sebelum ini menjadi masalah besar.”
Dorna menatap Lein... campuran amarah, malu, dan ketakutan di wajahnya. Tanpa berkata apa-apa, ia berbalik dan pergi dengan langkah tergesa.
Keheningan tersisa!
Reyd menghembuskan napas panjangnya. “Maaf Lein. Aku seharusnya lebih cepat mengatasinya.”
“Terima kasih, Reyd” jawab Lein.
Raksha menyadari satu hal pahit:
Jika Reyd tidak ada, dia mungkin akan membalasnya.
Dan itu bukan jalan yang ia inginkan.
Tak lama kemudian, langkah-langkah cepat terdengar dari ujung lorong. Seorang penyihir senior memandang sisa debu mana di lantai, alisnya berkerut.
“Apa yang terjadi di sini?”
Reyd melangkah maju. “Kesalahpahaman kecil. masalahnya sudah selesai.”
Lein menunduk, menahan diri untuk tidak berkata lebih.